Anda di halaman 1dari 7

PEWARISAN KARENA

KEMATIAN

Oleh : Muhammad Jamil


Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia, baik
laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan
sejumlah harta kekayaan maupun hak-hak yang
diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang harus
dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat
wasiat atau tanpa surat wasiat.
Sedang ahli waris ialah orang yang menggantikan
pewaris dalam kedudukan hukum mengenai
kekayaannya, baik untuk seluruhnya, maupun untuk
sebagian tertentu.
Sedangkan harta warisan ialah segala harta kekayaan
yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia
yang berupa semua harta kekayaan dari yang
meninggal dunia setelah dikurangi dengan semua
utangmya atau dengan kata lain merupakan suatu
kumpulan aktiva dan pasiva.
A. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam unsur-
unsur pewarisan adalah
a). Syarat-syarat yang berhubungan dengan pewaris
Untuk terjadinya maka si pewaris harus sudah
meninggal dunia sebagaimana disebutkan pada pasal
830 KUH Perdata “Pewarisan hanya berlangsung
karena kematian.
b). Syarat-syarat yang berhubungan dengan ahli waris
1. Mempunyai hak atas harta peninggalan pewaris hak
ini ada karena:
a). Adanya hubungan darah atau perkawinan antara ahli
waris dengan pewaris disebut ahli waris menurut undang-
undang (Ab- intestato), (pasal 874 KUHPerdata).
b). Adanya pemberian wasiat yang diberikan oleh pewaris
untuk para ahli waris atau testaminair (pasal 875
KUHPerdata).
2. Ahli waris ada atau masih hidup pada saat kematian
pewaris
3. Tidak terdapat sebab-sebab atau hal-hal yang menurut
undang-undang, ahli waris tidak patut atau terlarang
(onwaarding) untuk menerima warisan dari si pewaris.
B. Orang orang yg memperoleh warisan menurut UU
1.    Golongan I: suami/isteri yang hidup terlama dan anak/keturunannya (Pasal 852
KUHPerdata).
2.    Golongan II: orang tua dan saudara kandung Pewaris
3.    Golongan III: Keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah bapak dan ibu pewaris
4.    Golongan IV: Paman dan bibi pewaris baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu,
keturunan paman dan bibi sampai derajat keenam dihitung dari pewaris, saudara dari
kakek dan nenek beserta keturunannya, sampai derajat keenam dihitung dari pewaris.

Mengapa ahli waris dibagi ke dalam 4 golongan ini?


 Golongan ahli waris ini menunjukkan siapa ahli waris yang lebih didahulukan
berdasarkan urutannya. Artinya, ahli waris golongan II tidak bisa mewarisi harta
peninggalan pewaris dalam hal ahli waris golongan I masih ada.
C. Hak saisine
Hak Saisine Saisine berasal berasal dari peribahasa Perancis "Le mort
saisit le vit" , yang berarti bahwa yang mati dianggap memberikan
miliknya kepada yang masih hidup. Maksudnya adalah seorang ahli
waris dengan sendirinya (secara otomatis) pada saat meninggalnya si
pewaris memperoleh hak milik atas harta benda dan segala kewajiban
si pewaris tanpa melakukan suatu tindakan apapun, kendatipun
mereka tidak mengetahuinya.
Hak saisine dapat dijumpai di Pasal 833 ayat (1) KUHPerdata. Hak
saisine ini ialah hak yang membedakan kedudukan negara sebagai
ahli waris dengan kedudukan ahli waris yang lain, sebab semua ahli
waris baik testamenter maupun ab-intestato mempunyai hak saisine,
sedangkan negara sebagai ahli waris tidak mempunyai hak saisine