Anda di halaman 1dari 14

BAB III

SEJARAH PENYULUHAN
PERTANIAN

Mereka yang tidak bisa memetik hikmah lah, yang meremehkan


sejarah. Sebab sejarah mampu memberi pelajaran dan
09/21/21
berperan sebagai guru terbaik
1
Introduction
 Kompetensi:  mahasiswa mampu menjelaskan sejarah dan kronologis
perkembangan penyuluhan pertanian dari awal sampai sekarang.

 Istilah “penyuluhan (extension)”, pertama kali dilakukan pada


pertengahan abad 19 oleh universitas Oxford dan Cambridge pada
sekitar tahun 1873 (Maunder, 1972). Dalam perjalanananya van den
Ban (1985) mencatat beberapa istilah seperti di Belanda disebut
voorlichting, di Jerman lebih dikenal sebagai “advisory work” (beratung),
vulgarization (Perancis), dan capacitacion (Spanyol).
 Roling (1988) mengemukakan bahwa Freire (1973) pernah melakukan
protes terhadap kegiatan penyuluhan yang lebih bersifat top-down.
Karena itu, dia kemudian menawarkan beragam istilah pengganti
extension seperti: animation, mobilization, conscientisation. Di Malaysia,
digunakan istilah perkembangan sebagai terjemahan dari extension,
dan di Indonesia menggunakan istilah penyuluhan sebagai terjemahan
dari voorlichting.

09/21/21 2
 Menurut sejarah purbakala, kegiatan penyuluhan pertanian sudah
dimulai di lembah Mesopotamia sekitar 1800 tahun sebelum Kristus
(Bne Saad, 1990), dan di China dimulai pada abad ke 6 SM,
ditandai dengan catatan tertulis tentang teknik-teknik esensial dan
pertanian pada 535 SM pada masa Dinasti Han (Swanson et al,
1997). Pada abad ke 2 SM sampai dengan abad ke 4 Masehi,
banyak dijumpai tulisan-tulisan berbahasa Latin, seringkali disertai
dengan gambar-gambar tentang pengalaman praktek bertani
(White, 1977).

KELAHIRAN PENYULUHAN PERTANIAN

Swanson et al (1997) mencatat kondisi kelahiran penyuluhan


pertanian, yang ditandai oleh:
 Adanya praktek-praktek baru dari temuan penelitian
 Kebutuhan pentingnya informasi untuk diajarkan kepada petani
 Tekanan terhadap perlunya organisasi penyuluhan
 Ditetapkannya kebijakan penyuluhan
 Adanya masalah-masalah yang dihadapi di lapangan
09/21/21 3
SEJARAH PENYULUHAN
PERTANIAN DI INDONESIA

 Banyak kalangan yang menyebut kelahiran penyuluhan


pertanian di Indonesia bersamaan dengan dibangunnya Kebun
Raya Bogor pada 1817. Tetapi almarhum Prof. Iso Hadiprodjo
keberatan, dan menunjuk tahun 1905 bersamaan dengan
dibukanya Departemen Pertanian, yang antara lain memiliki
tugas melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian sebagai
awal kegiatan penyuluhan pertaniann di Indonesia. Hal ini
disebabkan, karena kegiatan “penyuluhan” sebelum 1905 lebih
berupa pemaksaan-pemaksaan yang dilakukan dalam rangka
pelaksanaan “tanam-paksa” atau cultuurstelsel.
 Selama masa penjajahan Jepang, kegiatan penyuluhan
pertanian praktis terhenti, karena apa yang dilakukan tidak lain
adalah pemaksaan-pemaksaan kepada rakyat untuk
mengusahakan bahan pangan dan produk-produk strategis yang
lain.
09/21/21 4
SEJARAH PENYULUHAN
PERTANIAN DI INDONESIA

 1945-1950, Plan Kasimo (Rencana Produksi 3 tahun, 1948-


1950) yang tidak dapat terlaksana karena terjadinya revolusi
fisik.
 1950-1959 Plan Kasimo digabung dengan Rencana Wisaksono
menjadi Rencana Kesejahteraan Istimewa (RKI) yang dibagi
dalam 2 tahp: 1950-1955 dan 1955-1960.
 Salah satu “peninggalan” RKI adalah dibangunnya BPMD (Balai
Pendidikan Masyarakat Desa) di tingkat Kecamatan, dan
dilaksanakannya penyuluhan pertanian dengan pendekatan
perorangan melalui sistim tetesan minyak (olievlek sijsteem).
 Pada tahun 1958, dimulai kegiatan intensifikasi padi melalui
kegiatan Padi Sentra/ SSB (self supporting beras).

09/21/21 5
SEJARAH PENYULUHAN
PERTANIAN DI INDONESIA
 1974-1983. Bersamaan dengan proyek penyuluhan per-tanian
tanaman pangan NFCEP (National Food Crops Extension Project),
pada 1976 mulai dikenalkan kegiatan Intensifikasi Khusus (INSUS)
dengan mengefektifkan penyuluhan kepada kelompok tani melalui
sistem-kerja Latihan dan Kunjung-an (LAKU) atau Training & Visit
(TV).
 Keberhasilan INSUS ini sejak 1979 kemudian dikem-bangkan
menjadi beragam OPSUS (Operasi Khusus) di beberapa daerah yang
dinilai “terlambat”, seperti OPSUS Tekad Makmur (NTB) OPSUS
Lapo Ase (Sumsel)
 1983-1993. Selama periode ini, beberapa hal yang menonjol adalah:
 Pengembangan INSUS menjadi SUPRA INSUS menggunakan 10
jurus teknologi, yang antara lain dengan menggunakan Pupuk
Pelengkap Cair (PPC), Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan pemupukan
(makro) yang berimbang.
 Administrasi Penyuluhan di tingkat Kabupaten dialihkan dari Dinas
Pertanian (Pangan) ke Sekretaris Pelaksana Harian BIMAS (SPHB).
09/21/21 6
SEJARAH PENYULUHAN
PERTANIAN DI INDONESIA
 1993 – 2001. Pada periode ini terjadi perubahan admi-nistrasi penyuluhan
dipindah lagi dari SPHB ke Dinas-dinas sub-sektoral.
 Semula, perubahan ini dimaksudkan untuk memeratakan kegiatan
penyuluhan pertanian yang sejak awal lebih terfokus pada tanaman pangan
ke semua sub-sektor. Tetapi, karena luas wilayah kerja penyuluh semakin
luas, efektivitas LAKU menjadi berkurag. Di samping itu mutu PPL semakin
tidak mampu mengimbangi kecepatan ke-majuan IPTEK dan kegiatan
penyuluhan yang dilakukan oleh pelaku Bisnis dan LSM.
 Menghadapi masalah tersebut, mulai tahun 1995 administrasi penyuluhan
pertanian di Kabupaten disatukan kembali ke dalam BIPP (Balai Informasi
dan Penyuluhan Pertanian). Sayangnya koordinasi BIPP dengan Dinas-dinas
terkait tidak selalu akrab. Akibatnya, penyuluhan yang dilakukan tidak selalu
serasi dan mendukung kebutuhan dinas-dinas terkait.
 2001- hingga sekarang. Seiring bergulirnya reformasi yang diikuti kebijakan
Otonomi Daerah, yang membawa konsekuensi terjadinya perubahan
Organisasi Pemerintah Kabupaten. BIPP menjadi 3 (tiga) bentuk yaitu: tetap,
tidak jelas, dan dilebur dalam Kelompok Jabatan Fungsional di dalam Dinas
Pertanian.
 Th 2006 lahir Undang undang 16/2006 yang mengakomodasi tiga pelaku
penyuluhan; pemerintah, swasta dan masyarakat petani peternak sendiri
melalui kelompok mereka.
09/21/21 7
PENYULUHAN PERTANIAN DI
MASA DEPAN
 Di masa mendatang, kegiatan penyuluhan pertanian akan
menghadapi tantangan-tantangan, terutama yang diakibatkan oleh
pertumbuhan populasi penduduk di tengah-tengah semakin
sempitnya lahan pertanian, sehingga usahatani harus semakin
mengkhususkan diri serta meningkatkan efisiensinya.
 Dalam perspektif pemerintah, apapun prioritas yang akan ditempuh,
kegiatan penyuluhan pertanian akan tetap menjadi kebijakan kunci
untuk mempromosikan kegiatan Pertanian Lestari, baik dalam kontek
ekologi maupun sosial-ekonomi ditengah-tengah sistem
pemerintahan yang birokratis dan semakin terbatas kemampuannya
untuk membiayai kegiatan-kegiatan publik. Di lain pihak, kegiatan
penyuluhan harus semakin bersifat “partisipatip” yang diawali dengan
analisis tentang keadaaan dan kebutuhan masyarakat melalui
kegiatan Penilaian Desa Partisipatip atau participatory rural
appraisal/PRA (Chambers, 1993). Meskipun demikian, kegi-atan
penyuluhan pertanian akan banyak didukung oleh kema-juan
teknologi informasi.
09/21/21 8
masa depan, kekuatan dan
perubahan penyuluhan pertanian
akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan
dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):

 Iklim ekonomi dan Politik


 Sejak krisis ekonomi dan politik melanda beberapa
negara pada akhir abad 20, banyak negara yang
tidak lagi mampu membiayai kegiatan publik di
tengah-tengah tuntutan demokratisasi. Karena itu,
kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan secara
lebih efisien untuk dapat melayani kelompok
sasaran yang lebih luas, dan di lain pihak,
pemerintah akan lebih banyak menyerahkan
kegiatan penyuluhan kepada pihak swasta.
09/21/21 9
masa depan, kekuatan dan
perubahan penyuluhan pertanian
akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan
dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):

• Konteks sosial di wilayah pedesaan


Penyuluhan pertanian di masa depan harus
meninggalkan monopoli pemerintah sebagai
penyelenggara penyuluhan, mampu melayani
beragam kelompok-sasaran yang berbeda, tidak
saja terkait dengan keragaman kategori
adopternya, tetapi juga yang terkait dengan
aksesibilitas pasar, derajat komersialisasi serta
ketergantungannya pada usahatani untuk
09/21/21
perbaikan penda-patan dan kesejahteraannya. 10
masa depan, kekuatan dan
perubahan penyuluhan pertanian
akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan
dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):

 Sistem Pengetahuan
 Terjadinya perubahan politik yang berdampak pada
debirokratisasi, desentralisasi (pelimpahan kewenangan) dan
devolusi (penyerahan kewenangan) kepada masya-rakat lokal,
juga akan berimbas pada pengembangan usahatani yang
memiliki spesifikasi lokal. Pengakuan terhadap pentingnya
spesifikasi lokal, harus dihadapi dengan pengakuan penyuluh
terhadap kemam-puan petani, pengalaman petani, penelitian
yang dilaku-kan petani, serta upaya-upaya pengembangan
yang dilakukan. Oleh sebab itu, penyuluh harus menjalin
hubungan yang partisipatip dengan kelompok sasarannya,
khususnya dalam pemanfaatan media-masa untuk menunjang
kegiatan penyuluhan di wilayah-kerjanya.
09/21/21 11
masa depan, kekuatan dan
perubahan penyuluhan pertanian
akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan
dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):

 Teknologi Informasi
 Perkembangan telekomunikasi dan penggunaan
komputer pribadi/PC akan sangat berpengaruh
terhadap kegiatan penyuluhan pertanian di masa
depan. Kelompok sasaran yang memiliki
kemampuan meman-faatkan teknologi informasi/IT
akan relatif lebih independen. Dengan demikian,
fungsi penyuluh tidak lagi “menyampaikan pesan”
melainkan lebih pada menjalin interaksi yang
09/21/21
partisipatip dengan kelompok-sasarannya. 12
Summary
 Perjalanan sejarah penyuluhan pertanian ini
terbagi kepada tiga kategori; masa lalu, kini
dan prakiraan keadaan masa depan. Sisi
pandang seperti itu akan memotret
perkembangan penyuluhan dunia dan
Indonesia.

09/21/21 13
Pertanyaan dan diskusi

1. Sajikan sejarah
perkembangan penyuluhan
dunia dan Indonesia dengan
bertumpu pada sisi pandang
masing masing ?.

2. Faktor apa saja yang berperan


penting dalam kiprah
perkembangan penyuluhan
pertanian di Indonesia ?.
09/21/21 14