Anda di halaman 1dari 13

A TA N P ADA PASIE N D ENGAN

ASUHAN KEPERAW
LE
DIAGNOSA ASMA BRONKIA
 

DISUSUN OLEH :
11 3 0 11 9 00 4
SISWANTORO
AT I 11 3 0 1 19 01 4
YULY SUKMAW
PENGERTIAN
ASMA BRONCHIAL ADALAH SUATU PENYAKIT DENGAN  CIRI MENINGKATNYA
RESPON TRACHEA DAN BRONKHUS TERHADAP BERBAGAI RANGSANGANDENGAN
MANIFESTASI ADANYA PENYEMPITAN JALAN NAFAS YANG LUAS DAN DERAJATNYA
DAPAT BERUBAH-UBAH BAIK SECARA SPONTAN MAUPUN HASIL DARI
PENGOBATAN.
ETIOLOGI

1.  FAKTOR PREDISPOSISI

- GENETIK
2. FAKTOR PRESIPITASI

- ALERGEN
- PERUBAHAN CUACA
- STRESS
- OLAH RAGA/AKTIVITAS JASMANI YANG BERAT
KLASIFIKASI
•  EKSTRINSIK (ALERGIK): DITANDAI DENGAN REAKSI ALERGI YANG DISEBABKAN OLEH
FAKTOR-FAKTOR PENCETUS YANG SPESIFIK, SEPERTI DEBU, SERBUK BUNGA, BULU
BINATANG, OBAT-OBATAN (ANTIBIOTIK DAN ASPIRIN), DAN SPORA JAMUR

• INTRINSIK (NON ALERGIK) : DITANDAI DENGAN ADANYA REAKSI NON ALERGI YANG
BEREAKSI TERHADAP PENCTUS YANG TIDAK SPESIFIK ATAU TIDAK DIKETAHUI, SEPERTI
UDARA DINGIN ATAU BISA JUGA DISEBABKAN OLEH ADANYA INFEKSI SALURAN
PERNAFASAN DAN EMOSI.

• ASMA GABUNGAN : BENTUK ASMA YANG PALING UMUM.ASMA INI MEMPUNYAI


KARAKTERISTIK DARI BENTUK ALERGIK DAN NON-ALERGIK.
PATOFISIOLOGI
Alergen, Infeksi, Exercise (Stimulus Imunologik dan Non Imunologik)
Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper

IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas

Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat
oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit

Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang
( histamin )

Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )

Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )

Hiperresponsif jalan napas

Astma
MANIFESTASI KLINIS
• ADA BEBERAPA TINGKATAN PENDERITA ASMA YAITU :
1) TINGKAT I :
A) SECARA KLINIS NORMAL TANPA KELAINAN PEMERIKSAAN FISIK DAN FUNGSI PARU.
B) TIMBUL BILA ADA FAKTOR PENCETUS BAIK DIDAPAT ALAMIAH MAUPUN DENGAN TEST
PROVOKASI BRONKIAL DILABORATORIUM.
2) TINGKAT II :
A) TANPA KELUHAN DAN KELAINAN PEMERIKSAAN FISIK TAPI FUNGSI PARU
MENUNJUKKAN ADANYA TANDA-TANDA OBSTRUKSI JALAN NAFAS.
B) BANYAK DIJUMPAI PADA KLIEN SETELAH SEMBUH SERANGAN.
3) TINGKAT III :
A) TANPA KELUHAN.
B) PEMERIKSAAN FISIK DAN FUNGSI PARU MENUNJUKKAN ADANYA OBSTRUKSI JALAN NAFAS.
C) PENDERITA SUDAH SEMBUH DAN BILA OBAT TIDAK DITERUSKAN MUDAH DISERANG KEMBALI.
4) TINGKAT IV :
A) KLIEN MENGELUH BATUK, SESAK NAFAS DAN NAFAS BERBUNYI WHEEZING.
B) PEMERIKSAAN FISIK DAN FUNGSI PARU DIDAPAT TANDA-TANDA OBSTRUKSI JALAN NAFAS.
5) TINGKAT V :
A) STATUS ASMATIKUS YAITU SUATU KEADAAN DARURAT MEDIS BERUPA SERANGAN ASMA AKUT
YANG BERAT BERSIFAT REFRATOR SEMENTARA TERHADAP PENGOBATAN YANG LAZIM DIPAKAI.
B) ASMA PADA DASARNYA MERUPAKAN PENYAKIT OBSTRUKSI JALAN NAFAS YANG REVERSIBEL.
PADA ASMA YANG BERAT DAPAT TIMBUL GEJALA SEPERTI :
KONTRAKSI OTOT-OTOT PERNAFASAN, SIANOSIS, GANGGUAN KESADARAN
KOMPLIKASI
BERBAGAI KOMPLIKASI YANG MUNGKIN TIMBUL ADALAH:

• STATUS ASMATIKUS ADALAH SETIAP SERANGAN ASMA BERAT ATAU YANG KEMUDIAN MENJADI BERAT DAN
TIDAK MEMBERIKAN RESPON (REFRAKTER) ADRENALIN DAN ATAU AMINOFILIN SUNTIKAN DAPAT
DIGOLONGKAN PADA STATUS ASMATIKUS. PENDERITA HARUS DIRAWAT DENGAN TERAPI YANG INTENSIF.

• ATELEKTASIS ADALAH PENGERUTAN SEBAGIAN ATAU SELURUH PARU-PARU AKIBAT PENYUMBATAN


SALURAN UDARA (BRONKUS MAUPUN BRONKIOLUS) ATAU AKIBAT PERNAFASAN YANG SANGAT DANGKAL.

• HIPOKSEMIA ADALAH TUBUH KEKURANGAN OKSIGEN


• PNEUMOTORAKS ADALAH TERDAPATNYA UDARA PADA RONGGA PLEURA YANG MENYEBABKAN KOLAPSNYA
PARU.

• EMFISEMA ADALAH PENYAKIT YANG GEJALA UTAMANYA ADALAH PENYEMPITAN (OBSTRUKSI) SALURAN
NAFAS KARENA KANTUNG UDARA DI PARU MENGGELEMBUNG SECARA BERLEBIHAN DAN MENGALAMI
KERUSAKAN YANG LUAS.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
1) Pengobatan non farmakologik
a. Memberikan penyuluhan
b. Menghindari faktor pencetus
c. Pemberian cairan
d. Fisioterapi
e. Beri O₂ bila perlu
2) Pengobatan farmakologik
 Bronkodilator: obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan:
a. Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin)
Nama obat: Orsiprenalin (Alupent), fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma).
b. Santin (teofilin)
Nama obat: Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard), Teofilin
(Amilex) Penderita dengan penyakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat
ini.
 Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi merupakan obat pencegah
serangan asma. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain dan
efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan.
 Ketolifen
Mempunya efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin.Biasanya diberikan dosis 2
kali 1 mg/hari.Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.
. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
 Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8
tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma
episodikyang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan
dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa
infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca,
adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling
sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur
sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran
pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin
tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
 Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas
 Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
 Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
 Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor
yang lain.
 Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau,
serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak
wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu
udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya
serangan asma.
 Riwayat tumbuh kembang
a. Tahap Pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti
patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada
usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk
anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan
untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12
tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah
yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan
TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung
bertambah tinggi.
b. Tahap Perkembangan · d. Dampak Hospitalisasi
a) Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya Sumber stressor :
insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka a. Perpisahan
anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu  Protes : pergi, menendang, menangis
percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.  Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
b) Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik  Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin b. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini
berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ). c. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
c) Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase d. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.
·
preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada
1. Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem
tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu a) Sistem Pernapasan / Respirasi; Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea,
belum benar dan magical thinking. orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO 2 dan
d) Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi
kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari basah sedang, ronchi kering musikal.
teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh b) Sistem Cardiovaskuler; Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.
keluarga. c) Sistem Persyarafan / neurologi; Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan
e) Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu kesadaran : gelisah, rewel, cengeng? apatis? sopor? coma.
atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman. d) Sistem perkemihan; Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat
f) Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek, pendek-tinggi, sesak nafas
baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran e) Sistem Pencernaan / Gastrointestinal; Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi
tubuhnya dengan kelompoknya. terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering.
g) Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. f) Sistem integument; Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.
Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di
kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan 2. Diagnosa Keperawatan
sedikit atau tidak protes. Diagnosa 1 :
h) Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan
akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa Tujuan :
menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama Jalan nafas kembali efektif.
temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana. Kriteria hasil :
i) Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, Sesak berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum, wheezing
berkurang/hilang, tanda vital dalam batas norma,l keadaan umum baik.
lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran
Intervensi :
juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
1. Observasi
j) Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang a. Identifikasi kemampuan batuk
mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan b. Monitor adanya retensi sputum
kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda c. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran nafas
dengan roda tiga. d. Monitor input dan output cairan ( misal : jumlah dan karakteristik )
 Riwayat imunisasi 2. Terapeutik
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO a. Atur posisi semi – fowler/fowler
I,II, III; DPT I, II, III; dan campak. b. Pasang perlak dan bengkok dipanngkuan pasien
 Riwayat nutrisi c. Buang sekret pada tempat sputum
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 3. Edukasi
900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. a. Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
b. Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2 detik,
kemudian dikeluarkan dari mulut dengan bibir mencucu ( dibulatkan ) selama 8 detik.
c. Anjurkan mengulangi tarik nafas dalam hingga 3 kali.
c. Status Gizi
d. Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik nafas dalam yang ke – 3.
Klasifikasinya sebagai berikut :
 Gizi buruk kurang dari 60%
 Gizi kurang 60 % - <80 %
 Gizi baik 80 % - 110 %
Diagnosa 2 :
Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru. Intervensi :
Tujuan : 1. Observasi
Ekspansi membaik a. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Kriteria hasil :
a. Ventilasi semenit Menurun 1 b. Monitor kelelahan fisik dan emosional
b. Kapasitas vital menurun 1 c. Monitor pola dan jam tidur
c. Diameter thoraks anterior – posterior menurun 1 d. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktifitas
d. Tekanan ekspirasi dan inspirasi menurun 1 2. Terapeutik
Intervensi : a. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (misal : cahaya, suara, kunjungan )
1. Observasi
a. Monitor pola nafas ( frekuensi, kedalaman, usaha nafas )
b. Lakukan latihan renatang gerak pasif dan aktif
b. Monitor bunyi nafas tambahan ( misal : gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering ) c. Berikan aktifitas distraksi yang menenangkan
c. Monitor sputum ( jumlah, warna, aroma ) d. Fasilitasi duduk disisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah/berjalan
2. Terapeutik 3. Edukasi
a. Pertahankan kepatenan jalan nafas denga head – tilt dan chin – lift ( jaw – thrust jika a. Anjurkan tirah baring
curiga trauma servikal )
b. Posisikan semi fowler/fowler
b. Anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap
c. Berikan minum hangat c. Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
d. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu d. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
e. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik 4. Kolaborasi : dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
f. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotracheal
g. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
3. Evaluasi
h. Berikan oksigen jika perlu
3. Edukasi a. Jalan nafas kembali efektif.
a. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
b. Anjurkan teknik batuk efektif b. Ekspansi membaik
4. Kolaborasi : Pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu. c. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Diagnosa 3 :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan :
Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Kriteria hasil :
a. Frekuensi nadi menurun 1
b. Saturasi oksigen sedang 3
c. Kemudahan dalam melakukan aktifitas sehati – hari sedang 3
d. Kecepatan berjalan sedang 3
e. Jarak berjalan sedang 3
f. Kekuatan tubuh bagian atas dan bawah sedang 3
g. Toleransi dalam menaiki tangga sedang 3
h. Keluhan lelah cukup menurun 4
i. Perasaan lemah sedang 3
TERIMA KASIH