Anda di halaman 1dari 63

PENYAKIT

KECACINGAN
OLEH :
NI PUTU AYU ASTRI PRANA ISWARA

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


DIVISI INFEKSI TROPIK
FK UNIVERSITAS UDAYANA/RSUP SANGLAH
2016
HELMINTHS
(CACING)

NEMATHELMINTHES PLATYHELMINTHES

NEMATODA CESTODA TREMATODA


(CACING BULAT) (CACING PITA) (CACING DAUN)
BENTUK : - SILINDER - SEPERTI PITA - SEPERTI DAUN
- TIDAK BERSEGMEN - BERSEGMEN - TIDAK
BERSEGMEN
ANTERIOR: - BATIL ISAP (-) - BATIL ISAP (+) - BATIL ISAP (+)
- KAIT-KAIT (-) - KADANG-KADANG - KAIT-KAIT
(-)
- MULUT (+) - MULUT (-) - MULUT (+)
RONGGA BADAN : ADA (+) - TIDAK ADA - TIDAK ADA
SAL.PENCERN : ADA DGN ANUS - TIDAK ADA - ADA & ANUS (-)
ASCARIASIS
ANKYLOSTOMIASI
NEMATODA S
STRONGILOIDES

CESTODA TAENIASIS

TREMATODA SKISTOSOMIASIS
NEMATODA
USUS
 Hospes : Manusia

 Nematoda usus yang ditularkan melalui tanah disebut :


SOIL TRANSMITTED HELMINTHS

 Yang penting bagi manusia : - Ascaris lumbricoides


- Necator americanus
- Ankylostoma duodenale
- Strongyloides stercoralis
- Trichuris trichiura

 Nematoda usus lainnya yang juga penting manusia adalah :


- Trichinella spiralis
- Oxyuris vermicularis
Ascaris lumbricoides
(cacing gelang)
 Hospes : hanya manusia – Askariasis
 Penyebaran geografi : Ditemukan diseluruh dunia
 Morfologi/lingkaran hidup :
- Hidup dalam rongga usus
- Jantan : 10-30 cm, ekor melingkar dengan speculum
- Betina : 22-35 cm, ekor lurus, bertelur 100.000-200.000/hari
 Epidemiologi :
- Prevalensi askariasis tinggi di Indonesia
- Banyak pada anak : 60-90 %
Morfologi/ lingkaran hidup :
 Telur tidak dibuahi :
- ukuran 90 X 40 µm
- dinding tipis diliputi oleh albumineus tidak rata
- isi granula refraktil

 Telur yang dibuahi :


- ukuran 60 X 40 µm
- Dinding tebal diliputi albumineus
- Isi sel ovum

 Telur yang dibuahi – 3 minggu menjadi matang


(berisi larva) yang disebut “bentuk infektif”
Ascaris lumbricoides
DEWASA
• Kepala dengan 3 bibir
• Bentuk silindris
• Betina : ekor lurus runcing
• Jantan : ekor melingkar dengan spikula
TELUR Ascaris lumbricoides
Dibuahi :
• Bentuk bulat
• Dinding dalam lapisan hialin tebal
• Dinding luar dilapisi albuminoid kasar,
berwarna kuning tengguli
• Berisi sel ovum

Tidak dibuahi :
• Bentuk lonjong
• Dinding dalam lapisan hialin tipis
• Dinding luar albuminoid kasar tidak teratur
• Berisi granula refraktil

Telur dekortikasi
• Bentuk agak lonjong
• Dinding dalam lapisan hialin tebal
• Dinding luar tanpa albuminoid
Ascaris life cycle
Patologi dan Gejala
Yang disebabkan oleh :
- LARVA : sindroma Loffler yaitu terjadinya perdarahan
kecil pada alveolus  gangguan paru paru disertai
batuk, demam dan eosinophil.
Pada foto thorax nampak infiltrat  hilang dalam 3 minggu
- CACING DEWASA : Gejala intestinal ringan seperti kurang
nafsu makan, mual, diare, konstipasi dan ileus/obstruksi usus.
Pada anak dengan infeksi berat  malabsorbsi malnutrisi
Diagnosa
 Telur dalam tinja
 Cacing keluar melalui anus, mulut atau hidung
Pengobatan
 Piperasin
 Pirantel pamoat
 Mebendazol
Pencegahan
 Penderita diobati
 Hygiene peorangan ditingkatkan
 Penerangan/penyuluhan
 Masak makanan
Cacing Tambang
(hookworm )
 Jenis cacing tambang :
= Ancylostoma duodenale
= Necator americanus
= Ancylostoma braziliense
= Ancylostoma caninum
= Ancylostoma ceylanicum
Ancylostoma duodenale
 Hospes : manusia  Ankilostomiasis
 Penyebaran geografi :
- Diseluruh daerah khatulistiwa, terutama
daerah pertambangan
- Di Indonesia prevalensi tinggi
Morfologi
 Cacing dewasa hidup dalam rongga usus dengan kepala
melekat pada mukosa usus.
 Bentuk badan cacing dewasa:
- A. duodenale menyerupai huruf C
 Rongga mulut cacing dewasa :
- A. duodenale terdapat sepasang benda khitin
 Cacing dewasa bentuk silindris, ukuran 1 cm dan jantan
mempunyai bursa kopulatrik + spikulum pada ekornya
 Betina lebih besar dari jantan, ekornya lurus.
Telur
 Lonjong ukuran 40 X 60 µm
 Dinding tipis, bening dan tidak berwarna
 Isi telur :
- pada tinja segar: berisi embrio stadium morula
- pada tinja lama: berisi larva
Larva
 Dalam 1 – 2 hari telur akan menetas – menjadi larva rabditiform :
- ukuran 250 µm
- esofagus sepertiga badan
- mulut terbuka, panjang dan sempit
 Dalam 5 – 7 hari berubah menjadi larva filariform :
- ukuran 700 µm
- esofagus seperempat badan
- mulut tertutup
- ekor runcing dan menpunyai selubung
- Bentuk infektif
Perbedaan larva cacing tambang dengan strongyloides stercoralis
( Rhabditiform & Filariform )
Rhabditiform Filariform

Larva cacing  Mulut terbuka, panjang dan  Mempunyai sarung, mulut


tambang sempit tertutup
 Esofagus 1/3 panjang badan  Esofagus ¼ panjang badan

 Bentuk rhabditoid  Bentuk filariform

 Ekor lancip

Larva  Mulut terbuka, lebar dan  mempunyai sarung, mulut


Strongyloides pendek tertutup
stercoralis  Esofagus 1/3 panjang badan  Esofagus ½ panjang badan

 Ekor berujung lancip  Ekor bercabang

menyerupai huruf W
Ancylostoma duodenale :
• 2 pasang gigi sama besar
SIKLUS HIDUP
Transmisi
 Larva menembus kulit juga dapat dengan menelan
larva

Lingkaran hidup
 Telur Larva rabditiform  larva filariform 
menembus kulit  kapiler darah  jantung kanan
 paru paru  bronkus  trachea  laring  usus
Patologi dan Gejala
 Gejala ankilostomiasis disebabkan oleh:
- Stadium larva : pada kulit  “ground itch”  paru paru
(tanpa gejala)

 Stadium dewasa : tergantung dari jumlah cacing, gizi dan


spesies  anemia  mempengaruhi prestasi kerja menurun
dan tahan tahan tubuh berkurang
 Diagnosa
Ditemukan : - telur dalam tinja segar
- larva dalam tinja lama

 Terapi :
- Pirantel pamoat
- Mebendazol
Ancylostoma braziliense dan
Ancylostoma caninum
 Hospes : anjing dan kucing – kadang manusia
 Morfologi: - A. braziliense : mempunyai 1 pasang gigi
- A. canium : mempunyai 3 pasang gigi
 Patologi dan Gejala
Larva tidak menjadi dewasa pada manusia  “cutaneus larva
migrans” (creeping eruption)
Ancylostoma ceylanicum
 Hospes : - Anjing dan kucing
- Pada manusia larva menjadi
cacing dewasa
 Morfologi :
Mulut : 2 pasang gigi yang tidak sama besar
Ancylostoma caninum Ancylostoma braziliense
Telur cacing tambang :
• Bentuk lonjong
• Selapis dinding tipis transparan
• Berisi 2-16 sel telur
Strongyloides stercoralis
 Hospes :
- utamanya manusia – strongylodiasis
 Penyebaran geografi :
- daerah tropik dan subtropik
Morfologi/ Lingkaran hidup (1)
 Cacing dewasa ada 2 macam :
1. Yang hidup sebagai parasit/bentuk parasiter :
Sifat :
- hanya ditemukan cacing betina
- panjang 2 mm
- bentuk halus tidak berwarna
- esofagus 1/3 panjang badan
- uterus berisi telur
- hidup dalam fili duodenum + jejenum
- ekor berujung lancip
- berkembang biak secara partenogenesis
Morfologi/ Lingkaran hidup
(2)
2. Yang hidup bebas :
Sifat :
- Bentuk lebih gemuk daripada parasiter
Jantan -- tidak berwarna
-- panjang 0.75 mm
-- ekor melengkung dengan 2 buah spikulum
Betina -- tidak berwarna
-- ukuran 1 mm
-- ekor berujung lancip dan uterus berisi telur
Larva (1)
 Setelah telur menetas
1. Larva rabditiform :
- ukuran 225 µm
- tidak berwarna
- mulut terbuka, pendek dan lebar
- esofagus 1/3 badan
- ekor berujung lancip
Larva (2)
2. Larva filariform :
- panjang 700 µm
- bentuk langsing
- mulut tertutup, tidak berselubung
- esofagus ½ badan
- ekor bercabang menyerupai huruf W
Larva Strongyloides stercoralis

Rhabditiform larva
Filariform larva
Larva Cacinng Tambang

Larva Rhabditiform

Larva Filariform
Lingkaran hidup (1)
 I. Siklus langsung (bentuk parasiter):
L. rabditiform ditanah (2-3 hari)  L. filariform  menembus
kulit peredaran darah jantung kanan  paru paru 
menembus alveolus  trachea  larunx  reflex batuk 
tertelan  usus halus  menjadi cacing dewasa
- Cacing betina dapat bertelur 28 hari
setelah infeksi
Lingkaran hidup (2)
 II. Siklus tidak langsung (cacing dewasa
bentuk bebas) :

L. rabditiform L. filariform
bentuk bebas

- betina - jantan

pembuahan
bertelur
Lingkaran hidup (3)
 III. Auto infeksi :
- Dalam usus/perianal

- L. rabditiform  L. filariform  tembus mukosa intestinal/kulit perianal


 masuk peredarah darah siklus paru usus halus  cacing dewasa
parasiter betina
- Dapat menyebabkan strongyloidiosis kronik
Patologi dan gejala
 L. filariform menyebabkan “creeping eruption” 
kelainan kulit disertai gatal yang hebat.

 Cacing dewasa  menyebabkan kelainan mukosa usus :


- infeksi ringan : umumnya tanpa gejala
- infeksi sedang : rasa sakit epigastrium,
mual, muntah , konstipasi dan diare
- infeksi berat : cacing dewasa bentuk parasiter
dapat ditemukan diseluruh traktus digestivus
Diagnosa
 Larva rabditiform dalam :
- tinja segar
- biakan organ
- aspirasi duodenum
 Pada tinja lama ditemukan L. filariform dan cacing dewasa
 Pengobatan :
- Thiabendazol 25 mg/kg BB, 2X/hr – 2-3 hari

 Prognosis :
- Bila terjadi infeksi berat  kematian

 Epidemiologi :
- Daerah panas, kelembaban tinggi, sanitasi
rendah  untuk cacing
- tanah gembur, berpasir, berhumus  untuk
pertumbuhan larva
Pencegahan
 Sanitasi
 Pembuangan tinja
 Perlindungan kulit dari tanah yang terkontaminasi ( memakai
alas kaki)
 Mengobati penderita
 Memberi penyuluhan dan pemakaian jamban
CESTODA
C E S T O D A
1. Diphyllobothrium latum
2. Taenia saginata
3. Taenia solium
4. Hymenolepis nana
5. Hymenolepis diminuta
6. Diphylidium caninum
7. Echinococcus granulosus
8. Spirometra
C E S T O D A

Taenia solium
Hospes Definitif; manusia
Hospes Perantara; babi ,manusia
Epidemi; yang suka memakan daging babai mentah atau yang dimasak
kurang sempurna (“measly pork”) yang mengandung cysticerci; cacing
menjadi dewasa didalam intestinum.
Taenia solium

• Skoleks bulat dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait,


serta 4 batil isap
• Proglotid gravid : P>L, uterus bercabang 7-12 pasang
• Proglotid mature mampunyai lubang kelamin dilateral, ovarium
berlobus 3 ( 2 lobus besar + 1 lobus kecil )
• Larva/sistiserkus selulosae : berisi skoleks dengan batil isap dan kait
• Telur sama dengan Taenia saginata
SIKLUS HIDUP
Taenia saginata

• Skoleks tidak mempunyai rostelum dan kait-kait serta 4 batil isap yang bulat
• Proglotid gravid : P > L, uterus bercabang 15-30 pasang
• Proglotid mature mempunyai lubang kelamin dilateral, ovarium berlobus dua
• Telur bulat, dinding tebal dengan garis-garis radier & berisi onkosfer/embrio dengan
6 kait-kait
HD; manusia, sapi, kerbau . R/ prazikuantel
SIKLUS HIDUP
GEJALA KLINIS TAENIASIS

Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak patognomosnis (khas).


Sebagian kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatik). gejala klinis dapat
timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing.
Gejala tersebut antara lain rasa tidak enak pada lambung, nausea (mual), badan
lemah, berat badan menurun, nafsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi
(sukar buang air besar), pusing, diare, dan pruiritus ani (gatal pada lubang
pelepasan). Pada pemeriksaan darah tepi (hitung jenis) terjadi peningkatan
eosinofil (eosinofilia) Gejala klinis taeniasis solium hampir tidak dapat
dibedakan dari gejala klinis taeniasis saginata.
GEJALA KLINIS
SISTERKOSIS
Gejala klinis yang timbul tergantung dan letak jumlah, umur, dan lokasi dari
kista. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala atau dapat ditemukan
adanya nodul subkutan. Sistiserkosis serebri sering menimbulkan gejala epilepsi
atau gejala tekanan intrakranial meninggi dengan sakit kepala dan muntah yang
menyerupai gejala tumor otak. Pada kasus yang berlangsung lama dapat
dijumpai bintik kallsifikasi dalam otak.
PENGOBATAN TAENIASIS
Praziquantel, dosis 100 mg / kg, dosis tunggal

PENGOBATAN SISTERKOSIS
Praziquantel dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, dosis tunggal /dibagi 3 dosis per oral selama
15 hari, atau.
Albendazole 15 mg/kg BB/hari, dosis tunggal dibagi 3 dosis per oral selama 7 hari
 
TREMATODA
TREMATODA

MORPHOLOGI UMUM
- Bentuk seperti daun, pipih, ant-post
- Besar  bervariasi
- Mulut dikelilingi acetabulum  membentuk lubang
- Kulit  - ditutupi duri-duri
- STR. MUSCULER untuk bergerak
- Sistem vasculorum
- Traktrus digestivus yang sederhana
- Sistem ekstretorius
- Sistem Reproduksi  PADA UMUMNYA HERMAPRODIT
- PORUS GENITAL - SATU

- DUA (PORUS GENIT. UNIVERSALIS) HERMAPRODIT


Ciri-ciri umum Trematoda :
• Berbentuk daun, tidak bersegmen
• Ukuran 1 mm – beberapa cm
• Mempunyai oral sucker dan ventral sucker
• Semua hermafrodit, kecuali Scistosoma
• Tidak mempunyai rongga tubuh
• Alat pencernaan tidak lengkap, tidak mempunyai anus
• Mempunyai alat eksretori (flame cell) yang khas
• Sistem reproduksi sempurna
• Oviparus
• Telur hanya berkembang di air. Semua telur mempunyai
operculum keculai telur Scistosoma
A. Trematoda Usus :
1. Fasciolopsis buski
2. Fasciola gigantica
3. Echinostoma SPP
4. Metagonimus yokogawai
5. Gastrodiscoides hominis D. Trematoda Darah :
6. Erytrema pancreaticum 1. Schistosoma japonicum
2. Schistosoma haematobium
3. Schistosoma mansoni

B. Trematoda Hati :
1. Clonorchis sinensis
2. Opistorchis viverini
3. Fasciola hepatica

C. Trematoda Paru :
1. Paragonimus westermani
Schistosomiasis
Schistosomiasis atau Bilharziasis adalah penyakit infeksi parasit kronis yang
disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma.

Di Indonesia, penyakit ini baru ditemukan di lembah Lindu (Kec. Kulawi, Kab.
Donggala) dan lembah Napu-Besoa (Kec. Lore Utara, Kab. Poso) yang terletak di
Sulawesi Tengah. Schistosomiasis masih menjadi ancaman bagi lebih dari 25.000
penduduk di kedua daerah endemis tersebut.

HD : manusia, anjing, tikus sawah (Rattus), kucing, sapi, kerbau, babi, kuda,
kambing, dan biri-biri
HP : siput air tawar spesies Oncomelania nosophora, O. hupensis, O. formosana,
O. hupensis lindoensis di Danau Lindu(Sulawesi Tengah) dan O. quadrasi
SIKLUS HIDUP
GEJALA KLINIS
Penyakit schistosomiasis akut dapat ditandai dengan gejala demam (nokturna),
malaise, mialgia, nyeri kepala, nyeri abdomen, batuk non produktif yang dapat
terjadi sebelum ditemukannya telur di dalam feses dan akan mencapai puncaknya
pada minggu ke 6-8 setelah infeksi.

DIAGNOSIS
Telur dapat ditemukan di feses, urin, potongan rektum, atau biopsi jaringan
lainnya. Sampel tinja diperiksa untuk mengetahui keberadaan telur parasit dengan
menggunakan hapusan tebal Kato-Katz atau teknik rapid Kato. Saat ini, teknik
Kato-Katz masih merupakan gold standard yang digunakan untuk diagnosis
schistosomiasis.
PENGOBATAN
Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan prazikuantel. 
Selain itu, dapat juga digunakan natrium antimony tartrat. Obat lainnya
tidak memberikan hasilyang memuaskan karena sebenarnya tidak ada obat
khusus untuk parasit ini.
Obat-obat tersebut akan menyebabkan cacing dewasa terlepas
dari pembuluh darah,sehingga akan tersapu kedalam hati oleh sirkulasi
portal.
TERIMA
KASIH