Anda di halaman 1dari 15

NILAI DASAR

PERGERAKAN
(NDP) PMII
Dalam rangka Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA)
PMII Universitas Padjadjaran
10 – 11 Juli 2021
Terminologi NDP
 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) adalah nilai-nilai yang secara mendasar merupakan sublimasi
nilai-nilai ke-Islaman, seperti kemerdekaan (alhurriyyah), persamaan (al-musawa), keadilan
('adalah), toleran (tasamuh), damai (al-shuth), dan ke Indonesiaan (pluralisme suku, agama,
ras, pulau, persilangan budaya) dengan kerangka paham ahlussunah wal jama' ah yang
menjadi acuan dasar pembuatan aturan dan kerangka pergerakan organisasi.
 NDP adalah tali pengikat (kalimatun sawa‟) yang mempertemukan warga pergerakan dalam
satu cita-cita perjuangan sesuai tujuan organisasi.
 NDP harus senantiasa menjiwai seluruh aturan organisasi, memberi arah dan mendorong gerak
organisasi, serta menjadi penggerak setiap kegiatan organisasi dan kegiatan masing-masing
anggota.
Terminologi NDP
 Sebagai ajaran yang sempurna, Islam harus dihayati dan diamalkan secara kaffah atau
menyeluruh oleh seluruh anggota dengan mencapai dan mengamalkan iman (aspek aqidah),
Islam (aspek syari‟ah) dan Ihsan (aspek etika, akhlak dan tasawuf) untuk memohon Ridlo-Nya
serta memohon keselamatan hidup di dunia dan akhirat (sa‟adah ad-darain).
 Sebagai tempat hidup dan mati, negeri maritim Indonesia merupakan rumah dan medan
gerakan organisasi.
 NDP adalah penegasan nilai atas watak keindonesiaan organisasi.
 Secara esensial NDP PMII adalah suatu sublimasi nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an
dengan kerangkan pemahaman Ahfussunnah wal Jama'ah yang terjiwai oleh berbagai aturan,
memberi arah, mendorong serta menggerakkan apa yang dilakoni PMII sebagai sumber
keyakinan dan pembenar mutlak.
SEJARAH NDP
 Tahun 1985-1986 merupakan masa di antara tahun 1984, di mana NU pada Muktamar ke-27 di Situbondo menyatakan diri
untuk kembali kepada Khittah NU 1926, dan tahun 1987 yang terdapat momen Pemilihan Umum (Pemilu), di mana NU
tak lagi berstatus sebagai partai politik maupun bagian dari partai politik, setelah sebelumnya sempat fusi dalam wadah
PPP.
 Situasi ini, barangkali yang ikut mendorong organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menyatakan
independen (melalui Deklarasi Murnajarti tahun 1972 dan ditegaskan pada Kongres PMII tahun 1973) dari urusan politik
praktis, termasuk dengan NU yang kala itu masih menjadi partai politik.
 Hal ini pula, yang kemudian menjadi faktor yang mendesak untuk segera melakukan penyusunan Nilai-nilai dasar
Perjuangan PMII, yang kemudian pada perkembangannya disempurnakan menjadi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII.
NDP ini menjadi penting bagi PMII, terutama setelah menyatakan diri sebagai organisasi yang independen.

Dimulai pada tahun 1973, ketika Kongres PMII di Bogor yang memutuskan bahwa perumusan NDP Dinilai sangat
penting, hingga pada Kongres ke VIII di Bandung (tahun 1985) di mana salah satu keputusannya yakni membuat kerangka
dasar Nilai Dasar Perjuangan, yang kelak dikembangkan menjadi NDP PMII.
 Dari keputusan Kongres tersebut kemudian PB PMII memberikan mandat kepada sejumlah cabang, di antaranya Surakarta
untuk menyiapkan bahan, guna melengkapi dan menyusun secara utuh dan menyeluruh NDP PMII. Melalui SK No. 019/
PB-IX/IV/1986
SEJARAH NDP
 Tim perumus ini diisi para kader PMII Surakarta atau juga dikenal dengan Solo, yang diketuai
Nuhkbah El Mankhub (Ketua PC PMII Surakarta 1982-1983).
 Hasil dari pengumpulan rumusan NDP tersebut kemudian dibahas secara terbuka dengan
mengundang sejumlah cabang-cabang lainnya, dalam sebuah kegiatan bertajuk “Lokakarya
Penyusunan NDP Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” yang diselenggarakan di Kantor
PCNU Surakarta, pada bulan Mei 1986.
 Konsep tersebut kemudian digodok kembali di tingkatan PB PMII, melalui tim yang telah
dibentuk sesuai dengan SK PB PMII (September 1987)
 Hasil konsep NDP dari PC PMII Solo yang juga telah dibahas oleh tim yang dibentuk PB
PMII ini, kemudian diajukan dan diputuskan di Kongres ke-IX PMII tanggal 14-19
Sepetember 1988 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. 
ASWAJA
 Islam mendasari dan menginspirasi NDP yang meliputi cakupan Aqidah, Syari'ah dan Akhlaq
dalam upaya memperolah kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
 Dalam kerangka inilah PMII menjadikan Ahussunah wal Jama'ah sebagai Manhaj af-fikr
(methodologi mencari) untuk mendekonstruksi bentuk-bentuk pemahaman keagamaan yang
benar.
Fungsi NDP
 KERANGKA REFLEKSI (Landasan Berfikir PMII). Bahwa NDP menjadi landasan
pendapat yang dikemukakan terhadap persoalanpersoalan yang akan dan sedang dihadapi oleh
PMII.
 KERANGKA AKSI (Landasan Pijak PMII). Landasan pijak dalam artian bahwa NDP
diperankan sebagai landasan pijak bagi setiap gerak dan langkah serta kebijakan yang
dilakukan oleh PMII.
 KERANGKA IDEOLOGIS (Landasan Motivasi PMII). NDP juga seyogyanya harus
menjadi pendorong bagi anggota PMII untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai-nilai
yang diajarkan dan terkandung didalamnya.
Kedudukan NDP
 Pertama, NDP menjadi rujukan utama setiap produk hukum dan kegiatan organisasi.
 Kedua, NDP menjadi sumber kekuatan idealmoral dari aktivitas pergerakan.
 Ketiga, NDP menjadi pusat argumentasi dan pengikat kebenaran dari kebebasan berfikir,
berucap, bertindak dalam aktivitas pergerakan.
Rumusan NDP
 Tauhid
 Hubungan Manusia dengan Allah
 Hubungan Manusia dengan Manusia
 Hubungan Manusia dengan Alam
TAUHID
 Mengesakan Allah SWT merupakan nilai paling asasi dalam sejarah agama samawi. Didalamnya
terkandung hakikat kebenaran manusia. (Al--Ikhlas, AI-Mukmin: 25, AI-Baqarah: 130-131). Subtansi
tauhid;
 1) Allah adalah Esa dalam dalam segala totalitas, Dzat, sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Allah SWT
adalah Dzat, yang fungsional, dalam artian menciptakan, memberi petunjuk, memerintah dan memelihara
alam semesta. Allah SWT juga menanamkan pengetahuan, membimbing, menolong manusia.
 2) Tauhid merupakan keyakinan atas sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta merupakan
manifestasi dati kesadaran dan keyakian kepada haI yang ghaib (AI-Baqarah:3, Muhammad:14- 15, AI-
Alaq: 4, A l-Isra: 7),
 3) Tauhid merupakan titik puncak keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan dan perwujudan nyata
lewat tindakan,
 4) Dalam memahami dan mewujudkannya PMII telah memilih ahlussunah wal jama' ah sebagai metode
pemahaman dan keyakinan tentang tauhid.
HABLUMMINALLAH
 Pemaknaan hubungan manusia dengan Allah SWT haruslah dimaknai dengan kaffah dan
konferehenshif, artinya bahwa Allah SWT adalah sang pencipta yang maha segalanya,
termasuk telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya (ahsanut taqwin)
 Kemuliaan manusia antara lain terletak pada kemampuan berkreasi, berfikir dan memiliki
kesadaran moral. Potensi itulah yang menempatkan posisi manusia sebagai khalifah & hamba
Allah (AI-Anam:165, Yunus: 14.)
 Dengan demikian, dalam kedudukan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola
hubungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai
Khalifah Allah dan sebagai Hamba Allah.
 Kedua pola ini dijalani secara seimbang, lurus dan teguh dengan yang lain, Memilih salah satu
pola akan membawa kepada kedudukan dan fungsi manusia yang tidak sempurna. Sebagai
akibatnya manusia tidak akan dapat mengejawantahkan prinsip tauhid secara maksimal.
HABLUMMINANNAS
 Allah meniupkan ruh dasar pada materi manusia. Tidak ada yang lebih utama antara yang satu dengan
yang lainnya kecuali ketaqwaannya (AIHujurat:13).
 Setiap manusia memiliki kekurangan (Q.S. At-Takatsur; Al-Humazah; AlMa‟un; Az-Zumar:49, Al-
Hajj:66) dan kelebihan, ada yang menonjol pada diri seseorang tentang potensi kebaikannya (Q.S. Al-
Mu‟minun:57-61) tetapi ada pula yang terlalu menonjolkan potensi kelemahannya. Karena kesadaran
ini, manusia harus saling menolong, saling menghormati, bekerjasama, menasehati dan saling mengajak
kepada kebenaran demi kebaikan bersama, (Q.S. Ali Imran:103, AnNisa‟:36-39).
 Manusia harus menegakkan iman, taqwa dan amal sholeh guna mewujudkan kehidupan yang baik dan
penuh rahmat di dunia. Di dalam kehidupan dunia itu, sesama manusia saling menghormati harkat dan
martabat masing-masing, bersederajat, berlaku adil dan mengusahakan kebahagiaan bersama.
 Nilai-nilai yang dikembangkan dalam hubungan antar manusia tercakup dalam persaudaraan antar insan
pergerakan, persaudaraan sesama umat Islam (al-Hujuraat, 9-10), persaudaraan sesama warga negara
dan persaudaraan sesama umat manusia. Perilaku persaudaraan ini harus menempatkan insan pergerakan
pada posisi yang dapat memberikan manfaat maksimal untuk diri dan lingkungannya.
HABLUMMINAL ALAM
 Alam semesta adalah ciptaan Allah. Allah menunjukkan tanda-tanda keberadaan, sifat dan
perbuatan Allah.
 Sudah seharusnya manusia menjadikan bumi maupun alam sebagai wahana dalam bertauhid
dan menegaskan keberadaan dirinya (Q.S. Al-Jaatsiyah:12-13, AlGhaasyiyah:17-26), bukan
menjadikannya sebagai obyek eksploitasi (Q.S. ArRum:41).
 Perlakuan baik manusia terhadap alam dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan di dunia
dan diarahkan untuk kebaikan akhirat.
NDP: LANDASAN GERAK
BERBASIS TEOLOGIS
 NDP adalah sebuah landasan fundamental bagi kader PMII dalam segala aktivitas baik-vertical
maupun horizontal.
 PMII berusaha menggali sumber nilai dan potensi insan warga pergerakan untuk kemudian
dimodifikasi didalam tatanan nilai baku yang kemudian menjadi citra diri yang diberi nama Nilai
Dasar Pergerakan (NDP) PMII. Hal ini dibutuhkan untuk memberi kerangka, arti motifasl,
wawasan pergerakan dan sekaligus memberikan dasar pembenar terhadap apa saja yang akan mesti
dilakukan untuk mencapai cita-cita perjuangan.
 Insaf dan sadar bahwa semua ini adalah keharusan bagi setiap kader PMII untuk memahami dan
menginternalisasikan nilai dasar PMII tersebut, baik secara personal maupun secara bersama-sama
 Sehingga kader PMII diharapkan akan paham betul tentang posisi dan relasi tersebut. Posisi dalam
artian, di diri kita sebagai manusia ada peran yang harus kita lakukan dalam satu waktu sebagai
sebuah konsekuensi logis akan adanya kita. Peran yang dimaksud adalah diri kita sebagai hamba,
diri kita sebagai makhluq, dan diri kita sebagai manusia.
 JADI Nilai Dasar Pergerakan PMII dipergunakan sebagai:
  LANDASAN TEOLOGIS (Spiritual)
  LANDASAN NORMATIF (Norma)
  LANDASAN ETIS (Kesusilaan)

 dalam pola pikir dan perilaku organisasi dan masing-masing anggota.


 Dengan ini dasar-dasar tersebut ditujukan untuk mewujudkan pribadi Muslim Indonesia yang
bertakwa kepada Allah, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam
mengamalkan ilmu pengetahuannya serta komitmen terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia.