Anda di halaman 1dari 18

Penguat Audio, Vide

o dan Informasi
Nama: Gilang Dwi Caesario Putra Sandi
Kelas : XII-TEDK 2
No : 11
A.PENGERTIAN PENGUAT DAYA Penguat secara harfiah
diartikan dengan sistem yang membuat jadi kuat.
Dalam bidang elektronika, penguat adalah sistem yang
memperbesar dan menguatkan

amplitudo sinyal input. Penguat daya yaitu penguat


yang menguatkan daya dari sinyal masukan. Pada
kenyataannya semua penguat adalah penguat daya
karena tegangan tidak akan ada tanpa
adanya daya kecuali jika impedansinya tak terhingga.
Ada kalanya sinyal input yang dikuatkan kemudian
terdistorsi karena berbagai sebab, sehingga bentuk
sinyal keluarannya menjadi cacat. Dari
sinilah muncul istilah fidelity yang menunjukkan
seberapa mirip sinyal input yang dikuatkan dengan
sinyal keluarannya. Sistem penguat dikatakan
memiliki fidelitas yang tinggi (highfidelity), jika sistem
tersebut mampu menghasilkan sinyal keluaran yang
bentuknya persis sama dengan sinyal input. Di sisi
lain, efisiensi juga harus diperhatikan.
Efisiensi dinyatakan dengan besaran persentase
dari power output dibandingkan dengan power
input. Sistem penguat dikatakan memiliki tingkat
efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada
proses penguatannya yang terbuang menjadi
panas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat praktikum
nanti adalah kita bermain pada frekuensi tinggi yaitu
frekuensi FM, sehingga untuk mendapatkan sinyal yang
cukup bagus harus disesuaikan dengan impedansi
matchingnya.

B.JENIS-JENIS PENGUAT DAYA


Dalam elektronika banyak sekali dijumpai jenis penguat,
pengelompokkan dapat berdasarkan: 1. rentang frekuensi
operasi, a. gelombang lebar (seperti: penguat audio, video,
rf dll) b. gelombang sempit (seperti tuned amplifier). 2.
metoda pemasangan rangkaian, a. pemasangan AC : semua
komponen frekuensi rendah
(termasuk dc) tidak diteruskan ke rangkaian penguat b.
pemasangan DC : salah satu tipenya adalah penguat chopper,
sinyal input terbelah menjadi seri pulsa kemudian diperkuat
oleh penguat ac sebelum dikembalikan lagi ke level dc.
3. titik bias pada penguat: kelas A, kelas B, kelas AB dan
kelas C 4. tegangan 5. arus 6. daya Berdasarkan dengan tipe
pembiasan yang dilakukan oleh penguat, dapat
dikelompokkan menjadi:
1. kelas A : Titik kerja diatur agar seluruh fasa sinyal input
diatur sedemikian rupa sehingga seluruh fasa arus output
selalu mengalir. Penguat ini beroperasi pada daerah linear.
2. kelas B : Titik kerja diatur pada suatu sisi ekstrim saja,
sehingga daya quiescent sangat kecil. Untuk sinyal input
sinusoida, penguatan hanya terjadi pada setengah
perioda sinyal input saja. 3. kelas C : Titik kerja diatur
beropersi untuk arus (tegangan) output sama dengan nol
dengan selang lebih besar dari setengah siklus sinus.
Sehingga penguat bekerja kurang dari setengah perioda
sinyal input. Namun pada kali ini kita tidak membahas
tentang penguat kelas A/B/C, melainkan penguat daya
selain kelas A/B/C, seperti penguat daya kelas
AB/D/G/T/E. B.1 PENGUAT KELAS AB Cara lain untuk
mengatasi cross-over adalah dengan menggeser sedikit
titik Q pada garis beban dari titik B ke titik AB (gambar-5).
Ini tujuannya tidak lain adalah agar pada saat transisi
sinyal dari phase
positif ke phase negatif dan sebaliknya, terjadi overlap
diantara transistor Q1 dan Q2. Pada saat itu, transistor
Q1 masih aktif sementara transistor Q2 mulai aktif dan
demikian juga pada phase sebaliknya. Penguat kelas AB
merupakan kompromi antara efesiensi (sekitar 50% -
75%) dengan mempertahankan fidelitas sinyal keluaran.
Gambar 1. Overlaping sinyal keluaran penguat kelas AB
Ada beberapa teknik yang sering dipakai untuk
menggeser titik Q sedikit di atas daerah cut-off. Salah
satu contohnya adalah seperti gambar-9 berikut ini.
Resistor R2 di sini berfungsi untuk memberi tegangan
jepit antara base transistor Q1 dan Q2. Pembaca dapat
menentukan berapa nilai
R2 ini untuk memberikan arus bias tertentu bagi kedua
transistor. Tegangan jepit pada R2 dihitung dari pembagi
tegangan R1, R2 dan R3 dengan rumus VR2 = (2VCC) R2/
(R1+R2+R3). Lalu tentukan arus base dan lihat relasinya
dengan arus Ic dan Ie sehingga dapat dihitung relasiny
dengan tegangan jepit R2 dari rumus VR2 = 2x0.7 + Ie(Re1
+ Re2). Penguat kelas AB ternyata punya masalah dengan
teknik ini, sebab akan terjadi peng-gemukan sinyal pada
kedua transistornya aktif ketika saat transisi. Masalah ini
disebut dengan gumming.
Rangkaian dasar penguat kelas AB Untuk menghindari
masalah gumming ini, ternyata sang insinyur (yang
mungkin saja bukan seorang insinyur) tidak kehilangan
akal. Maka dibuatlah teknik yang hanya mengaktifkan
salah satu transistor saja pada saat transisi. Caranya
adalah dengan membuat salah satu transistornya bekerja
pada kelas AB dan satu lainnya bekerja pada kelas B.
Teknik ini bisa dengan memberi bias konstan pada salah
satu transistornya yang bekerja pada kelas AB (biasanya
selalu yang PNP). Caranya dengan menganjal base
transistor tersebut menggunakan deretan dioda atau
susunan satu transistor aktif. Maka kadang penguat
seperti ini disebut juga dengan penguat kelas AB plus B
atau bisa saja diklaim sebagai kelas AB saja atau kelas B
karena dasarnya adalah PA
kelas B. Penyebutan ini tergantung dari bagaimana produk
amplifier anda mau diiklankan. Karena penguat kelas AB
terlanjur memiliki konotasi lebih baik dari kelas A dan B.
Namun yang penting adalah dengan teknik-teknik ini tujuan
untuk mendapatkan efisiensi dan fidelitas yang lebih baik
dapat terpenuhi.
Karakteristik penguat daya kelas AB: Letak titik Q berada
diantara penguat kalas A dan B. Linearitas paling jelek
Efisiensi sekitar 75% Terdapat pemotongan sinyal < 180
Untuk mencegah pemotongan sinyal dilakukan konfigurasi
push-pull Pada penguat push-pull terjadi fenomena gumming
(penggemukan sinyal) B.2. PENGUAT KELAS D Penguat kelas-
d adalah sebuah penguat elektronik yang menggunakan
pensakelaran transistor sebagai metoda utama untuk
memberikan daya keluaran, tidak seperti penguat linier
kelas-a, kelas-b, ataupun kelas-ab yang menggunakan
resistansi aktif dari transistor. Oleh karena itu, penguat ini
memiliki efisiensi daya yang lebih tinggi, dengan hasil
tambahan berupa pengurangan benaman bahang yang
dibutuhkan. Filter LC lulus bawah menghaluskan pulsa-
pulsa keluaran pada beban.
Penguat kelas D menggunakan teknik PWM (pulse width
modulation), dimana lebar dari pulsa ini proporsional
terhadap amplituda sinyal input. Pada tingkat akhir, sinyal
PWM men-drive transistor switching ON dan OFF sesuai
dengan lebar pulsanya. Transistor switching yang
digunakan biasanya adalah transistor jenis FET. Konsep
penguat kelas D ditunjukkan pada gambar 3. Teknik
sampling
pada sistem penguat kelas D memerlukan sebuah
generator gelombang segitiga dan komparator untuk
menghasilkan sinyal PWM yang proporsional terhadap
amplituda sinyal input. Pola sinyal PWM hasil dari teknik
sampling ini seperti digambarkan pada gambar 4. Paling
akhir diperlukan filter untuk meningkatkan fidelitas.
Gambar 3. Konsep penguat kelas D Gambar 4. Ilustrasi
modulasi PWM penguat kelas D Beberapa produsen
pembuat PA meng-klaim penguat kelas D produksinya
sebagai penguat digital. Secara kebetulan notasi D dapat
diartikan menjadi Digital. Sebenarnya bukanlah persis
demikian, sebab proses digital mestinya mengandung
proses manipulasi sederetan bit-bit yang pada akhirnya
ada proses konversi digital ke analog (DAC) atau ke PWM.
Kalaupun mau disebut
digital, penguat kelas D adalah penguat digital 1 bit (on
atau off saja). Dengan mengesampingkan kerumitan yang
dibutuhkan, penguat kelas-d memberikan keuntungan
berupa: Efisiensi daya yang tinggi (mencapai 90%)
Pengurangan ukuran dan berat penguat. Pengurangan
borosan daya sebagai bahang. Pengurangan ukuran
benaman bahang (karena efisiensinya yang tinggi) Efisiensi
penguat kelas-d yang tinggi berasal dari kenyataan bahwa
tingkat keluaran tidak pernah beroperasi pada keadaan
linier atau aktif. Keluaran penguat kelas-d hanya terdiri dari
keadaan HIDUP atau MATI. Ketika peranti hidup, arus yang
mengalirinya maksimum, tetapi tegangan yang
membentanginya idealnya nol, dan ketika peranti mati,
tegangan yang membentanginya maksimal, tetapi arus
yang mengalirinya nol. Karena borosan daya ditentukan
dengan rumus Templat:Nowrap:''D''=''V''x''I'', pada kedua
keadaan di atas, borosan daya adalah nol. Semua
perhitungan di atas berdasarkan anggapan peranti ideal.
Pada kenyataannya, selalu ada kerugian, baik karena
kebocoran, penurunan tegangan, kecepatan pensakelaran,
dan lain sebagainya. Tetapi itu semua terlalu kecil sehingga
efisiensi tetap sangat tinggi. Penguat jenis ini memberikan
keluaran yang mengandung banyak desah harmonik
dikarenakan modulasi lebar pulsa. Untuk memperbaiki
keluaran, ini dapat difilter dengan menggunakan komponen
yang semuanya reaktif (hanya kondensator dan induktor)
dimana komponen tersebut menyimpan daya dari desah
harmonik, tidak mengubahnya menjadi bahang, sehingga
efisiensi dapat dipertahankan tetap tinggi. B.3.
PENGUAT DAYA KELAS E Penguat kelas E pertama kali
dipublikasikan oleh pasangan ayah dan anak Nathan D dan
Alan D Sokal tahun 1972. Dengan struktur yang mirip seperti
penguat kelas C, penguat kelas E memerlukan rangkaian
resonansi L/C dengan transistor yang hanya bekerja kurang
dari setengah duty cycle. Bedanya, transistor kelas C bekerja
di daerah aktif (linier). Sedangkan pada penguat kelas E,
transistor bekerja sebagai switching transistor seperti pada
penguat kelas D. Biasanya transistor yang digunakan adalah
transistor jenis FET. Karena menggunakan transistor jenis FET
(MOSFET/CMOS), penguat ini menjadi efisien dan cocok
untuk aplikasi yang memerlukan drive arus yang besar
namun dengan arus input yang sangat kecil. Bahkan dengan
level arus dan
tegangan logik pun sudah bisa membuat transitor switching
tersebut bekerja. Karena dikenal efisien dan dapat dibuat dalam
satu chip IC serta dengan disipasi panas yang relatif kecil, pengu
kelas E banyak diaplikasikan pada peralatan transmisi mobile
semisal telepon genggam. Di sini antena adalah bagian dari
rangkaian resonansinya. B.4. PENGUAT DAYA KELAS T Penguat
kelas T bisa jadi disebut sebagai penguat digital. Tripath
Technology membuat desain digital amplifier dengan metode
yang mereka namakan Digital Power Processing (DPP). Mungkin
terinspirasi dari PA kelas D, rangkaian akhirnya menggunakan
konsep modulasi PWM dengan switching transistor serta filter.
Pada penguat kelas D, proses dibelakangnnya adalah proses
analog. Sedangkan pada penguat kelas T, proses sebelumnya
adalah manipulasi bit-bit digital. Di dalamnya ada audio proseso
dengan proses
umpan balik yang juga digital untuk koreksi timing delay dan
phase. B.5. PENGUAT DAYA KELAS G Kelas G tergolong penguat
analog yang tujuannya untuk memperbaiki efesiensi dari
penguat kelas B/AB. Pada kelas B/AB, tegangan supply hanya
ada satu pasang yang sering dinotasikan sebagai +VCC dan VEE
misalnya +12V dan 12V (atau ditulis dengan +/- 12volt). Pada
penguat kelas G, tegangan supply-nya dibuat bertingkat.
Terutama untuk aplikasi yang membutuhkan power dengan
tegangan yang tinggi, agar efisien tegangan supplynya ada 2
atau 3 pasang yang berbeda. Misalnya ada tegangan supply +/-
70 volt, +/-50 volt dan +/-20
volt. Konsep ranagkaian PA kelas G seperti pada
gambar-13. Sebagai contoh, untuk alunan suara yang
lembut dan rendah, yang aktif adalah pasangan
tegangan supply +/-20 volt. Kemudian jika diperlukan
untuk men-drive suara yang keras, tegangan supply
dapat di-switch ke pasangan tegangan supply
maksimum +/-70 volt. Gambar 5. Konsep penguat
kelas G dengan tegangan supply yang bertingkat.