Anda di halaman 1dari 32

DEFINISI

Hepatitis adalah suatu peradangan pada hati yang terjadi


karena toksin seperti; kimia atau obat atau agen penyakit
infeksi (Asuhan keperawatan pada anak, 2002; 131)

Hepatitis adalah keadaan radang/cedera pada hati, sebagai


reaksi terhadap virus, obat atau alkohol (Ptofisiologi untuk
keperawatan, 2000;145).
KLASIFIKASI

 Berdasarkan karakteristik virus dan sifat patogenesis yang ditimbulkan virus, terdapat 5 tipe hepatitis yaitu virus hepatitis A, virus
hepatitis B, virus hepatitis C, virus hepatitis D, dan virus hepatitis E.[1] Ada juga virus hepatitis G namun hingga saat ini masih
belum teridentifikasi.[1]
 Virus Hepatitis A[sunting | sunting sumber]
 Virus hepatitis A adalah picornavirus dengan genom berupa RNA positif utas tunggal yang berbentuk linear.[2] Virus ini tidak
memiliki selubung.[2] Transmisi penyebaran virus ini adalah melalui jalur feses dan oral, sedangkan tempat replikasinya adalah
pada sel-sel hati.[2] Pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan dan telah tersedia vaksinasi untuk virus ini.[2]
 Virus Hepatitis B[sunting | sunting sumber]
 Virus hepatitis B adalah hepadnavirus dan satu-satunya virus hepatitis yang memiliki genom berupa DNA.[2] Karakteristik virus
ini adalah memiliki selubung dan bereplikasi melalui perantaraan RNA.[2] Transmisi penyebaran virus ini adalah melalui semua
cairan tubuh, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.[2] Sifat patogen virus ini adalah membuat hancurnya sel-sel hati karena 
antigen spesifik dari sel yang terinfeksi dan akan mengikat sel limfosit T sitotoksik.[2] Virus ini sudah dapat diatasi dengan metode
vaksinasi.[2]
 Virus Hepatitis C[sunting | sunting sumber]
 Virus Hepatitis C adalah anggota dari keluarga Flaviviridae yang memiliki genom berupa RNA utas tunggal yang berbentuk linear.
[2] Virus ini memiliki selubung.[2] Infeksi dari virus ini dapat menyebabkan infeksi kronis dan serosis hati.[2]
ETIOLOGI

1.Hepatitis A
 Virus hepatitis A (HAV) terdiri dari RNA berbentuk bulat tidak berselubung berukuran 27
nm.
 Ditularkan melalui jalur fekal – oral, sanitasi yang jelek, kontak antara manusia, dibawah
oleh air dan makanan.
 Masa inkubasinya 15 – 49 hari dengan rata – rata 30 hari.
 Infeksi ini mudah terjadi didalam lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk
dengan penduduk yang sangat padat.
2.Hepatitis B (HBV)
 Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda yang memiliki ukuran
42 nm.
 Ditularkan melalui parenteral atau lewat dengan karier atau penderita infeksi akut, kontak
seksual dan fekal-oral. Penularan perinatal dari ibu kepada bayinya.
 Masa inkubasi 26 – 160 hari dengan rata- rata 70 – 80 hari.
 Faktor resiko bagi para dokter bedah, pekerja laboratorium, dokter gigi, perawat dan
terapis respiratorik, staf dan pasien dalam unit hemodialisis serta onkologi laki-laki
biseksual serta homoseksual yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemaki obat-obat
IV juga beresiko.
3.Hepatitis C (HCV)
 Virus hepatitis C (HCV) merupakan virus RNA kecil, terbungkus lemak yang diameternya
30 – 60 nm.
 Ditularkan melalui jalur parenteral dan kemungkinan juga disebabkan juga oleh kontak
seksual.
 Masa inkubasi virus ini 15 – 60 hari dengan rata – 50 hari.
 Faktor resiko hampir sama dengan hepetitis B
4.Hepatitis D (HDV)
 Virus hepatitis D (HDV) merupakan virus RNA berukuran 35 nm.
 Penularannya terutama melalui serum dan menyerang orang yang memiliki kebiasaan
memakai obat terlarang dan penderita hemofilia.
 Masa inkubasi dari virus ini 21 – 140 hari dengan rata – rata 35 hari.
 Faktor resiko hepatitis D hampir sama dengan hepatitis B.
5.Hepatitis E (HEV)
 Virus hepatitis E (HEV) merupakan virus RNA kecil yang diameternya + 32 – 36 nm.
 Penularan virus ini melalui jalur fekal-oral, kontak antara manusia dimungkinkan
meskipun resikonya rendah.
 Masa inkubasi 15 – 65 hari dengan rata – rata 42 hari.
 Faktor resiko perjalanan kenegara dengan insiden tinggi hepatitis E dan makan makanan,
minum minuman yang terkontaminasi.
Patofisiologi
 Virus hepatitis yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada
hepatocytes oleh sel mononukleous. Proses ini menyebabkan degrenerasi dan nekrosis sel
perenchym hati.
 Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir sistem drainage hati,
sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadi statis empedu (biliary) dan
empedu tidak dapat diekresikan kedalam kantong empedu bahkan kedalam usus, sehingga
meningkat dalam darah sebagai hiperbilirubinemia, dalam urine sebagai urobilinogen dan
kulit hapatoceluler jaundice.
 Hepatitis terjadi dari yang asimptomatik sampi dengan timbulnya sakit dengan gejala
ringan. Sel hati mengalami regenerasi secara komplit dalam 2 sampai 3 bulan lebih gawat
bila dengan nekrosis hati dan bahkan kematian. Hepatitis dengan sub akut dan kronik dapat
permanen dan terjadinya gangguan pada fungsi hati. Individu dengan hepatitis kronik akan
sebagai karier penyakit dan resiko berkembang biak menjadi penyakit kronik hati atau
kanker hati.
Manifestasi Klinis

 Menifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama. Manifestasi klinik dapat
dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi dari masing – masing stadium adalah sebagai
berikut.
 Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia,
muntah, demam, nyeri pada otot dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat.
 Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu. Icterus mula –mula terlihat pada sklera, kemudian
pada kulit seluruh tubuh. Keluhan – keluhan berkurang, tetapi klien masih lemah, anoreksia dan
muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
 Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal lagi.
Penyebuhan pada anak – anak menjadi lebih cepat pada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan ke 2,
karena penyebab yang biasanya berbeda
  
Komplikasi

 Komplikasi hepatitis B virus yang paling sering di jumpai adalah perjalanan penyakitnya
yang memanjang hingga 4-8 bulan. Keadaan ini dikenal dgn hepatitis kronis akan tetapi
keadaan ini akan sembuh kembali sekitar 5% dari pasien hepatitis kronis akan mengalami
kekambuhan setelah serangan awal, kekambuhan biasanya dihubungkan dgn minum
alcohol atau aktifitas fisik yang berlebihan.
Penatalaksanaan Medis

 Tidak ada terapi spesifik untuk hepatitis virus. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi
hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal. Pengobatan yang
dilakukan terutama bersifat dukungan dan mencakup istirahat, hidrasi, dan asupan
makanan yang adekuat. Hospitalisasi diindikasikan bila terdapat muntah, dehidrasi, faktor
pembekuan abnormal
KONSEP DASAR ASUHAN
KEPERAWATAN
 Pengkajian
 Biodata
 Identitas
 Identitas klien meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit, tanggal
pengkajian, No register, dan dignosa medis.
  Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, agama, alamat, pekerjaan, penghasilan, umur, dan
pendidikan terakhir.
 Identitas saudara kandung meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, dan hubungan dengan klien.
 Keluhan utama
 Keluhan anak sehingga anak membutuhkan perawatan. Keluhan dapat berupa nafsu makan menurun,
muntah, lemah, sakit kepala, batuk, sakit perut kanan atas, demam dan kuning.
 Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan
 Riwayat Kesehatan Sekarang
 Gejala awal biasanya sakit kepala, lemah anoreksia, mual muntah, demam, nyeri perut kanan atas.
 Riwayat Kesehatan Masa lalu
 Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan penyakit yang pernah diderita sebelumnya,
kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan, prosedur operasi dan perawatan rumah sakit
serta perkembangan anak dibanding dengan saudara-saudaranya.
 Riwayat kesehatan keluarga
 Berkaitan erat dengan penyakit keturunan, riwayat penyakit menular khususnya berkaitan dengan
penyakit pencernaan.
 Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati.
 Pola pengkajian Fungsional
 Aktivitas
 Kelemahan
 Kelelahan
 Malaise 
 Sirkulasi
 Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
 Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
 Eliminasi
 Urine gelap
 Diare feses warna tanah liat
 Makanan dan Cairan
 Anoreksia
 Berat badan menurun
 Mual dan muntah
 Peningkatan oedema
 Asites
 Neurosensori
 Peka terhadap rangsang
 Cenderung tidur
 Letargi
 Asteriksis

 Nyeri / Kenyamanan
 Kram abdomen
 Nyeri tekan pada kuadran kanan
 Mialgia
 Atralgia
 Sakit kepala
 Gatal ( pruritus )

 Keamanan
 Demam
 Urtikaria
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis :


 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak
nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan,
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan
muntah.
 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang
mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
 Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap
inflamasi hepar.
 Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan
 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites
penurunan ekspansi paru dan akumulasi secret.
 Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus

 Rencana Asuhan Keperawatan


 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak
nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan
 metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena
anoreksia, mual dan muntah.
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam  nutrisi pasien terpennuhi.
  Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
 Intervensi :
 Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
 R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
 Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
 R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
 Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
 R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang
menurunkan nafsu makan.
 Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
 R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
 Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
 R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit
untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar.
 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami
inflamasi hati dan bendungan vena porta.
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam nyeri pasien berkurang atau
teratasi.
 Kriteria hasil : Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis
kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
 Intervensi :
 Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas
nyeri
 R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat
peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami
perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
 Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri
 Akui adanya nyeri
 Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya
 R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia
mengalami nyeri
 Berikan informasi akurat dan
 Jelaskan penyebab nyeri
 Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
 R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang
sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan
kurang/tidak terdapat penjelasan)
 Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
 R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.
 Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap
inflamasi hepar.
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam suhu badan pasien normal
 Kriteria hasil : Tidak terjadi peningkatan suhu
 Intervensi :
 Monitor tanda vital : suhu badan
 R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi
 Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari)
untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.
 R/ dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi
 Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur
 R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan
merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan
 Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
 R/ kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga
akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.
 Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam keletihan pasien berkurang
 Kriteria hasil : tidak terjadi keletihan
 Intervensi :
 Jelaskan sebab-sebab keletihan individu
 R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang
 Sarankan klien untuk tirah baring
 R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat
digunakan untuk penyembuhan penyakit.
 Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan
minat-minat
 R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan
meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting
 Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi,
waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan
 R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat
menimbulkan keletihan
 Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan
kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal
 R/ penghangatan yang berlebih menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas
melalui vasodilatasi
 Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area
pruritus untuk tujuan menggaruk
 R/ penggantian merangsang pelepasan hidtamin, menghasilkan lebih banyak pruritus
 Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin
 R/ pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan
 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi
paru dan akumulasi sekret.
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam pasien tidak mengalami gangguan pola nafas.
 Kriteria hasil : Pola nafas adekuat
 Intervensi :
 Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
 R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen
 Auskultasi bunyi nafas tambahan
 R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan
 Berikan posisi semi fowler
 R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret
 Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
 R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak
 Berikan oksigen sesuai kebutuhan
 R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia
 Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam tidak terjadi infeksi pada pasien.
 Kriteria hasil : Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
 Intervensi :
 Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh
 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen
 Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh
 Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan
menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
 R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis
 Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk
membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi
 R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan
mencegah transmisi penyakit
 Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung
lain dan petugas pelayanan kesehatan.
 R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi
 Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat
 R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan
orang lain terinfeksi
PEMASANGAN KATETER URINE

 Pengertian:Melakukan Pemasangan kateter kedalam kandung kemih Melalui Saluran


Uretra
 Tujuan:Sebagai Acuan Penerapan Langkah-Langkah Pemasangan Kateter Urine
 Prosedur:1.Perawat/Bidan Mengucapkan Salam Dan Melakukan Identifikasi Pasien
 2.Perawat/Bidan melakukan kebersihan Tangan
 3.Perawat/Bidan Menjaga Privasi Pasien
 4.Perawat/Bidan Menjelaskan Presedur Pemasangan Kateter Urine
 5.Perawat/Bidan MempersiapkanDan MendekatkanPeralatan yang Terdiri Dari:
a.Kateter Set Berisi:-Bengkok 1Buah
 -Duk Lubang 1 Buah
 Duk akotak 1 Buah
 Pinset anatomis 1 Buah
 Kom Kecil 1 Buah
 Kapas Cucu 3 Buah
 Kasa streril 5 Buah
 Syirnge 20 ml 1Buah
 B.kateter Foley steril Dengan Nomor Sesuai Kebutuhan Pasien
 C.Sarung Tangan Stril 1 Pasang
 D.Cairan Anti Septik/Povidon IodineSolution Dengan aquades
 E.Kantung penampung Urine(Urine Bag) 1Buah
 F.Daster
 G.Jelly Pelumas
 6.Perawat/Bidan MembukaKateter Set stril.Meletakkan kateter Foleysteril Dan Jelly
pelumas serta Syringe 20 ml Untuk Mengisi balon kateter
 7.Perawat/Bidan membuka cairananti septik Dan Menuangkan Nya Kedalam Kom Serta
AquadesKedalam Syringe 20 mlUntuk Pengisi balon
 8.Perawat/Bidan Memposisikan Pasien DenganTerlentang