Anda di halaman 1dari 48

ANESTESI UMUM PADA PASIEN

LAPAROTOMI

Oleh :
Wa Ode Siti Rahayu Fathanah, S.Ked
(K1A1 15 123)
  
PEMBIMBING :
dr. Agus Purwo Hidayat, Sp.An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


FAKULTAS KEDOKTERAN UHO
KENDARI
2019
Pendahuluan

 Anastesi  Yunani:”an” dan ”esthesia” berarti hilangnnya rasa atau hilangnya


sensasi.
 Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan
meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami
pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat,
terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun.

 Anastesi umum adalah menghilangkan rasa sakit seluruh


tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang
bersifat revesible.
Pendahuluan

Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu


empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki
ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi.

Kolesistektomi mini laparatomi adalah salah satu tindakan operatif pada


kasus kolelitiasis. Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk
membuka bagian abdomen. Laparotomi terbentuk dari dua kata Yunani,
”lapara” dan ”tome”. Kata ”lapara” berarti bagian lunak dari tubuh yang
terletak diantara tulang rusuk dan pinggul, sedangkan ”tome” berarti
pemotongan.
Laporan Kasus
Identitas Pasien
Nama : Ny. N.K.R
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 27 tahun
Berat Badan : 65 kg,
Tinggi Badan : 150 cm
BMI : 28,8 kg/m2 (obes tipe 1)
Agama : Hindu
Alamat : Desa Punggawukawu
No. RM : 56 26 74
Diagnosis : Colelitiasis + Ikterus Kolestatik
Anamnesis
 Keluhan utama : Nyeri perut kanan atas
 Riwayat penyakit sekarang :
Pada anamnesis didapatkan pasien mengeluh nyeri perut kanan atas
sejak 2 minggu terakhir. Nyeri perut dirasakan seperti tertusuk-tusuk. Sakit
dikatakan cukup berat sehingga jika pasien berjalan pasien harus
membungkuk untuk mengurangi rasa sakitnya. Nyeri tersebut juga
dirasakan hilang timbul. Pasien juga mengeluh mual (+), muntah (+), dan
nyeri ulu hati (+).
Anamnesis
Riwayat penyakit dahulu :
• Riwayat asma disangkal
• Riwayat alergi makanan dan obat disangkal
Riwayat penyakit keluarga :
• Riwayat asma, Riwayat gangguan pembekuan darah (-), riw.
Penyakit serupa dengan pasien disangkal.
Riwayat alergi : obat-obatan (-), makanan (-)
Riwayat operasi : (-)
Riwayat Kebiasaan
• Pasien sering mengkonsumsi makanan yang berminyak /
berlemak
Pemeriksaan Fisik

Status Present Tanda Vital

• KU : Sakit sedang • Tekanan darah : 130/70 mmHg


• Kesadaran : Composmentis • Nadi : 88 x/menit
• Keadaan : pasien tampak • Pernapasan : 18 x/menit
psikis sedikit takut • Suhu : 36,6 oC
Pemeriksaan Fisik

Kepala : Normocephali, tidak ada bekas Telinga : Liang telinga lapang


trauma, distribusi rambut merata serumen (-/-)
dan tidak mudah dicabut

Mata : Mulut : sianosis (-), gigi palsu (-),


konjungtiva anemis (-/-) , sklera tonsil T1-T1, Uvula dan
ikterik (+/+)
palatum mole dan durum
terlihat

Hidung : Leher : Leher panjang, Pembesaran


Septum deviasi (-/-) kelenjar (-) JVP dalam batas
sekret (-/-)
normal, pembesaran kelenjar
tiroid (-)
Pemeriksaan Fisik
Jantung :
Bunyi jantung I dan II murni reguler,
bising (-), batas jantung kesan normal Alat genital :
Fluksus (-), lendir
Paru : (-)
Inspeksi : simetris kanan=kiri, deformitas (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-)
Perkusi : sonor kanan=kiri
Auskultasi : bunyi nafas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), Ekstremitas :
wheezing (-/-)
Edema -/- pucat -/-
Abdomen :
Inspeksi : datar, ikut gerak napas
Auskultasi : peristaltik (+) kesan normal
Palpasi : nyeri tekan (+), massa (-)
Perkusi : timpani (+)
Pemeriksaan Penunjang
Parameter Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Darah Rutin
Hemoglobin
13,6 12.0-16.0 g/dL
Leukosit
9.96 4.00-6.00 x 103/uL
Hematokrit
41.0 37-48%
Eritrosit
4,60 4.00-6.00 x106/uL
Trombosit
300 150-450 x 103/uL
Kimia darah
Bilirubin Total 5,8 0,1-1,2

Biliirubin Direct 4,0 < 0,2


Bilirubin Indirect 1,8 <0,75

Faktor Pembekuan
Waktu pembekuan
7’23” 6-12 menit
Wakktu Perdarahan
2’40” ≤ 3 menit
Pemeriksaan Penunjang
Resume

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka dapat


disimpulkan :
Diagnosis pre operatif: Kolelitiasis + Ikterus Kolestatik
Status Operatif : ASA II, Mallampati I
Jenis Operasi : Laparotomi
Jenis Anastesi : General Anastesi
Persiapan Operasi

 Informed consent terhadap pasien dan keluarga mengenai tindakan


pembedahan dan anestesi
 Puasa 8 jam
 Pemberian antibiotik profilaksis ceftriaxon 2 gram/iv 30’- 60’ sebelum
tindakan
 Monitoring tekanan darah, saturasi, heart rate, respiration rate
 Maintenance cairan
Intra Operasi
•Jenis anestesi : general anestesi
•Persiapan : terapi cairan
Kebutuhan cairan selama operasi di hitung dengan rumus :
M = kebutuhan cairan/jam
PP = 8 x kebutuhan cairan/jam
SO = 4/6/8 x (Berat Badan)
Pemberian jam I (1/2 PP) + M + SO
Pemberian jam II & III (1/4 PP) + M + SO
Sehingga didapatkan perhitungan sbb :
M = 2 cc x 65 = 130 cc/jam
PP = 8 x 130 = 1040 cc
SO = 6 x 65 = 390 cc
Sehingga: Jam pertama = 520 + 130 + 390 = 1040 cc
Jam kedua = 260 + 130 + 390 = 780 cc
General Anestesi
Premedikasi
Pemeliharaan (Maintenance)
- Ondansetron 4 mg/iv
- Dexamethasone 10 mg/iv
Atracurium basylate 30 mg/iv
- Atrofin Sulfat 0,25 mg/iv Fentanyl 50 mcg/iv
- Midazolam 3 mg/iv Propofol 20 mg/iv
- Fentanyl 100 mcg/iv Efedrin 50 mg/iv
Induksi Anestesia Tramadol 50 mg/iv
Propofol 180 mg/iv Ketorolac 30 mg/iv
sevofluran volume 2 %
Intra Operasi
Tehnik anastesi :
 injeksi midazolam 3 mg kemudian fentanyl 100 mcg selanjutnya propofol 180 mg
 menaikkan O2 4L/m, sevofluran volume 2 %
 face mask di dekatkan ke wajah pasien
 periksa reflek bulu mata untuk memastikan pasien sudah tertidur
 pasang fase mask ke wajah pasien
lakukan maneuver airway , sambil dilakukan bagging
 segera lepaskan sungkup dan pasang laringoskop secepatnya untuk
mencegah penurunan saturasi
 ETT dimasukan di mulut pasien sebelah kanan
 Setelah ETT masuk , cuff dikembangkan
 Segera pasang selang airway ke ETT
 Memastikan udara masuk ke dalam paru dengan mendengarkan
menggunakan stetoskop untuk memastikan bunyi nafas paru kiri dan kanan sama
 Melakukan fiksasi ETT menggunakan Tape
 Selanjutnya pernafasan dikontrol dengan bagging dari mesin
anastesi.
Di Ruang Operasi

1. Pukul 11.30 WITA pasien masuk kamar operasi , manset dipasang di


tangan kanan dan monitor saturasi di tangan kiri
2. Premedikasi injeksi pukul 11.40
3. Pukul 11.45 WITA dilakukan induksi
4. Pukul 12.00 dilakukan intubasi
5. Operasi di mulai pukul 12.15
6. Extubasi dilakukan pukul 15.50
Di Ruang Operasi
Laporan monitor anestesi selama operasi:
Jam TD (mmHG) Nadi SPO2
12.15 117/56 98 100 %
12.30 113/54 95 100 %
12.45 99/56 120 100 %
13.00 132/63 109 100 %
13.15 122/65 97 100 %
13.30 91/53 95 100 %
13.45 111/56 88 100 %
14.00 105/52 89 100 %
14.15 131/68 98 100 %

14.30 110/56 100 100 %


14.45 106/58 102 100 %
15.00 122/78 99 100 %
15.15 108/68 98 100 %
15.30 110/56 95 100 %
15.45 126/87 100 100 %
Post Operatif

Pasien tiba di recovery room jam 15.50 WIB


Cairan infus : RL kolf ke-3
TD : 112/70
Nadi : 84 x/menit
SPO2 : 100 %
Aldrete’s score : 10
Pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat.

 
Tinjauan Pustaka
Anestesi Umum
Definisi
Tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai hilangnya
kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel)

Trias anestesi:
Analgesia Hipnotik Relaksasi
Otot
Anestesi Umum
Keuntungan Kerugian
• Mengurangi kesadaran dan ingatan (khususnya • Membutuhkan persiiapan pasien
ingatan buruk) intraoperatif pasien
pra bedah
• Memungkinkan penggunaan pelumpuh otot
• Memfasilitasi kendali penuh pada saluran napas,
• Membutuhkan perawatan dan biaya
pernapasan dan sirkulasi yang relatif tinggi
• Dapat digunakan dalam kasus • Dapat menginduksi fluktuasi
alergi/kontraindikasi terhadap agen anestesi lokal
fisiologis yang membutuhkan
• Dapat digunakan pada prosedur bedah degan
durasi dan kesulitan yang tidak dapat di prediksi
intervensi aktif
• Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari • Menimbulkan komplikasi mual
posisi terlentang muntah, sakit tenggorokan, sakit
• Dapat diberikan dengan cepat dan reversbel kepala dan menggigil
Teknik Anestesi Umum Stadium Anestesi Umum

 Intravena  Stadium1
 Inhalasi  Stadium 2
 imbang  Stadium 3
 Stadium 4
Obat Anestesi Intravena
Obat anestesi intravena dan
khasiatnya:
• Cepat menimbulkan efek hipnotik • Ketamin: hipnotik dan analgetik
• Memiliki efek analgesia • Tiopenton: hipnotik
• Menimbulkan ammnesia pasca • Propofol: hipnotik
anestesia • Diazepam: sedatif dan menurunkan tonus otot
• Midazolam: sedatif
• Cepat dieliminasi oleh tubuh • Morphne: analgetik dan sedatif
• Tidak/sedikit mendepresi respirasi • Pethidine: analgetik dan sedatif
dan kardiovaskular • Fentanyl: analgetik dan sedatif

Anestesi Intravena ideal:


Terapi Cairan pada Anestesi
Tujuan: Pemberian cairan:
 Memenuhi kebutuhan  Pra operasi
Cairan rumatan: 2ml/kgBB/jam
cairan, elektrolit dan Mengganti defisit cairan yang hilang karena puasa:
darah yang hilang = lama puasa x cairan rumatan
selama operasi.  Intra operasi
 Mengatasi syok dan Kebutuhan cairan pada untuk operasi :
kelainan yang Ringan = 4 ml/kgBB/jam.
Sedang = 6 ml/kgBB/jam
ditimbulkan karena Berat = 8 ml/kgBB/jam.
terapi yang diberikan  Post operasi
berdasarkan defisit cairan selama operasi ditambah
kebutuhan sehari-hari pasien
Persiapan Pra-anestesi

Tujuan:
• Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.
• Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
dengan fisik pasien.
• Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society of
Anesthesiology)
Klasifikasi ASA:
ASA I: Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa
kelainan faali, biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas
2%.

ASA II: Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan


sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses
patofisiologis. Angka mortalitas 16%.

ASA III: Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas


harian terbatas. Angka mortalitas 38%.

ASA IV: Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam


jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi
fungsi organ, angina menetap. Angka mortalitas 68%.

ASA V: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi


hampir tak ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam
tanpa operasi / dengan operasi. Angka mortalitas 98%.
Intubasi Endotrakheal

Tujuan
• Tindakan memasukkan • Mempermudah pemberian anestesia.
pipa endotrakheal ke • Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta
dalam trakhea sehingga mempertahankan kelancaran pernafasan.
jalan nafas bebas • Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung
(pada keadaan tidak sadar, lambung penuh dan tidak ada
hambatan dan nafas mudah refleks batuk).
dibantu dan dikendalikan • Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial.
• Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
• Mengatasi obstruksi laring akut

Definisi
Kontra Indikasi intubasi
Indikasi intubasi endotrackheal
endotrackheal
• Menjaga jalan nafas yang bebas dalam keadaan-keadaan • Beberapa keadaan trauma jalan
yang sulit. nafas atau obstruksi yang tidak
• Operasi-operasi di daerah kepala, leher, mulut, hidung memungkinkan untuk
dan tenggorokan, karena pada kasus-kasus demikian dilakukannya intubasi.
sangatlah sukar untuk menggunakan face mask tanpa Tindakan yang harus dilakukan
mengganggu pekerjaan ahli bedah. adalah cricothyrotomy pada
• Pada banyak operasi abdominal, untuk menjamin beberapa kasus.
pernafasan yang tenang dan tidak ada ketegangan. • Trauma servikal yang
• Operasi intra torachal, agar jalan nafas selalu paten, memerlukan keadaan
suction dilakukan dengan mudah, memudahkan imobilisasi tulang vertebra
respiration control dan mempermudah pengontrolan servical, sehingga sangat sulit
tekanan intra pulmonal. untuk dilakukan intubasi
• Untuk mencegah kontaminasi trachea, misalnya pada
obstruksi intestinal.
• Pada pasien yang mudah timbul laringospasme.
• Tracheostomi.
• Pada pasien dengan fiksasi vocal chords
Alat-alat Intubasi
• Scope/stetoscope
• Tubes/pipa trakea
• Airway/gudel
• Tape/Plester
• Introducer/stilet
• Connector
• Suction
Klasifikasi Mallampati
• Mallampati I:
Palatum molle, uvula, dinding posterior
oropharynk, tonsilla palatina dan tonsilla
pharingeal
• Mallampati II:
alatum molle, sebagian uvula, dinding
posterior uvula
• Mallampati III:
Palatum molle, dasar uvula
• Mallampati IV:
Palatum durum saja
Tindakan Intubasi

Pemasangan
Oksigenasi Ventilasi
ETT

Mengontrol
Persiapan Laringoscopy
letak pipa
Pemulihan
• Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca
operasi dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih
sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi pasien
pasca anestesi
• Untuk memindahkan pasien dari ruang pulih sadar ke ruang
perawatan perlu dilakukan skoring tentang kondisi pasien
setelah anestesi dan pembedahan
• Cara skoring yang biasa dipakai untuk anestesi umum yaitu
cara Aldrete scoring
Aldrete scoring
No. Kriteria Skor
1 Aktivitas  Mampu menggerakkan ke-4 ekstremitas atas perintah atau secara sadar. 2
motorik  Mampu menggerakkan 2 ekstremitas atas perintah atau secara sadar. 1
 Tidak mampu menggerakkan ekstremitas atas perintah atau secara sadar. 0
2 Respirasi  Nafas adekuat dan dapat batuk 2
 Nafas kurang adekuat/distress/hipoventilasi 1
 Apneu/tidak bernafas 0
3 Sirkulasi  Tekanan darah berbeda ± 20% dari semula 2
 Tekanan darah berbeda ± 20-50% dari semula 1
 Tekanan darah berbeda >50% dari semula 0
4 Kesadaran  Sadar penuh 2
 Bangun jika dipanggil 1
 Tidak ada respon atau belum sadar 0
5 Warna kulit  Kemerahan atau seperti semula 2
 Pucat 1
 Sianosis 0

• Aldrete score ≥ 8, tanpa nilai 0, maka dapat dipindah ke ruang perawatan


Pembahasan
Kasus Teori
Anamnesis: Berdasarkan teori, ASA 2 merupakan Pasien ini
• Pasien mengeluh nyeri perut kanan atas status fisiknya diklasifikasikan pada ASA kelas II
• Riwayat penyakit dahulu (-) yaitu pasien dengan gangguan sistemik ringan
• Riwayat penyakit keluarga (-) sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan
• Riwayat alergi : obat-obatan (-), makanan (-) bedah atau proses patofisiologis. Angka mortalitas
• Riwayat operasi : (-) 16 %. Hal ini sesuai dengan kondisi pasien yaitu
• Riwayat kebiasaan : konsumsi makanan berlemak memiliki penyakit sistemik kolelitiasis dan ikterus
Pada pemeriksaan fisik: kolestatik.
• TTV: dalam batas normal Berdasarka teori, klasifikasi mallampati I yaitu jika
• KU: baik, GCS: 15, psikis: sedikit takut pada pemeriksaan rongga mulut tampak palatum
• Rongga mulut: gigi palsu (-), tonsil T1-T2, Uvula molle, uvula, dinding posterior oropharynk, tonsilla
dan palatum mole dan durum terlihat palatina dan tonsilla pharingeal
• Pemeriksaan Sklera ikterik (+/+)
• Pemeriksaan penunjang: darah rutin, kimia darah Pada kasus, anestesi menggunakan teknik anestesi
dan faktor pembekuan darah dalam batas normal umum, hal ini sesuai salah satu indikasi operasi
• Bilirubin direct dan indirect meningkat dengan menggunakan anestesi umum.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang, pasien di golongkan dalam
ASA 2, Mallampati 1 dan menggunakan jenis
anestesi umum dengan rencana operasi laparotomii
Kasus Teori
Premedikasi Premedikasi : tindakan awal anestesia dengan memberikan
- Ondansetron 4 mg/iv obat2 pendahuluan yang terdiri dari obat-obat golongan
- Dexamethasone 10 mg/iv antikolinergik (misal: atropin), sedative (misal: barbiturat),
- Atrofin Sulfat 0,25 mg/iv dan analgetik (misal: meperidine, morfin). Tujuan pemberian
- Midazolam 3 mg/iv premedikasi adalah untuk menimbulkan rasa nyaman, tujuan
- Fentanyl 100 mcg/iv meredakan kecemasan dan ketakutan, mengurangi sekresi
Induksi kelenjar ludah dan brokus, dan menekan reflex vagus,
- Propofol 180 mg/iv memperlancar induksi, mengurangi dosis obat anestesia, serta
mengurangi rasa sakit dan kegelisahan pasca bedah,
- sevofluran volume 2 % mengurangi rasa mual muntah pasca bedah, menciptakan
Rumatan amnesia, mengurangi isi cairan lambung, mengurangi refleks
- Atracurium basylate 30 mg/iv yang membahayakan
- Fentanyl 50 mcg/iv Pada pasien ini premedikasi yang diberikan adalah pemberian
- Propofol 20 mg/iv ondanstetron 4 mg/iv. Ondansetron merupakan obat selektif
- Efedrin 50 mg/iv terhadap antagonis reseptor 5-hidroksi-triptamin (5-HT3) di
- Tramadol 50 mg/iv otak, dan bekerja pada aferen nervus vagus yang memiliki
- Ketorolac 30 mg/iv anti vomiting yang lebih besar dari efek anti nausea.
Ondansetron adalah "gold standar" dibandingkan dengan
antiemetik lainnya. Dosis yang direkomendasikan dosis 4 mg
PREMEDIKASI
KASUS TEORI
 Deksametason
 Pemberian dexametason 10 merupakankortikosteroid dari
mg/iv pada pasien. golongan glukokortikoid yang
mempunyai efek anti-inflamasi yang
adekuat.
 Penekanan produksi prostaglandin oleh
deksametason akan menghasilkan efek
analgesia Efek deksametason tersebut
dapat digunakan sebagai obat
tambahan analgetik pascabedah.
Penelitian yang dilakukan oleh
Erlangga 2015 menjelaskan bahwa
pemberian deksametason 15 mg dapat
diberikan karena mempunyai efek
PREMEDIKASI
KASUS TEORI
Midazolam merupakan obat premedikasi
Midazolam 3 mg IV


yang mampu menurunkan tingkat
kecemasan. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Tomoki, midazolam dengan
dosis 0,05 mg/kgbb IV sudah dapat
menimbulkan efek sedasi dan antiansietas,
serta dengan dosis tersebut cukup
signifikan mempengaruhi penurunan
tekanan darah serta laju nadi. Pada pasien
ini, dosis pemberian midazolam 3 mg
sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
PREMEDIKASI
KASUS TEORI
Fentanil adalah opioid sintesis yang efektif
Fentanyl 100 mcg/iv


dalam menumpulkan respon simpatis pada
laringoskopi dan intubasi serta stimulus
pembedahan.Karena sifat analgesia yang baik,
onset yang cepat dan durasi yang singkat, sedikit
mendrepresi kardiovaskular, maka fentanil
sering menjadi pilihan utama agen premedikasi
dan induksi umum. Penggunaan fentanil 1
mcg/kgbb iv dan 2 mcg/kgbb iv menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa baik fentanil 1
mcg/kgbb iv dan 2 mcg/kgbb iv, keduanya dapat
menurunkan tekanan darah dan laju nadi.
INDUKSI
KASUS TEORI

 Propofol 180 mg/iv  Induksi anestesi adalah tindakan


untuk membuat pasien dari
sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan
dimulainya anestesi dan
pembedahan. Dosis induksi
propofol pada dewasa sehat
sekitar 1,5 sampai 2,5 mg/kg bb
i.v.
Periode Maintenance

KASUS TEORI
 Atracurium basylate 30 mg/iv  Periode ini diihitung sejak mulainya induksi
dan selama pelaksanaan pembedahan. Ada
Fentanyl 50 mcg/iv beberapa metode dan obat-obatan yang dipilih
Propofol 20 mg/iv oleh seorang ahli anestesi untuk
mengkoordinir tim anestetis, misal secara
Efedrin 50 mg/iv inhalasi dengan halotan, enfluran, sevofluran
Tramadol 50 mg/iv atau secara parenteral dengan fentanil, petidin,
Ketorolac 30 mg/iv morfin. Belakangan ini, metode ini sering
dikombinasikan dengan obat pelumpuh otot,
seperti: atrakurium, pasien masih tertidur dan
sering dijumpai adanya muntah. Karakteristik
pernafasannya pun sudah teratur dan
membaik.7
Sevofluran Atracurium Basylate
• Karakteristik: merupakan halogen • Pelemas otot dengan lama
eter, dikemas dalam bentuk cair, kerja menengah (durasi
tidak berwarna, tidak berbau, 20-45 menit).
tidak iritatif sehingga baik untuk • Mengalami metabolisme
induksi inhalasi. Proses induksi non– enzimatik yang tidak
dan pemulihan paling cepat dari bergantung pada fungsi
semua obat-obatan anestesi hati dan ginjal, sehingga
inhalasi lainyya saat ini dapat digunakan pada
• Penggunaan klinik: komponen pasien dengan gangguan
hipnotik dalam pemeliharaan hati atau ginjal
anestesi umum, juga memiliki • ↑ pelepasan histamin
efek analgesia ringan dan • Sediaan: ampul 10mg/ml
relaksasi otot ringan. Dapat
digunakan untuk induksi pada
bayi dan anak-anak yang tidak
kooperatif
• Kontraindikasi: hipovolemia,
peningkatan TIK
Fentanyl Midazolam
• Opioid dengan potensial analgesi 75-125 • Golongan benzodiazepin
kali lebih kuat dibandingkan morfin yang bekerja dengan cara
• Fentanyl bekerja pada thalamus, mempenagruhi tramisis
hipothalamus sistem retikuler dan neuron- intraneural pada MS, yang
neuronnya menyebabkan relaksasi otot
• Pemberian IV mulai bekerja 30 detik dan skeletal
mencapai puncak dalam waktu 5 menit • Mempunyai sifat ansiolitik,
• Dimetabolisme di hepar, di ekskresikan m sedative, antikonvulsa dan
amnesia anterograde
Kasus Teori
Pada kasus, pasien di Kebutuhan cairan pasien 2 cc/kgBB/jam
puasakan selama 8 jam Kebutuhan cairan selama operasi di hitung dengan rumus :
sebelum operasi M = kebutuhan cairan/jam
PP = 8 x kebutuhan cairan/jam
Pemberian cairan pre- SO = 4/6/8 x (Berat Badan)
operas hingga pasca operasi  
sebanyak 3 kolf (1500 cc) Pemberian jam I (1/2 PP) + M + SO
Pemberian jam II & III (1/4 PP) + M + SO
Sehingga didapatkan perhitungan sbb :
M = 2cc x 65 = 130 cc/jam
PP = 8 x 130 = 1040 cc
SO = 6 x 65 = 390 cc
Jam pertama = 520 + 130 + 390 = 1040 cc
Jam kedua = 260 + 130 + 390 = 780 cc
Kasus Teori
POST OPERATIF Aldrete’s score
Pasien tiba di recovery room jam 15.50
WIB
Cairan infus : RL kolf ke-3
TD : 112/70
Nadi : 84 x/menit
SPO2 : 100 %
Aldrete’s score : 10
Pasien bias dipindahkan ke ruang rawat.
Aldrete’s score: 10
 Mampu menggerakkan ke-4 ekstremitas
atas perintah atau secara sadar (skor 2)
 Nafas adekuat dan dapat batuk (skor 2)
 Tekanan darah berbeda ± 20% dari
semula (skor 2)
 Sadar penuh (skor 2)
 Warna kulit Kemerahan atau seperti
semula (skor 2)
Pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat.
Terima Kasih