Anda di halaman 1dari 20

SMF & Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak

TUTORIAL
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

PARAPARESE INFERIOR

Dwiki Fitrandy Rezy Rizaly 1710029050

Pembimbing:

dr. Annisa Muhyi, Sp.A, M. Biomed.


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
• Paresis memiliki arti kelemahan dan paraparesis digunakan
untuk mendeskripsikan kelemahan pada kedua tungkai.

• Paraparese terjadi pada 5% dari populasi.

• Paraparese dapat terjadi pada semua level vertebra, tapi yang


paling sering terjadi pada vertebra lumbal bagian bawah.

•Siegal T. Spinal Metastasis. Dalam: Principles of Neuro-oncology. Editor: Schiff D, O’Neill BP. McGraw-Hill, NewYork; 2005; 581-602.
•Trombly, C.A. (2002) Occupational therapy for physical dysfunction (3thed). Baltimore: William & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar
%20japardi43.pdf
BAB 1
PENDAHULUAN
1.2 Tujuan Penulisan
• Tutorial ini bertujuan untuk menambah
wawasan ilmu pengetahuan mengenai
Paraparese Inferior.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
• Paraparese adalah kelemahan otot kedua ekstremitas
bawah pada fungsi motorik dan sensorik pada segmen
torakal, lumbal, atau sacral dari medulla spinalis.

Etiologi
• Disebabkan oleh suatu infeksi, satu hingga dua
segmen dari medula spinalis dapat rusak secara
sekaligus.

•Bromley, I. (2006). Tetraplegia and Paraplegia, A Guide for Physiotherapists. China : Elsevier.
•Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill.
Klasifikasi
• Paraparese spastik
terjadi karena kerusakan yang mengenai
UMN, sehingga menyebabkan hipertonus.

• Paraparese flaksid
terjadi karena kerusakan yang mengenai LMN
sehingga menyebabkan hipotonus.

•Bromley, I. (2006). Tetraplegia and Paraplegia, A Guide for Physiotherapists. China : Elsevier.
•Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill.
Paraparese Inferior tipe Spastik
Definisi
TUMOR MEDULLA SPINALIS


tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas tumor primer dan sekunder.

SPINAL CORD INJURY


cedera tulang belakang

SPONDILITIS TUBERCULOSA


suatu osteomielitis kronik tulang belakang yang disebabkan oleh kuman tbc. Infeksi umumnya mulai dari korpus vertebra lalu ke diskus
intervertebralis dan ke jaringan sekitarnya.

•Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill.
•Huff, J.S. 2018. Spinal Cord Neoplasma. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/779872-print
•American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf
Klasifikasi
TUMOR MEDULLA SPINALIS SPONDILITIS TB
Tumor primer: (1) Peridiskal / paradiskal
1) Jinak (2) Sentral
•Osteoma dan kondroma (3) Anterior
•Neurinoma (Schwannoma) (4) Bentuk atipikal
•Meningioma
•Glioma, Ependinoma

2) Ganas
•Astrocytoma, Neuroblastoma,
 
Metastasis
Ca. mamae, prostat,

•Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill.
•Huff, J.S. 2018. Spinal Cord Neoplasma. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/779872-print
•American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf
Etiologi & Faktor Resiko
TUMOR MEDULLA SPINAL CORD
SPONDILITIS TB
SPINALIS INJURY
• virus • Kecelakaan Kendaraan • Usia dan jenis kelamin
• kelainan genetik bermotor 48% dari • Nutrisi
• bahan-bahan kimia yang semua kasus baru SCI. • Faktor toksik
bersifat karsinogenik. • jatuh (21%) • Penyakit
• cedera olahraga rekreasi • Lingkungan yang buruk
• Adapun tumor sekunder (13%) (kemiskinan)
(metastasis) disebabkan • kecelakaan industri • Ras
oleh sel-sel kanker yang (12%)
menyebar dari bagian tubuh • tindak kekerasan (16%).
lain melalui aliran darah

•Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006.Fundamental of Neurology. NewYork: Thieme. p 146-147.6.


•National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal Cord Tumors - Hope Through Research.. http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainandspinaltumors.htm.
•Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. Jakarta: PT. GramediaPustaka Utama
•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal Cord Tumors - Hope Through Research.. http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainandspinaltumors.htm.

Patogenesis
TUMOR MEDULLA SPINAL CORD
SPONDILITIS TB
SPINALIS INJURY
• karena penyebaran
• belum diketahui • Sebagai hasil dari hematogen atau
• kebanyakan muncul geseran sumsum tulang penyebaran langsung
belakang nodus limfatikus para
dari pertumbuhan • Ada penghancuran grey aorta atau melalui jalur
sel normal pada dan white matter dan limfatik ke tulang dari
lokasi tersebut. sejumlah variabel fokus tuberkulosa yang
perdarahan, sudah ada sebelumnya
di luar tulang belakang.

• Sumber infeksi yang


paling sering adalah
berasal dari sistem
pulmoner dan
genitourinarius.
•American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal Cord Tumors - Hope Through Research.. http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainandspinaltumors.htm.

Manifestasi Klinis
TUMOR MEDULLA SPINAL CORD SPONDILITIS TB
SPINALIS INJURY • Kehilangan berat badan
•  semua gerakan otonom
• Ditemukannya sindrom • keringat malam
radikuler unilateral di bagian dari tubuh
dalam jangka waktu yang bawah lesi segera dan • demam yang berlangsung
lama hilang secara permanen; secara intermitten
• Sindroma Brown Sequard
• semua sensasi dari • Adanya riwayat batuk lama
• Kompresi total medula (lebih dari 3 minggu)
spinalis atau paralisis (aboral) bagian bawah
berdahak atau berdarah
bilateral dihapuskan disertai nyeri dada.

• fungsi refleks di semua • Nyeri terlokalisir pada satu


segmen dari sumsum regio tulang belakang atau
tulang belakang terisolasi berupa nyeri yang menjalar.
ditangguhkan.
• Pola jalan merefleksikan
rigiditas protektif dari
tulang belakang.
Pemeriksaan Penunjang
TUMOR MEDULLA SPINAL CORD SPONDILITIS TB
SPINALIS INJURY • Laboratorium
• Radiologis
• Cairan spinal (CSF)  • MRI
• Computed Tomography
• Foto Polos • Mielografi – Scan (CT)
• Scan Tulang • CT scan • Magnetic Resonance
• Mielografi
Imaging (MRI)
• Tomografi Aksial • Neddle biopsi / operasi
Terkomputer (CT scanning)
eksplorasi \
• Magnetic Resonance
• Aspirasi pus
Imaging (MRI)
paravertebral

•Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill.
•American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/ webcontent/003088-pdf
•Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. Jakarta: PT. GramediaPustaka Utama
Tatalaksana
TUMOR MEDULLA SPINAL CORD SPONDILITIS TB
SPINALIS INJURY • Pemberian nutrisi yang
Tumor Jinak bergizi
reseksi bedah yang biasanya • Antikonvulsan • Pemberian kemoterapi
dapat dilakukan lengkap • Analgetik/kortikosteroid atau terapi anti
tuberkulosa OAT.
Tumor Metastasis • Istirahat tirah baring
Radioterapi (resting)
Operatif • Operatif

•Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006.Fundamental of Neurology. NewYork: Thieme. p 146-147.6.


Ropper, A. H., & Brown, R. H. (2005). Adams and Victor Principles of Neurology, Eight Edition. New York : Mc Graw Hill
Paraparese Inferior tipe Flaksid
Definisi

POLIO


penyakit akut, umum disebabkan oleh infeksi virus polio.

GUILLAIN-BARRE SINDROM


polineuropati pascainfeksi yang mengakibatkan demielinasi terutama pada saraf motorik tetapi kadang-
kadang juga saraf sensorik.Sindrom ini mengenai orang dari semua umur dan bukan herediter.

•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar%20japardi43.pdf
Patofisiologi
POLIO GBS
Virus secara lisan tertelan dalam Ditandai dengan demielinasi segmental
tenggorokan. fokal dengan infiltrat perivaskular dan
endoneurial limfosit dan monosit atau
Virus ini kemudian menyebar ke makrofag.
kelenjar getah bening leher dan
mesenterika dan dapat dideteksi dalam Lesi ini tersebar di seluruh saraf, akar
darah segera sesudahnya. saraf, dan saraf kranial. Dalam lesi
terutama parah, ada baik degenerasi
aksonal dan demielinasi segmental.

Selama pemulihan, remyelination


terjadi, tetapi infiltrat limfositik dapat
bertahan.

•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar%20japardi43.pdf
Manifestasi Klinis
POLIO GBS

• mirip dengan infeksi akut (demam,


menggigil, mual). • Timbulnya suatu kelumpuhan akut
yang disertai hilangnya refleks-refleks
tendon

• Didahului parestesi dua atau tiga


minggu setelah mengalami demam
disertai disosiasi sitoalbumin pada
likuor dan gangguan sensorik dan
motorik perifer.

•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar%20japardi43.pdf
Pemeriksaan Penunjang
POLIO GBS

• Leukositosis hadir dalam darah.


• CSF Diagnosa SGB terutama ditegakkan
• Swab tenggorok secara klinis
• MRI

•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar%20japardi43.pdf
Penatalaksanaan
POLIO GBS

• Simptomatik • Kortikosteroid
• fisioterapi, pendidikan ulang otot, • Plasmaparesis
penerapan peralatan koreksi yang • Pengobatan imunosupresan
tepat, dan bedah ortopedi.

Pencegahan penyakit
Oral polio vaksinasi (OPV)

•Rowland, Lewis P.2005.Merritt's Neurology. Edisi 11. New York : Lippincott Williams & Wilkins.
•Japardi, Iskandar. 2002. Radikulopati Thorakalis. Diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar%20japardi43.pdf
BAB 3
KESIMPULAN
Paraparese adalah kelemahan otot kedua ekstremitas bawah pada fungsi motorik
dan sensorik pada segmen torakal, lumbal, atau sacral medulla spinalis.

Paraparese dapat disebabkan oleh suatu infeksi, satu hingga dua segmen dari
medula spinalis dapat rusak secara sekaligus.

Klasifikasi paraparese dibedakan menjadi paraparese spastik (terjadi karena


kerusakan yang mengenai upper motor neuron/UMN), sehingga menyebabkan
peningkatan tonus otot atau hipertonus; dan paraparese flaksid (terjadi karena
kerusakan yang mengenai lower motor neuron /LMN).

Banyak sekali penyakit-penyakit dengan manifestasi paraparese inferior, sehingga


untuk menegakkan diagnosis serta penanganan yang tepat pada kelainan-kelainan di
atas diharapkan dapat membantu penderita paraparesis untuk mewujudkan kondisi
yang optimal.
Sekian dan
Terima Kasih