Anda di halaman 1dari 16

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

PADA PERMASALAHAN FISIK


DISABILITAS, KELAINAN GENETIK,
PERBEDAAN RAS, USIA ANAK < 21 TH
Oleh : Kelompok I
Anggota
1. 1. Anna Sophia Rahmi 2003043
2. 2. Badriah Khalidi 2003044
3. Dania Fitri 2003045
4. Dewi Melia Yulastri 2003046
5. Elia Munawwari 2003047
6. Elvina 2003048
7. Fitri Handayani Tanjung 2003049
8. Fitria Valentina 2003050
9. Friska Amelia Putri 2003051
10. Helfiati 2003052
11. Indah Yulia Kasih 2003053
12. Ineng Rahmanida 2003054
13. Isneli Warni 2003055
14. Melva Haswinda 2003056
15. Neni Sulastri 2003057
PENDAHULUAN

Apakah itu ABK?

Menurut Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan


dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011
tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus
dijelaskan bahwa:

“Anak Berkebutuhan Khusus” adalah anak


yang mengalami keterbatasan/keluarbiasaan
baik fisik, mental-intelektual, sosial, maupun
emosional yang berpengaruh secara signifikan
dalam proses pertumbuhan dan
perkembangannya dibandingkan dengan anak-
anak lain seusianya.
Anak Berkebutuhan Khusus pada
Masalah Fisik

Masalah pada Disabilitas


Hallahan (2009) menjelaskan semua disabilitas adalah inabilitas
(ketidakmampuan) dalam melakukan sesuatu, tetapi tidak semua inabilitas
(ketidakmampuan) tersebut termasuk disabilitas. Sebagai contoh, sebagian besar
anak usia 6 bulan tidak dapat berjalan atau bicara, tetapi hal ini bukan disabilitas
melainkan inabilitas (ketidakmampuan) usia yang belum sesuai dengan tahap
perkembangan tersebut.

Sekurang-kurangnya ada 6 masalah fisik dari sekian banyak yang butuh pendampingan:

1. Tunanetra
2. Tunarungu
3. Tunagrahita
4. Tunadaksa
5. Tuanalaras
6. Tuna ganda
1. Tunanetra:

Istilah ini dipakai untuk mereka yang mengalami gangguan


penglihatan yang mengakibatkan fungsi penglihatan tidak dapat
dilakukan.
Anak tunanetra mempunyai kebutuhan khusus yang menuntut
adanya pelayanan khusus sehingga potensi yang dimiliki oleh
para tunanetra dapat berkembang secara optimal

2. Tunarungu:

Istilah tunarungu dikenakan bagi mereka yang mengalami


gangguan pendengaran, mulai dari yang ringan sampai dengan
yang berat. Gangguan ini dapat terjadi sejak lahir (merupakan
bawaan), dapat juga terjadi setelah kelahiran.
Saat ini, sudah ada juga alat yang mampu membantu
pendengaran walaupun harus belajar bicara secara tidak lancar
3. Tunagrahita:

Tunagrahita atau sering dikenal dengan cacat mental adalah kemampuan mental yang berada di bawah
normal. Tolok ukur yang sering dikenakan untuk ini adalah tingkat kecerdasan atau IQ. Anak yang
secara nyata berbeda mempunyai IQ di bawah normal dikelompokkan sebagai anak tunagrahita.

Sebagaimana halnya anak tunarungu, tunagrahita juga dapat dikelompokkan menjadi tunagrahita
ringan, sedang, dan berat.

4. Tunarungu:

Tunadaksa secara harfiah berarti cacat fisik. Oleh karena kecacatan ini, anak tersebut tidak
dapat menjalankan fungsi fisik secara normal. Anak yang kakinya tidak normal karena kena
polio atau yang anggota tubuhnya diamputasi karena satu penyakit dapat dikelompokkan
pada anak tunadaksa. Istilah ini juga mencakup gangguan fisik dan kesehatan yang dialami
oleh anak sehingga fungsi yang harus dijalani sebagai anak normal, seperti koordinasi,
mobilitas, komunikasi, belajar, dan penyesuaian pribadi, secara signifikan terganggu.

Dapat dimasukkan anak-anak yang menderita penyakit epilepsy (ayan), cerebral palsy,
kelainan tulang belakang, gangguan pada tulang dan otot, serta yang mengalami
amputasi.
5. Tunalaras:

Gangguan yang muncul pada anak-anak ini berupa gangguan perilaku, seperti suka
menyakiti diri sendiri (misalnya mencabik-cabik pakaian atau memukul-mukul kepala),
suka menyerang teman (agresif) atau bentuk penyimpangan perilaku yang lain.
Misalnya, memukul-mukul secara berkelanjutan, melempar/membanting benda-benda di
sekitarnya, dan jari tangan yang diputar-putar. Di samping autistik atau autism, dalam
kelompok ini juga termasuk attention deficit disorder (ADD) dan attention deficit
hyperactive disorder (ADHD).
Anak-anak seperti ini, khususnya ADHD perlu diwaspadai karena dapat membahayakan
diri sendiri dan orang lain.

6. Tunaganda:

Istilah kelompok penyandang kelainan jenis ini adalah mereka yang menyandang lebih
dari satu jenis kelainan. Misalnya, penyandang tunanetra dan tunarungu sekaligus,
penyandang tunadaksa disertai tunagrahita atau bahkan tunadaksa, tunarungu, dan
tunagrahita sekaligus.
Saat ini, sudah ada sekolah luar biasa untuk penyandang tunaganda disebut sebagai SLB-G
Kebutuhan khusus yang dapat kita berikan pada
permasalahan fisik dengan disabilitas ini antara lain :

 1. Berikan kemudahan bagi mereka untuk dapat bergerak Gunakan peralatan yang
berat dan stabil agar tidak mudah terguling. Hindari penggunaan karpet atau alat
lainnya yang dapat menyebabkan anak tersandung. Lalu, atur peralatan di tempat
yang luas agar anak dapat bergerak lebih bebas. Sediakan tempat yang aman untuk
pejalan kaki, kursi roda, atau tongkat agar anak-anak lain tidak tersandung.
 2. Perkenalkan kegiatan belajar, Sediakan alat yang dapat mendukung motoriknya,
seperti menggenggam, memegang, memberi, dan melepaskan. Pastikan juga objek
sesuai usia.
 3. Ajari teman sebaya membantu aktivitas penyandang disabilitas fisik. Teman
bermain biasanya ingin membantu anak penyandang disabilitas fisik, tetapi kadang
caranya kurang tepat. Oleh karena itu, ajari teman-teman si Kecil cara
menawarkan bantuan dengan penuh rasa hormat.
  
2. Masalah Kelainan Genetik

Beberapa penyebab yang paling banyak adalah:sindromdown


(DownSyndrome), sindrom user (usersyandrome). Disamping
itu, hambatan genetik juga dapat terjadi sejak lahir. Dengan
adanya kelainan-kelainan pada organ tubuh seperti
hydrocephaly, microcephaly akibat penggunaan obat-obatan
yang salah oleh ibunya pada saat masa kehamilan

Selain itu dapat juga terjadinya hambatan majemuk dikarenakan faktor sebagai
berikut:
1. Faktor prenatal Terjadi sebelum kelahiran. dapat terjadi karena ketidaknormalan
kromosom komplikasi pada anak dalam kandungan, ketidakcocokan Rh, infeksi pada
ibu ketika hamil, serta mengkonsumsi obat-obatan atau alkohol.
2. Faktor natal Terjadi pada saat kelahiran. hal ini dapat terjadi karena kelahiran
premature, luka pada saat kelahiran, kekurangan oksigen saat kelahiran, dan lain-
lain.
Kebutuhan khusus yang bisa kita berikan pada
permasalahan fisik kelainan genetik ini antara lain :

 Membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk diperiksa


tenaga medis secara rutin, karena jika tidak maka tubuh anak bisa bertambah
kecacatannya (bengkok, mengecil, kaku).
 Menindaklanjuti hasil pemeriksaan dari tenaga medis dengan mengikuti
petunjuk dan saran yang diberikan.
 Memasukkan anak ke sekolah yang sesuai dan kembangkan potensi yang
dimiliki anak. Saat ini banyak anak tuna daksa yang dapat berprestasi berhasil
seperti anak lain sebayanya.
 Memerlukan latihan rutin, dan menggunakan alat bantu untuk mencegah
bertambahnya kecacatan dan memudahkan melakukan kegiatan sehari-hari.
3.Masalah Perbedaan RAS
Filosofi Bhinneka Tunggal Ika mengajak kita untuk meyakini bahwa di dalam
diri manusia bersemayam potensi kemanusiaan yang bila dikembangkan
melalui pendidikan yang baik dan benar dapat berkembang tak terbatas. Dan
perlu diyakini pula bahwa potensi itu pun ada pada diri setiap ABK. Karena,
seperti halnya ras, suku, dan agama di tanah Indonesia, keterbatasan pada
ABK maupun keunggulan pada anak pada umumnya memiliki kedudukan
yang sejajar

Suasana tolong menolong seperti yang


dikemukakan di atas dapat diciptakan melalui
suasana belajar dan kerjasama yang silih asah,
silih asih, dan silih asuh (saling mencerdaskan,
saling mencinta, dan saling tenggang rasa).
Kebutuhan khusus yang dapat kita berikan pada permasalahan ras
ini antara lain :

 a). Ajak berpikir kritis dan terbuka Perkenalkan kepada anak bahwa keragaman yang ada di lingkungan
sekitar adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
 b). Ajak bersosialisasi dengan lingkungan Beri kebebasan kepada anak untuk berteman dengan siapapun
tanpa memandang agama, suku maupun ras.
 c).Bangun rasa percaya diri, Bangun rasa percaya diri anak dengan cara melatih mencintai dirinya sendiri.
Motivasi anak untuk menonjolkan kelebihan yang ada pada diri mereka.
 d). Bacakan cerita tentang perbedaan dan keragaman
 e). Bertamasya Ajak berkunjung ke tempat-tempat yang penuh keragaman Seperti ke Taman Mini
Indonesia Indah, museum, mal atau pertokoan. Gunakan jelajah museum atau lokasi-lokasi wisata secara
virtual selama masa pandemi Covid-19. Kenalkan kepada anak bahwa Indonesia memiliki keberagaman
suku, agama, budaya, dan adat istiadat.
 f).Contoh teladan Anak merupakan pembelajar yang cepat, terlebih belajar dari sikap-sikap yang
ditunjukkan oleh orangtua.
 g).Tanamkan karakter kebangsaan Orangtua ataupun guru dapat mengajak anak mengikuti kegiatan-
kegiatan yang memberikan semangat untuk tumbuhnya rasa nasionalisme dan karakter kebangsaan.
4. Masalah Usia Anak di Bawah 21 Tahun

Masa remaja terdiri atas 3 subfase yang jelas, yaitu masa


remaja awal (usia 11 sampai 14 tahun), masa remaja
pertengahan (usia 15 sampai 17 tahun), dan masa remaja
akhir (usia 18 samapai 21 tahun) (Wong, 2008).

Kebutuhan akan informasi, Pengasuhan (caregiving),


Kemarahan dan persaan bersalah, Komunikasi dan
perasaan terisolasi, dan Masa depan merupakan
permasalahan yang harus dijaga oleh keluarga
terutama oleh saudaranya yang dekat.
Kebutuhan yang dapat kita berikan pada anak berkebutuhan khusus
dengan permasalahan fisik pada usia < 21 tahun, antara lain :

 a. Jadilah pendengar yang baik.


 b.Hormati privasi anak
 c. Sepakati aturan-aturan penting
 e.Berikan motivasi untuk cita-citanya.
 f. Berikan informasi dalam bergaul.
 g. Sampaikan cara mengelola stres.
Kesimpulan
1. Anak berkebutuhan khusus (ABK) secara fisik memerlukan
pendampingan baik dari segi kesehatan, sosial, pendidikan dan kasih sayang.
2. ABK secara fisik dapat dibagi menjadi empat sumber yaitu masalah
fisik, kelainan genetis, perbedaan Ras dan masalah pada kelompok usia di
bawah 21 tahun.
3. ABK secara nyata minimal ada 6 masalah utama dari banyak masalah
yang harus ada pendampingan.
4. Masalah genetis umumnya berasal dari masa kehamilan dari berbagai
factor
5. Perbedaan ras dapat disejajarkan oleh undang-undang Negara RI
6. Masalah usia anak di bawah 21 tahun yang ABK sangat berkaitan dengan
kecemasan masa depannya
SARAN
 Sebagai petugas kesehatan / Bidan, kita perlu menggali lebih dalam
mengenai kebutuhan khusus pada anak dengan permasalahan fisik
 Perlunya kerjasama semua pihak dalam penatalaksanaan yang baik dalam
melengkapi kebutuhan khusus pada anak yang mengalami permasalahan fisik
 Lebih meningkatkan KIE kepada keluarga yang anaknya mengalami kebutuhan
khusus
 Kolaborasi dan melakukan rujukan agar semua permasalahn pada anak dengan
berkebutuhan khusus dapat ditangani
si h
K a
m a
ri
Te

Anda mungkin juga menyukai