M.

IRFAN BURHANI

CIRI-CIRI AWAL MASA KANAK-KANAK
y ORANG TUA
y USIA YANG MENGUNDANG MASALAH ATAU

MASA SULIT (BANDEL, KERAS KEPALA, TIDAK MENURUT, MELAWAN DAN SUKA MARAHMARAH) y USIA MAINAN

y PARA PENDIDIK
y USIA PRASEKOLAH

y PARA AHLI PSIKOLOGI
y y y y

USIA KELOMPOK USIA MENJELAJAH USIA BERTANYA USIA MENIRU

TUGAS PERKEMBANGAN
y MEMPELAJARI KETRAMPILAN FISIK YANG

DIPERLUKAN y BELAJAR BERJALAN y BELAJAR BERBICARA y BELAJAR MENGENDALIKAN PEMBUANGAN KOTORAN y MEMPELAJARI PERBEDAAN SEKS DAN TATA CARANYA y MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MEMBACA y BELAJAR MEMBEDAKAN BENAR DAN SALAH, SERTA MENGEMBANGKAN HATI NURANI

EMOSIONALITAS PADA MASA KANAK-KANAK AWAL
1. 2. 3. Pada masa kanak-kanak awal, ada fenomena yg banyak terjadi pada anak-anak, yaitu TEMPER TANTRUM. Temper tantrum adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkendali. Menurut Martina Rini S.T., temper tantrum sering terjadi pada anak yang aktif dengan enerji yang banyak dan juga pada yang dianggap sulit .

3/28/2011

1. Karakteristik anak yang dianggap sulit adalah:
a.

Memiliki kebiasaan makan, tidur, dan buang air besar tidak teratur.

b.

c.

d.

Sulit menyesuaikan diri dengan halhal yang baru. Suasana hatinya sering negatif. mudah terprovokasi. Sulit dialihkan perhatiannya.

3/28/2011

Faktor penyebab temper tantrum
terhalanginya keinginan; lelah, lapar, atau sakit, stres. pola asuh orang tua:
1) terlalu menmanjakan anak; 2) terlalu melindungi anak; 3) tidak konsisten

3/28/2011

Pandangan para ahli tentang temper tantrum
a. Temper tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan. Dengan demikian temper tantrum merupakan hal yang biasa terjadi pada anak-anak. b. Sebagai bagian dari proses perkembangan maka pada saatnya nanti gejala ini akan hilang dari diri anak. c. Namun demikian akan lebih baik jika gejala tersebut tidak terjadi karena berkenaan dengan perkembangan emosi dan juga menimbulkan masalah bagi keluarga.
3/28/2011

Cara menghadapi temper tantrum
A.

B.

Mencegah terjadinya tantrum (preventif) A. Menganalisis adakah anak memiliki ciri-ciri yang memudahkan terjadinya temper tantrum B. Dilakukan dengan menghindari atau mencegah faktorfaktor yang dapat menjadi penyebab temper tantrum Menangani anak yang temper tantrum (kuratif) A. Mengendalikan diri agar emosi tidak terpancing oleh ulah anak yang tantrum; B. Memastikan bahwa perilaku anak tidak berlebihan dan mengganggu lingkungan. C. Jika perilaku anak masih terkendali, peluk dia dengan penuh kasih sayang tetapi jika perilaku anak sudah berlebihan, orang tua hendaknya berusaha ada di dekat anak.

C. Menangani anak pasca temper tantrum
1) Meskipun perilaku yang timbul begitu merepotkan, orang tua jangan menghukum, menyindir, atau menasihasti anak karena tak akan digubris anak.

2) Berikan anak perhatian dan rasa aman. 3) Evaluasi mengapa tantrum tersebut sampai terjadi

EMOSI
EMOSI
Amarah

PENYEBAB
-Pertengkaran -Tidak

EKSPRESI
-Menangis -Berteriak -Menendang -Memukul -Panik -Lari -Menghindar -Bersembunyi -Menangis -Mengompol -Pura-pura Sakit Pura-Nakal -Melihat -Memegang -Bertanya

Tercapai Keinginan

Takut

-Pembiasaan -Peniruan -Ingatan (Sesuatu Yang Kurang Menyenangkan -Perhatian Berkurang

Cemburu

Ingin Tahu

-Objek Baru -Objek Aneh

EMOSI
EMOSI
IRI HATI

PENYEBAB

EKSPRESI
-MENGELUH -INGIN MEMILIKI -MENGAMBIL

GEMBIRA

-SEHAT -BERHASIL -KEHILANGAN SESUATU YANG DICINTAINYA

-TERSENYUM -TERTAWA -BERTEPUK TANGAN -MENANGIS -KEHILANGAN MINAT -MEMELUK -MENEPUK -MENCIUM

SEDIH

KASIH SAYANG

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
Anak sudah dapat memahami norma-norma yang berlaku; 2. Anak mulai belajar mentaati norma-norma yang berlaku; 3. Anak mulai menyadari hak dan kepentingan pihak lain; 4. Anak dapat bermain bersama dengan temantemannya berdasarkan aturan tertentu.
1.

POLA PERILAKU SOSIAL VS TIDAK SOSIAL
POLA SOSIAL 
MENIRU PERSAINGAN KERJA

POLA TIDAK SOSIAL 
NEGATIVISME AGRESIF PERILAKU

SAMA SIMPATI EMPATI DUKUNGAN SOSIAL MEMBAGI PERILAKU AKRAB

BERKUASA MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI MERUSAK PRASANGKA SOSIAL

Bermain
y Bermain y Bermain y Bermain y Bermain y Usia dini y Usia Dini y Usia dini

merupakan kegiatan yang serius dan pokok bagi anak hak asasi sangat penting dalam perkembangan kepribadian ekspresi 2-6 tahun anak masih tergantung pada Orang Tua usia pra sekolah (Mönks, dan Haditono)

Anak Usia Dini
y Berpikir secara konkrit y Realisme y Egosentris y Berpikir sederhana dan tidak mudah menerima

sesuatu yang majemuk y Animisme y Sentrasi y Imajinasi yang sangat kaya bibit kreativitas pada anak.

Fungsi Bermain
y y y y y y y y

Menghasilkan pengertian, Memberikan informasi, Memberikan kesenangan, Mengembangkan imajinasi anak Menjelajahi dunia, Mengembangkan kompetensi Mengembangkan kreativitas anak. Kemampuan untuk memahami konsep secara ilmiah, tanpa paksaan.

Karakteristik Bermain (Mulyadi,2004)
y y y y y

Menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik Bersifat spontan dan sukarela Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

Tahapan Bermain (Hurlock, 1981)
1) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. 2) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncknya pada usia 5-6 tahun. Antara 23 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah, anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.

Tahapan Bermain (Hurlock, 1981)
3) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. 4) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas, dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.

Bermain dan Kreativitas
y Solso (1998) aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. y Drevdal (1999) kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. y Munandar (1995) kemampuan untuk membuat kombinasikombinasi baru, asosiasi baru berdasarkan bahan, informasi, data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat.

Bermain dan Kreativitas Anak Usia Dini
y Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak y anak memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya, anak bebas mengekspresikan gagasannya melalui khayalan, drama, bermain konstruktif, dan sebagainya y Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas.

Bermain dan Kreativitas Anak Usia Dini
y Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk

mengembangkan kreativitasannya. y Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya.

Komputer, Video game dan Alat Permainan Elektronik
y alat permainan elektronik kemampuan anak untuk bereaksi cepat, penerapan strategi, dan dengan latihan yang terus menerus, sehingga anak akan menjadi tangkas. y sering membatasi interaksi anak dengan orang lain. y mengembangkan koordinasi tangan, mata, kemampuan berpikir cepat, karena anak dirangsang untuk melihat dan langsung bereaksi dengan menekan tombol-tombol yang tepat, meningkatkan rentang konsentrasi anak.

KEGIATAN BERMAIN PADA MASA KANAK-KANAK AWAL
Teori tentang bermain a. Teori rekreasi : anak bermain untuk mendapatkan

kegembiraan. b. Teori pelepasan tenaga : anak bermain sebagai upaya melepaskan tenaga yang lebih, yang jika tidak dilepaskan menyebabkan beban psikologis. c. Teori atavistis / teori rekapitulasi : anak bermain sebagai wujud pengulangan apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyangnya. d. Teori biologis : kegiatan bermain merupakan persiapan anak menghadapi kehidupan sebenarnya di waktu mendatang.
3/28/2011

Fungsi permainan
a) PENDIDIKAN SOSIAL : dengan bermain anak belajar hi-dup bersama dengan orang lain berdasarkan norma-norma yang berlaku. PENGENALAN KEMAMPUAN SENDIRI : dengan bermain anak dapat mengenal kemampuan dirinya jika dibanding-kan dengn anak lain. PENGEMBANGAN KEMAMPUAN : dengan bermain anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemam-puannya. EKSPERIMEN DAN EKSPLORASI : dengan bermain anak dapat menyalurkan keinginannya untuk melakukan ekspe-rimen dan juga penjelajahan terhadap lingkungannya. PENGALAMAN AFEKTIF : dengan bermain anak memper-oleh berbagai pengalaman, baik yang positif maupun yang negatif yang berguna bagi perkembangan kepribadiannya.

b)

c) d)

e)

3/28/2011

Jenis-jenis permainan
a. PERMAINAN FANTASI : permainan yg berguna untuk mengembangkan daya fantasi. b. PERMAINAN FUNGSI : permainan yg bermanfaat untuk melatih berbagai fungsi, baik fisik maupun psikis. c. PERMAINAN PERANAN : permainan yang dilakukan dengan memerankan peran-peran tertentu. d. PERMAINAN PRESTASI : permainan yg dilaku-kan dengan berusaha menjadi pemenang. e. PERMAINAN KONSTRUKSI : permainan yg di dalamnya ada akativitas membentuk sesuatu. f. PERMAINAN DISTRUKSI : permainan yg dilakukan dengan membongkar atau merusak alat permainan.

Tahap-tahap aktivitas bermain anak
a) Anak bermain sendiri dengan tangan, kaki, dst. b) Anak bermain sendiri dengan alat-alat

permainan. c) Anak bermain dengan teman-temannya tanpa disertai peraturan. d) Anak bermain dengan teman-temannya berdasarkan peraturan yang berlaku.

3/28/2011

KONSEP UMUM YANG BERKEMBANG DALAM KEHIDUPAN ANAK
y y y y y y y y y y y

KEHIDUPAN KEMATIAN FUNGSI TUBUH RUANG BERAT BILANGAN WAKTU DIRI SENDIRI KESADARAN SOSIAL KEINDAHAN KELUCUAN

PENANAMAN DISIPLIN (POLA ASUH)
OTORITER y LANDASAN FILOSOFIS: MENGHEMAT CAMBUKAN BERARTI MEMANJAKAN ANAK y MENETAPKAN PERATURAN YANG KAKU y TIDAK ADA PENJELASAN y ANAK TIDAK DIBERI KESEMPATAN UNTUK BERPENDAPAT ATAU BERTANYA y MENEKANKAN HUKUMAN (SERINGKALI KEJAM) y TIDAK ADA REWARD TERHADAP PERILAKU POSITIF, HADIAH DIANGGAP SEBAGAI SOGOKAN y MEMATUHI ATURAN DIANGGAP SEBAGAI KEWAJIBAN

PENGARUH DISIPLIN PADA ANAK-ANAK
OTORITER y PERILAKU
y PATUH BILA DIHADAPAN ORANG TUANYA y AGRESIF DALAM HUBUNGANNYA DENGAN TEMAN

y SIKAP
y MEMBENCI ORANG YANG BERKUASA y MERASA DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL

y KEPRIBADIAN
y CEMBERUT y KERAS KEPALA y NEGATIVISTIK

PENANAMAN DISIPLIN
PERMISIF (DISIPLIN LEMAH) y LANDASAN FILOSOFIS: MELALUI PERBUATANNYA SENDIRI ANAK BELAJAR BAGAIMANA BERPERILAKU YANG BAIK y ANAK TIDAK DIAJARKAN PERATURAN y TIDAK ADA KONTROL y TIDAK ADA HUKUMAN BILA MELANGGAR y TIDAK ADA REWARD TERHADAP PERILAKU YANG BAIK

PENGARUH DISIPLIN PADA ANAK-ANAK
PERMISIF y PERILAKU
y MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI y TIDAK MENGHIRAUKAN HAK ORANG LAIN y AGRESIF y TIDAK SOSIAL

y SIKAP
y MEMBENCI ORANG YANG BERKUASA

y KEPRIBADIAN
y SULIT MELAKUKAN PENYESUAIAN PRIBADI y SULIT MELAKUKAN PENYESUAIAN SOSIAL

PENANAMAN DISIPLIN
AUTORITATIF (DEMOKRATIS) y ANAK DIBERI HAK UNTUK MENGETAHUI MENGAPA PERATURAN DIBUAT y ANAK DIBERI KESEMPATAN UNTUK MENENTUKAN ATURAN YANG AKAN DITERAPKAN y ANAK DIAJAR UNTUK MENGERTI APA ARTI PERATURAN DAN MENGAPA ANAK HARUS MEMATUHI PERATURAN ITU y MENEKANKAN DIALOG y HUKUMAN SESUAI TINGKAT (KADAR) PELANGGARAN y HADIAH TERHADAP PERILAKU POSITIF AKAN DAPAT MENGINGKATKAN PERILAKU POSITIF TERSEBUT

PENGARUH DISIPLIN PADA ANAK-ANAK
AUTORITATIF y PERILAKU
y MAMPU MENGENDALIKAN PERILAKU y MEMPERTIMBANGKAN HAK ORANG LAIN

y SIKAP
y DAPAT MENGENDALIKAN EMOSI y DAPAT BERSIKAP POSITIF

y KEPRIBADIAN
y DAPAT MELAKUKAN PENYESUAIAN PRIBADI DENGAN

BAIK y DAPAT MELAKUKAN PENYESUAIAN SOSIAL DENGAN BAIK

HUBUNGAN KELUARGA PADA AWAL KANAK-KANAK
y HUBUNGAN DENGAN ORANG TUA DAN

KAKAK-KAKAKNYA MENGALAMI PERUBAHAN y KONDISI YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN:
y PERUBAHAN PADA ANAK y PERUBAHAN SIKAP ORANG TUA

y KONSEP ORANG TUA TENTANG ANAK YANG

BAIK y ORANG TUA KESAYANGAN y MUNCULNYA FIGUR BARU YANG LEBIH DISUKAI

BAHAYA PADA AWAL MASA KANAK-KANAK
BAHAYA FISIK: y KEMATIAN y PENYAKIT y KECELAKAAN y KEGEMUKAN y TANGAN KIDAL BAHAYA PSIKOLOGIS: y BAHAYA DALAM BERBICARA y BAHAYA EMOSIONAL y BAHAYA SOSIAL y BAHAYA BERMAIN y BAHAYA DALAM PERKEMBANGAN KONSEP y BAHAYA MORAL y BAHAYA DALAM PENGGOLONGAN PERAN SEKS y BAHAYA DALAM HUBUNGAN KELUARGA y BAHAYA KEPRIBADIAN

Identitas Gender
y Faktor yang mempengaruhi pembentukan stereotip gender & perilaku peran gender adalah gender identity suatu persepsi mengenai diri sebagai relatif maskulin/feminin dalam karakteristiknya. y Ada sebagian kecil individu (khususnya perempuan) yang mempunyai tipe identitas gender yang disebut androgyny suatu tipe identitas gender dimana orang tersebut memiliki skor yang tinggi pada kedua karakteristik kepribadian, baik maskulin/feminin --- pada orang ini, komponen maskulinnya lebih dominan dalam penyesuaian psikologisnya terhadap lingkungan.

Munculnya Identitas Gender
y Social

learning perilaku muncul sebelum persepsi diri (self perception), seperti yang terjadi pada anak pra-sekolah yang menemukan respon sesuai dengan tipe gendernya melalui modeling & reinforcement. developmental menekankan persepsi diri datangnya sebelum perilaku. Selama usia pra-sekolah anak menemukan suatu apresiasi kognitif mengenai permanensi jenis kelamin.

y Cognitive

Munculnya Identitas Gender
y Tahap perkembangan pengertian gender Lawrence

Kohlberg (1966)
y Tahap

I: Gender labeling anak pra-sekolah memberikan label pada gendernya dan juga gender orang lain secara benar. y Tahap II: Gender stability anak pra-sekolah memiliki pengertian parsial mengenai permanensi jenis kelamin -- meraih stabilitas ini seturut waktu. y Tahap III: Gender consistency pada masa akhir prasekolah awal sekolah dasar anak mampu menguasai kekonstanan gender.

Identitas Gender Selama Middle Childhood
Pada masa ini anak memperkuat identifikasi mereka terhadap peran maskulin . Sedangkan anak menjadi lebih androgenus (kelaki-lakian).

Gender Schema Theory
y Gender Schema Theory

suatu pendekatan information-processing terhadap pembentukkan tipe gender yang mengkombinasikan bentuk social learning & cognitive develomental.

Menjelaskan bagaimana tekanan sosial & kognisi bekerja bersama-sama untuk mempengaruhi pembentukan stereotip, identitas peran gender, dan adopsi gender.

Dalam Hal Apa Anak Laki-laki & Perempuan Benarbenar Berbeda dalam Atribut Stereotip Gendernya?
y Perbedaan jenis kelamin dalam kemampuan mental & personality

traits
KARAKTERISTIK PERBEDAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JENIS KELAMIN Anak lebih beruntung dalam perkembagan bahasa awal & prestasi membaca di usia sekolah.

Kemampuan Verbal

Kemampuan Spasial

Anak memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding anak dalam kemampuan spasial tertentu --- bertahan sepanjang rentang kehidupan.

KARAKTERISTIK Kemampuan Matematika

PERBEDAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JENIS KELAMIN Mulai masa remaja, anak lebih baik dibanding anak dalam tes mathamatical reasoning. Perbedaan paling besar terjadi pada murid-murid dengan prestasi tinggi ± lebih banyak jumlah anak yang nilainya baik dalam matematika. Anak memiliki prestasi yang lebih baik dalam semua subjek akademik di sekolah dasar. Setelah itu barulah perbedaan tersebut menurun, pada tingkat SMP anak mulai berprestasi dalam matematika. Perbedaan yang terkait dengan jenis kelamin dalam motiovasi berprestasi berkaitan dengan tipe tugas. Anak mersa diri lebih kompeten & memiliki harapan yang lebih untuk sukses dalam area ³maskulin´. Sedangkan anak memiliki harapan & standart yang lebih bagi dirinya dalam area ³feminin´.

Prestasi Sekolah

Motivasi Berprestasi

KARAKTERISTIK Sensitivitas Emosional

PERBEDAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JENIS KELAMIN Anak lebih efektif dalam memberikan & menerima informasi emosional, serta memiliki skor lebih tinggi pada self reaport measures mengenai empati & simpati. Keberuntungan anak dalam perilaku prososial adalah paling besar dalam hal kebaikan, perhatian & sedikit perilaku membantu. Anak lebih takut & malu-malu dibanding anak . Perbedaan ini telah muncul pada tahun pertama kehidupan. Di sekolah, anak lebih cemas akan kegagalan & berusaha keras menghindarinya. Secara kontras, anak menjadi anak yang suka mengambil resiko besar. Anak lebih siap dalam pemenuhan (keinginan) secara langsung dari orang dewasa & teman sepergaulan. Mereka juga lebih sering mencari bantuan dari orang dewasa & memiliki skor yang lebih tinggi untuk dependency (ketergantungan) pada tes kepribadian.

Ketakutan, Malu-malu & Kecemasan

Pemenuhan (keinginan) & Ketergantungan

KARAKTERISTIK Level Aktivitas Depresi Agresi

PERBEDAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JENIS KELAMIN Anak lebih aktif dibanding anak .

Remaja menampilkan sindrom depresi yang lebih banyak dibanding remaja . Anak lebih menampilkan agresinya secara nyata, sedangkan anak lebih kearah agresi dalam hubungan antar individu. Remaja lebih mudah untuk terjerumus dalam tindakan antisosial & kriminal dibanding remaja . Masalah lebih banyak terjadi pada anak , termasuk masalah kelainan berbicara & bahasa, ketidakmampuan dalam membaca, dan masalah perilaku hiperaktivitas, perilaku bermusuhan dan cari perhatian, serta ketidak matangan emosional & sosial. Lebih banyak anak yang dilahirkan dengan kelainan genetis, ketidakmampuan fisik & keterbelakangan mental.

asala erke a ga

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful