Anda di halaman 1dari 9

Trend dan issue

HIV/AIDS, family
centered pada ODHA
dan penyalahgunaan
NAFSA
kelompok 5
• A. Keperawatan berpusat pada keluarga (Family Center Nursing)
Friedman, Bowden dan Jones (2010) praktik keperawatan keluarga
adalah pemberian asuhan keperawatan kepada keluarga dan anggota
keluarga. Lima cara berfikir tentang keluarga yang menjadi dasar praktik,
pendidikan, penelitian dan perkembangan teori keperawatan keluarga
dengan HIV/AIDS adalah sebagai berikut.
1. Keluarga sebagai konteks Cara pertama menjabarkan konsep
keperawatan keluarga adalah sebuah tempat, keluarga dipandang sebagi
konteks bagi klien atau anggota keluarga (Bozett, 1987; Robinson, 1995
dalam Friedman, Bowden & Jones, 2010). Asuhan keperawatan berfokus
pada individu dalam keluarga.
2. Keluarga sebagai kumpulan dari anggotanyaKeluarga dipandang
sebagai akumulasi atau kumpulan individu yang menjadi anggota
keluarganya. Fokus utamanya adalah masing-masing klien yang
dipandang sebagai unit yang terpisah bukan unit yang saling terkait
(Friedman, Bowden & Jones, 2010; Stanhope & Lanchaster, 2004).
3. Keluarga sebagai subsitem Subsistem keluarga merupakan fokus dan
penerima pengkajian dan intervensi. Keluarga Diad dan triad, serta 4.
subsistem keluarga yang lainadalah unit analisis dan perawatan.
Keluarga sebagai klien Menurut Friedman, Bowden dan Jones (2010),
dan Stanhope dan Lanchaster (2004) pada keluarga sebagai klien
keseluruhan keluarga dipandang sebagai klien atau sebagai fokus utama
pengkajian dan perawatan
5. Keluarga sebagai komponen masyarakat Keluarga dipandang sebagai
sebuah sistem yang lebih besar yaitu komunitas dan masyarakat.
B. Konsep Family Centered Care pada ODHA
Martabat dan kehormatan Praktisi keperawatan mendengarkan dan menghormati pandangan dan
pilihan pasien. Pengetahuan, nilai, kepercayaan dan latar belakang budaya pasien dan keluarga
bergabung dalam rencana dan intervensi keperawatan pada ODHA
a) Berbagi informasi
Praktisi keperawatan berkomunikasi dan memberitahukan informasi yang berguna bagi pasien dan
keluarga dengan benar dan tidak memihak kepada pasien dan keluarga. Pasien dan keluarga
menerima informasi setiap waktu, lengkap, akurat agar dapat berpartisipasi dalamperawatan dan
pengambilan keputusan pada ODHA.
b) Partisipasi
Pasien pada ODHA dan keluarga termotivasi berpartisipasi dalam perawatan dan pengambilan
keputusan sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat.
c) Kolaborasi
Pasien pada ODHA dan keluarga juga termasuk ke dalam komponen dasar kolaborasi. Perawat
berkolaborasi dengan pasien pada ODHA dan keluarga dalam pengambilan kebijakan dan
pengembangan program, implementasi dan evaluasi, desain
C. Elemen Family-Centered Care pada ODHA
Sembilan element Family-Centered Care pada ODHA(orang dengan HIV AIDS) yaitu:
1. Keluarga dipandang sebagai unsur yang konstan sementara kehadiran profesi
kesehatan fluktuatif
2. Memfasilitasi kolaborasi keluarga professional pada semua level perawatan kesehatan.
3. Meningkatkan kekuatan keluarga, dan mempertimbangkan metode-metode alternative
dalam koping.
4. Memperjelas hal-hal yang kurang jelas dan informasi lebih komplit oleh keluarga
tentang perawatan pada ODHA yang tepat.
5. Menimbulkan kelompok support antara orang tua dengan ODHA.
6. Mengerti dan memanfaatkan sistem pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan
pelayanan pada ODHA.
7. melaksanakan kebijakan dan program yang tepat, komprehensif meliputi dukungan
emosional dan finansial dalam memenuhi kebutuhan kesehatan keluarganya.
8. Menunjukkan desain transportasi perawatan kesehatan fleksibel, accessible, dan
responsive ODHA terhadap kebtuhan pasien.
9. Implementasi kebijakan dan program yang tepat komprehensif meliputi dukunga
nemosional dengan staff. Element Family Centered Care.
Menurut (Shelton, 2012), terdapat beberapa elemen Family
Centered Care, yaitu: Perawat menyadari bahwa keluarga
adalah bagian yang konstan dalam kehidupan ODHA.
Sementara system layanan dan anggota dalam system
tersebut berfluktuasi. Oleh karena itu, dalam menjalankan
sistem perawatan kesehatan, keluarga dilibatkan dalam
membuat keputusan, mengasuh, mendidik, dan melakukan
pembelaan terhadap hak pada pasien ODHA selama
menjalani masa perawatan.
Beberapa hal yang diterapkan untuk menghargai dan
mendukung individualitas dan kekuatan yang dimiliki dalam
satu keluarga seperti:
1. Kunjungan yang dibuat dirumah keluarga atau ditempat lain
dengan waktu dan lokasi yang disepakati bersama keluarga.
2. Perawat mengkaji keluarga berdasarkan kebutuhan
keluarga.
3. Orangtua adalah bagian dari keluarga yang menjadi fokus
utama dari perawatan yang diberikan mereka turut
merencanakan perawatan dan peran mereka dalam
perawatan anak.
4. Perencanaan perawatan yang diberikan bersifat
komprehensif dan perawatan memberikan semua perawatan
yang dibutuhkan misalnya perawatan pada pasien ODHA,
dukungan kepada orangtua, bantuan keuangan, hiburan dan
dukungan emosional.
Memfassilitassi kerjasama antara keluarga dengan perawat di semua tingkat pelayanan kesehatan, merawat anak
secara individual, pengembangan program, pelaksanaan dan evaluasi serta pembentukan kebijakan hal ini ditujukan
ketika.
1. Kalaborasi untuk memberikan perawatan kepada anak peran kerjasama antara orangtua dan tenaga perofesional
sangat penting dan vital. Keluarga bukan sekedar sebagai pendamping, tetapi terlibat didalam pemberian pelayanan
kesehatan kepada anak mereka.
2. Kerjasama dalam mengembangkan masyarakat dan pelayanan rumah sakit Pada tahap ini pada pasien ODHA
dengan kebutuhan khusus merasakan mamfaat dari kemampuan orangtua dan perawat dalam mengembangkan,
melaksanakan dan mengevaluasi program.
3. Kalaborasi dalam tahap kebijakan Family Centered Care dapat tercapai melalui kalaborasi orangtua dan tenaga
professional dalam tahap kebijakan.
4. Menghormati keanekaragaman ras, etnisbudaya dan sosial ekonomi dalam keluarga tujuannya adalah untuk
menunjang keberhasilan perawatan pada pasien ODHA mereka dirumah sakit dengan mempertimbangkan tingkat
perkembangan pasien diagnosa medis.
5. Memberikan imformasi yang lengkap dan jelas kepada keluarga dan secara berkelanjutan dengan dukungan penuh
memberikan imformasi kepada keluarga bertujuan untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan orangtua terhadap
perawat pada pasien ODHA. Selain itu, dengan demikian imformasi keluarga akan merasa menjadi bagian yang penting
dalam perawatan pada pasien ODHA.
6. Mendorong dan mempasilitasi keluarga untuk saling mendukung.Komunikasi peran perawat dan orangtua pasien
ODHAsesuai dengan Hirarki Family Centerd Care terdiri dari 3 tahap yaitu:
1) Keterlibatan orangtua Pada tahap ini orang tua dan perawat untuk pertama kalinya melakukan intraksi. Perawat
berperan penuh dalam memberikan asuhan keperawatan dan bertindak sebagai pemimpin dalam memberikan
perawatan dan orangtua dilibatkan dalam perawatan ini.
2) Partisipasi orangtua Pada tahap ini ditandai dengan telah terbinanya hubungan kerjasama antar orangtua dan
perawat.
3) Family Centered Care Hubungan yang terjalin pada tahap ini adalah perawat dan orangtua saling menghormati peran
D. Konsep Family Centered Pada Penyalahgunaan NAPZA
Banyak penelitian menunjukkan bahwa sikap keluarga memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan
remaja dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA. Penelitian Rutter menunjukan bahwa hubungan kedua orang tua
yang tidak harmonis turut mendorong anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Tidak hanya alasan keluarga
yang tidak harmonis yang menjadikan penyebab seorang remaja menyalahgunakan NAPZA,kurangnya komunikasi,
kurangnya keterbukaan, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, terlalu memanjakan anaknya, orang
tua terlalu sibuk mencari nafkah, kurangnya perhatian, kehangatan, kasih sayang terhadap anak-anaknya dan bisa
juga dikarenakankarena kedua orang tua sebagai pemakai.

Berikut adalah beberapa cara untuk terhindar dari penyalahgunaan NAPZA di lingkungan keluarga, diantaranya:
1. Orang tua hendaknya mengambil kesempatan untuk mempelajari masalah narkoba dengan membaca,
mendengarkan ceramah, berdiskusi, serta mencari informasi yang berasal dari buku, internet, maupun referensi lain.
Umumya remaja menerima informasi tentang narkoba dari luar rumah, sebagian besar dari teman sebayanya. Akan
sangat berbahaya jika anak mengetahui suatu hal baru yang hanya setengah-setengah. Oleh karena itu, sebagai
orang tua harus memiliki informasi yang benar dan luas mengenai permasalahan narkoba.
2. Pola asuh orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan kepribadian seorang anak. Menjadi
sahabat anak dapat diterapkan orang tua dalam pendidikan keluarga. Dalam kesehariannya, anak-anak pasti
membutuhkan figur orang tua, tetapi tidak menutup kemungkinan seorang anak juga membutuhkan sosoksahabat
yang bisa menjadi partner dalam dunianya. Mendapatkan kepercayaan dari anak sangat berarti besar, saat seorang
anak menghadapi masalah ia akan menjadikan orang tuanya sebagai tempat curhat dan berbagi beban.
3. Jangan terlalu memanjakan anak, karena menurut penelitian terlalu memanjakan anak dengan menuruti kemauan
memberikan fasilitas-fasilitas secara berlebihan kepada anaknya akan membuat seorang anak mempunyai mental dan
prinsip apapun yang mereka inginkan semuanya mudah didapat dan anak tidak belajar menghadapi situasi frustasi,
kegagalan, penolakan, larangan serta memahami konsekuensi dari tindakannya. Akibatya mereka kurang memiliki
kontrol diri sehingga mudah terpengaruh dengan godaan dari lingkungan luar.
4. Perilaku orang tua hendaknya menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, seringkali orang tua
lupa bahwa anak belajar dari tingkah laku dan perilaku orang tua yang mereka lihat dan
memperhatikan setiap harinya dari bayi sampai remaja. Untuk itu, sebagai orang tua harus
memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
5. Menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan pasangan dan juga dengan anak-anaknya
dapat memungkinkan orang tua dalam melihat gejala-gejala awal pemakaian narkoba pada anak-
anak. Komunikasi diperlukan pada setiap anggota keluarga,karena komunikasi merupakan sebuah
fondasi demi terwujudnya keluarga harmonis.
6. Bekerja sama dengan lingkungan sekitar dan memiliki hubungan yang baik dengan para tetangga
selalu mendatangkan kenyamanan dan keamanan bagi kita. Bila ikatan dan sistem yang dibangun
dengan para tetangga itu kuat, gejala-gejala penyahgunaan NAPZA di pemukiman kita akan terdeteksi
dan dapat tertanggulangi dengan cepat dan baik.
 
Pencegahan penyalahgunaan NAPZA di dalam keluarga tentunya sangat penting untuk dilakukan dan
dinilai sangat efektif, dikarenakan keluarga merupakan pendidikan pertama dari pembentukan karakter
seorang anak dan keluarga adah lingkungan yang paling dekat dengan anak. Apabila sebuah keluarga
tidak dapat menciptakan keharmonisan di dalam kehidupan berkeluarga, maka akan dapat
mengakibatkan banyak kejadian-kejadian yang merugikan setiap anggota keluarga, salah satunya
adalah kenakalan remaja yang berdampak pada penyalahgunaan NAPZA. Bayangkan saja apabila
tidak adanya pencegahan, 10-20 tahun kedepan kemungkinan dapat terjadi hilangnya penerus bangsa
akibat penyahgunaan NAPZA. Oleh karena itu, marilah menciptakan keluarga yang sejahtera, dan
harmonis sebagai dasar pembentukan generasi emas bangsa.
THANKS!

CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons by Flaticon,
infographics & images by Freepik