Anda di halaman 1dari 90

UJI KLINIK

Rianto Setiabudy
Pelatihan Metode Penelitian Advance
Balitbangkes
Jakarta, 26 Mei 2005
Pendahuluan
 Apa yang dimaksud dengan Uji Klinik
obat?
Setiap penelitian pada subyek manusia
yang bersifat eksperimental dan
terencana untuk menentukan
pengobatan yang paling tepat untuk
penyakit tertentu
(Pocock, 1983)
Pendahuluan
Mengapa Uji Klinik harus dirancang dengan
baik?
 UK yang dirancang kurang baik →

 Hasilnya sulit/tidak dapat diinterpretasi

 Kemacetan di tengah pelaksanaan

 Kesimpulan yang menyesatkan

 Waktu dan dana terbuang

 Pengorbanan subyek menjadi sia2

(masalah etik)
Pendahuan
 Keputusan Kepala BPOM No
02002/SK/KBPOM tahun 2001
 Deklarasi Helsinki (Basic Principles butir 1)
 Publikasi di jurnal internasional
Pendahuluan
Fase-fase Uji Klinik:
 Fase I

 Fase II

 Fase III

 Fase IV
Bahan diskusi (1)
 Menyusun kerangka protokol UK
 Menetapkan judul
 Menyusun latar belakang permasalahan
 Menetapkan tujuan penelitian
 Menyusun hipotesis
 Menentukan desain UK
 Menyeleksi subyek
Bahan diskusi (2)
 Melakukan randomisasi dan
penyamaran
 Melakukan intervensi dan mengukur
hasil (outcome)
 Menerapkan aspek etik
 Merancang analisis data
 Check list: memeriksa kelengkapan
protokol UK
Menyusun kerangka protokol
Uji Klinik (1)
1. Judul
2. Pendahuluan:
 Latar belakang
 Rumusan masalah
 Hipotesis (bila analitik)
 Tujuan penelitian
 Manfaat
Menyusun kerangka protokol
Uji Klinik (2)
3. Tinjauan pustaka
4. Metodologi:
 Desain
 Tempat, waktu
 Populasi dan sampel
 Kriteria inklusi dan eksklusi
 Cara kerja
Menyusun kerangka protokol
Uji Klinik (3)
 Pengukuran variabel
 Analisis statistik
 Definisi operasional (bila perlu)
5. Daftar pustaka
Menetapkan judul (1)
 Harus menggambarkan isi UK
 Disusun dalam kalimat sederhana, jangan
terlalu panjang
 Jangan menggunakan singkatan, kecuali yang
sangat umum, mis: DNA
 Contoh: “ Perbandingan efektivitas klinis
setirizin versus loratadin untuk urtikaria
kronis”
Menetapkan judul (2)
 Contoh judul yang kurang baik:
“Depomedroxyprogesterone acetate versus
leuprolide acetate subcutaneous injection for
reduction of endometriosis related pain in
European and Asian women: A phase III
randomised parallel group, multinational,
multicenter study including substudy
assessment of bone mineral density and
coagulation and lipid profile”
Menjelaskan latar belakang
permasalahan
 Harus menggambarkan adanya suatu
masalah (perbedaan antara apa yang
ada dan apa yang seharusnya ada)
 Contoh:
DHF adalah infeksi virus yang sering
mengakibatkan kematian di Indonesia.
Hingga kini belum ada antimikroba yang
efektif dan aman untuk infeksi tersebut
Menetapkan tujuan UK (1)

Rumuskan
dengan
Uraian tajam
tentang latar Research
belakang question
Gunakan
Kriteria “FINER”
Menetapkan tujuan UK (2)
Apa yang dimaksud dengan research
question ?
Research question is the uncertainty
about something in the population that
the investigator wants to resolve by
making measurements on his study
subjects
(Cummings, 2001)
Menetapkan tujuan UK (3)
Kriteria “FINER” untuk research question yang
baik:
F = Feasible
I = Interesting
N = Novel
E = Ethical
R = Relevant
(Cumming et. al.,1988)
Menetapkan tujuan UK (4)
Tujuan penelitian adalah untuk menjawab
research question

Contoh:
Research question: apakah NSAID dapat
meningkatkan sensitivitas sel tumor terhadap
radioterapi?
Tujuan penelitian: untuk mengetahui apakah
NSAID dapat meningkatkan sensitivitas sel
tumor terhadap radioterapi
Menetapkan tujuan UK (5)
Research question yang sudah terjawab akan
menimbulkan berbagai r.q. yang baru lagi.
Contoh:
1. Apakah terfenadin menimbulkan aritmia
jantung?
2. Faktor2 apa yang memudahkan timbulnya
aritmia jantung pada pemberian terfenadin?
3.Berapa rerata pemanjangan QTc interval yang
ditimbulkan oleh terfenadin? …dst.
Menetapkan tujuan UK (6)
Ciri r.q. yang kurang baik:
 Tidak feasible:

 Terlalu banyak variabel yang mau diukur


 Jumlah subyek yang diperlukan sulit
terpenuhi
 Metode pengukuran di luar kemampuan
peneliti
 Terlalu mahal atau makan waktu
Menetapkan tujuan UK (7)
 Tidak menarik, novel, atau relevan:
 Mengulang apa yang sudah diketahui orang

 Menarik bagi peneliti tapi tidak bagi orang lain

 Tidak menyumbang sesuatu yang berarti untuk

kemajuan ilmu, manajemen klinis, atau


pengembangan riset yad.
 Tip: jangan mulai menulis protokol, sebelum
menguji ide penelitian anda dengan kriteria
FINER !
Menetapkan tujuan UK (8)
 Tujuan:
 Umum: menjelaskan tujuan jangka panjang.

Mis: untuk meningkatkan keamanan


pengobatan asma
 Khusus: menjelaskan tujuan langsung UK.

Mis: untuk mengetahui apakah prednison


dosis tinggi jangka pendek dapat menimbulkan
tukak lambung/duonenal pada penderita asma
akut?
Menyusun hipotesis
 Hipotesis ialah jawaban sementara untuk
research question, yang akan diuji
kebenarannya dalam pelaksanaan UK
 Hipotesis riset ≠ hipotesis statistik

Catatan: Penelitian deskriptif tidak mempunyai


hipotesis. Bila dipaksakan  “kocak”, mis:
dengan siprofloksasin suhu tubuh pada
penderita demam tifoid akan menjadi normal
dalam 4 hari
Desain penelitian klinik (1)
I. Studi observasional:
 Case series (laporan kasus)

 Case-control (retrospektif)

 Cross-sectional (observasi hanya 1 kali)

 Cohort (prospektif)

 Retrospective cohort studies

Catatan: studi observasional tidak dibahas karena tidak


termasuk UK
Desain penelitian klinik (2)
II. Studi eksperimental (UK):
A. Dengan kontrol
 Paralel

 Cross-over

 Latin- square

 Faktorial

 Pengacakan pasangan serasi

 Randomisasi grup
Desain penelitian klinik (3)

B. Tanpa kontrol:
 Time-series

 Kontrol diri sendiri (before and after)

III. Meta analisis


Penelitian
observasional
Seri kasus
 Deskripsi tentang ciri yang menarik dari
sekelompok kasus
 Tanpa hipotesis, kontrol, rencana
 Tidak memberi konklusi
 Guna: prekursor untuk studi berikutnya
 Contoh: pemberian vasodilator memberi
kesan dapat menyelamatkan pasien yang
biasanya meninggal pada luka bakar berat
Case-control
 Titik tolak: ada atau tidaknya suatu penyakit
 Lalu lihat retrospektif: cari faktor resiko
 Cases = individu dengan penyakit
 Controls = individu tanpa penyakit
 Guna: mengetahui ada tidaknya hubungan
antara suatu faktor resiko dengan timbulnya
suatu penyakit
 Analisis data: hitung odds ratio
Case-control
Masa lalu Sekarang

Kasus

Kontrol

= faktor risiko + = faktor risiko -


Case-control
 Contoh:
Penyakit : Faktor resiko:
Urtikaria kronis makan udang?
Ca paru kebiasaan merokok?
Tukak lambung makan NSAID?
Stroke hipertensi?
Case-control
Keuntungan:
 Sangat berguna untuk mengetahui faktor

risiko penyakit yang jarang dijumpai atau


yang onset-nya lambat
 Cepat dan murah

 Dapat mengetahui beberapa faktor risiko

sekaligus
Case-control
Kerugian:
 Dapat terjadi bias waktu subyek ditanya

mengenai pajanan terhadap faktor risiko


 Hanya dapat digunakan untuk 1

efek/penyakit (pada studi cohort 1 faktor


risiko dapat digunakan untuk mengamati
berbagai efek)
 Tidak dapat menentukan insidens maupun

prevalens
Case-control

Leukemia
+ - Total
+ 69 63 132
Vit K, IM
- 38 44 102
Total 107 107 134
Rasio prevalensi = 69/38 : 63/44 = 1.27
(tanda faktor resiko bila CI 95% tidak
mencakup angka 1)
Cross-sectional
 Titik tolak: Faktor risiko
 = prevalence study
 Hanya 1 kali pengukuran
 Pertanyaan: “ Apa yang sedang terjadi
sekarang?”
 Cocok untuk penyakit yang kronis dan
onsetnya lama, mis HIV, tuberkulosis
 Analisis data: hitung rasio prevalens
Cross-sectional

Faktor resiko +

Faktor resiko -

= penyakit + = penyakit -
Cross-sectional
 Guna:
 Mengetahui prevalens atau rasio prevalens

 Mengetahui hubungan antara risiko dan

penyakit
 Contoh:
 Untuk mengetahui prevalens infeksi klamidia

pada wanita di Poliklinik STD di RSCM


 Untuk mengetahui adanya hubungan antara

penggunaan pil KB (faktor risiko) dengan infeksi


klamidia (faktor efek)
Cross-sectional
Infeksi klamidia
+ - Total
+ 4 16 20
Pil KB
- 8 72 80
Total 12 88 100
Rasio prevalensi = 4/12 : 8/80 = 2 (tanda
faktor risiko bila CI 95% tidak mencakup
angka 1)
Cross-sectional
Keuntungan:
 Cepat, mudah, murah

 Tidak ada drop out

 Bisa dijadikan langkah awal studi cohort


Cross-sectional
Kerugian:
 Hanya mengukur prevalens, tidak insidens

 Tidak dapat mengetahui relative risk (hanya

bisa pada studi cohort)


 Sulit digunakan untuk meneliti faktor resiko

yang jarang dijumpai atau penyakit yang


jarang dijumpai
Cohort
 Titik tolak: ada tidaknya faktor resiko
 Lalu: amati prospektif terjadinya efek
pada grup dengan dan grup tanpa
faktor resiko sampai batas waktu
tertentu
 Subyek orang yang tidak sakit dan
belum terpajan pada faktor resiko
 Parameter: resiko relatif (relative risk)
Cohort
 Studi longitudinal
 Guna:
 Mengetahui hubungan antara faktor risiko

dengan timbulnya efek


 Mengetahui insidens
Cohort
Sekarang Masa yad

Faktor risiko penyakit + penyakit -


+

Faktor risiko
-
Subyek tanpa penyakit
dan belum terpapar
faktor risiko
Cohort
Keuntungan:
 Menentukan insidens dan mengikuti

perjalanan penyakit
 Desain terbaik untuk menjelaskan hubungan

temporal antara resiko dan timbulnya efek


 Pilihan terbaik untuk studi kasus yang fatal

dan progresif
 Dapat menentukan beberapa efek dari 1

faktor resiko
Cohort
Kerugian:
 Lama, mahal, rumit, mudah drop out

 Tidak efisien untuk efek/penyakit yang jarang

terjadi
 Dapat menimbulkan masalah etik karena

membiarkan subyek terpajan risiko


Penelitian
eksperimental
(Uji Klinik)
Desain paralel (1)
 Paling banyak digunakan
 Bisa untuk penyakit akut atau kronis
 Bisa 2 kelompok atau lebih
 Perlu kelompok yang seimbang 
harus dilakukan randomisasi atau
dibuat pasangan serasi
 Perlu penyamaran (kecuali untuk
tindakan bedah)
Desain paralel (2)

Randomisasi
Perlakuan uji

Sampel Run-in
(Bila perlu) Perlakuan kontrol

= pengukuran
Desain paralel (3)
Kelebihan UK acak, tersamar, berpembanding:
 Bias diperkecil karena ada randomisasi dan

penyamaran
 Hasil yang > konklusif karena faktor perancu

dikontrol. Contoh: Berbagai studi


observasional secara konsisten membuktikan
bahwa beta-karoten menurunkan resiko
mendapat kanker, tapi 4 UK membuktikan
sebaliknya (Marshal, 1999)
Desain paralel (4)
 Terkadang lebih cepat dan murah: untuk
penyakit yang berespons cepat terhadap
pengobatan. Mis. untuk mengetahui
efektivitas obat penurun kolesterol: tidak
mungkin memakai desain observasional.
Desain paralel (5)
Kekurangan:
 Kompleks, mahal

 Terkadang sangat makan waktu

 Sering terbentur masalah etis karena

memaparkan subyek terhadap risiko dan


ketidaknyamanan
Mis: biopsi hati, endoskopi, pungsi sumsum
tulang
Desain menyilang (cross-over) (1)

 Tiap subyek menjadi kontrol bagi dirinya


sendiri
 Keuntungan:
 Mengurangi variasi antar individu dan

memperkecil sample size sampai 50% dari


desain paralel
 Cocok untuk peyakit kronik dan stabil
Desain menyilang (cross-over) (2)

 Kerugian:
 Tidak cocok untuk penyakit yang cepat

sembuh atau yang sembuh dalam 1 x terapi


 Ada carry over effect dan order effect

 Kemungkinan drop out lebih besar

 Perlu wash out period yang cukup

 Tidak dapat dikerjakan pada subyek dengan

kepatuhan rendah
 Sering sulit mendapat data SD
diff
Desain menyilang (cross-over) (3)
Contoh:
 Uji perbandingan efektivitas obat untuk:

 asma kronik

 reumatoid artritis

 hiperkolesterolemia

 hipertensi

 Uji bioekivalensi obat “copy drugs” dengan obat

inovator
Desain menyilang (cross-over) (4)

randomisasi
Perlaku-- Perlaku-
an kontrol Washout an uji

Sampel Run-in

Perlaku- Perlaku--
an uji Washout
an kontrol

= pengukuran variabel
Desain Latin square (1)
Merupakan desain menyilang dengan kelompok
perlakuan > 2
Keuntungan:
 Mengurangi jumlah sampel

Kerugian:
 Tidak dapat diterapkan pada penyakit yang

sembuh cepat atau langsung mati


 Membutuhkan subyek yang sangat kooperatif

 Butuh waktu lama


Desain Latin Square (2)

Periode
Pasien I II III IV
Grup 1 A B C D
Grup 2 B D A C
Grup 3 C A D B
Grup 4 D C B A

NB: A,B,C,D = jenis obat/perlakuan


Desain faktorial (1)
Obt A + obt B

Obt A +
Plasebo obt B
sampel randomisasi
Obt B +
Plasebo obt A

Plasebo obt A
+ Plasebo obt B
Desain faktorial (2)
Keuntungan:
 Sangat efisien karena dapat menjawab 2

research questions dalam 1 studi


 Contoh: efek aspirin terhadap infark jantung

+ efek betakaroten terhadap kanker


Kerugian:
 Bila ada interaksi antara 2 obat  penafsiran

hasil menjadi sulit


Pengacakan pasangan serasi
(randomization of matched pairs)
 Dicari pasangan subyek (atau anggota
tubuh) yang serasi dalam berbagai variabel
prognostik
 Lalu secara acak salah satu dari pasangan
subyek dialokasikan untuk mendapat salah
satu perlakuan, subyek pasangannya
mendapat perlakuan alternatif
 Contoh: studi fotokoagulasi vs kontrol pada
retinopati diabetik
Desain pengacakan kelompok
(group randomization)
 Grup2 yang ada diacak untuk menerima salah
satu dari 2 perlakuan
Keuntungan:
 Cocok untuk mengetahui efek program

kesehatan masyarakat pada populasi. Mis:


efek kampanye cuci tangan thd. insidens inf.
nosokomial pada bagian2 bedah beberapa RS
Kerugian:
 Analisis hasil > kompleks
UK tanpa kontrol
 Yaitu UK tanpa grup kontrol
 Potensial menghasilkan kesimpulan yang sangat
menyesatkan
 Sering digunakan untuk tujuan promosi saja
(bukan tujuan ilmiah)
 Contoh: Publikasi UK obat2 psikofarmaka (Foulds,
1958):
 Yang tanpa kontrol: keberhasilan 85% (n=52)

 Yang dengan kontrol: keberhasilan 25% (n=20)


Desain kontrol diri sendiri
(before and after)
 Membandingkan suatu parameter sebelum dan
sesudah perlakuan pada tiap subyek dalam 1
kelompok
 Tidak ada kelompok kontrol
 Mudah terjadi bias (efek Hawthorn): subyek
mengubah perilakunya karena ikut dalam UK,
bukan karena intervensi
 Contoh: membandingkan kadar trigliserid sebelum
dan sesudah perlakuan uji pada 1 kelompok subyek
UK dengan historical control
 Umumnya gagal memberikan hasil yang sahih
 Mengandung banyak peluang bias pada
pelaksanaan penelitian (mis. kriteria seleksi,
kriteria sembuh, beratnya penyakit,
kecenderungan mengeluarkan subyek yang tidak
responsif, dll)
 Secara umum terdapat kecenderungan yang
membesar-besarkan kelebihan obat baru
Contoh pernyataan tentang
desain Uji Klinik
 “Ini adalah suatu UK paralel, buta-ganda,
acak, dengan kontrol plasebo.”
 “UK ini menggunakan desain menyilang
(cross-over), acak, terbuka”
 “Ini adalah suatu penelitian deskriptif
untuk mengetahui insidens penyakit ….”
Desain yang sering dipakai
pada berbagai fase uji klinik

 Fase I: terbuka, tanpa kontrol


 Fase II: paralel, acak, tersamar
 Fase III: paralel, acak, tersamar
 Fase IV: studi observasional atau
paralel
Menyeleksi subyek
 Tetapkan target population:
yaitu populasi yang bersifat umum.
Mis: penderita psoriasis
 Tetapkan accessible population:
yaitu bagian dari target population yang
terjangkau dalam batasan waktu dan tempat.
Mis: penderita psoriasis yang berobat ke poli-
klinik Peny. Kulit RSCM mulai bln. Maret 2005.
Menyeleksi subyek
Jenis sampling:
 Probability sampling:

 Simple random sampling

 Systematic sampling

 Stratified random sampling

 Cluster sampling
Menyeleksi subyek
 Non-probability sampling:
 Consecutive sampling

 Convenience sampling

 Judgmental sampling
Menyeleksi subyek
 Tetapkan kriteria inklusi dan eksklusi:
 kriteria inklusi :

 Jangan terlalu longgar maupun ketat


 kriteria eksklusi:
 Pasien yang memenuhi kriteria inklusi
tapi harus dikeluarkan lagi misalnya
karena ada kehamilan atau penyulit lain
Menyeleksi subyek
 Lakukan pengukuran variabel data
dasar yang mencakup:
 Data demografis: umur, berat badan, jenis
kelamin, dll.
 Data klinis
 Data laboratorium
Menentukan besar sampel
 Penentuan besar sampel yang tepat sangat penting
untuk mendapatkan hasil UK yang sahih
 Ditentukan oleh nilai , , SD gabungan, ,
proporsi
 Sampel terlalu kecil  hasil negatif semu atau
positif semu
 Sampel terlalu besar  terlalu sensitif,
memboroskan waktu, dana, pengorbanan subyek
Menentukan besar sampel
Untuk menentukan rerata dalam suatu
populasi:
n = (Z.SD/d)2
Z = tingkat kemaknaan
SD = deviasi standar
d = tingkat ketepatan absolut
yang diinginkan
Menentukan besar sampel
Contoh:
Berapa besar sampel untuk mengetahui rerata
umur pasien yang menderita melano karsinoma?
Komentar: Tentukan:
 nilai , mis 0.05
 SD, mis 3.8 tahun (dari kepustakaan)
 Tingkat ketepatan absolut yang diinginkan
peneliti, mis. 1 tahun
 Hasil perhitungan n=(1.96 x 3.8)/12=55.47
Menentukan besar sampel
Untuk mengetahui adakah perbedaan antara
rerata dari 2 populasi:
n1 = n2 = 2 {(Z + Z).SD/}2

Z = tingkat kemaknaan, Z = power


SD = deviasi standar gabungan kedua
kelompok
 = selisih minimal rerata yang masih
bermakna secara klinik (ditentukan
oleh peneliti!)
Menentukan besar sampel
Contoh:
Berapa besar sampel untuk mengetahui adanya
perbedaan kecepatan obat A dan B dalam
menyembuhkan uretritis oleh C. trachomatis
Komentar: Tentukan:
Z = mis 1.96, Z = mis 0.84
SD = deviasi standar gabungan (dari
kepustakaan), mis: 2 hari
 = mis. 1 hari
Melakukan pengacakan
(randomization)
 Arti alokasi acak
 Jenis randomisasi:
 Randomisasi sederhana

 Randomisasi blok

 Randomisasi dalam strata


Melakukan pengacakan
(randomization)
Cara melakukan randomisasi sederhana:
 Sediakan pasangan amplop (besar dan kecil)
sebanyak 2 x N (sample size untuk 2
kelompok) dan beri nomor urut
 dengan mata tertutup tentukan angka acak
pada tabel random dengan pensil
 urut ke kanan angka2 random yang muncul
Melakukan penyamaran
 Ketersamaran
 Jenis ketersamaran dalam UK: terbuka
(open trial), ketersamaran tunggal,
ketersamaran ganda
 Tehnik double dummy:
 diperlukan bila obat uji dan obat kelola
berbeda cara pemberiannya. Mis: obat uji
diberi per oral dan obat kontrol dengan
infus.
Melakukan penyamaran
 Setiap subyek setiap saat akan mendapat:
 obat uji + dummy obat kontrol
atau
 dummy obat uji + obat kontrol

 Penggunaan kontrol plasebo:


 bilamana dapat digunakan?
 mengapa perlu kontrol plasebo?
 bilamana tidak boleh digunakan?
Melakukan intervensi
 Pilot study
 Analisis interim
 Kendali mutu:
 Prosedur klinis
 Prosedur laboratorium
 Manajeman data
 Penanganan dropout
Mengukur efek (outcome) (1)
 Tentukan variabel-variabel yang akan diukur
 Dari berbagai variabel itu, tentukan satu
yang paling utama dan gunakan ini untuk
menentukan besar sampel
 Sedapat mungkin pilihlah true outcome (akan
diuraikan kemudian), bila terlalu sulit baru
dipilih surrogate outcome
 Tentukan skala pengukuran variabel:
nominal, ordinal, atau numerik
Mengukur efek (outcome) (2)
Surrogate versus clinical outcome:
 Apa itu surrogate outcome dan true

outcome? Mana yang lebih baik?


 Mengapa surrogate outcome

digunakan?
 Bagaimana ciri surrogate outcome yang

baik?
Mengukur efek (outcome) (3)
 Contoh surrogate outcome (marker) yang baik:
 Perbaikan gambaran foto thorax untuk

penyembuhan KP
 Penurunan viral load untuk survival pada HIV

 Peningkatan bone density untuk menurunnya

resiko fraktur
 Penurunan tekanan darah untuk penurunan

mortalitas akibat hipertensi


Mengukur efek (outcome) (4)
 Contoh surrogate outcome yang kurang baik:
 Peningkatan motilitas sperma untuk

peningkatan fertilitas
 Penurunan prevalensi aritmia untuk

mortalitas pasca infark jantung (CAST


study)
 Penurunan SGOT untuk survival hepatitis B

 Perbaikan aliran darah otak pada dementia

senilis
Merancang analisis data (1)
Pilihan uji statistik tergantung dari:
 Skala pengukuran: nominal, ordinal,
numerik
 Distribusi sampel: normal atau tidak
 Besar sampel
 Jumlah kelompok
Catatan: pemilihan uji statistik tidak dibahas
karena telah diuraikan sebelumnya
Per protocol atau intention-to-
treat analysis ? (1)
Analisis per protocol :
 Hanya mengikutsertakan subyek yang dapat

dievaluasi (mis makan obat > 80% dari yang


direncanakan) dan memenuhi ketentuan protokol
lainnya
 Kelebihan: didapat hasil yang “bersih” dari

penyimpangan protokol
 Kelemahan: subyek yang drop out karena efek

samping atau ketidakmanjuran obat tidak ikut


dianalisis
Per protocol atau intention-to-
treat analysis ? (2)
Analisis intention-to-treat :
 Mengikutsertakan semua subyek yang sudah
dirandomisasi dalam analisis
 Kelebihan: Mencegah hasil bias karena drop out
akibat efek samping atau ketidakmanjuran obat
 Kelemahan: subyek yang belum mendapat obat
yang cukup ikut dianalisis
 ITT dan PP sering dianalisis bersama, tapi ITT
lebih penting
Mengetahui aspek regulasi di
Indonesia
 UK pra-pemasaran:
 Standar CUKB
 Sifat aplikasi ke Badan POM
 UK pasca-pemasaran:
 Standar CUKB
 Sifat notifikasi ke Badan POM
 UK untuk tujuan pendidikan:
 Standar Deklarasi Helsinki
Menerapkan aspek etik (1)
 Pedoman: Deklarasi Helsinki
 Informasi untuk calon subyek
 Minimalkan resiko, inconveniences, dan
gangguan pada privacy subyek
 Tidak boleh dilakukan apapun pada
subyek sebelum ethical approval diperoleh
 UK tanpa ethical approval dapat
dihentikan
Menerapkan aspek etik (2)
 Conflict of interest: sebagai dokter atau
peneliti?
 Hati-hati:Vulnerable subjects
 Marketing trial : etiskah?
 Memberi uang kepada pasien: etiskah?