Anda di halaman 1dari 13

INISIASI TUTON Ke-2

PERTANIAN DAN INDUSTRIALISASI DI


INDONESIA
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Program Studi : Ekonomi Pembangunan
FAKULTAS EKONOMI

Penulis : Ifah Masrifah, SE. MM


E-mail : masrifah18@yahoo.co.id
Penelaah : Dra. Hendrin Hariati Sawitri, M. S
E-mail : hendrin@ecampus.ut.ac.id
PERKEMBANGAN PERTANIAN
INDONESIA
Secara garis besar fase-fase penting perkembangan kondisi, sistem
dan struktur pertanian Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Struktur pertanian Indonesia tidak lepas dari bentukan proses
kolonialisme bangsa asing yang berlangsung sangat lama.
2. Sistem kapitalis-liberal yang berlaku sesudahnya pun hanya
menjadikan Indonesia sebagai ondernaming besar sekaligus
sumber buruh murah bagi perusahaan-perusahaan swasta
Belanda.
3. Reformasi agraria melalui UU Pokok Agraria 1960 yang
mengatur redistribusi tanah dan UU Perjanjian Bagi Hasil
(1964) yang mengubah pola bagi hasil untuk mengoreksi
struktur pertanian kolonial justru makin kehilangan
vitalitasnya, terlebih di era Orde Baru yang berorientasi
mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi (dan menganut
developmentalisme)
PERKEMBANGAN PERTANIAN
INDONESIA
LANJUTAN

4. Revolusi hijau yang mengimbas ke Indonesia ditandai dengan


penggunaan bibit-bibit baru dan teknologi (biologis dan
kimiawi) pemberantasan hama dari luar negeri Indonesia
memang mampu melakukan swasembada beras tahun 1984.
Namun revolusi hijau ternyata lebih menguntungkan petani
bertanah luas. Produksi naik tapi pendapatan turun akibat
mahalnya input pertanian, misalnya pupuk. Term of trade
petani pun turun dan distribusi pendapatan makin timpang.
5. Liberalisasi pertanian yang disyaratkan IMF dan WTO kini
ditandai oleh bebas masuknya produk-produk pertanian
(pangan) seperti beras, gula, daging, ayam, jagung dan buah-
buahan yang memukul petani dalam negeri.
Permasalahan Struktural
Pertanian Indonesia

• Masalah struktural pertanian Indonesia adalah


bagaimana mentransformasikan puluhan juta kaum tani
miskin marjinal ke dalam dunia pertanian yang lebih
modern dan yang memungkinkan mereka hidup layak
(Setiawan, 2003).
• Berbagai persoalan mendasar ekonomi pertanian di
Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut :
• Jarak waktu yang lebar antara pengeluaran dan
penerimaan pendapatan dalam pertanian
• Pembiayaan Pertanian
• Tekanan Penduduk
• Pertanian Subsistem
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN PERTANIAN

1. Kebijakan Harga : kebijakan pangan murah


2. Kebijakan Pemasaran
3. Kebijakan Struktural
PERTANIAN INDONESIA DI ERA
LIBERALISASI

 Liberalisasi sektor pertanian diawali dengan masuknya Indonesia


ke dalam Perjanjian Pertanian (Agriculture on Agreement/AoA) di
tahun 1995 dan diterimanya Letter of Intent (LoI) IMF tahun
1997. Liberalisasi pertanian secara sederhana diwujudkan dengan
menyerahkan sistem pertanian (dan nasib petani) kepada
mekanisme pasar (bebas), yang kemudian berlaku liberalisme
pertarungan bebas (free fight liberalism).
 Liberalisasi pertanian telah merugikan pertanian Indonesia.
Misalnya liberalisasi pemberasan yang dilakukan IMF telah
berdampak buruk pada.
 Liberalisasi pertanian meliputi pengurangan dukungan domestik,
pengurangan subsidi ekspor, dan perluasan akses pasar.
INDUSTRIALISASI DI
INDONESIA
SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRIALISASI DI
INDONESIA
Industrialisasi di Indonesia mulai berkembang pada pemerintahan
rejim Orde Baru yaitu setelah UU No.1 Tahun 1967 tentang
investasi asing ditetapkan. Sejak awal dekade 1970-an hingga
pertengahan dekade 1980-an pemerintah mengembangkan
strategi Industri Substitusi Impor (ISI). Meskipun strategi ISI
diharapkan mampu menghemat devisa, namun yang terjadi justru
sebaliknya karena pemerintah menekankan pada produksi barang
mewah yang berteknologi tinggi dan padat modal serta sangat
tergantung pada pasokan input dari negara maju.
Didorong oleh keadaan tersebut dan jatuhnya harga minyak pada
awal 1980-an, pemerintah mengubah strategi industrialisasi dari
Industri Substitusi Impor (ISI) menjadi Industri Promosi Ekspor
(IPE).
INDUSTRIALISASI DI INDONESIA
Masalah disertai kebijakan pemerintah :
1.Pemerintah justru menekankan pada produksi barang mewah
yang berteknologi tinggi dan padat modal serta sangat
tergantung pada pasokan input dari negara maju. Akibatnya
jatuhnya harga minyak.
Kebijakan: Pemerintah mengubah strategi industrialisasi dari
Industri Substitusi Impor (ISI) menjadi Industri Promosi Ekspor
(IPE
2.Pemerintah berusaha memacu pertumbuhan industri berorientasi
ekspor.
Kebijakan: Pemerintah memberi kemudahan permodalan dan izin
investasi untuk PMA dan PMDN
3.Pemerintah menggairahkan industri terutama bidang manufaktur
INDUSTRIALISASI DI
INDONESIA
LANJUTAN

Kebijakan : Pemerintah meringankan syarat PMA dengan


memperbolehkan kepemilikan modal sampai 20 persen dan
berkembang hingga 51 persen setelah 10 tahun beroperasi
Pemerintah menetapkan kebijakan :
1.Harga pada beberapa industri penghasil produk strategis
seperti cengkeh, baja, dan kertas koran.
2.Restrukturisasi, penyesuaian eksternal, peningkatan daya
saing, efisiensi dan deregulasi merupakan alasan yang sering
dijargonkan pemerintah untuk menetapkan kebijakan industri.
Namun sesungguhnya ada tarik menarik antara pro-nasionalis
dan pro-efisiensi.
MASALAH STRUKTURAL
INDUSTRI DI INDONESIA

Struktur industri di Indonesia masih belum dalam (shallow) dan belum


seimbang (unbalanced). Kaitan ekonomis antara industri skala besar, menenga
dan kecil masih sangat minim, kecuali untuk subsektor makanan, produk kay
dan kulit. Ini diperparah dengan struktur industri yang masih dikuasa
monopolistik dan oligopolistik.
Industri besar di Indonesia dikuasai oleh perushaan-perusahaan besar yan
dimiliki oleh sedikit orang. Mereka mendapatkan berbagai fasilitas yan
menguntungkan dari pemerintah. Sebaliknya industri rakyat yang dikerjaka
oleh lebih banyak orang tidak mendapatkan fasilitas yang memadai.
MASALAH STRUKTURAL
INDUSTRI DI INDONESIA
Pertumbuhan industrialisasi di Indonesia relatif masih rendah dibandingkan bebera
negara di ASEAN. Perhitungan tersebut didasarkan pada kemampuan ekspor di pas
internasional, nilai tambah industri, dan penggunaan teknologi dalam kegiatan industri. H
ini menyebabkan kelesuan sektor industri dan sektor lainpun akan terhambat kare
sulitnya investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Ada lima hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan industri yaitu:
1. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM).
2. Pembangunan infrastruktur yang memadai.
3. Investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).
4. Pembayaran yang dihasilkan dari investasi menarik.
5. Peningkatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai.
KEBIJAKAN INDUSTRI
INDONESIA

Beberapa hal yang bisa ditawarkan sebagai solusi terhadap permasalahan industrialisa
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Membuat regulasi yang jelas terkait kebijakan industri dan teknologi di Indonesia.
2. membuat regulasi baru agar setiap industri memberikan sharing minimal 15 persen d
asetnya baik berupa SDM maupun dana untuk kegiatan new development dan desi
produk dengan keharusan menyertakan tenaga kerja lokal.
3. Secara umum menaikkan iklim penelitian baik di instansi pemerintah seperti LIPI d
BPPT, juga di berbagai perguruan tinggi dalam koridor kerja sama R&D pada teknolo
terapan (applied technology) yang dibiayai oleh industri.
Dengan demikian, di satu sisi lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang telah menja
BHMN tidak kesulitan dana ketika melakukan penelitian dan di sisi lain industri tet
menerima teknologi yang tepat guna dan terbaru.