Anda di halaman 1dari 8

Uji Toksisitas In Vivo

● Uji Toksisitas yang dilakukan pada hewan coba dengan tujuan menentukan
tingkat ketoksikan suatu zat/bahan terhadap perubahan fungsi fisiologis
maupun patologis pada organ vital pada kurun waktu tertentu
● Meliputi Uji Toksisitas umum dan khusus
● Uji Toksisitas umum :

-Uji Toksisitas akut, subkronis, Kronos

● Uji Toksisitas khusus :

- Uji teratogenik, karsinogenik, mutagenik


Uji Toksisitas Akut
● Uji untuk menentukan tingkat ketoksikan suatu bahan yang dilakukan
dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam
● Tujuan : menentukan bahaya pemaparan suatu bahan secara akut juga
menentukan batas keamanan/margin of safety dengan menentukan LD50
● Rute pemberian : 1. Cara pemberian yang disarankan dipakai di klinik.
2..cara pemberian intravena
Uji Toksisitas Subkronis
● Uji untuk menentukan tingkat ketoksikan suatu bahan dengan dosis
berulang2 dalam kurun waktu 14-90 hari
● Tujuan : mengetahui efek toksik setelah pemberian bahan uji secara
berulang dalam jangka waktu tertentu khususnya terhadap organ yang
berfungsi vital di dalam tubuh hewan coba, serta mempelajari efek
kumulatif bahan uji dalam tubuh
● Rute pemberian harus sama dengan yang disarankan dipakai di klinik
● Pada akhir periode pengujian, semua hewan coba dikorbankan, diautopsi
kemudian dilakukan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis
Uji Toksisitas Kronis
● Uji yang menentukan tingkat ketoksikan bahan uji pada hewan coba
dengan dosis berulang2 dalam kurun waktu sepanjang umur hewan
coba.
● Tujuan : mengetahui profile Toksisitas suatu bahan uji secara berulang
dalam jangka panjang
Uji Toksisitas Khusus
● Uji Teratogenik : dilaksanakan mulai tahap implantasi sampai tahap
organogenesis sempurna. Parameter Penilaian : terjadi perkembangan
abnormalitas pada fetus
● Uji Karsinogenik dilaksanakan dalam jangka waktu lama yakni tikus 24
bulan sedangkan mencit 18 bulan. Parameter yang dinilai terbentuknya
neoplasma
● Uji mutagenik meliputi mutasi gen dan mutasi kromosomal.
Uji klinik
Uji Klinik adalah kegiatan penelitian dengan mengikutsertakan subjek
manusia disertai adanya intervensi produk uji, untuk menemukan atau
memastikan efek klinik, farmakologik dan/atau farmakodinamik lainnya,
dan/atau mengidentifikasi setiap reaksi yang tidak diinginkan, dan/atau
mempelajari absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi dengan
tujuan untuk memastikan keamanan dan/atau efektifitas produk yang
diteliti.
Uji klinik
● fase 1 : dilakukan pada sukarelawan sehat, jumlahnya terbatas, untuk
menguji keamanan dan toleransi obat atau herbal
○ pada uji jamu/herbal yang berasal dari Indonesia, jika jelas riwayat empirisnya maka
fase 1 dapat tidak dilakukan
● fase 2 : dilakukan pada pasien dengan jumlah terbatas, berpembanding,
untuk menentukan dosis dan efikasi
● fase 3 : sama seperti fase 2 hanya saja dilakukan pada pasien dengan
jumlah lebih besar
● fase 4 : pasca pemasaran, untuk mengamati efek samping yang
sebelumnya mungkin belum terlihat pada fase 1,2,3
TERIMAKASIH