TAuHERATE, Amd,AK.,
s.km
FAESES / TINJA
Tinja / feses adalah Bahan buangan hasil dari digesti dan absorpsi
yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui anus, sebagai sisa
dari proses pencernaan makanan.
Jumlah normal produksi 100 – 200 gram/ hari.
Feses terdiri dari air, makanan tidak tercerna, sel epitel, debris,
celulosa, bakteri dan bahan patologis. Jenis makanan serta gerak
peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun konsistensinya
dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-
minggu.
2
Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi keadaan tinja,
baik bentuk, jumlah, maupun konsistensinya.
Feses normal akan berwarna kuning (berasal dari degradasi pigmen
empedu oleh bakteri), tidak lembek dan tidak keras, berbau khas
(berasal dari indol, skatol, dan asam butirat)
3
Indikasi dilakukan
pemeriksaan feses:
1. Adanya diare dan konstipasi
2. Adanya darah dalam tinja
3. Adanya lendir dalam tinja
4. Adanya icterus
5. Adanya gangguan pencernaan
6. Kecurigaan penyakit gastrointestinal
4
MACAM-mAcam warna
feses
‐ Feses umumnya berwarna kuning
akibat adanya zat bilirubin.
‐ Bilirubin adalah pigmen kuning
yang dihasilkan oleh pemecahan
hemoglobin (Hb) di dalam hati
(liver). Bilirubin dikeluarkan
melalui empedu dan dibuang
melalui feses. Fungsinya untuk
memberikan warna kuning
kecoklatan pada feses.
5
1. Warna Kuning Kecoklatan
Normal.
Warna kecoklatan atau kekuningan ini disebabkan karena feses
mengandung suatu zat berwarna orange-kuning yang disebut
bilirubin. Ketika bilirubin ini bergabung dengan zat besi dari usus
maka akan dihasilkan perpaduan warna cokelat kekuning kuningan.
2. Warna Hitam
Terdapat pendarahan dari sistem pencernaan sebelah atas,
kerongkongan, lambung atau juga bagian hulu usus halus.
6
3. Warna Hijau
Feses warna hijau didapat dari klorofil sayuran, seperti bayam yang
dikonsumsi. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh makanan yang
terlalu cepat melewati usus besar sehingga tidak melalui proses
pencernaan dengan sempurna. Pada bayi yang baru lahir disebabkan
oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium (hal ini normal)
4. Warna Merah
Feses mengandung darah (adanya pendarahan) yang berasal dari
sistem pencernaan bagian bawah. Wasir dan radang usus besar
adalah yang menjadi penyebab utama feses menjadi berwarna merah
7
5. Kuning berminyak dan berbau busuk
Adanya kelebihan lemak di dalam feses dan adanya malabsorbsi
6. Berwarna terang atau putih/ abu-abu/ pucat
Adanya gangguan penyumbatan pada empedu, hal ini mengakibatkan
cairan empedu tidak cukup mengurai makanan
8
SYARAT Pengumpulan
sampel feses
1. Wadah
Bersih dan kering
Bervolume cukup
Bebas dari urine
Terbuat dari kaca / bahan plastik tebal
Bermulut lebar
Bertutup
Kedap air
9
2. Feses yang digunakan adalah feses segar (harus segera diperiksa 30 –
40 menit sejak dikeluarkan jika ada penundaan simpan di almari es )
3. Pengawet feses
Cara fisik: Pada pengawetan metode ini, dipakai suhu 3o – 5o C
dalam almari pendingin untuk mengawetkan tinja yang tertunda
pengawetannya. Bentuk telur, kista dapat bertahan tetapi bentuk
tropozoit akan rusak dengan pendingin
Menggunakan bahan kimia:
a. Formalin 10%
b. Merthiolate Iodine Formaldehyde / Formalin
c. Poly Vinyl Alcohol
10
4. Paling baik sampel berasal dari defekasi spontan atau Rectal Toucher
sebagai pemeriksaan tinja sewaktu.
5. Pasien konstipasi dapat diberikan saline cathartic terlebih dahulu
6. Pada Kasus yang diduga menderita Oxyuris vermicularis dapat
digunakan metode schoth tape & object glass
11
PEMERIKSAAN
MAKROSKOPIS FESES
• Tujuan:
1. Untuk membantu mengetahui adanya kelainan pada saluran
pencernaan
2. Untuk mengetahui adanya parasit pada saluran pencernaan
3. Membantu terapi pengobatan pada penyakit saluran pencernaan
12
Bahan : Feses segar
Diambil kira –kira 100 gram tinja dalam wadah yang
bersih dan kering tanpa pengawet Wadah yang paling
cocok, yaitu wadah bertutup ulir. Pastkan bahwa setiap
cacing dewasa atau segmen – segmennya ikut terambil.
Reagen : -
Alat-alat :
1. Pot sampel feses
2. Batang pengaduk
13
Prosedur :
1. Siapkan alat, bahan dan sampel
2. Dilakukan pengamatan warna feses
3. Dilakukan penciuman bau pada feses
4. Dilakukan pengamatan tentang konsistensi feses yang dilakukan
dengan cara penggoyangan pada pot sampel
5. Dilakukan pengamatan tentang adanya lendir dalam feses dengan
menggunakan batang pengaduk
6. Dilakukan pengamatan tentang adanya darah dalam feses
14
Interpretasi Hasil:
‐ Warna : Kuning/ kekuningan
‐ Bau: Khas (indol/asam butirat/scatol)
‐ Konsistensi Padat/ lembek
‐ Lendir : - (negatif)
‐ Darah : - (negatif)
15
PEMERIKSAAN
MIKROSKOPIS FESES
• Tujuan:
1. Untuk membantu mengetahui adanya kelainan pada saluran
pencernaan
2. Untuk diagnosa terhadap infeksi yang disebabkan oleh parasit atau
untuk mengetahui ada tidaknya parasit dalam tinja (telur, protozoa,
larva).
3. Membantu terapi pengobatan pada penyakit saluran pencernaan
16
Prinsip:
‐ Sejumlah sampel yang diletakkan pada objek glass feses
diwarnai secara langsung dengan menggunakan cat {eosin 2% /
lugol 5% / PZ (NaCl 0,89%)} untuk memudahkan
dilakukannya pengamatan morfologi atau bentuk-bentuk yang
terkandung di dalam feses secara mikroskopis
17
‐ Bahan : Feses segar
‐ Reagen : Eosin 2% / Lart. NaCL fisiologis (PZ) / lugol 5%
‐ Alat-alat :
1. Mikroskop
2. Obyek glass
3. Lidi yang bersih
4. Pipet pasteur
5. Cover glass
18
1. Siapkan alat, bahan dan sampel
2. Diteteskan 1 – 2 tetes larutan Eosin 2% / PZ / Lugol 5% di atas
obyek glass
19
4. Ditutup spesimen dengan cover glass (hindari terjadinya
gelembung).
20
Cara Pelaporan:
Untuk Leukosit dan eritrosit dilaporkan Negatif (-), Positif (+),
Banyak (++) dan banyak sekali (+++) atau dapat secara kuantitatif
yaitu dengan menghitung rata-rata banyaknya sel yang ditemukan
pada semua lapang pandang
Untuk sisa makanan dan bakteri dilaporkan Negatif (-), Positif
(+), Banyak (++) dan banyak sekali (+++)
Untuk telur cacing dan larva dilaporkan Negatif (-), Positif (+),
Banyak (++) dan banyak sekali (+++) atau dilaporkan dengan
menuliskan jenis parasitnya.
21
Nilai Rujukan:
‐ Leukosit :< 5
‐ Eritrosit :- (negatif)
‐ Epitel :<5
‐ Sisa makanan : Ada < 30%
‐ Kristal :-
‐ Telur cacing :-
‐ Larva :-
‐ Bakteri :+
22
KD 3.4. MENGANALISIS
KIMIAWI FESES
PEMERIKSAAN
KIMIAWI
• Pemeriksaan kimia tinja meliputi:
FESES
1. Tes Darah Samar
2. Tes Urobilin
3. Tes Urobilinogen
4. Tes Bilirubin
• Yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Tes
terhadap darah samar dilakukan untuk mengetahui adanya
perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara
makroskopik atau mikroskopik.
• Adanya darah dalam tinja selalau
24 abnormal.
• Macam-macam metode tes darah samar yang sering dilakukan adalah
1. Benzidin tes
2. Guaiac tes,
3. Orthotoluidine,
4. Orthodinisidine,
25
A.
PEMERIKSAAN
DARAH SAMAR
1. METODE BENZIDINE TES
• Tujuan :
Mengetahui adanya darah pada sampel feses guna membantu
mengetahui adanya pendarahan pada usus
• Prinsip :Oksigen dihasilkan sewaktu hemoglobin dalam darah
berikatan dengan hidrogen peroksida (H2O2). Oksigen yang
dibebaskan bereaksi dengan aminopirin (aminofenazon)
sehingga menghasilkan warna biru
27
• Alat dan Bahan:
1. Tabung reaksi dan rak tabung
2. Alat pemanas (spirtus, kaki tiga dan kasa asbes)
3. Kristal benzidin basa
4. Hidrogen peroksida (H2O2) 3%
5. Asam cuka glasial / asam acetat 10%
6. Alkohol 95%
7. Aquadest / NaCl 0,9%
8. Sampel feses
28
• Prosedur:
1. Siapkan 2 tabung reaksi bersih dan kering
2. Buatlah emulsi tinja dalam tabung reaksi 1 dengan air atau
dengan larutan garam ± 5-10 ml dan panasi hingga mendidih
3. Saring emulsi yg masih panas, biarkan filtrat menjadi dingin
4. Pada tabung reaksi II masukkan kristal benzidin basa seujung
pisau (± 1 gram).
5. Tambahkan 3 ml asam cuka glasial/ asam acetat glasial, kocok
sampai kristal benzidin larut dengan meninggalkan sedikit
kristal
29
6. Pada tabung II yang berisi larutan benzidine dan as.acetat glasial
ditambahkan dengan 2 ml filtrat tinja (yang berasal dari tabung
reaksi I) secara perlahan-lahan sehingga kedua jenis campuran
tetap sebagai lapisan terpisah. Homogenkan
7. Ditambahkan dengan 1 ml H2O2 3% segar. Homogenkan
8. Hasil dibaca dlam 5 menit ( jngan lebih lama) perhatikan warna yg
timbul
30
• Interpretasi Hasil:
32
• Alat dan Bahan:
1. Kertas saring atau objek glas
2. Asam cuka glasial/ asam acetat
3. Larutan gum guaiac jenuh dalam alkohol 95%
4. Hidrogen peroksida (H2O2) 3%
5. Sampel feses
33
• Prosedur:
1. Siapkan kertas saring / object glass yang bersih dan kering
2. Di atas selembar kertas saring yang bersih atau sebuah object
glass yang bebas darah, dibuat hapusan sampel feses
3. Ditambahakaan 2 tetes asam cuka glasial dan campur.
4. Ditambahkan 2 tetes larutan gum guaiac jenuh segar dalam
alkohol 95% dan 2 tetes hidrogen peroksida 3%.
5. Amati perubahan warna yang terjadi
34
• Interpretasi Hasil:
35
B. Pemeriksaan
urobilin
• Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan
berkurang pada ikterus obstruktif, pada kasus obstruktif total
hasil tes menjadi negatif, tinja dengan warna kelabu disebut
akholik.
• Prosedur:
1. Taruh beberapa gram tinja dalam sebuah mortir dan campur
dengan larutan mercurichlorida 10 % dengan volume sama
dengan volume tinja.
2. Tuanglah bahan itu ke dalam cawan datar agar lebih mudah
menguap dan biarkan selama 6-24 jam
3. Adanya urobilin dapat dilihat dengan timbulnya warna merah