Anda di halaman 1dari 48

BUKU

WAJIB :

UU No.2 Tahun 2014


Tentang Perubahan Atas
UU Nomor 30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris
Literatur
 PJN  GHS Lumban Tobing
 Hukum Notariat Di Indonesia  R.Soegondo
Notodisoerjo
 Studi Notariat  Tan Thong Kie
 Notaris  Komar Andasasmita
 Pengarang lain : -Prof.Dr.Abdul Ghofur Anshori
-Dr. Habib Adjie
Siapakah Notaris itu....??
Pasal 1 angka 1 UU RI No.2 Tahun 2014
Notaris adalah pejabat umum yang
berwenang untuk membuat akta otentik
dan memiliki kewenangan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam UU ini atau
berdasarkan UU lainnya.
Perlu Diketahui
Sebelum UUJN
NOTARIS adalah pejabat umum yang satu-satunya
berwenang untuk membuat akta otentik mengenai
suatu perbuatan, perjanjian dan penetapan yang
diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh
yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan
dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian
tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan
grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang
pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak
juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat
atau orang lain.
Apa yang dimaksud dengan
Pejabat Umum ??
Seseorang menjadi pejabat umum, apabila ia diangkat
dan diberhentikan oleh Pemerintah dan diberi
wewenang dan kewajiban untuk melayani publik
dalam hal-hal tertentu. Karena itu ia ikut serta
melaksanakan kewibawaan (gezag) dari Pemerintah.
Dari jabatannya itu tersimpul suatu sifat atau ciri yang
khas, yang membedakannya dari jabatan-jabatan
lainnya dalam masyarakat.
Kewenangan untuk membuat akta otentik merupakan
ciri khas dari jabatan Notaris
Notaris  sebagai pejabat umum, karena
melaksanakan sesuatu kekuasaan yang bersumber
pada kewibawaan dari Pemerintah
Apakah seorang Pejabat Umum
mempunyai kedudukan yang sama
dengan Pegawai Negeri ?
Sesungguhnya ada perbedaan antara Pejabat Umum
dan Pegawai Negeri biasa yang diatur dalam
perundang-undangan Pegawai Negeri. Meskipun
Pegawai Negeri sebagai pejabat juga mempunyai
tugas untuk melayani umum, misalnya : pejabat yang
memberikan ijin untuk berbagai macam usaha, ijin
bangunan, melayani umum dalam bidang kesehatan,
keamanan, dsb tetapi mereka itu BUKAN Pejabat
Umum dalam arti Pasal 1868 KUHPer.

Jadi hanya Pejabat Umum dalam arti yang


dimaksudkan dalam Pasal 1868 KUHPer itulah yang
berhak untuk membuat akta otentik.
Apakah Notaris itu pegawai negeri ??
Notaris BUKAN Pegawai Negeri

Notaris adalah pejabat umum, tetapi Notaris bukan


Pegawai Negeri dalam arti perundang-undangan
Pegawai Negeri. Antara Pegawai Negeri dan
Pemerintah ada hubungan kedinasan
(dienstbetrekking)  Hal ini tidak berlaku antara
Notaris dan Pemerintah
Notaris tidak menerima gaji / pensiun
dan tidak ada suatu perhubungan kerja
(arbeidsverhouding) dengan
Pemerintah, baik yang diatur dalam
perundang-undangan pegawai negeri
maupun perundang-undangan
perburuhan.
Jabatan Notaris bukan suatu jabatan yang digaji,
Notaris tidak menerima gaji dari Pemerintah,
sebagaimana halnya dengan pegawai negeri, akan
tetapi dari mereka yang meminta jasanya.

Notaris adalah pegawai pemerintah tanpa gaji


pemerintah, notaris dipensiunkan oleh Pemerintah
tanpa mendapat pensiun dari Pemerintah.
Kesimpulan
Notaris adalah pejabat umum (openbare ambtenaar),
tetapi Notaris bukan pegawai menurut undang-
undang/peraturan-peraturan kepegawaian negeri.

Notaris tidak menerima gaji, tidak menerima pensiun


bukan “bezoldigd staatsambt”, tetapi menerima
honorarium dari kliennya berdasarkan peraturan

Notaris adalah Pejabat Umum sebagaimana


dimaksudkan dalam Pasal 1868 KUHPerdata.
Pasal 1868 KHUPer
Suatu akta otentik adalah suatu akta
yang di dalam bentuk yang ditentukan
oleh undang-undang, dibuat oleh atau
dihadapan pegawai-pegawai umum
yang berkuasa untuk itu ditempat
dimana akta dibuatnya.
Pasal 1869 KUHPer
Suatu akta, yang karena tidak berkuasa atau tidak
cakapnya pegawai termaksud diatas, atau karena
suatu cacad dalam bentuknya, tidak dapat
diperlakukan sebagai akta otentik, namun demikian
mempunyai kekuatan sebagai tulisan dibawah tangan
jika ia ditandatangani oleh para pihak
Pasal 1870 KUHPer
Suatu akta otentik memberikan
diantara para pihak beserta ahli waris-
ahli warisnya atau orang-orang yang
mendapat hak dari pada mereka, suatu
bukti yang sempurna tentang apa yang
dimuat di dalamnya.
Perlu Diingat....
Alat-alat bukti yang tercantum dalam undang-undang
sbb: dalam Reglement Bumiputera yang diperbarui
(RIB), Herziene Indonesisch Reglement (HIR),
Stb.1848-16 jo.57, Stb.1962-559, Stb.1941-44 pasal
164 dan Pasal 1866 BW, alat-alat bukti itu adalah :
1.Bukti surat (tulisan)
2.Bukti saksi
3.Bukti persangkaan
4.Bukti pengakuan
5.Bukti penyumpahan (sumpah)
Lanjutan....

Disamping itu ada alat-alat bukti lain, yaitu :


6. Keterangan seorang ahli
7. Pengetahuan Hakim dalam persidangan mengenai :
apa yang dilihat, disaksikan sendiri dan apa yang
diketahui dari tanya jawab
Tugas dan Pekerjaan Notaris
 Membuat akta-akta otentik
 melakukan pendaftaran dan mensahkan
(waarmerking dan legalisasi) surat-surat/akta-akta
yang dibuat di bawah tangan
 Memberikan nasehat hukum dan penjelasan
mengenai undang-undang sehubungan dengan
pembuatan akta
 melakukan pengesahan kecocokan fotokopi
dengan surat aslinya
 membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan
 membuat akta risalah lelang
 membuat kopi dari asli surat di bawah tangan
berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana
ditulis dan digambarkan dalam surat yang
bersangkutan (copy collationne)
 sebagai mediator dari para pihak yang bersengketa
sehubungan dengan pembuatan akta
WEWENANG NOTARIS BERSIFAT UMUM
Notaris berwenang untuk membuat akta mengenai
semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang
diharuskan oleh peraturan per-uu-an dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk
dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian
tanggal pembuatan akta , menyimpan akta,
memberikan grosse, salinan dan kutipan akta,
semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak
juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain
atau orang lain yang ditetapkan oleh UU.
Dari sini dapat diketahui bahwa wewenang notaris
adalah “regel” (bersifat umum), sedang wewenang
para pejabat lainnya adalah “Pengecualian”.
Lanjutan....

Wewenang dari para pejabat lainnya itu untuk


membuat akta sedemikian hanya ada, apabila oleh
undang-undang dinyatakan secara tegas, bahwa
selain dari Notaris, mereka juga turut berwenang
membuatnya atau untuk pembuatan sesuatu akta
tertentu mereka oleh undang-undang dinyatakan
sebagai satu-satunya yang berwenang untuk itu.
Adapun akta-akta yang pembuatannya juga
ditugaskan kepada pejabat lain atau oleh undang-
undang dikecualikan pembuatannya kepadanya,
antara lain :
1.Akta pengakuan anak luar kawin (Pasal 281 KUHPer)
2. Akta protes cek dan wesel (Pasal 1405, 1406 KUHD)
3. Akta Catatan Sipil (Pasal 4 KUHPer)

Nomor 1 dan 2  Notaris berwenang membuatnya bersama-


sama dengan pejabat lainnya
Nomor 3  Notaris tidak berwenang untuk membuatnya,
hanya pegawai catatn sipil yang berwenang
Catatan

Notaris berwenang untuk membuat akta otentik,


hanya apabila hal itu dikehendaki atau diminta oleh
yang berkepentingan, hal mana berarti bahwa
notaris tidak berwenang membuat akta otentik
secara jabatan (ambtshalve). Dengan demikian
Notaris tidak berwenang membuat akta di bidang
hukum publik (publiek rechtelijke akten),
wewenangnya terbatas pada pembuatan akta-
akta di bidang hukum perdata.
Kewenangan Notaris

Lihat : Pasal 15 UUJN


WEWENANG UTAMA NOTARIS

Yaitu membuat akta otentik


Otentisitas dari akta notaris bersumber dari
Pasal 1 angka 1 UUJN

Dimana Notaris dijadikan sebagai pejabat umum


(openbaar ambtenaar), sehingga dengan demikian
akta yang dibuat oleh Notaris dalam kedudukannya
tersebut memperoleh sifat otentik, seperti yang
dimaksud dalam Pasal 1868 KUHPer
Penting....!!!
Apabila suatu akta hendak memperoleh stempel
otentisitas, hal mana terdapat pada akta notaris,
maka menurut ketentuan dalam Pasal 1868 KUHPer,
akta ybs harus memenuhi syarat-syarat sbb :
1.Akta itu harus dibuat “oleh” atau “di hadapan”
seorang pejabat umum
2.Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan
oleh undang-undang
3.Pejabat umum oleh- atau dihadapan siapa akta itu
dibuat, harus mempunyai wewenang untuk
membuat itu.
WEWENANG NOTARIS
a. Notaris harus berwenang sepanjang yang
menyangkut akta yang dibuat itu
b. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai
orang (-orang) untuk kepentingan siapa akta itu
dibuat
c. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai
tempat, dimana akta itu dibuat
d. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai
waktu pembuatan akta itu.
?
Akta yang dibuat oleh Notaris
Akta yang dibuat di hadapan Notaris
Akta Relaas / Akta Pejabat
(Akta yang dibuat oleh Notaris)
Menguraikan secara otentik sesuatu tindakan yang
dilakukan atau suatu keadaan yang dilihat atau
disaksikan oleh pembuat akta itu, yakni Notaris
sendiri, di dalam menjalankan jabatannya sebagai
Notaris.

Akta yang dibuat sedemikian dan yang memuat


uraian dari apa yang dilihat dan disaksikan serta
dialaminya itu dinamakan akta yang dibuat “oleh”
Notaris
Akta Partij
(Akta yang dibuat dihadapan Notaris)
Akta yang berisikan suatu “cerita” dari apa yang
terjadi karena perbuatan yang dilakukan oleh pihak
lain dihadapan notaris, artinya yang diterangkan atau
diceritakan oleh pihak lain kepada Notaris dalam
menjalankan jabatannya dan untuk keperluan mana
pihak lain itu sengaja datang di hadapan Notaris dan
memberikan keterangan itu atau melakukan
perbuatan itu dihadapan notaris, agar keterangan
atau perbuatan itu dikonstatir oleh Notaris di dalam
suatu akta otentik.
Apakah tanda tangan para
pihak merupakan suatu
keharusan pada Akta Partij ?
Keharusan Adanya Tanda Tangan
Pada Akta Partij
 UU mengharuskan bahwa akta partij harus
ditandatangani oleh para pihak
 Apabila tidak ditandatangani oleh para pihak ybs,
maka dalam bagian akhir akta diterangkan/
dijelaskan apa yang menjadi alasan tidak
ditandatanganinya akta itu oleh pihak atau para
pihak ybs.
 Contoh : para pihak atau salah satu pihak buta
huruf atau tangannya lumpuh, dsb
Lanjutan.....
 Keterangan tidak ditandatanganinya akta partij
harus dicantumkan oleh Notaris dalam akta itu, dan
keterangan itu dalam hal ini berlaku sebagai ganti
tanda tangan

Apabila tidak ada tanda tangan + tidak dijelaskan


pada akhir akta : akan kehilangan keotentikannya
atau dikenakan penggantian biaya, ganti rugi dan
bunga kepada Notaris
Lihat : Pasal 44 ayat 1

Segera setelah Akta dibacakan, Akta tersebut


ditandatangani oleh setiap penghadap, saksi dan
Notaris, kecuali apabila ada penghadap yang tidak
dapat membubuhkan tanda tangan dengan
menyebutkan alasannya.
Pasal 44 ayat 2

Alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dinyatakan secara tegas pada akhir Akta
Pasal 44 ayat 5

Pelanggaran terhadap Pasal 44 ayat (1) dan (2)

Akibat : Akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian


sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi
alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk
menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga
kepada Notaris
AKHIR AKTA
2 Penghadap : 1 Tanda Tangan, 1 Cap Jempol
---------------------------------------DEMIKIANLAH AKTA INI --------------------------------------------
-Dibuat sebagai minuta dan dilangsungkan di Kota Semarang pada hari, tanggal, bulan, tahun
dan jam tersebut dalam bagian kepala akta ini dengan dihadiri oleh: ----------------
1. Tuan ...., lahir di ..... pada tanggal ...., bertempat tinggal di ...., Jalan...., pemegang ----Kartu
Tanda Penduduk nomor .... ------------------------------------------------------------------
2. Nona...., lahir di .... pada tanggal ...., bertempat tinggal di ...., Jalan ...., pemegang ----Kartu
Tanda Penduduk nomor .... ------------------------------------------------------------------
kedua-duanya warga negara Indonesia, pegawai kantor notaris, sebagai saksi-saksi; ----
-Segera setelah akta ini saya, notaris bacakan kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka
akta ini ditandatangani oleh penghadap tuan A, saksi-saksi dan saya, notaris
------sedangkan penghadap tuan B membubuhkan cap jempol kirinya pada minuta akta ini
-yang menurut keterangannya tidak dapat tanda tangan karena tidak pernah belajar
----menulis. -------------------------------------------------------------------------------------------------------
-Dilangsungkan dengan tanpa perubahan. -----------------------------------------------------------
Apakah tanda tangan para
pihak merupakan suatu
keharusan pada Akta Relaas ??
Pada Akta Relaas tanda tangan
tidak merupakan keharusan
bagi otentisitas dari akta itu
Untuk akta relaas  tidak ditandatanganinya akta
oleh orang-orang yang hadir, tidak menjadi soal.
Misalnya : Dalam Berita Acara Undian

Orang-orang yang hadir telah meninggalkan rapat


sebelum akta itu ditanda tangani, maka Notaris cukup
menerangkan di dalam akta, bahwa para yang hadir
telah meninggalkan rapat sebelum menandatangani
akta itu dan dalam hal ini akta itu tetap merupakan
akta otentik
Lihat : Pasal 46 ayat 1

Apabila pada pembuatan pencatatan harta kekayaan


atau berita acara mengenai suatu perbuatan atau
peristiwa, terdapat penghadap yang :
a. Menolak membubuhkan tanda tangannya, atau
b.Tidak hadir pada penutupan akta, sedangkan
penghadap belum menandatangani akta tersebut,
hal tersebut harus dinyatakan dalam akta dan akta
tersebut tetap merupakan akta otentik.
Pasal 46 ayat 2

Penolakan :
harus dinyatakan dalam akta
dengan mengemukakan
alasannya
Catatan
Pembedaan yang dimaksud di atas penting, dalam
kaitannya dengan pemberian pembuktian
sebaliknya terhadap isi akta itu.
 Terhadap kebenaran isi dari akta pejabat  tidak dapat
digugat, kecuali dengan menuduh bahwa akta itu adalah
palsu.
 Pada akta partij dapat digugat isinya, tanpa menuduh
kepalsuannya, dengan jalan menyatakan bahwa
keterangan dari para pihak ybs ada diuraikan menurut
sesungguhnya dalam akta itu, akan tetapi keterangan itu
adalah tidak benar, Artinya terhadap keterangan yang
diberikan itu diperkenankan pembuktian sebaliknya.
Diperhatikan...!!
Dalam akta Partij yang pasti secara otentik terhadap
pihak lain :
 Tanggal dari akta
 Tanda tangan yang ada dalam akta
 Identitas dari orang-orang yang hadir
 Bahwa apa yang tercantum dalam akta itu adalah
sesuai dengan apa yang diterangkan oleh para
penghadap kepada Notaris untuk dicantumkan
dalam akta itu, sedang kebenaran dari keterangan-
keterangan itu sendiri hanya pasti antara pihak-
pihak yang bersangkutan sendiri.