Anda di halaman 1dari 6

Manajemen Kinerja

Urutan manajemen kinerja oleh Armstrong dan Baron digambarkan sbb:

1. Misi Organisasi dan Tujuan Strategis


2. Rencana dan Tujuan Bisnis dan Departemen
3. Kesepakatan Kinerja  (Performance Contract/Kontrak Kinerja) dan Pengembangan
4. Rencana Kinerja dan Pengembangan
5. Tindakan Kerja dan Pengembangan
6. Monitoring dan Umpan Balik berkelanjutan
7. Review Formal dan Umpan Balik
8. Penilaian Kinerja Menyeluruh
EVALUASI KINERJA
• Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian dan
pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja
dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau
tujuan yang ditetapkan lebih dahulu.
Metode Penilaian Kinerja di PT. Rajawali Hiyoto

Rating Scale Methods

Menilai kinerja pegawai dengan menggunakan


skala untuk mengukur faktor-faktor kinerja
(performance factor). Misalnya dalam mengukur
tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai.
Skala yang digunakan adalah 1 sampai 5, yaitu 1
adalah yang terburuk dan 5 adalah yang terbaik.
Jika tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai
tersebut biasa saja, maka ia diberi nilai 3 atau 4
dan begitu seterusnya untuk menilai faktor-faktor
kinerja lainnya.
Kelebihan Rating Scale
º    Mudah penggunaannya.
º    Dapat mengetahui intensitas dan gambaran keadaan suatu perilaku/kejadian.
º    Dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan antara realitas dengan persepsi subjektif rater. 
Kekurangan Menggunakan Rating Scale
Observer dapat melakukan kesalahan dalam membuat kesimpulan, antara lain :
º    Error of leniency : terlalu longgar
º    Error of central tendency : cenderung ke pusat skala
º    Hallo effect : terkesan hal umum
º    Error of logic : cenderung sama karena dianggap berhubungan
º    Error of contast : memiliki dua arah
º    Ketidakjelasan dalam penggunaan istilah
º    Social desirability effect : secara sosial lebih diterima
º    Skala rating tidak memberi informasi sebab terjadinya perilaku
º    The generosity effect : terjadi ketika ragu-ragu
º    Carry over effect : tidak memisahkan gejala