Anda di halaman 1dari 45

PENGELOLAAN KAMAR

OPERASI PASEN
“AIRBORNE DISEASES”
MUHAMMAD NURALIM MALLAPASI
DIVIS BEDAH THORAKS KARDIAK DAN VASCULAR FK UNHAS
Tingkat Risiko COVID-19 pada Pasien yang akan
Menjalani Operasi
pasien yang akan menjalani
pembedahan dapat diklasifikasikan ke
dalam kategori risiko untuk COVID-19
sebagai berikut:
Pasien Konfirmasi atau dicurigai COVID-19

Untuk kategori ini, COVID-19 dikonfirmasi


ketika hasil tes diagnostik 
real-time reverse transcriptase (RT-PCR)
atau 
rapid test (IgM dan IgG) untuk COVID-19
 positif.
Sedangkan definisi kasus yang dicurigai COVID-19
terbagi dalam dua kategori.

1. Kategori pertama adalah pasien yang memiliki riwayat kontak dan


memenuhi dua dari manifestasi klinis (demam dan gejala pernapasan)
disertai gambaran CT scan toraks yang sesuai dengan COVID-19.
Pada tahap awal infeksi, jumlah total leukosit dapat ditemukan normal
atau menurun dan jumlah limfosit berkurang.
2. Kategori kedua adalah pasien tanpa riwayat epidemiologi yang jelas
dan menunjukkan tiga manifestasi klinis, yaitu demam, gejala
pernapasan, dan gambaran CT scan toraks yang sesuai dengan
COVID-19. Hasil pemeriksaan darah sama seperti pada kategori
pertama, yaitu total leukosit dapat normal atau menurun dan jumlah
limfosit berkurang.
Pasien dengan Risiko Tinggi COVID-19
 Pasien pada kategori ini adalah pasien yang telah
melakukan perjalanan ke daerah dengan risiko
tinggi COVID-19 atau telah melakukan kontak
dengan kasus konfirmasi atau orang yang dicurigai
COVID-19 (yang menderita demam dan/atau gejala
penyakit pernapasan akut) dalam 14 hari terakhir.
 Rekomendasi untuk Operasi Emergensi
 Dokter bedah harus menjadwalkan operasi berdasarkan tingkat keparahan
ancaman terhadap kehidupan dan kesehatan pasien.
 Selama pandemi, operasi yang diutamakan tetap berjalan adalah yang bersifat
emergensi
 Semua pasien yang membutuhkan operasi emergensi harus menjalani
pemeriksaan darah terkait COVID-19 dan CT scan toraks sebelum admisi.
 Selain itu, pengambilan sampel swab faring harus selesai sebelum operasi.
Pasien harus ditempatkan di area transisi sambil menunggu hasil.
 Protokol operasi akan diterapkan berdasarkan tingkat
risiko pasien COVID-19, yaitu:
1. Pada pasien konfirmasi atau pasien yang diduga
COVID-19, Operasi pada pasien dengan kategori
ini harus dilakukan di ruang operasi bertekanan
negatif.

PERTANYAANNYA TEKANAN NEGATIF


ATAU TEKANAN POSITIF???
Airborne transmission

• The spread an infectious agent caused by the dissemination of droplet nuclei (aerosols) that
remain infectious when suspended in air over long distances and time

COVID-19 transmission: Droplet atau Airborne?

• WHO: Airborne transmission can occur in health care settings where specific medical
procedures generate very small droplets called aerosols

(WHO scientific brief, 9 July 2020)


• Smecher said an operating room is normally a “positive pressure”
room, which helps push germs away from the surgical field and
helps to protect patients from wound infections.
• But positive-pressure rooms can also push aerosolized coronavirus
to the nearby areas outside of the operating room, risking infection
to other patients and health-care staff, he said.
• Smecher said negative-pressure rooms are preferred for infectious
patients who are hospitalized, because the negative pressure
isolates any airborne virus within that room. But a negative-pressure
operating room would draw germs towards the patient during
surgery, risking wound infections.
• “By combining these two concepts – negative pressure and positive
pressure – in adjacent spaces, we’ve been able to quickly design
and build an operating room that prevents wound infections, while
also preventing viral spread beyond the room,” he said.
• Smecher said this is achieved by the creation of a negative-
pressure vestibule (or “anteroom”) at one of the two exit doors of
the special operating room, which still maintains positive-pressure
inside.
Ruang isolasi infeksi airborne bertekanan negatif
Air Intake

Exhaust

Exhaust
BedBed
Patient

(Environmental infection control in health-care facilities, CDC 2003 updated July 2019)

• Ruang rawat, ruang tindakan, ruang bronkoskopi

• Tekanan udara di dalam ruang isolasi lebih rendah 2.5 Pa terhadap selasar untuk mencegah
tercemarnya selasar oleh mikroorganisme patogen

• Pergantian udara minimal 12 kali per jam


PERSYARATAN UMUM KAMAR operasi

• Untuk mengurangi kemungkinan resiko infeksi lapangan operasi, kamar operasi


harus bertekanan lebih tinggi 2.5 Pa terhadap selasar agar mikroba dari selasar dan
area sekitar tidak mencemari kamar operasi.
• Temperatur udara antara 22-24 derajad Celcius

• Kelembaban relatif 50-60%

• Pergantian udara minimal 15 kali per jam

• Udara masuk melalui langit-langit kamar operasi dan keluar melalui ventilasi di
dekat lantai
• Bila memungkinkan: aliran udara laminar dengan kecepatan 0.5 m per detik
Kamar operasi untuk airborne diseases

• Di antara kamar operasi dan selasar ditempatkan ante-room yang bertekanan negatif relatif terhadap kamar
operasi maupun selasar, sehingga mikroorganisme dari kedua area ini akan terhisap keluar melalui ante-
room
• Agar temperatur dan kelembaban kamar operasi tetap terjaga, udara yang keluar dari ante-room
diresirkulasi melalu sistem Heating-Ventilation-Air-Conditioning yang dilengkapi dengan HEPA filter
• Pergantian udara melalui HVAC minimal 15 kali per jam, 20% di antaranya menggunakan udara segar
Prosedur penanganan pasien penyakit airborne

• Transport: dari ruang perawatan langsung ke kamar operasi melalui route


tersendiri. Pasien memakai surgical mask atau transport ventilator, petugas
mengenakan APD lengkap. Bio-containment unit bisa dipakai
• Transfer di kamar operasi: pasien diterima oleh perawat kamar operasi, sign-
in, catatan medis tidak dibawa masuk ke kamar operasi
• Peralatan di dalam kamar operasi dibatasi seperlunya. Semua peralatan dan
material yang dibutuhkan disiapkan di kamar operasi sebelum pasien masuk.
Peralatan medis diusahakan dari jenis habis pakai
• Petugas memakai APD lengkap. Petugas yang kontak langsung dengan
penderita harus memakai sarung tangan ganda.
• Setelah pasien masuk, pintu kamar operasi harus diusahakan selalu
tertutup.
• Jumlah petugas dan lama berada di kamar operasi dibatasi seperlunya.
• Setelah penderita dikeluarkan dari kamar operasi, diberikan jedah waktu 1
jam sebelum penderita operasi berikut dimasukkan. Hepa filter portable
bisa digunakan untuk memperpendek waktu jedah
• Semua permukaan yang mungkin terkontaminasi harus didisinfeksi
dengan cairan berbasis chlor
• APD ditanggalkan dengan urutan tertentu, diikuti dengan showering
(World Journal of Emergency Surgery, 2020 15:25)
Rekomendasi untuk Operasi Elektif

 Pada awal pandemi, American College of Surgeons (ACS) merekomendasikan


untuk menunda operasi yang tidak urgen. Namun saat ini, ACS telah
mengklasifikasikan jenis operasi elektif ke dalam berbagai tingkatan sesuai
dengan urgensi operasi. Dari kelompok 1a hingga 2b, di mana sebagian besar
adalah operasi elektif, seperti kolonoskopi dan carpal tunnel release, disarankan
untuk ditunda. Untuk kelompok 3a dan 3b, di mana sebagian besar merupakan
operasi kanker, penundaan tidak disarankan meskipun keputusan ini nantinya
mungkin dapat berubah.[5]
Elective Surgery Acuity Scale (ESAS)
dari St. Louis University dapat
digunakan sebagai panduan untuk
melakukan operasi elektif selama era
pandemi COVID-19, dengan rinciannya
sebagai berikut:[5]
Penggunaan APD level 3 (topi bedah sekali pakai, masker N95, baju kerja, baju pelindung medis sekali
pakai, sarung tangan lateks sekali pakai, perangkat pelindung pernapasan wajah penuh) diperlukan untuk
prosedur anestesi dan prosedur bedah. Setelah operasi selesai, pasien dipindahkan ke ruang isolasi

2. Pada pasien dengan risiko tinggi COVID-19, setelah persiapan praoperasi selesai, dokter anestesi,
dokter bedah dan perawat harus menggunakan APD level 3 untuk prosedur anestesi dan prosedur bedah.
Setelah operasi selesai, pasien dikembalikan ke ruang isolasi

3. Pada pasien dengan risiko rendah COVID-19, penggunaan APD secara umum (topi bedah sekali
pakai, masker bedah, baju kerja dan sarung tangan lateks sekali pakai dan/atau pakaian isolasi sekali
pakai jika perlu) dapat diterapkan saat prosedur anestesi dan bedah. Setelah operasi, pasien dipindahkan
ke bangsal
 Menurut Indian Council of Medical Research, pasien berisiko tinggi
yang akan menjalani operasi elektif perlu untuk menjalani pemeriksaan RT-PCR
COVID-19 sebelum operasi, dengan pedoman sebagai berikut:
 Jika hasil tes RT-PCR pasien dua kali negatif, operasi dapat dilakukan
 Jika hasil tes RT-PCR pasien positif, pasien perlu dipindahkan ke ruang isolasi untuk
menyelesaikan persiapan praoperasi. Operasi elektif harus ditunda sampai pasien
pulih. Jika operasi emergensi perlu dilakukan pada pasien tersebut, semua protokol
dan rekomendasi pencegahan yang telah disebutkan sebelumnya untuk pembedahan
emergensi kasus COVID-19 harus diikuti dengan ketat. APD level 3 perlu digunakan
untuk prosedur anestesi dan bedah. Setelah operasi, pasien dikembalikan ke ruang
isolasi[3]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19 di
Ruang Rawat Inap, IGD, dan Kamar Operasi

 Tenaga kesehatan yang merawat langsung pasien COVID-19 perlu menggunakan alat pelindung
diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata (goggles)
 Pelindung wajah (face shield)
 Penutup kepala
 Sepatu pelindung
 Walau demikian, ketika tenaga kesehatan melakukan tindakan yang menghasilkan aerosol (aerosol
generating procedure), masker bedah perlu diganti dengan masker respirator N95, dan tambahkan
penggunaan apron.
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19 di Area Triase

Tenaga area triase


kesehatan yang bertugas di
hanya perlu menggunakan masker bedah.
Walau demikian, perlu dipastikan bahwa tenaga kesehatan di
hanya melakukan skrining awal
area triase
tanpa kontak langsung dan membatasi
jarak dengan pasien minimal 1 meter.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19 di Ruang Rawat Jalan

 Tenaga kesehatan yang menangani pasien tanpa gejala infeksi saluran napas
hanyaperlu menggunakan masker bedah
dengan tetap menjaga jarak minimal 1 meter.
 melakukan pemeriksaan fisik pada pasien
Tenaga kesehatan yang
dengan gejala infeksi saluran napas perlu menggunakan alat
pelindung diri sebagai berikut:
 Pelindung kepala; Pelindung wajah; Pelindung mata
 Masker bedah; Sarung tangan
 Gaun; Sepatu pelindung
Pasien dengan Risiko Rendah COVID-19
 Pasien kategori ini adalah pasien yang tidak
memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi
atau orang yang dicurigai COVID-19 dan tidak
mengalami demam atau gejala pernapasan serta
tidak menunjukkan gambaran khas COVID-19
pada hasil CT scan toraks dalam 14 hari terakhir.
ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

 Menurut Cochrane yang pada Juli 2019,


 penggunaan jubah (gown) memberikan perlindungan terhadap kontaminasi lebih baik
dibandingkan apron.

bahwa materialbaju pelindung yang lebih breathable tidak
meningkatkan risiko kontaminasi dibandingkan material
yang lebih tahan air. Jenis material ini bahkan bisa meningkatkan
kenyamanan pengguna.
 Prinsip baju pelindung yang lain adalah sekali pakai, serta ukurannya sesuai dengan
pengguna sehingga tidak menghambat pergerakan.[9]
 Di Eropa, baju pelindung menggunakan standar EN 14126, yang membagi tipe baju pelindung
menjadi 6 kelas.
 Baju pelindung kelas 6 memiliki perlindungan paling baik, yang bahkan mampu melindungi dari partikel
bakteriofag pada tekanan hidrostatik 20 kPa.
 Di Amerika Serikat, digunakan standar ANSI/AAMI PB70 2012 untuk jubah pelindung.
 Berdasarkan standar tersebut baju pelindung dibagi menjadi 4 kelas. baju pelindung kelas 4
paling baik, yakni mampu melindungi dari kontaminasi virus pada tekanan 2 psi. WHO
menganjurkan penggunaan EN 13795 atau ANSI/AAMI PB70 2012

 kelas 3 atau kelas 4 untuk proteksi tenaga medis


pada kasus Ebola.[7]
Pelindung Mata
 Alat pelindung diri untuk bagian mata bisa
menggunakan goggles atau face shield. Atribut
alat pelindung diri tersebut berguna untuk
melindungi mata dari  kontaminasi patogen
berupa droplet, percikan darah, atau cairan
tubuh pasien. 
 Masker
 penggunaan masker dengan bahan yang breathable mendapatkan angka
kepuasaan pengguna yang lebih baik dan tidak menyebabkan kontaminasi yang
lebih tinggi secara signifikan.
 Penggunaan powered air-purify respirator (PAPR) memberikan perlindungan yang
lebih baik ketimbang penggunaan respirator atau alat pelindung jenis lain (RR
0,27; 95% CI 0,17-0,43). PAPR merupakan salah satu jenis respirator
dengan blower elektrik dengan baterai untuk menyaring udara masuk.
 PAPR dianjurkan digunakan bila masker N95 tidak sesuai dengan bentuk wajah
atau bila akan melakukan prosedur yang memproduksi gas aerosol.[7,9]
Sarung Tangan dan Sepatu Boot
Hasiltinjauan Cochrane menemukan
bahwa penggunaan sarung tangan
ganda (double gloving) menurunkan
kontaminasi dibandingkan penggunaan
tunggal.
 Penggunaan COVID-19 EWS memiliki training dataset
0,956 dan validate dataset 0,966.13 COVID-19
 EWS ini dapat sangat membantu karena umumnya dapat
digunakan dimana saja.
 Parameter pertama (pemeriksaan CT scan) memang
tidak tersedia di seluruh wilayah Indonesia, tetapi hal ini
dapat disiasati dengan menggunakan foto rontgen thorax
yang lebih umum tersedia
Pada 87% pasien dengan pneumonia, terdapat gambaran
pneumonia pada foto rontgen thorax dan CT scan thorax.
Hanya 4% pasien dengan gambaran foto rontgen thorax
pneumonia dan tidak terdapat gambaran pneumonia pada CT
scan.
ini dapat menjadi solusi yang menjanjikan.
Pasien-pasien yang memiliki nilai COVID-19 EWS >10 merupakan
indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan rRT-PCR guna konfirmasi
diagnosis.
 Source: Thailand Medical News  Feb 12, 2020  4 months ago

Is The Covid-19 Coronavirus Capable


Of Airborne Transmissions? What Is
The Real Truth?
 NEWSCORONAVIRUS
 Is The Covid-19 Coronavirus Capable Of Airborne Transmissions? What Is The Real Truth?
 Source: Thailand Medical News  Feb 12, 2020  4 months ago
 In the initial stages of the coronavirus outbreak, (peruse press coverages and media statements
issued in the period  8th of January to 19th January 2020) numerous health officials and government
authorities in an attempt to downplay the situation and panic said that human-to human
transmissions were not possible. (they said that it was only via animal to human transmission)  By
the late part third week of January 2020, it was confirmed that human to human transmissions were
occurring and today we have a mess, more than 1112 people dead, almost 45,000 confirmed infected
and more than 7,400 in severe critical conditions. This only based on so called ‘official figures’ from
the China health authorities whereas there has been constant speculations that the numbers are
more greater than this. We also have more than 500 cases now spanning 29 countries globally with
tens of thousands of suspected cases. It is surprising that these health officials and government
figures in various countries are immune to laws pertaining to fake news or misinformation.
 So the big question to all, how are infected individuals that are asymptomatic ie not
displaying any symptoms infecting others. There is already ample evidence showing
asymptomatic individuals are causing the spread of the disease, but how?
 
Dr  Zeng Qun, the deputy head of the Shanghai Civil Affairs Bureau, told a press briefing
last Saturday that the coronavirus can be spread via direct transmission,
which involves contact with the infected person. However, the China
Daily newspaper reported Dr Zeng also suggested the new member of the
large coronavirus family, which includes SARS is capable of aerosol transmission.
 "Aerosol transmission is a type of airborne transmission and refers
to the mixing of the virus with droplets in the air to form aerosols,
which causes infection after inhalation, according to medical
experts."

As such, these types of diseases can linger in the air for long
periods of time. Only a few diseases spread this way, including
tuberculosis and measles.
 Dr Zeng advised members of the public to therefore be aware of this potential risk
of passing on the coronavirus when at family gatherings.
 
Dr Shen Yinzhong, the medical director of the Shanghai Public Health Clinical
Center, said Covid-19 could "in theory" be spread through the air. However, Dr
Shen said more research is needed to confirm this, according to The New York
Times which cited Shanghai's The Paper.
 Both of these were refuted on the next day when researcher Dr
 Feng Luzhao of the Chinese Center for Disease Control and Prevention
told a press conference there is no evidence that the coronavirus can
form aerosols. 
 Feng said, according to  China Daily,  that the most likely route of
transmission appears to be direct, where a person breathes in the air of
an infected person who has coughed or sneezed, which is different to
airborne transmission.
 In addition, he said it is unlikely the virus can spread through fruit and
vegetables.(quoting him directly!)
 Mr Feng Luzhao

stated that the droplets carrying the coronavirus travel only


about 1m to 2m and do not stay suspended in the air.

 This is why you are unlikely to catch the virus through transient (or short-term)
contact such as on public transport. (note that his very same agency is
responsible for making sure that all public areas , public transport are sprayed and
cleaned with disinfectants daily.)
 Dr Ian Mackay, a virologist at the Australian Infectious Diseases
Research Centre and, told news GP service on the website of the Royal
Australian College of General Practitioners:
 "At the moment this is just a pronouncement without supporting evidence. We
have to be careful because we have seen numerous false starts and wild claims
around this coronavirus, which have all lacked any evidence, quality expert
review, or slow and careful consideration before publication or any expertise
associated with their original analysis."
 Singaporean infectious diseases expert Dr Leong
Hoe Nam said the virus is likely to die when the
droplets dry up.
Experts say if the virus could really survive even after the droplets carrying it have
dried up, it would have spread through the air as dust particles and potentially
infected 10 times more people, which is not the case
 Dr Tawee Chotpitayasunondh, an advisor to Thailand’s
Department of Disease Control, says the coronavirus has yet to infect
people via airborne transmission. It is transmitted by droplets from coughing and
sneezing, which although they can travel short distances through the air, rely on
other factors, including, location, weather and proximity of the people infected.
 
To date, there has been no study done yet to ascertain as to whether or not
the Covid-19 coronavirus can be transmitted airborne or thru aerosol formats.
 not be overly paranoid. Stay away or
It best to take precautions but
keep a distance from any suspected or known infected
individuals.
 
Also besides what has been said that the coronavirus can only be spread
via respiratory droplets,
 fecal transmissions is another
there has been new research emerging that
possibility as well as blood transmissions but these have yet to be
ascertained.