Anda di halaman 1dari 18

Etnobotani

Faradillah Komalasari
21901061040
Resume Jurnal Nasional/Internasional
01.
Jurnal Nasional
Pendahuluan
● Nama Jurnal : Jurnal Buletin Kebun Raya, Vol. 21, No. 2, Juli 2018 (Hal 117-139)
● Judul Penelitian : Studi Etnobotani Tumbuhan Obat dan Upacara Adat Hindu di Bali
(Ethnobotanical Study of Medicinal and Hindus Religious Plants in Bali)

● Oleh : Wawan Sujarwo1*, dan Semeru Gita Lestari2


● 1
Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Candikuning Baturiti, Tabanan 82191
● 2
Program Studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, Jalan
Ganesha 10, Bandung 40132
● Diterima/Received:28 Maret 2018; Disetujui/Accepted: 24 Juni 2018

Fond d’écran virtuel


Latar Belakang
Pulau Bali dikenal sebagai Pulau Seribu Pura dengan mayoritas penduduk beragama Hindu yang
tidak pernah lepas dari ritual keagamaan yang dilakukan dari mulai manusia lahir sampai
meninggal, yang disebut dengan Panca Yadnya.
Pelaksanaan ritual keagamaan yang beragam ini, membutuhkan berbagai jenis tumbuhan yang
digunakan sebagai sarana kelengkapan upacara. Selain itu, Pulau Bali juga mempunyai daya
tarik pada kebudayaannya berupa pengobatan tradisional Bali dengan memanfaatkan
berbagai macam tumbuhan yang disebut Usada. Lontar Usada merupakan kitab pengobatan
yang memuat berbagai macam jenis tumbuhan obat, jenis penyakit yang dapat diobati, dan
cara pengolahan atau pembuatan ramuan, yang ditulis di lembaran daun lontar (Borassus
flebellifer L.). Pendekatan yang dilakukan untuk pengobatan adalah secara empiris,
berdasarkan pengalaman nenek moyang, sedangkan khasiat tumbuhan serta efek toksik dari
tumbuhan secara ilmiah belum dicantumkan di dalam lontar tersebut.
Tujuan dan Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan obat dan
deskripsi kegunaannya, serta mendokumentasikan tumbuhan yang
digunakan dalam upacara (ritual) adat umat Hindu di Bali.

Data etnobotani diperoleh dengan metode wawancara terhadap 20


responden. Pemilihan responden dilakukan secara purposive, yakni
targeted respondents, yang dikombinasikan dengan teknik snowball.
Data etnobotani dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif dalam
bentuk Tabel dan Gambar, dan nilai persentase tiap parameter yang
dibahas, yang meliputi suku, perawakan, bagian tumbuhan yang
digunakan, kategori kegunaan obat dan upacara Hindu Bali, dan cara
penggunaan (meracik) bagian tumbuhan menjadi Obat.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian mendokumentasikan 57 jenis dari 52 marga dan 36 suku yang
dimanfaatkan untuk keperluan obat sekaligus upacara adat. Jenis tumbuhan yang
sering dimanfaatkan oleh masyarakat adalah rimpang-rimpangan dari suku
Zingiberaceae. Kunyit merupakan tumbuhan dengan jumlah responden terbanyak,
yaitu sebanyak 12 responden.
Bagian terpenting dalam
pemanfaatan kunyit adalah
rimpangnya, dalam pengobatan
herbal digunakan untuk
pengobatan demam, rematik,
diare, disentri, gatal-gatal, bau
badan, panas dalam, dan lain-lain.
Kelompok penyakit yang disembuhkan

Berdasarkan Gambar 2, pemanfaatan tumbuhan


obat banyak berfungsi sebagai obat luka. Adapun
luka yang dapat diobati adalah luka bakar, mimisan,
luka terbuka, dan luka akibat gigitan serangga.
Terdapat 14 jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai
obat luka, antara lain: kamboja, pule, talas, ubi jalar,
pakis, puring, lidah buaya, bawang merah, pohon
beringin, kelor, cabai, daun ungu, sirih, dan sereh.
Tumbuhan-tumbuhan tersebut diduga memiliki
kandungan saponin, tannin, dan flavonoid. Senyawa
saponin dapat berguna sebagai pembersih, sehingga
efektif untuk menyembuhakan luka terbuka, tanin
digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi
luka, karena mempunyai daya antiseptik, serta
flavonoid dan polifenol mempunyai aktivitas sebagai
antiseptik.
Cara pemanfaatan tumbuhan obat

Berdasarkan hasil wawancara, terdapat


beberapa cara pemanfaatan tumbuhan obat,
antara lain: diseduh dengan air panas,
ditumbuk, diparut, boreh (param), direbus,
dikonsumsi langsung, dan lain- lain
Kelompok Tumbuhan Berdasarkan Kegunaan Upacara Adat (Panca Yadnya)

Terdapat 5 jenis tumbuhan dengan nilai use value tertinggi, yaitu: andong, kamboja, sirih, temen, dan
daun besaran.
Andong (Cordyline fruticosa) merupakan suatu jenis perdu yang akarnya dapat dimanfaatkan sebagai obat
sakit perut dengan dibuat menjadi loloh atau jamu. Selain itu, daunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai
komponen upacara dalam rangkaian Dewa Yadnya, Manusa Yadnya (misal: upacara pernikahan, dan
potong gigi taring), dan Pitra Yadnya (misal: upacara Ngaben). Kamboja (Plumeria rubra) merupakan
pohon yang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat memar dengan cara ditumbuk lalu dioleskan
ada bagian yang luka, sedangkan bagian bunganya sering kali digunakan sebagai komponen pada seluruh
Panca Yadnya. Sirih (Piper betle) merupakan tumbuhan dari suku Piperaceae yang memiliki banyak
manfaat seperti sebagai antiseptik, obat gatal, obat mata, dan mimisan, serta mampu membersihkan bau
mulut, selain itu sirih juga digunakan pada setiap Panca Yadnya. Temen (Graptophyllum pictum)
merupakan perdu yang daunnya dapat digunakan sebagai penurun panas dalam, menurunkan kolesterol,
dan batangnya dapat mengobati memar. Selain itu daun dan batangnya juga digunakan sebagai komponen
tumbuhan pada Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Tumbuhan dengan use value kelima tertinggi, yaitu
besaran (Morus alba) merupakan pohon yang dipercaya daunnya dapat menurunkan demam dan darah
tinggi, serta daun dan buahnya digunakan dalam sesajen Butha Yadnya (misal: Upacara yang ditujukan
kepada Bhuta Kala atau makhluk bawah).
Kesimpulan
Bersadarkan hasil penelitian, kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 57
jenis dari 52 marga dan 36 suku yang dimanfaatkan untuk keperluan obat sekaligus
upacara adat. Jenis tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat adalah
rimpang-rimpangan dari suku Zingiberaceae. Terdapat 39 kelompok penyakit yang bisa
diobati dengan menggunakan tumbuhan obat sekaligus upacara adat. Dewa yadnya
merupakan upacara keagamaan yang paling banyak disebutkan responden. Lima jenis
tumbuhan dengan use value tertinggi, yaitu Cordyline fruticosa, Plumeria rubra, Piper
betle, Graptophyllum pictum, dan Morus alba. Perawakan tumbuhan didominasi oleh
Kelompok herba, dan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah
daun. Hampir 70% tumbuhan yang didokumentasikan berasal dari kawasan Malesia,
India, dan Indocina. Semua jenis tumbuhan tersebut dapat ditemukan di Kebun Raya
“Eka Karya” Bali. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan tumbuhan dan juga
pengetahuan lokal yang terkandung didalamnya, sehingga generasi sekarang dan yang
akan datang dapat mengetahui apa yang sudah dipraktekkan nenek moyang mereka.
Jurnal
02. Internasional
Bacground
Traditional medicine is a major component in the primary
healthcare system in the southeast of Iran, which has a rich
floral diversity. However, there is no comprehensive report on
the use of medicinal herbs in this specific region. This
traditional usage of medicinal plants by local communities
could serve as a source for pharmacological and
phytochemical studies. The main objective of this study was to
identify ethnopharmacological knowledge on medicinal plant
species and their local healing applications by the folk
communities of Kerman province in the southeast of Iran.
Methods
In this cross-sectional study, data were collected from 217
herbal healers using semi-structured questionnaires,
open interviews, and field surveys. Factors including
use reports (UR) for each species, frequency of citation
(FC), and informant consensus factor (ICF) were used
to analyze the data. Plant species were identified by
botanists through standard taxonomic methods.
Results
A total of 402 medicinal plants were used in healing practices by the local communities
of Kerman province. These species belong to 273 genera of 73 families, among
which 367 species are dicotyledons, 27 are monocotyledons, 7 species are
cryptogam, and one species is gymnosperm. An important implication from the
current study is the identification of the traditional medicinal use of 292 plant
species in this region for the first time. Asteraceae, Apiaceae, Lamiaceae, and
Fabaceae were the dominant medicinally utilized plant families, respectively. Leaf,
flower, fruit, and seed were the most common plant parts used. Generally, crude
drugs were used in the form of decoction, followed by poultice and infusion forms.
Moreover, oral route is considered as the most common administration route
followed by topical route. Endocrine (diabetes), dermatological, gastrointestinal,
and respiratory problems were ranked as the most frequent ailment categories for
which medicinal plants in this region were applied, respectively. Our findings
suggested dominant use of Asteraceae and Apiaceae plants for the treatment of
gastrointestinal disorders, Lamiaceae plants for respiratory and gastrointestinal
ailments, and Apocynaceae plants for dermatological problems.
Conclusion
Traditionally, they used 402 medicinal plant species in 73 families to
meet their pharmacological needs.
Our findings suggested that Asteraceae and Apiaceae plants were
dominantly used for the treatment of gastro- intestinal disorders,
Lamiaceae plants for respiratory and gastrointestinal ailments, and
Apocynaceae plants for dermatological problems.
Finally, some frequently used medicinal plants like Cionura erecta,
Dracocephalum polychaetum, and Tecomella undulate are endangered
and restricted in small parts of their habitats. Therefore, urgent conser-
vation measures are needed.
Thank You