Anda di halaman 1dari 43

m    

 
  
 
 
  
   !
" #

m$ % &'() % $)&  % * + % *


'*), )&   %  *$
- -
a.Definisi harga tranfer :

p 
adalah harga perpindahan barang atau jasa antara dua
pusat laba atau lebih.

p 

adalah harga perpindahan barang atau jasa yang
dipertukarkan antar unit-unit atau antar pusat
pertanggungnjawaban dalam suatu organisasi.
Œsourcing decision
Œtransfer price decision.
. Pusat laa adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi
manajernya diukur berdasarkan laba (selisih antara pendapatan dan
beban) yang diperoleh.

Manfaat Pusat Laa


‡ Kualitas keputusan manajer lebih meningkat.
‡ Kecepatan pengambilan keputusan operasional lebih cepat.
‡ Manajer kantor pusat dapat lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih
luas.
‡ Manajer lebih bebas menunjukkan imajinasi dan inisiatifnya.
‡ Memberikan tempat pelatihan sempurna bagi kemampuan manajerial
secara umum.
‡ Kesadaran terhadap laba semakin meningkat.
‡ Memberikan informasi siap pakai kepada manajemen puncak tentang
profitabilitas komponen-komponen individual perusahaan.
‡ Output yg siap pakai membuat pusat laba sangat responsif terhadap
tekanan utk meningkatkan kinerja kompetitif.
Kinerja manajer pusat laba dapat dievaluasi
berdasarkan lima ukuran profitabilitas sebagai
berikut:
‡ Margin kontriusi.
‡ Laa langsung.
‡ Laa yang dapat dikendalikan.
‡ Laa seelum pajak.
‡ Laa ersih.
‡ £. Margin Kontriusi.
Merupakan selisih antara pendapatan dengan beban variabel.
Alasan penggunaan karena beban tetap berada diluar kendali manajer.

‡ d.Laa Langsung.
Merupakan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba
perusahaan.
Alasan penggunaan karena pengeluaran pusat laba merupakan tanggung
jawab manajer pusat laba, baik pengeluaran yang dapat dikendalikan maupun
yang tidak dapat dikendalikan.

‡ e.Laa yang Dapat Dikendalikan.


Mempertimbangkan pengeluaran-pengeluaran pada tingkat tertentu.

‡ f. Laa Seelum Pajak.


Mempertimbangkan pembebanan relatif dari biaya overhead korporat ke
pusat laba.

‡ g. Laa Bersih.
Mempertimbangkan jumlah laba bersih setelah pajak.
g. Akuntansi pertanggungjawaan

menurut definisi Hansen dan Mowen adalah sebagai


berikut: ³„ 
 


  


   

  

 
 
 

 



 
 

 

 
 - (Hansen dan Mowen 2003:530).

Akuntansi pertanggungjawaan adalah sebuah


sistem yang mengukur perencanaan (dengan anggaran)
dan pelaksanaan (dengan hasil aktual) dari tiap-tiap
pusat pertanggungjawaban.
h. Pusat Pertanggungjawaan

usat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren,


Gary L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai
berikut: ³
„ 
  


 

  

 


 

 

 

 

 - (Horngern et. Al 1999:331).

usat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis


dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk
melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan
aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya
manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer
lain dan pekerja-pekerja.
i. Pusat Pertanggungjawaan

usat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren,


Gary L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai
berikut: ³
„ 
  


 

  

 


 

 

 

 

 - (Horngern et. Al 1999:331).

usat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis


dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk
melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan
aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya
manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer
lain dan pekerja-pekerja.
j. Tipe Pusat Pertanggungjawaan

Menurut Atkinson dan kawan-kawan membagi


pusat pertanggungjawaban menjadi empat tipe,
yaitu (2001:522):

  
(usat Biaya)
„  
  
(usat endapatan)

  
(usat Laba)
  
  
(usat Investasi).
k.Sour£ing de£ision
Adalah penentuan dimana produk akan di produksi, apakah
dibuat sendiri atau dibeli dari pemasok luar

l.Tranfer pri£e de£ision


Jika produk dibuat sendiri, pada hatga tranfer berapa produk
tersebut ditransfer dari divisi penjual ke divisi pembeli

m.Divisi penjual
Divisi yang mentransfer barang/jasa

n.Divisi pemeli
Divisi yang menerima transfer barang/jasa
Konsep Transfer pri£ing (Harga Transfer)

‡ Harga Transfer merupakan harga produk atau


jasa yang ditransfer antar pusat
pertanggungjawaban dalam perusahaan,
meliputi semua alokasi biaya dan departemen
pembantu dan departemen produksi dan harga
µjual¶ barang/jasa yang ditransfer antar pusat
laba dalam perusahaan yang sama.
Tujuan Harga Transfer :

enentuan harga transfer antar pusat laba


sangat penting jika :
‡ Transaksi transfer barang atau jasa antar
pusat laba cukup signifikan,
‡ Biaya barang atau jasa yang ditransfer
merupakan komponen penting produk akhir,
‡ rofitabilitas merupakan pertimbangan penting
di dalam penilaian prestasi divisi.
Sistem Harga Transfer Bertujuan:

1. Untuk memberikan informasi relevan pada


setiap pusat laba dalam menentukan harga
transfer.
2. Untuk memmotivasi manajer pusat laba
pengirim, pusat laba penerima, dan kantor
pusat dalam membuat keputusan yang tepat.
3. Untuk menyajikan laporan laba setiap divisi
yang secara layak mengukur prestasi divisi.
Sistem Harga Transfer Bertujuan:

1. Memberikan informasi yang relevan kepada masing-


masing unit usaha untuk menentukan penyesuaian
yang optimum antara biaya dan pendapatan
perusahaan.
2. Menghasilkan keputusan yang bertujuan sama-
maksudnya, sistem harus dirancang agar keputusan
yang meningkatkan laba unit usaha juga akan
meningkatkan laba perusahaan.
3. Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari tiap unit
usaha.
4. Sistem harus mudah dimengerti dan dikelola.
Metode Penentuan Harga Transfer

‡ Istilah ³harga transfer- yang digunakan disini adalah


nilai yang diberikan kepada suatu transfer barang dan
jasa dalam suatu transaksi dimana setidaknya ada satu
pusat laba yang terlibat didalamnya.

‡ Harga semacam ini biasanya melibatkan suatu elemen


laba karena sebuah perusahaan yang independent tidak
akan mentransfer barang dan jasa ke perusahaan
independent yang lain sebesar biaya produksi atau lebih
rendah dari itu.
Prinsip Dasar
‡ rinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer harus
sama dengan harga yang dipatok seandainya produk
tersebut terjual kepada konsumen luar atau dibeli dari
pemasok luar.
‡ Ketika suatu pusat laba pada sebuah perusahaan
membeli produk, dan menjualnya kepada, satu sama
lain, maka dua keputusan yang harus diambil untuk
setiap produk adalah :
Ł 1. Apakah perusahaan harus memproduksi sendiri produk
tersebut atau membelinya dari pemasok luar ? Hal ini
memrupakan sour£ing de£ision.
Ł 2. Jika diproduksi sendiri, pada tingkat harga berapakah
produk tersebut ditransfer diantara pusat-pusat laba ? Hal
ini merupakan transfer pri£e de£ision.
Situasi Ideal
‡ Idealnya, harga transfer harus mengestimasikan harga normal
pasar di luar, dengan penyesuaian untuk biaya yang tidak
terjadi di dalam perusahaan. Bahkan ketika sourcing decision
mengalami hambatan, harga pasar merupakan harga transfer
yang paling baik.

‡ Harga transfer yang berdasarkan harga pasar akan


menghasilkan kesamaan tujuan, dan tidak membutuhkan
administrasi pusat jika kondisi-kondisi dibawah ini terpenuhi :
å mrang-orang kompeten
å Atmosfer yang aik.
å Suatu harga pasar.
å Keeasan memperoleh sumer daya.
å Informasi penuh.
å Negosiasi.
Hamatan-hamatan Dalam Perolehan Sumer
Daya (Sour£ing)

‡ Idealnya seorang manajer pembelian bebas mengambil


keputusan    Demikian halnya dengan manajer
penjualan, ia harus bebas untuk menjual produknya ke
pasar yang paling menguntungkan.

‡ Akibat-akibat yang terjadi jika para manajer pusat laba


tidak memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan
   :
å asar yang terbatas
å Kelebihan atau Kekurangan Kapasitas Industri.
Harga Transfer Berdasarkan Biaya

‡ Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka suatu harga


transfer dapat ditentukan berdasarkan iaya
ditamah laa, meskipun harga transfer semacam
ini sangat sulit dihitung dan hasilnya kurang
memuaskan dibandingkan dengan harga yang berbasis
pasar (  
 ).

‡ Dua keputusan yang harus dibuat dalam system harga


transfer berdasarkan biaya :
1) bagaimana menentukan besarnya biaya, dan
2) bagaimana menghitung   laba.
Masalah-masalah yang dirundingkan
dalam penentuan harga transfer

‡ Dasar penentuan harga transfer


Ł Harga pasar
Ł Biaya terdiri dari 2 macam biaya (biaya penuh
sesungguhnya, biaya penuh standar
‡ Besarnya laba yang diperhitungkan dalam
harga transfer
‡ Mempertimbangkan : dasar penentuan laba dan
besarnya laba
j     



Metode harga transfer yang dikemukakan oleh Anthony


dan Govindarajan (2002:208) adalah sebagai berikut :

‡ Transfer based Market (Transfer berdasarkan Harga asar)


‡ Transfer based Cost: Full cost and Variable cost (Transfer
berdasarkan Biaya: Biaya enuh dan Biaya Variabel)
‡ Transfer based Negotiation (Transfer berdasarkan Negosiasi).
‡ Transfer based Arbitrase (Transfer berdasarkan Arbitrasi).
‡ Transfer based Dual Transfer ricing (Transfer berdasarkan
Dual Transfer ricing).
p p  
  



 
Manajemen perlu mempertimbangkan 3 hal berikut :
1. Metode penentuan harga transfer harus mendorong
divisi penjual senantiasa melakukan perbaikan efisiensi
dan produktivitasnya.
2. Metode penentuan harga transfer harus memisahkan
tanggung awab masing-masing divisi yang
terlibat.Ketidak efisienan yang terjadi di divisi penjual
tidak boleh dialihkan ke devisi pembeli melalui harga
transfer
3. Diperlukan aturan yang baik dalam penentuan harga
transfer jika biaya dipakai sebagai dasar, karena divisi
yang terlibat harus melakukan negosiasi atas dasar
kondisi intern perusahaan
   
Biaya enuh sesungguhnya : memiliki kelemahan, divisi pembeli
akan dibebani oleh ketidakefisienan divisi penjual.

è    
  

Unsur biaya penuh :

Biaya produksi :
By. Bhn Baku
By. Tenaga kerja
BO

Biaya non produksi :


By.adm & Umum
By emasaran

Unsur laba
Y% x Aktiva enuh (Aktiva lancar & Aktiva Tidak Lancar)
   
Contoh :

‡ T MAJU TERUS memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai


pusat laba Divisi A menghasilkan sparepart Q yang
dijual di pasar luar sebanyak 10%, 90%nya ditranfer ke
devisi B. Manajer divisi A & B sedang
mempertimbangkan harga transfer sparepart Q.
Menurut anggaran Devisi A berencana akan beroperasi
pada kapasitas normal 1000 unit dengan estimasi biaya
produksi p 200 juta, biaya adm & umum Rp 50 Juta dan
biaya pemasaranRp 50 juta. Estimasi total aktiva Rp 1
milyar, ROI 20%
‡ Berapa Harga Transfer sparepart Q?
   
‡ Jawab :
Perhitungan mark up:
By adm & umum Rp 50 juta
By emasaran Rp 20 juta
Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Rp 200 juta
Jumlah Rp 270 juta
Dibagi by produksi Rp 70.juta
Mark up Rp 135%
Perhitungan harga transfer
By roduksi Rp 200 juta
Mark up : 135% x Rp 200 juta Rp 270 juta
Jumlah harga jual Rp 470 juta
Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Rp 1000
Harga transfer per unit Rp 470 ribu
=========
   
Biaya enuh sesungguhnya : memiliki kelemahan, divisi pembeli
akan dibebani oleh ketidakefisienan divisi penjual.

è    
  

Unsur biaya penuh :

Biaya produksi :
By. Bhn Baku
By. Tenaga kerja
BO

Biaya non produksi :


By.adm & Umum
By emasaran

Unsur laba
Y% x Aktiva enuh (Aktiva lancar & Aktiva Tidak Lancar)
   
Contoh :

‡ T MAJU TERUS memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai


pusat laba Divisi A menghasilkan sparepart Q yang
dijual di pasar luar sebanyak 10%, 90%nya ditranfer ke
devisi B. Manajer divisi A & B sedang
mempertimbangkan harga transfer sparepart Q.
Menurut anggaran Devisi A berencana akan beroperasi
pada kapasitas normal 1000 unit dengan estimasi biaya
produksi p 200 juta, biaya adm & umum Rp 50 Juta dan
biaya pemasaranRp 50 juta. Estimasi total aktiva Rp 1
milyar, ROI 20%
‡ Berapa Harga Transfer sparepart Q?
   
‡ Jawab :
Perhitungan mark up:
By adm & umum Rp 50 juta
By emasaran Rp 20 juta
Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Rp 200 juta
Jumlah Rp 270 juta
Dibagi by produksi Rp 70.juta
Mark up Rp 135%
Perhitungan harga transfer
By roduksi Rp 200 juta
Mark up : 135% x Rp 200 juta Rp 270 juta
Jumlah harga jual Rp 470 juta
Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Rp 1000
Harga transfer per unit Rp 470 ribu
=========
  
  
è    
  

Unsur biaya variabel :


By. Bhn Baku
By. Tenaga kerja
BO Variabel
By Adm & umum variable
By pemasaran variabel

Unsur biaya tetap :


BO tetap
By.adm & Umum tetap
By emasaran tetap

Unsur laba
Y% x Aktiva enuh  (Aktiva lancar & Aktiva Tidak Lancar)
  
  
Contoh :

‡ Kasus T MAJU TERUS tersebut, kapasitas normal


menurut anggaran sebanyak 1000 unit. Rincian biaya
penuh sebesar Rp 270 juta adalah By produksi variabel
Rp 150 juta, by adm & umum variabel Rp 10 juta, by
pemasaran variabel Rp 5 juta sedangkan by produksi
tetap Rp 50 juta, by adm & umum tetap Rp 40 juta dan
by pemasaran tetap Pendekatan Variael Costing

‡ Harga transfer = Biaya enuh + Laba


  
  
Jawab :
Perhitungan mark up:
By tetap Rp 95 juta
Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Rp 200 juta
Jumlah Rp 295 juta
Dibagi by biaya variabel Rp 165 juta
Mark up Rp 179%

Perhitungan harga transfer :


By variabel Rp 165,00 juta
Mark up : 179% x Rp 165 juta Rp 295,35 juta
Jumlah harga transfer Rp 460,35 juta
Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Rp 1 juta
Harga transfer per unit Rp 4.603,50
===========
  p  
è    
  

Unsur biaya penuh :


Ł Unit-level activity cost
Ł Batch-related activity cost
Ł roduct-sustaining activity cost
Ł Facility-sustaining activity cost

Unsur laba
Y% x Aktiva enuh  (Aktiva lancar & Aktiva
Tidak Lancar)
 
         

  p  


Contoh :

‡ T JAYA ABADI memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai pusat


laba. Divisi A menghasilkan sparepart Q dan R yang dijual di
pasar luar sebanyak 10%,sedang sisanya ditranfer ke devisi B.
Kapasitas normal produksi sebanyak 1juta unit produk Q dan
2 juta unit produk R.

(0 23    2 2

'  . /  . 

'0 1
23 4 „    ---

560 1
23 4 „   - ---

60
234 „   --

76 30
234 „   -- --- ---
  p  
ada bulan januari Divisi A mentransfer 100 ribu unit suku cadang Q ke divisi B yang
diproduksi dalam 2 production run (batch)
Total aktiva divisi A Rp 1 milyar dan ROI sebesar 22%

Besarnya mark up :
Laba yang diharapkan 22% x Rp 1 milyar Rp 220 juta
Dibagi dengan unit-level activity cost :
roduk Q : 1 juta x Rp 1.500 Rp 1500 juta
rodukR : 2 juta x Rp 2.000 Rp 4000 juta
Mark up 4%
Perhitungan harga transfer suku £adang Q
Biaya penuh :
Unit-level : 100.000 unit x Rp 1.500 Rp 150.000.000
Batch level : 2 batch x Rp 200.000 Rp 400.000
roduct sustaining : 100.000 unit x Rp 500 Rp 50.000.000
Facility sustaining : 100.000 unit x Rp 200 Rp 20.000.000
By. enuh suku cadang Q Rp 220.000.000
Mark up : 4% x Rp 150 juta Rp 6.000.000
Harga transfer suku cadang Q (100ribu unit) Rp 226.400.000
  p  
Contoh :

‡ Divisi C memproduksi suku cadang A yang dapat dijual


ke luar atau ditransfer ke divisi D untuk dirakit dengan
suku cadang lain menjadi produk yang dijual di pasar
luar sebagai produk akhir divisi D. Harga produk A
adalah Rp 1.500 dan biaya variabel/unit Rp 700 (laba
konstribusi rp 800), volume produksi/tahun sebesar 20
ribu (total laba konstribusi Rp 16 juta).
‡ Diketahui pula harga pasar produk akhir divisi D adalah
Rp 1700 dengan tambahan biaya variabel/unti sebesar
Rp 900.
‡ Berapa harga transfer yang adil bagi divisi C maupun D
  p  
Contoh :

Tergantung pada keadaan berikut :


a. Jika divisi C beroperasi dengan kapasitas penuh, maka
sebaiknya menjual suku cadang A ke luar saja dengan harga
Rp 1.500/unit. Divisi D tidak perlu membeli produk A seharga
Rp 1.500 karena akan menyebabkan kerugian sebagai berikut
:

Harga pasar Rp 1.700


Dikurangi dengan biaya variabel
- dari divisi C Rp 1.500
- yang ditambahkan divisi D 900
Jumlah by variabel Rp 2.400
Rugi Rp 700
  p  
Co o

       


    C o         
         „ ! 
        o   „ 
          

"  „ #


      

   C „ 

      „ $


     „ %
„ „ #
  p  
Co o
‡ b. jika kapasita produksi belum dipakai penuh, produk A sebaiknya
ditranfer ke divisi D agar divisi C dapat beroperasi pada kapasitas
penuh. Harga transfer produk A minimum sebesar biaya variabel
divisi C. Misal : harga transfer yang disepakati adalah Rp 750/unit,
laba kontribusi yang dihasilkan sebesar Rp 50/unit baik bagi divisi
C maupun divisi D

ëraian Divisi C Divisi D


Harga transfer Rp 750
Harga Pasar Rp 1.700
(-) By variael
Divisi C Rp 700
Dari divisi C Rp 750
Tamahan oleh divisi D Rp 900
Laa kontriusi Rp 50 Rp 50
  p  
‡ Besarnya laba kontribusi yang sama bukab berarti bahwa metode
penentuan harga transfer tersebut adil. Laba kontribusi sebesar Rp
50/unit diperoleh divisi C hanya dari produk A saja, sedangkan bagi
divisi D laba kontribusi diperoleh dari penjualan produk akhir yang
salah satu komponennya adalah produk A yang berasal dari divisi C
 p  

  
j
 
  


 

Harga pasar produk merupakan opportunity cost :


‡ Bagi divisi penjual ± penghasilan yang akan
dikorbankan di dalam transfer produk kepada
divisi pembeli
‡ Bagi divisi pembeli ± biaya yang seharusnya
dikeluarkan jika produk tersebut dibeli dari
pihak luar
Kelemahan :
‡ Tidak semua produk memiliki harga pasar
‡ Divisi penjual memiliki pasar yang sudah pasti
‡ Harga pasar tidak selalu sama dengan harga yang
tercantum dalam daftar harga
‡ Sulit menentukan harga pasar karena harga pasar
produk sangat bervariasi.

Keleihan :
‡ Dapat mengukur kinerja divisi yang terlibat di
dalam transfer dalam suatu perusahaan
Contoh :

Metode harga pasar minus :



"  &
  
'o o o &
(   &
)o   &
(    &
(    &
  &
" * &    #$&
C. Atas dasar negosiasi antar divisi
Jika pembentukan divisi dengan desentralisasi
wewenang manajemen puncak, penentuan harga
transfer merupakan hasil negosiasi antar divisi yang
terlibat.

D. Atas dasar Aritrase


enting untuk membentuk lembaga arbitrase, yang
bertanggung jawab :
‡ Menyelesaikan perselisihan yang timbul dalam
penentuan harga transfer
‡ Menelaah perubahan sumber pengadaan
‡ Mengubah aturan harga transfer jika diperlukan