Anda di halaman 1dari 36

 Berproduksi tinggi sesuai potensi genetiknya

 Hal itu terjadi jika konsumsi sesuai kebutuhan


 Penampilan produksi tidak tercapai jika ransum
yang diberikan tidak dimakan

Faktor apa yang mempengaruhi inisiatif untuk


makan dan berhenti makan ?
Apa yang menyebabkan rasa lapar dan
kenyang ?
 Adalah suatu rangkaian isyarat dari dalam tubuh,
yang mendorong usaha untuk memperoleh dan
mengkonsumsi makanan
 Berarti sangat membutuhkan makanan
 Berkaitan dengan:

◦ Rasa perih dan sakit pada lambung


◦ Gelisah dan tegang dari biasanya
◦ Nafsu makan
 Berlawanan dengan lapar
 Berarti terpenuhinya rasa keinginan atau

pencarian makanan
 Keadaan kenyang dirasakan bila tidak ada isyarat

lapar.
 Perasaan lapar dan kenyang merupakan suatu

keadaan yang saling berinteraksi.


 Menggambarkan satu kumpulan isyarat yang
menunjukkan cara memilih serta
mengkonsumsi jenis-jenis pakan dan zat –
zat makanan tertentu.
 Isyarat-isyarat yang dimaksud ini berbeda
dengan isyarat yang diberikan rasa lapar.
 Isyarat-isyarat selera makan, belum tentu
berupa rasa sakit
 Memberikan implikasi tentang perasaan lapar
yang bersifat ringan (sedikit lapar).
 Bagaimana tubuh mengatur
◦ Kapan harus makan ?
◦ Dan kapan harus berhenti makan ?
1. Teori pertama: Peripheral Origin (oleh Haller
dan Canon, 1929)

2. Teori Kedua: Central Origin ( Magendie dan


Milne Edwards)

3. Teori ketiga: General Origin (Roux dan Foster )


 Rasa lapar berasal dari jaringan peripheral, yaitu:
organ diluar sistem syaraf pusat
 Tempat rasa lapar itu di lambung atau perut
 Hal yang mendukung teori ini:

◦ Rasa lapar timbul bersamaan dengan rasa perih dan


sakit dalam lambung.
◦ Rasa perih tersebut karena kontraksi ritmik yang kuat
pada lambung akibat lambung yang kosong
 Kontraksi ini disebut kontraksi lapar (hunger
contruction)
 Rasa lapar tergantung pada kontraksi lapar
 Banyak fakta yang bertentangan dengan teori ini:

◦ Pada keadaan puasa, rasa perih pada lambung akan


berkurang dengan mendekati sore atau waktu berbuka,
padahal semakin sore, lambung semakin kosong.
◦ Pada kasus vagotomi ( syaraf vagus lambung dipotong,
sehingga lambung tidak berkontraksi). Dalam keadaan
ini harusnya tubuh tidak mengalami sensasi lapar,
tetapi kenyataannya tidak demikian, ternak masih
merasa lapar
 Pencetus rasa lapar ada di luar lambung
 Sensasi lapar berasal dari pusat syaraf yang

terdapat di dalam otak ( central origin) , yaitu


pada hipotalamus
 Stimulus (pembawa berita) ke pusat tersebut

terdapat dalam darah, maka dari pusat tersebut


turun perintah untuk makan (lapar) atau berhenti
makan (kenyang)
 Selera makan diatur secara neuro-humoral
yang pusatnya terdapat pada sistem syaraf
pusat.
 Ada 2 daerah pada hipotalamus yg berperan :

◦ Nuklei dibagian lateral hipotalamus merupakan


pusat lapar (hunger centre) atau pusat makan
◦ Nuclei dibagian ventromedial hipotalamus yang
merupakan pusat kenyang (satiety centre).
 Perangsangan pada lateral hipotalamus
menyebabkan hewan makan dengan lahap.

 Perangsangan pada ventromedial hipotalamus


menyebabkan hewan berhenti makan dan
merasa kenyang
 Rasa lapar berasal dari seluruh tubuh.
 Merupakan gabungan dari dua teori

sebelumnya.
 Pusat lapar dan pusat kenyang menerima

berita dari perut dan organ-organ lain


serta dari darah
 Teori ke 3 inilah yang sampai sekarang

masih dipakai.
 Pada teori ini, definisi lapar diperluas:

◦ Lapar perut (gastric hunger) yaitu lapar yang


disebabkan oleh kontraksi perut kosong.

◦ Lapar fisiologis yaitu lapar yang bermakna bahwa


tubuh kekurangan zat makanan tertentu.
 Contoh: jika selama berminggu-minggu, hanya
memakan ubi saja (karbohidrat), maka tidak merasa
lapar perut, tetapi pada dasarnya tubuh ternak
tersebut menderita lapar fisiologis
1. Stimulus metabolik
◦ Yaitu rangsangan yang menimbulkan efek
terhadap pengaturan selera makan secara
kimia, Chemostatik: glukosa, asam asetat,
lemak, asam amino

2. Stimulus non metabolik


◦ Yaitu rangsangan yang menimbulkan
perubahan selera makan, secara fisik
1. Teori Glukostatik (dikemukakan oleh
Mayer 1952) yaitu :
◦ Glukosa darah berperan sebagai pembawa
rangsangan kepusat syaraf untuk mengatur
makan
◦ Pada hipotalamus ada reseptor glukosa yg
peka terhadap kadar glukosa darah
◦ Jika glukosa darah menurun, maka akan timbul
nafsu makan (rasa lapar).
 Teori glukostatik ini kurang memuaskan
bagi ahli nutrisi ruminansia.
 Beberapa penelitian mengenai ini;

◦ Raid (1950), kadar glukosa darah domba


rendah sekali yaitu 25-50 mg% saja, kadar
glukosa tsb tidak berubah karena pemberian
makanan, kebvuntingan ataupun puasa.
◦ Maning (1960), infusi larutan glukosa pada sapi
perah tidak merubah selera makan
 Para ahli nutrisi berpendapat bahwa,
pada ternak ruminansia, yang mengatur
selera makan secara kemostatik adalah
asam asetat
 Alasan untuk ini adalah:
◦ Produk pencernaan fermentatif utama pada
ruminansia adalah asam asetat
◦ Sel-sel jaringan periferal lebih banyak
memanfaatkan asam asetat dari pada glukosa
◦ Banyak penelitian menunjukkan bahwa kadar
asam asetat darah akan mempengaruhi selera
makan.
◦ Meningkatnya asam asetat dalam darah akan
menurunkan nafsu makan (ternak akan merasa
kenyang)
2. Teori Lipostatik (lipid), dikemukakan oleh
Kennedy, 1953.
◦ Selera makan dipengaruhi oleh lemak/lipid
tubuh
◦ Bila lemak tubuh berkurang maka selera makan
akan naik.
◦ Pool lemak tubuh, mempunyai korelasi negatif
dengan selera makan
◦ Teori ini didukung oleh green wood (1981) yaitu
kadar lipoprotein lipase dalam jaringan adiposa,
akan dapat menimbulkan rasa lapar
3. Teori Aminostatik (dikemukakan oleh
Melinkof)

◦ Selera makan ditentukan oleh konsentrasi


asam amino dalam plasma darah
◦ Konsumsi protein yg tinggi akan cepat
menimbulkan sensasi kenyang
◦ Hal ini karena konsumsi protein tinggi, akan
meningkatkan kadar asam amino plasma
darah (PAA). Meningkatnya PAA
menyebabkan selera makan akan menurun
 Teori tersebut diatas kemudian dikoreksi oleh
Happer (1964)

◦ Proses penurunan selera makan disebabkan karena


kenaikan kadar PAA, hanyalah suatu proses
adaptasi saja, karena jika darah sudah jenuh
dengan zat makanan apa saja (bukan hanya asam
amino) , maka selera makan akan menurun.
4. Termostatik /Suhu (Brobeck)

◦ Hewan akan makan (lapar) untuk mencegah agar


suhu tubuhnya tidak turun (hypothermia) dan
berhenti makan (kenyang) untuk mencegah
agar suhu tubuh tidak naik (hyperthermia)
◦ Panas yang timbul dari oksidasi makanan,
berperan sebagai pembawa berita ke bagian
dorsal hipotalamus untuk menyesuaikan
konsumsi makan.
 Faktor-faktor yang mendukung Teori Thermostatik

◦ Pusat lapar dan pusat kenyang peka terhadap perubahan


suhu.
◦ Selera makan cenderung menurun pada lingkungan yg
bertemperatur tinggi.
◦ Zat makanan atau metabolit yg banyak memproduksi
panas, cenderung cepat menimbulkan rasa kenyang.
◦ Laju sekresi hormon tiroksin (dihasilkan oleh kelenjer
tiroid) cenderung menurun pada lingkungan yg bersuhu
tinggi.
 Semua faktor menyebabkan terjadinya
keregangan alat pencernaan, contohnya:
jumlah makanan yang dimakan dan tekanan
osmotik digesta.
 Distensi adalah meningkatnya keregangan
alat pencernaan akibat pemuaian isi alat
pencenaan. Ini dicatat oleh sistem penerima
yaitu stretch receptor
 Semua sistem penerima meneruskan
rangsangan ke Sistem Syaraf Pusat (Central
Nerves System/CNS) melalui syaraf dan
darah.
1. Jumlah makanan yang dimakan.

1. Konsumsi yang tinggi dapat menyebabkan distensi


saluran pencernaan, sehingga menimbulkan sensasi
kenyang.

2. Pakan bersifat bulky, dapat menyebabkan distensi,


sehingga ternak cepat merasa kenyang.
2. Tekanan osmotik digesta dicatat oleh sistem
penerima osmotik (osmotik receptor).

◦ Jika tekanan osmotik digesta tinggi, maka


kadar air digesta meningkat, maka dinding
saluran pencernaan akan mengembang
(distention), sehingga menimbulkan sensasi
kenyang.
◦ Zat makanan berbentuk molekul kecil ( seperti
asam amino, glukosa dan garam), cenderung
untuk meningkat kan tekanan osmotik digesta,
sehingga meningkatkan distensi lambung dan
usus, sehingga cepat timbulkan sensasi
kenyang.
 Pusat lapar dan pusat kenyang tidak bekerja
sendirian mengatur selera makan

 CNS tersebut mendapat bantuan dari bagian-


bagian otak lainnya, yaitu: neocortex, limbik
sistem, lobus pirifor, amigdaloid, dorsal
hipotalamus, dan refleks makan.
1. Neocortex
berperan mengatur selera makan secara
fisiologis, seperti kebiasaan makan, kesukaan
terhadap makanan tertentu. dll
2. Limbic system/LS
berperan sebagai pusat diskriminasi atau
seleksi makanan. Jika LS ini dirusak, maka
selera makan hewan akan meningkat
(abnormal), karena ternak kehilangan
kemampuan untuk membedakan jenis
makanan yang dimakannya
3. Lobus prepyriform cortex dan amygdaloid.

◦ perannya mempengaruhi pusat lapar dan pusat


kenyang untuk mengubah selera makan dan
konsumsi pakan.
◦ prepyriform akan menurunkan konsumsi makan bila
disodori makanan yang defisien asam amino
essensial
◦ Amygdaloid akan menurunkan konsumsi makan yang
mengandung asam amino yang tidak seimbang
4. Bagian dorsal hyphotalamus
merupakan pusat pengaturan selera
makan secara thermostatik
5. Bagian lateral hyphotalamus
berperan sebagai pusat lapar (hunger
centre)
6. Bagian ventromedial hypothalamus
berperan sebagai pusat kenyang (satiety
centre)
7. Reflek Makan (feeding reflexes)
membantu konsumsi makan melalui kerja
panca indera
 Visual (penglihatan)
 Olfaktoris ( penciuman)
 Gustatoris (cita rasa)
 Auditoris (pendengaran)
 Tactile (sentuhan)
 Enteroceptive (melalui receptor pada alat

pencernaan)
Stimulasi melalui refleks makan
menimbulkan :

1.Perhatian
2.Pendekatan
3.Pengamatan
4.Pencicipanatau
5.Penolakan makan
 Semua teori tersebut diatas menunjukkan
bahwa ada faktor tunggal yang peranannya
dominan dalam menimbulkan rasa lapar

 Namun demikian rasa lapar tersebut,


bukanlah hasil kerja faktor tunggal saja,
tetapi lebih disebabkan oleh seperangkat
faktor (banyak faktor) yang mampu
menimbulkan inisiatif makan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
TIMBULNYA LAPAR
SISTEM SYARAF PUSAT SISTEM PERIFER
-Hipotalamus -Hati
-Sistem limbik -Jaringan adiposa
-Neocortex -Hormon: insulin,
-Prepyriform cortex glukagon, hormon
-Amigdaloid
pertumbuhan dan sex
-Reflek makanan
- lambung

RASA LAPAR

PENGARUH LINGKUNGAN
STATUS PENYAKIT FAKTOR EMOSI
-Ketersediaan pakan
-Obesitas Stres
-Suhu
-Anoreksia Suasana hati
-Status dalam ekosistem
-Psikopatologis
Faktor persepsi
 Sutardi, T. (1980). Landasan Ilmu Nutrisi Jilid I.
Diktat Fakultas Peternakan IPB. Bogor
 Olson. R.E, H.P. Broquist, C.O. Chichester, W..J.
Darby, A.C. Kolbye, R.M. Stalvey. 1987. Present
Knowledge in Nutrition. Terjemahan A.H.
Nasution dkk. PT. Gramedia. Jakarta
 Guyton, A.C. 1990. Textbook of Medical
Physiology. Cetakan V. Terjemahan A.Darma dan
Lukmanto P. EGG Penerbit buku kedokteran.
Jakarta
SEKIAN DAN
TERIMA KASIH