Anda di halaman 1dari 24

* KELOMPOK 7

SUMIA INTAN ROMADINA


TSULATUL FITRI
VIVIN SEPTA KIHANTARI
YULIATRI KRESNAWATI
YULIATI
Definisi
* 1.Suatu keadaan menurunnya kadar
hemoglobin dan atau jumlah eritrosit lebih
rendah dari nilai normal. (Mansjoer, 2001)
* 2. Anemia adalah berkurangnya jumlah
eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1mm3
darah atau berkurangnya volume sel yang
dipadatkan (packed red cells volume) dalam
100 ml darah. (Ngastiyah, 1997)

* ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


DENGAN ANEMIA
Etiologi
Penyebab terjadinya anemia dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Perdarahan
*a. Akut : karena trauma yang terjadi secara mendadak
*b.Kronis : karena perdarahan pada saluran pencernaan atau
menorhagia

2. Gangguan pembentukan sel darah merah (eritrosit)


*a. Infiltrasi sumsum tulang, misalnya karena karsinoma
*b. Perubahan sintesa hemoglobin (Hb) sehingga dapat menimbulkan
anemia defisiensi zat besi, thalasemia, dan anemia infeksi kronik
*c.Perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrien yang dapat
menimbulkan anemia pernisiosa dan anemia defisiensi asam folat
*d. Gangguan pada sel induk (stem sel) sehingga menimbulkan anemia
aplastik dan leukimia
*e. Bahan baku pembentukan eritrosit tidak ada, seperti asam folat,
zat besi, dan vitamin B12.
3. Meningkatnya proses pemecahan eritrosit
(hemolisis)
* a.Faktor didapat : adanya zat yang dapat
merusak eritrosit, misalnya ureum pada darah
karena gangguan ginjal atau penggunaan obat
acetosal
* b.Faktor bawaan : kekurangan enzim G6PD
(untuk mencegah kerusakan eritrosit)
Tanda dan gejala anemia pada anak :
Anak yang terkena anemia biasanya menunjukkan gejala awal
seperti klit pucat ringan dan warna pink dari bibir dan bantalan
kuku memudar. Perubahan ini dapat terjadi secara bertahap.
Gejala – gejala umum anemia lainnya, yaitu :
1. Anak rewel
2. kelelahan
3. Pusing , kepala berkunang – kunang , dan detak jantung
cepat.
Klasifikasi
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologis :
1. Normochromic, normocytic anemia (normal MCHC, normal MCV).
* a. Anemias of chronic disease
* b. Hemolytic anemias
* c. Anemia of acute hemorrhage
* d. Aplastic anemias

2. Hypochromic, microcytic anemia (low MCHC, low MCV).


* a. Iron deficiency anemia
* b. Thalassemias
* c. Anemia of chronic disease (rare cases)

3. Normochromic, macrocytic anemia (normal MCHC, high MCV).


* a. Vitamin B12 deficiency
* b. Folate deficiency
* Klasifikasi anemia berdasarkan etiologi :
1. Anemia Aplastik
* Merupakan keadaan yang disebabkan berkurangnya sel darah
merah dalam darah perifer.
2. Anemia Hemolitik
* Biasanya terjadi pada bayi baru lahir. Merupakan dampak
apabila ada ketidaksesuaian atau isoimunisasi antara darah
fetal dan darah ibu. Pada anemia hemolitik, umur eritrosit
menjadi lebih pendek (normal umur eritrosit 100-120 hari).
3. Anemia Defisiensi Zat Besi
* Diakibatkan kekurangan intake zat besi atau tidak sesuai
pemakaian didalam sumsum tulang, terhalangnya pelepasan
dalam sel-sel reticuloendotelial dan gangguan absorbsi.
4. Anemia Pernisiosa
Disebabkan karena tidak adanya faktor dalam darah yang
diperlukan untuk perbaikan vitamin B12 (kobalamin) dalam
pembentukan sl-sel darah merah.
5. Anemia Akibat Perdarahan
Ulkus yang berdarah, ulcerative colitis, dan penyakit
gastrointestinal yang hebat dapat kehilangan darah secara
perlahan, sehingga berakhir dengan anemia. Dapat juga setelah
pembedahan dan pada luka trauma
A. Pathway
Etiologi

Anemia Anemia Anemia Anemia Anemia Anemia


Akibat aplastik Megaloblastik hemolitik Pernisiosa defisiensi
kehilangan Fe
darah

Tidak Defisiensi Umur Defisiensi


berfungsi factor instrinsi eritrosit B12 Defisiensi
nya (B12 dan asam menjadi Fe

Terjadi Terjadi sumsum folat) lebih


secara secara tulang pendek
Eritrosit Bentuk
perlahan mendadak makrositik hipokromik
Memperlambat normokro mikrositik
Tidak produksi mik
berfungsi Cepat
eritroblas dalam dihancurkan
nya sum sum tulang
Jumlah sumsum Atrofi papil
eritrosit tulang Mudah lidah
berkurang pecah dan
Menghasilkan rapuh
sel mudah pecah Anoreksia
dan rapuh
NUTRISI
KURANG
Mempengaruhi Sistem Sirkulasi DARI
KEBUTUHAN
TUBUH

Mempengaruhi Sistem Sirkulasi ANSIETAS

Visikositas darah Penurunan Th/


menurun transport oksigen transfusi
Penatalaksanaan Medis Pada Kasus Anemia
Penatalaksanaan anemia umumnya ditujukan untuk mencari
penyebab dan mengganti darah yang hilang:
1. Anemia aplastik
2. Anemia pada defisiensi besi
3. Anemia megaloblastik
* ASKEP
Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
* a. Gambaran yang jelas tentang gejala-gejala antara awitan, durasi, lokasi, dan
factor pencetus. Tanda dan gejala utama dapat mencakup:
* 1) Keletihan, sakit kepala, vertigo, iritabilitas, dan depresi.
* 2) Anorexia dan penurunan BB.
* 3) Kecenderungan perdarahan dan memar, antara menstruasi berat dan
epistaksis.
* 4) Infeksi yang sering
* 5) Nyeri tulang dan sendi
* b.Kaji riwayat prenatal, individu, dan keluarga terhadap factor-faktor resiko
gangguan hematologic.
* 1) Faktor risiko riwayat prenatal: Rh bayi-ibu atau inkompatibilitas ABO.
* 2) Factor risiko riwayat individu antara lain prematuritas, BBLR, diet kurang besi
atau diet berat dengan susu sapi (selama masa bayi), perdarahan (mis.,
menstruasi berat), kebiasaan diet, atau pajanan terhadap inveksi virus. Factor
resiko riwayat keluarga antara lain riwayat anemia sel sabit, atau gangguan
perdarahan.
2. Manifestasi Umum
*- Kelamahan otot
*- Mudah lelah : sering istirahat, napas pendek, proses menghisap
yang buruk (bayi)
*- Kulit pucat : pucat lilin terlihat pada anemia berat
*- Pica

3. Pemeriksaan Fisik
* a. Tanda-tanda vital
* Perubahan tanda vital yang nyata bukan merupakan factor pada
sebagian besar gangguan hematologic. Namun takikardi dan
takipnea mungkin harus diperlukan.
* b. Inspeksi
* 1)Kulit. Pucat, kemerahan, ikterus, purpura, petekie, ekimosis, tanda-tanda
pruritus (tanda garukan), sianosis, atau warna kecklatan yang mungkin terlihat.
* 2)Mata. Sclera ikterik, konjungtiva pucat, perdarahan retina, atau pandangan
kabur mungkin terlihat.
* 3) Mulut. Mukosa dan gusi yang pucat mungkin terlihat.
* 4) Neurologic. Kerusakan proses berpikir atau letargi mungkin terlihat.
* 5) Musculoskeletal. Pembengkakan sendi mungkin terlihat.
* 6)Genitourinaria. Darah dalam urine dan perdarahan menstruasi yang berlebihan
atau abnormal mungkin terlihat.
* c. Palpasi
* 1) Kulit. Kemungkinan terdapat pemanjangan waktu pengisian kapiler.
* 2) Nodus limfe. Limfadenopati atau nyeri tekan mungkin dapat dipalpasi.
* 3)
Gastrointestinal. Nyeri tekan abdomen, hepatomegali, atau splenomegali
mungkin dapat dipalpasi.
* d. Auskultasi
* 1) Jantung. Murmur dapat diauskultasi.
* 2)Pulmonal. Suara napas tambahan (bila terjadi gagal jantung kongestif pada
dapat diauskultasi.
* 4. Temuan pemeriksaan labolatorium dan uji diagnostik
* a.Hitung darah lengkap (HDL) memberikan gambaran lengkap
yang jelas tentang elemen-elemen pembentuk darah.
* 1)Hitung SDM menentukan jumlah SDM total setiap sentimeter
kubik darah.
* 2)Hitung SDP merupakan pengukuran jumlah total leukosit yang
bersirkulasi.
* 3)Hitung SDP diferensial (granulosit dan agrabulosit)
membedakan SDP berdasarkan lima tipe sel – neutrófil, eosinófilo,
basófilo (granulosit), limfosit, dan monosit (agranulosit).
* 4)Hemoglobin (Hb) dikaji untuk menentukan anemia, tingkat
keparahan, dan respons terhadap pengobatan.
* 5)Hematokrit (Ht) menentukan massa SDP dengan pengukuran
ruang dalam kantung SDM.
* 6) Hemoglobin korpuskular rata-rata (MCH, mean corpuscular
volume) adalah untuk mengetahui ukuran SDM individu
* 7)Hemoglobin korpuskular rata-rata (MCH, mean
corpuscular hemoglobin) mengukur barat rata-rata
hemoglobin dalam SDM.
* 8)Konsentrasi hemoglobin korpuskular rata-rata
(MCHC, mean corpuscular hemoglobin
concentration) mengukur konsentrasi rata-rata
hemoglobin dalam SDM.
* 9)Hitung trombosit mengukur jumlah total
trombosit yang bersirkulasi untuk mengevaluasi
gangguan perdarahan.
* b.Hitung retikulosit membantu membedakan berbagai tipe
anemia.
* c. Pemeriksaan hemostasis dan koagulasi sebagai alat
diagnosis banding gangguan perdarahan.
* d. Kapasitas pengikatan besi total (TIBC, total iron-binding
capacity), feritin dan zat besi, dan transferin digunakan
dalam mengevaluasi anemia.
* e.
Temuan aspirasi sumsum tulang sebagai alat bantu dalam
mendiagnosis anemia aplastik dan gangguan lain.
* 1)Persiapan untuk uji ini biasanya memerlukan beberapa
bentuk sedasi.
* 2)Pada area luka aspirasi, harus dipantau dengan cermat
adanya perdarahan dan pembentukan hematoma setelah
prosedur selesai dilakukan.
Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
* 1. Gangguan perfusi jaringan perifer
* 2. Perubahan cardiac output
* 3. Keletihan
* 4. Intoleransi aktivitas
* 5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
* 6. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
* 7. Resiko infeksi
Diagnosa Keperawatan, Intervensi dan Evaluasi
1. Ansietas berhubungan dengan prosedur diagnostik/transfusi.
* Tujuan:
* - Pasien dan keluarga mendapatkan pengetahuan tentang
gangguan, tes diagnostik, dan pengobatan.
* Intervensi (rasional):
* - Siapkan anak untuk tes (untuk menghilangkan ansietas/rasa
takut).
*- Tetap bersama anak selama tes dan memulai transfusi (untuk
memberikan dukungan dan observasi pada kemungkinan
komplikasi).
*- Jelaskan tujuan pemberin komponen darah (untuk meningkatkan
pemahaman terhadap gangguan, tes diagnostik, dan pengobatan).
* Evaluasi:
* - Anak dan keluarga menunjukkan ansietas yang minimal.
* - Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang gangguan,
tes diagnostik, dan pengobatan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
penurunan pengiriman oksigen ke jaringan.
* Tujuan:
* Pasien mendapatkan istirahat yang adekuat.
* Pasien menunjukkan pernapasan normal.
* Pasien mengalami stres emosional.
* Pasien menerima elemen darah yang tepat.
* Intervensi (rasional):
* 2.1.1 Observasi adanya tanda kerja fisik (takikardia, palpitasi,
takipnea, napas pendek, hiperpnea, sesak napas, pusing, kunang-
kunang, berkeringat, dan perubahan warna kulit) dan keletihan (lemas,
postur loyo, gerakan lambat dan tegang, tidak dapat mentoleransi
aktivitas tambahan) (untuk merencanakan istirahat yang tepat).
* 2.1.2Antisipasi dan bantu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang
mungkin di luar batas toleransi anak (untuk mencegah kelelahan).
* 2.1.3 Beri aktivitas bermain pengalihan (yang meningkatkan istirahat
dan tenang tetapi mencegah kebosanan dan menarik diri).
* 2.1.4 Pilih teman sekamar yang sesuai dengan usia dan minat yang sama yang
memerlukan aktivitas terbatas (untuk mendorong kepatuhan pada kebutuhan
istirahat).
* 2.1.5 Rencanakan aktivitas keperawatan (untuk memberikan istirahat yang cukup).
* 2.1.6 Bantu pada aktivitas yang memerlukan kerja fisik (mengurangi akan kebutuhan
oksigen).
* 2.2.1 Pertahankan posisi semifowler – tinggi (untuk pertukaran udara yang optimal).
* 2.2.2 Beri oksigen suplemen (untuk meningkatkan oksigen ke jaringan).
* 2.2.3Ukur tanda vital selama periode istirahat (untuk menentukan nilai dasar
perbandingan selama periode aktivitas).
* 2.3.1Antisipasi peka ransangan anak, rentang perhatian yang sempit, dan
kerewelan dengan membantu anak dalam aktivitas bukan menunggu dimintai
bantuan.
* 2.3.2 Dorong orang tua untuk tetap bersama anak (untuk meminimalkan stres
karena perpisahan).
* 2.3.3Berikan tindakan kenyamanan (mis., dot, menimang, musik) (untuk
meminimalkan stres).
* 2.3.4 Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan (untuk meminimalkan ansietas).
* Berikan darah, sel darah, trombosit sesuai ketentuan.
* Berikan faktor pertumbuhan hematopoietik, sesua ketentuan (untuk merangsang
pembentukan sel darah).
* Evaluasi:
* 2.1.1 Anak bermain dan istirahat dengan tenang dan
melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
* 2.1.2 Anak tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas
fisik atau keletihan.
* 2.2.1Pasien bernapas dengan mudah; frekuensi dan
kedalaman pernapasan normal.
* 2.3.1 Anak tetap tenang.
* 2.4.1Anak menerima elemen darah yang tepat tanpa
masalah.
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakadekuatan masukan besi yang dilaporkan; kurang pengetahuan
mengenai makanan yang diperkeya dengan besi.
* Tujuan:
* Pasien mendapat suplai besi adekuat.
* Pasien mengkonsumsi suplemen besi.
* Intervensi (rasional):
* 3.1.1 Berikan konseling diet pada pemberian perawatan, khususnya
mengenai hal-hal berikut:
*- Sumber besi dari makanan (mis., daging, legum, kacang, gandum,
sereal bayi yang diperkaya dengan besi dan sereal kering) (untuk
memastikan bahwa anak mendapat suplai besi yang adekuat).
*- Beri susu pada bayi sebagai makanan suplemen setelah makanan
padat diberikan (karena terlalu banyak minum susu akan menurunkan
masukan makanan padat yang mengandung besi).
*- Ajari anak yang lebih besar tentang pentingnya besi adekuat dalam
diet (untuk mendorong kepatuhan).
* Berikan preparat besi sesuai ketentuan.
* Instruksikan keluarga mengenai pemberian preparat besi
* oral yang tepat:
* - Berikan dalam dosis terbagi (untuk absorpsi maksimum).
* - Berikan di antara waktu makan (untuk meningkatkan
absorpsi pada traktus gastrointestinalis bagian atas).
*- Berikan dengan jus buah atau preparat multivitamin
(karena vitamin C memudahkan absorpsi besi).
*- Jangan memberikan bersama susu atau antasida (karena
bahan ini akan menurunkan absorpsi besi).
*- Berikan preparat cair dengan pipet, spuit, atau sedotan
(untuk menghindari kontak dengan gigi dan kemungkinan
pewarnaan).
*- Kaji karakteristik feses (karena dosisi adekuat besi oral
akan mengubah feses manjadi berwarna hijau gelap).
* Evaluasi:
* 3.1.1 Anak sedikitnya mendapatkan kebutuhan
besi minimum harian.
* 3.2.1
Keluarga menghubungkan riwayat diat yang
memperjelas kepatuhan anak terhadap anjuran ini.
* 3.2.2 Anak diberikan suplemen besi yang
dibuktikan dengan feses yang berwarna hijau,
seperti ter.
* 3.2.3 Anak meminum obat dengan tepat.