Anda di halaman 1dari 33

Kejang Demam Kompleks

+
Pneumonia
Oleh :
Ninis Ilmi Octasari, S.Ked
K1A1 15 095

Pembimbing :
dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
Identitas

Nama : An. A
Tanggal Lahir : 13 Oktober 2019
Umur : 1 Tahun 1 Bulan
Jenis kelamin : Perempuan
BBL : 2700 kg
PBL : 47 cm
BB : 7,5 kg
Agama : Islam
Alamat : Desa Puasana, Kec.
Moramo Utara, Kab.
Konawe Selatan
No. RM : 23 55 46
Anamnesis
Keluhan utama : Kejang
Anamnesis Terpimpin :
Pasien masuk dengan keluhan kejang sejak ± 2 jam sebelum masuk RS, frekuensi kejang 1
kali dengan durasi ≥ 30 menit, kejang separuh badan bagian kanan, setelah kejang pasien
menangis. Ibu pasien mengatakan anaknya demam sejak 5 hari yang lalu. Demam
dirasakan naik turun, naik pada malam hari dan turun pada pagi hari, tidak menggigil, tidak
berkeringat. Keluhan lain batuk dirasakan sejak 5 hari yang lalu, batuk berdahak, dahak
warna kuning kehijauan, pilek (-), mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), BAB dan BAK
dalam batas normal.
Anamnesis

Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit Riwayat Imunisasi


Dahulu Keluarga Dasar, ASI Riwayat Kehamilan Ibu
disangkal disangkal Lengkap, ASI eksklusif sehat, rutin ANC, HTN dalam
sampai usia sekarang kehamilan (-), obat-obatan
terlarang (-), alkohol (-)

Riwayat
Riwayat Pengobatan Riwayat Sosial Perkembangan Riwayat Kelahiran
Sanmol sirup (dibeli ibu Terpapar asap rokok dan Sesuai usia lahir spontan, cukup bulan
di apotik) debu (+) dibantu oleh bidan di RS
tanpa penyulit
Pemeriksaan Fisik

KU : Sakit sedang/Gizi Baik/Composmentis


: Pucat (+) Sianosis : (-) Tonus : Baik
: Ikterus (-) Turgor : Baik Edema : (-)
Antropometri : BB: 7,5 kg PB: 120 cm LILA: 15 cm LK: 46 cm
: LD: 45 cm LP : 47 cm
Pemeriksaan Fisik
Status generalisata
Kepala : Normocephal
Muka : Simetris kiri dan kanan
Rambut : Berwarna hitam, tidak mudah dicabut
Ubun-ubun besar : Tertutup
Telinga : Otorhea (-), Serumen (-)
Mata : Cekung (-), konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-),
perdarahan konjungtiva (-/-)
Hidung : Epistaksis (-), napas cuping hidung (-), rinore (-)
Bibir : Pucat (+), kering (-)
Lidah : Kotor (-) | tremor (-) | hiperemis (-)
Sel Mulut : Stomatitis (-)
Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-), kaku kuduk (-)
Bentuk dada : Simetris kiri dan kanan
Pemeriksaan Fisik
Jantung
PP : Ictus cordis tidak tampak
PR : Ictus cordis teraba
PK : Pekak
Batas kiri : Sulit dinilai
Batas kanan : Sulit dinilai
Irama : BJ I/II murni, regular, bising jantung (-), murmur (-)
Souffle : -
Thrill : -
Pemeriksaan Fisik
Paru
PP : Simetris kiri dan kanan, Retraksi intercostal (+)
PR : Massa (-), Nyeri Tekan (-), Krepitasi (-)
PK : Sonor kedua lapangan paru
PD : Bronkovesikuler (+/+), Rhonki (+/+), Wheezing (-/-)

Abdomen
PP : Datar, ikut gerak nafas
PD : Peristaltik (+) kesan normal
PK : Timpani (+)
PR : Asites (-), nyeri tekan (-)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Parameter Hasil Nilai Rujukan
3
WBC 27,1 x 10 /uL 4.00 – 10.0
HGB 7,7 g/dL 12.00 – 16.00
6
RBC 3,74 x 10 /uL 4.50-5.50
3
PLT 25 x 10 /uL 150 – 400
MCV 67,1 fL 80.0-98.0
MCH 20,6 pg 28.0-33.0
MCHC 30,7 g/Dl 31.9-37.0

• Tulang-tulang, Sinus, diafragma, trachea dan cor dalam


batas normal
• Kesan : Foto toraks normal
Differential Diagnosis
Diagnosis Kerja

• Prognosis
Kejang Demam Kompleks + • Epilepsi
Pneumonia • Bronkiolitis

Penatalaksanaan
• O2 Nasal kanul 2 lpm • Injeksi Cefotaxime 325 mg/12
• IVFD D5%½ NS 10 tpm mikro jam//IV
• Diazepam rectal 5 mg • Injeksi Gentamicin 20 mg/24 jam/IV
• Injeksi paracetamol 70 mg/6 jam/IV • Puyer Ambroxol 3 mg + Salbutamol
0,7 mg 3 x 1
RESUME
Anak perempuan usia1 tahun 1 bulan masuk rumah sakit (MRS) dengan keluhan utama (KU) kejang sejak ± 2 jam sebelum masuk
RS, frekuensi kejang 1 kali dengan durasi ≥ 30 menit, kejang separuh badan bagian kanan, setelah kejang pasien menangis. Ibu pasien
mengatakan anaknya demam sejak 5 hari yang lalu. Demam dirasakan naik turun, demam dirasakan pada malam hari, turun pada pagi hari,
tidak menggigil dan tidak berkeringat. Keluhan lain: batuk (+) dirasakan sejak 5 hari yang lalu, batuk berdahak, dahak warna kuning
kehijauan, sakit kepala (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati (-), BAB dan BAK dalam batas normal. Riwayat penyakit dahulu
dengan keluhan yang sama disangkal. Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan yang sama dengan keluhan pasien disangkal. Riwayat
pengobatan telah diberikan Sanmol sirup yang dibeli sendiri oleh Ibu di Apotek. Riwayat alergi makanan dan obat-obatan tidak ada. Riwayat
sosial terpapar asap rokok dan debu (+). Riwayat kehamilan ibu pasien : sehat selama kehamilan, kunjungan antenatal rutin di Posyandu,
hipertensi dalam kehamilan (-), diabetes mellitus (-), penggunaan obat-obatan terlarang (-), alkohol (-). Riwayat kelahiran: lahir spontan,
cukup bulan tanpa penyulit dibantu oleh bidan di RS. Riwayat pemberian ASI: ASI eksklusif sampai sekarang. Riwayat perkembangan
sesuai usia. Riwayat imunisasi dasar lengkap..
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD: 90/60 mmHg, P: 48x/menit, N: 134 x/menit, S: 38,3 0C. Pemeriksaan mata didapatlan
konjungtiva anemis (+/+) , sklera ikterik (-/-), perdarahan konjungtiva (-/-), bibir pucat (+), kering (-), sianosis (-). Pemeriksaan leher
didapatkan pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-). Pemeriksaan Paru didapatkan paru simetris kiri dan kanan, retraksi intercostal (+),
pernapasan bronkovesikuler +/+, Ronkhi +/+, Wheezing -/-. Pemeriksaan jantung dan abdomen dalam batas normal. Refleks patologis
didapatkan Brudzinski I (-), Brudzinski II (-), Brudzinski III (-), Kernig Sign (-).
Pada pemeriksaan penunjang laboratorium didapatkan leukositosis (+) WBC 27,1 x 10 3/uL dan HGB 7,7 g/dL. Pada pemeriksaan
Foto Toraks tanggal 11 November 2020 didapatkan tulang-tulang, Sinus, diafragma, trachea dan cor dalam batas normal.
Penatalaksanaan yang diberikan yaitu O2 nasal kanul 2 lpm, IVFD D5%½ NS 10 tpm mikro, Diazepam rectal 5 mg, Injeksi
paracetamol 70 mg/6 jam/IV, Injeksi Cefotaxime 325 mg/12 jam/IV, Injeksi Gentamicin 20 mg/24 jam/IV, Puyer Ambroxol 3 mg +
Salbutamol 0,7 mg 3 x 1
Tanggal Keluhan Instruksi Dokter Tanggal Keluhan Instruksi Dokter
S: Demam dirasakan naik turun, batuk S: Demam dirasakan naik turun, batuk - O2 Nasal kanul 0,5 lpm
berdahak (+), sesak (+), kejang (-) berdahak (+), sesak (+), kejang (-) - IVFD D5% ½ NS 14 tpm mikro
- O2 Nasal kanul 0,5 lpm
O: KU : Sakit sedang, CM O: KU : Sakit sedang, CM - Injeksi Cefotaxime 325 mg/12
- IVFD D5% ½ NS 14 tpm mikro
Status Gizi : Baik Status Gizi : Baik jam/IV
- Injeksi Cefotaxime 325 mg/12
BB : 7,5 Kg BB : 7,5 Kg - Injeksi Gentamicin 20 mg/24
jam/IV
TD : 90/60 mmHg TD : 95/60 mmHg jam/IV
- Injeksi Gentamicin 20 mg/24
N : 168 x/m N : 168 x/m - Diazepam oral 3 x 0,7 mg (jika
11/11/2020 jam/IV 13/11/2020
P : 48x/m P : 59x/m suhu >38°C)
- Diazepam oral 3 x 0,7 mg (jika
S : 37,5°C S : 39.9°C - Paracetamol infuse 70 mg/6
suhu >38°C)
Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat jam/IV (jika suhu >38°C)
- Paracetamol infuse 70 mg/6
(+), pernapasan bronkovesikuler (+/+), (+), pernapasan bronkovesikuler (+/+), - Puyer Ambroxol 3 mg
jam/IV (jika suhu >38°C)
ronki (+/+), retraksi intercostals (+) ronki (+/+), retraksi intercostals (+) - Salbutamol 0,7 mg
A: Kejang demam kompleks + A: Kejang demam kompleks + 3x1
pneumonia pneumonia
S: Demam dirasakan naik turun, batuk S: Demam dirasakan naik turun, batuk
- O2 Nasal kanul 0,5 lpm - O2 Nasal kanul 0,5 lpm
berdahak (+), sesak (+), kejang (-) berdahak (+), sesak (+), kejang (-)
- IVFD D5% ½ NS 14 tpm mikro - IVFD D5% ½ NS 14 tpm mikro
O: KU : Sakit sedang, CM O: KU : Sakit sedang, CM
- Injeksi Cefotaxime 325 mg/12 - Injeksi Ceftazidime 180 mg/12
Status Gizi : Baik Status Gizi : Baik
jam/IV jam/IV
BB : 7,5 Kg BB : 7,5 Kg
- Injeksi Gentamicin 20 mg/24 - Injeksi Gentamicin 20 mg/24
TD : 90/60 mmHg TD : 90/60 mmHg
jam/IV jam/IV
N : 142 x/m N : 117 x/m
12/11/2020 - Diazepam oral 3 x 0,7 mg (jika 14/11/2020 - Diazepam oral 3 x 0,7 mg (jika
P : 42x/m P : 49x/m
suhu >38°C) suhu >38°C)
S : 38.0°C S : 38.3°C
- Paracetamol infuse 70 mg/6 - Paracetamol infus 70 mg/6
Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat
jam/IV (jika suhu >38°C) jam/IV (jika suhu >38°C)
(+), pernapasan bronkovesikuler (+/+), (+), pernapasan bronkovesikuler (+/+),
- Puyer Ambroxol 3 mg - Puyer Ambroxol 3 mg
ronki (+/+), retraksi intercostals (+) ronki (+/+), retraksi intercostals (+)
- Salbutamol 0,7 mg - Salbutamol 0,7 mg 3 x 1
A: Kejang demam kompleks + A: Kejang demam kompleks +
3x1
pneumonia pneumonia
Tanggal Keluhan Instruksi Dokter Tanggal Keluhan Instruksi Dokter
S : Demam dirasakan naik turun, S: Kejang (+) separuh badan frekuensi
kejang (+) separuh badan frekuensi 1x 1x durasi ± 1 menit, demam (+) naik
durasi ±30 detik, sesak (+) turun, sesak (+)
O: KU : Sakit sedang, CM O: KU : Sakit sedang, CM
Status Gizi : baik Status Gizi : baik
BB : 7,5 Kg BB : 7,5 Kg
TD : 95/65 mmHg TD : 90/60 mmHg
15/11/2020 15/11/2020
N : 142 x/m - Layani Diazepam puyer 3 x 1 N : 127 x/m - Diazepam rectal 5 mg
11.00 15.00
P : 42x/m P : 38x/m
S : 38.0°C S : 37.6°C
Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat
(+), pernapasan bronkovesikuler (+/+), (+), pernapasan bronkovesikuler (+/+),
ronki (+/+), retraksi intercostals (+) ronki (+/+), retraksi intercostals (+)
A: Kejang demam kompleks + A: Kejang demam kompleks +
pneumonia pneumonia
S: Kejang (+) separuh badan frekuensi
1x durasi ± 1 menit, demam (+) naik S: Demam dirasakan naik turun, batuk
turun, sesak (+) berdahak (+), sesak (+), kejang (-)
O: KU : Sakit sedang, CM O: KU : Sakit sedang, CM
Status Gizi : baik Status Gizi : baik
BB : 7,5 Kg BB : 7,5 Kg
- Phenobarbital 15 mg (puyer) 2x1 TD : 90/60 mmHg
TD : 95/60 mmHg
15/11/2020 - Stop Diazepam N : 129 x/m
N : 135 x/m 16/11/2020 - Pasien meminta pulang paksa
13.00 - Bila masih kejang layani P : 38x/m
P : 46x/m
Diazepam rectal 5 mg S : 37.5°C
S : 38.7°C
Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat Konjungtiva anemis (-/-), bibir pucat (-
(+), pernapasan bronkovesikuler (+/+), ), pernapasan bronkovesikuler (+/+),
ronki (+/+), retraksi intercostals (+) ronki (+/+), retraksi intercostal (-)
A: Kejang demam kompleks + A: Kejang demam kompleks +
pneumonia pneumonia
Edukasi

01 02
Pasien diedukasi untuk Menjelaskan kepada orang tua
menjaga higienisitas, mengenai bagaimana penanganan
mengurangi paparan debu bila terjadi kejang demam di
dan rokok pada anak Rumah karena kejang demam
dapat berulang lagi
ANALISIS
KASUS
Kasus Teori
Pada teori, dari anamnesis dapat ditemukan tanda dan
gejala dari kejang demam kompleks yaitu keluhan
kejang separuh badan dengan durasi ≥ 30 menit yang
didahului demam dengan suhu badan 38,3 0C.
Manifestasi kejang demam pada kasus ini memenuhi
· Usia 1 tahun 1 bulan rentang usia 6 bulan–5 tahun dimana pada pasien ini
· Kejang separuh badan, durasi ≥ 30 menit usianya 1 tahun 1 bulan. Manifestasi kejang demam pada
· Didahului demam dengan suhu badan kasus ini memenuhi rentang usia 6 bulan–5 tahun
38,3°C dimana pada pasien ini usianya 1 tahun 1 bulan. Hal ini
· Jenis kelamin; perempuan dikaitkan dengan dengan perkembangan otak anak. Anak
di bawah usia satu tahun rentan terkena kejang demam
karena pada usia ini, otak anak sangat rentan terhadap
peningkatan suhu tubuh yang mendadak. Pada usia 5
tahun, sebagian besar anak telah dapat mengatasi
kerentanannya terhadap kejang demam
Kasus Teori

Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki


daripada perempuan. Pada kasus kejang demam ini
didapatkan pada pasien dengan jenis kelamin
· Usia 1 tahun 1 bulan
perempuan. Pertumbuhan dan perkembangan anak
· Jenis kelamin; perempuan
perempuan sedikit lebih cepat dibandingkan anak laki-
· Kejang separuh badan, durasi ≥ 30 menit
laki. Jika dihubungkan dengan hal ini maka seharusnya
· Didahului demam dengan suhu badan 38,3°C
kejang demam lebih sedikit terjadi pada anak perempuan
karena kerentanannya terhadap kenaikan suhu lebih
rendah dibandingkan anak laki-laki
Kasus Teori

· Usia 1 tahun 1 bulan Hal ini memenuhi definisi dari Kejang demam yaitu
· Kejang separuh badan, durasi ≥ 30 menit bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
· Didahului demam dengan suhu badan 38,3°C (suhu rektal di atas 38°C) yang tidak memiliki bukti
· Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD: 90/60 adanya proses intrakranial (seperti infeksi, trauma
mmHg, P: 48x/menit, N: 134 x/menit, S: kepala, dan epilepsi), atau penyebab kejang lainnya
38,30C. (seperti ketidakseimbangan elektrolit, hipoglikemia atau
· Pemeriksaan leher didapatkan pembesaran pengguanaan obat-obatan) atau riwayat kejang tanpa
KGB (-), Kaku kuduk (-). demam sebelumnya, umumnya terjadi pada usia 6 bulan
· Refleks patologis didapatkan Brudzinski I (-), sampai 5 tahun dan setelah kejang pasien sadar.
Brudzinski II (-), Brudzinski III (-), Kernig Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
Sign (-). diagnosis dari kasus adalah kejang demam kompleks.
Kasus Teori

Tatalaksana yang diberikan untuk mengatasi kejang


yaitu menurunkan demam atau jika ada infeksi
Penatalaksanaan yang diberikan yaitu penyerta lainnya. Pada kasus telah diberikan
•O2 nasal kanul 2 lpm Parasetamol infuse 70 mg/6 jam/IV dan diazepam
•IVFD D5%½ NS 10 tpm mikro rectal 5 mg. Untuk menurunkan demam telah diberikan
•Diazepam rectal 5 mg anti piretik dengan dosis telah sesuai yaitu 10-15
•Injeksi paracetamol 70 mg/6 jam/IV mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari. Berdasarkan
• Injeksi Cefotaxime 325 mg/12 jam/IV teori, algoritma tata laksana kejang demam yaitu
•Injeksi Gentamicin 20 mg/24 jam/IV diberikan diazepam rectal 5 mg untuk anak dengan
•Puyer Ambroxol 3 mg + Salbutamol 0,7 mg 3 x berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat badan >12
1 kg. Pada kasus anak usia 1 tahun 1 bulan dengan BB
7,5 kg diberikan diazepam rectal 5 mg dan selanjutnya
pasien tidak kejang lagi
Kasus Teori

Pasien diberikan profilaksis intermiten karena


memenuhi salah satu faktor risiko di bawah ini yaitu:
1. Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
Pasien diberikan obat sebagai profilaksis 2. Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
3. Usia <6 bulan
antikonvulsan intermitten pada waktu demam,
4. Bila kejang terjadi pada suhu tubuh <39°C
yaitu diazepam oral 0,7 mg diberikan bila suhu 5. Apabila pada episode kejang demam sebelumnya,
badan ≥38,0°C suhu tubuh meningkat dengan cepat
Pada kasus, yang menjadi indikasi diberikannya
profilaksis pada pasien ini adalah kejang yang terjadi
pada suhu <39°C yaitu pada suhu 38,3°C.
Kasus Teori

Hal ini sejalan dengan teori yaitu obat yang


digunakan sebagai profilaksis adalah diazepam oral 0,3
mg/kgBB/kali per oral atau rektal 0,5 mg/kgBB/kali (5
mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat
Pasien diberikan obat sebagai profilaksis badan >12 kg), sebanyak 3 kali sehari dengan dosis
antikonvulsan intermitten pada waktu demam, maksimum diazepam 7,5 mg/kali.
yaitu diazepam oral 0,7 mg diberikan bila suhu Diazepam intermiten diberikan selama 48 jam
badan ≥38,0°C pertama demam. Pemberiannya pada saat demam dapat
menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30–60%
kasus. Perlu diinformasikan pada orangtua bahwa dosis
tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia,
iritabilitas, serta sedasi
Kasus Teori

Berdasarkan teori, prognosis kejang demam secara


umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai
Pada kasus, jenis kejang demam pasien komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap
adalah kejang demam kompleks, sehingga pasien
normal pada pasien yang sebelumnya normal. Namun,
memiliki risiko kejang demamnya dapat pada 5-10% kasus kejang demam kompleks, anak
berkembang menjadi epilepsi dengan riwayat gangguan perkembangan, riwayat
keluarga dengan epilepsi dapat berkembang menjadi
epilepsi
Kasus Teori

Berdasarkan teori, kejadian kejang demam pada pasien


anak dapat menjadi salah satu faktor resiko terjadinya
epilepsi dikemudian hari. Beberapa keadaan anak
Pada kasus, yang menjadi faktor risiko kejang dengan kejang demam yang memiliki faktor risiko
menjadi epilepsi di kemudian hari adalah :
demam pasien dapat menjadi epilepsi di
1. Terdapat kelainan neurologis atau perkembangan
kemudian hari adalah kejang demam kompleks.
yang jelas sebelum kejang demam pertama
Masing-masing faktor risiko meningkatkan 2. Kejang demam kompleks
kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6% 3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara
kandung
4. Kejang demam sederhana yang berulang 4 episode
atau lebih dalam satu tahun.
Kasus Teori

· Demam sejak 5 hari yang lalu, demam dirasakan Dari anamnesis dapat ditemukan tanda dan gejala dari
naik turun, demam dirasakan pada malam hari, pneumonia yaitu gejala infeksi umum yaitu demam,
turun pada pagi hari, tidak menggigil dan tidak gelisah, malaise, dan gejala gangguan respiratori, yaitu
berkeringat batuk, sesak napas, retraksi dada, dan takipnea. Riwayat
· Batuk (+) yang dirasakan sejak 5 hari yang lalu terpapar debu dan asap rokok dari ayahnya. Hal ini
· Batuk berdahak warna kuning kehijauan merupakan salah satu faktor risiko pasien sehingga
· Riwayat terpapar debu dan asap rokok dari menderita pneumonia
ayahnya.
Kasus Teori

· Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan


umum sakit sedang, gizi baik, kesadaran
Pasien berusia 1 tahun 1 bulan dengan keluhan demam,
composmentis. TD: 90/60 mmHg, P:
sesak, dan terdapat retraksi intercostal memenuhi
48x/menit, N: 134 x/menit, S: 38,30C
diagnosis pneumonia menurut WHO. Pada pemeriksaan
· Pada pemeriksaan bibir didapatkan pucat (+),
fisik didapatkan pernapasan yang cepat dan retraksi
kering (-), sianosis (-)
intercostal dimana berdasarkan teori, takipnea adalah
· Pada pemeriksaan Paru didapatkan paru
manifestasi klinis pneumonia yang paling konsisten dan
simetris kiri dan kanan, retraksi intercostal (+),
retraksi termasuk dalam kriteria pneumonia berat.
pernapasan bronkovesikuler +/+, ronkhi +/+,
wheezing -/-.
Kasus Teori

•Leukosit yang sangat meningkat menandakan telah


•Pada pemeriksaan penunjang laboratorium darah
terjadi proses infeksi dalam tubuh pasien sehingga
rutin tanggal 11 November 2020 didapatkan WBC
merupakan indikasi untuk pemberian antibiotik
27,1 x 103/uL, HGB 7,7 g/dL, RBC 3,74 x 106/uL.
•Walaupun pada pemeriksaan foto torakas tidak
•Pemeriksaan Foto Toraks tanggal 11 November
didapatkan kelainan namun yang menjadi patokan adalah
2020 didapatkan tulang-tulang, sinus, diafragma,
klinis pasien sehingga tata laksana pneumonia
trachea dan cor dalam batas normal.
dilanjutkan
Kasus Teori

Anak dengan pneumonia berat wajib diberikan


oksigen 1 L/menit untuk mengatasi hipoksemia dan
menurunkan usaha untuk bernapas. Pneumonia berat
diterapi menggunakan ampisilin (50 mg/kgbb) tiap 6
Penatalaksanaan yang diberikan selama
jam [atau benzyl penicilin (50.000 unit/kgbb IM/IV
perawatan adalah telah diberikan oksigen 2 lpm,
setiap 6 jam) selama 5 hari] dan gentamisin parenteral
Obat Antibiotik berupa Cefotaxime dan
(7,5 mg/kgbb IM/IV sekali sehari selama 5 hari)
Gentamicin, untuk mengatasi batuknya
sebagai terapi lini pertama. Pada pasien diberikan
diberikan Puyer Ambroxol dan Salbutamol dan
Cefotaxime yang termasuk lini kedua untuk terapi
pasien disertai demam diberikan paracetamol.
Pneumonia. Anak disertai demam diberikan
parasetamol (10-15 mg/kgBB/kali pemberian). Bila
ditemukan adanya wheeze, beri bronkodilator kerja
cepat.
Kasus Teori

Pasien ini memaksa untuk


dipulangkan dan telah memenuhi beberapa
Pasien ini memaksa untuk dipulangkan dan
kriteria pulang pasien sehingga telah
telah memenuhi beberapa kriteria pulang pasien
dipertimbangkan untuk dipulangkan, yaitu
sehingga telah dipertimbangkan untuk
1. Gejala dan tanda pneumonia
dipulangkan, yaitu
menghilang
1. Gejala dan tanda pneumonia menghilang
2. Asupan per oral adekuat
2. Asupan per oral adekuat
3. Pemberian antibiotik dan orangtua
3. Pemberian antibiotik dan orangtua setuju
setuju untuk rencana kontrol
untuk rencana kontrol
4. Kondisi rumah memungkinkan untuk
4. Kondisi rumah memungkinkan untuk
perawatan lanjutan di rumah dengan
perawatan lanjutan di rumah
catatan anak dihindarkan dari asap
rokok.
Kasus Teori

Prognosis pneumonia pada umumnya pada


pasien anak dengan pneumonia ringan tanpa
komplikasi menunjukkan respon yang baik
Pada kasus, walaupun pasien anak
terhadap terapi dengan perbaikan yang mulai
dengan pneumonia yang berat dan tanpa
nampak setelah 48-72 jam setelah pemberian
komplikasi namun pada saat perawatan
antibiotik. Mortalitas dari pneumonia pada
dengan pemberian antibiotik juga
negara berkembang jarang terjadi dan
memberikan respon perbaikan yang cepat
kebanyakan anak dengan pneumonia tidak
sehingga prognosisnya juga baik.
memiliki gejala sisa pada akhir terapi. Angka
kematian akibat pneumonia pneumokokus tanpa
komplikasi kurang dari 1%
Daftar Pustaka
1. Ismet, 2017. Kejang Demam. Jurnal Kesehatan Melayu, 1(1), pp. 41-44.
2. Ikatan Dokter Indonesia, 2017. Panduan Praktik Klinis - Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 1st ed.
Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia.
3. Leung, A. K., Hon, K. L. & Leung, T. N., 2018. Febrile Seizures - an Overview. Drugs in Context, Volume 7, pp. 1-12.
4. Ismael, S. et al., 2016. Rekomendasi Penatalaksanaan kejang Demam. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
5. Saeed, M., 2020. Handbook of Pediatric Neurological Emergency. 1st ed. Pakistan: Paramount Books.
6. Pudjiadi, A. H. et al., 2009. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
7. Nuryani, Nasriati, R. & Verawati, M., 2020. Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Kejang Demam dengan
Perilaku Penanganan Kejang Demam Sebelum Dibawa ke Rumah Sakit. Health Sciences Journal, IV(1).
8. Ruslie, R. H. & Darmadi, 2012. DIagnosis dan Tatalaksana Terkini Kejang Demam. Jurnal Kedokteran Meditek,
18(47), pp. 26-31.
9. Arief, R. F., 2015. Penatalaksanaan Kejang Demam. Continuing Medical Education, 42(9), pp. 658-661.
10. Paul, S., 2015. Recognition and Management of Febrile Convulsion in Children. Pediatric Nursing, 29(52).
11. Hay, W. W., Levin, M. J., Deterding, R. R. & Abzug, M. J., 2018. CURRENT Diagnosis & Treatment Pediatrics. 24th
ed. New York: McGraw Hill Education.
12. Deliana, M., 2002. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri, IV(2), pp. 59-62.
13. Ismael, S. et al., 2016. Rekomendasi Penatalaksanaan Status Epileptikus. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Daftar Pustaka

14. Pudjiadi, A. H. et al., 2009. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
15. Samuel, A., 2014. Bronkopneumonia on Pediatric Patient. Jurnal Agromed Unila, I(2), pp. 185-189.
16. Kelly, M. S. & Sandora, T. J., 2020. Community-Acquired Pneumonia. In: Nelson Textbook of Pediatrics. 21 ed.
Canada: Elsevier, pp. 2266-2273.
17. Polin, R. A. & Ditmar, M. F., 2020. Pediatric Secrets. 7th ed. Philadeplhia: Elsevier.
18. World Health Organization, 2014. Revised WHO Classification and Treatment of Childhood Pneumonia at Health
Facilites - Evidence Summaries. pp. 1-12.
19. Rahajoe, N. N., Supriyatno, B. & Setyanto, D. B., 2008. Buku Ajar Respirologi Anak. 1st ed. Jakarta: Ikatan Dokter
Anak Indonesia.
20. World Health Organization, 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit - Pedoman Bagi Rumah
Sakit Rujukan TIngkat Pertama di Kabupaten/Kota. 1st ed. Jakarta: World Health Organization.
21. Paul, V. K. & Bagga, A., 2019. Ghai Essential Pediatrics. 9th ed. New Delhi: CBS Publishers & Distributors.
TERIMA
KASIH
CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons
by Flaticon, and infographics & images by Freepik