Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KASUS

BENIGN
PROSTATIC
HYPERPLASIA
Pembimbing :(BPH)
dr. Lambok Simorangkir,
Sp.U

Disusun oleh : Azizah (1102016040)


KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA T.K.I.R SAID SUKANTO
PERIODE 1 NOVEMBER -11 DESEMBER 2021
LAPORAN
1 KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
NO. RM : 120****
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 76 Tahun
Alamat : Jatiraden
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 4 November
2021.

3
KELUHAN
UTAMA
Tidak bisa buang air kecil sejak
1 hari sebelum masuk rumah
KELUHAN
sakit
TAMBAHAN
Nyeri saat buang air kecil

4
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Auto-anamnesis dan Allo-anamnesis kepada keluarga pasien di Poli Bedah Urologi RS
Bhayangkara Tk.1 R. Said Sukanto di tanggal 4 november 2021 pukul 10.30 WIB.

Pasien datang ke IGD RS Polri dengan keluhan tidak bisa buang air kecil (BAK) sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit. Keluhan BAK dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien merasa
sering mengedan saat BAK, pancaran urin cenderung melemah dan terkadang disertai rasa
nyeri serta masih menetes setelah BAK yang dirasa tidak lampias. Keluhan semakin
memburuk karena pasien merasa seperti ingin buang air kecil terus menerus dan tidak bisa
menahan saat ingin BAK.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Menurut keterangan keluarga pasien, pasien menjadi lebih sering BAK terutama saat
malam hari sekitar 3-4 kali, sehingga beberapa hari terakhir pasien menggunakan pampers
dan tampak benjolan sebesar bola kasti yang semakin membesar pada daerah pubis
pasien. Pasien sudah mencoba dibawa berobat ke klinik namun keluhan tidak membaik. Saat
di IGD pasien dipasang kateter urin dan keluar jumlah urin ± 1L. Pasien mengatakan sudah
tidak aktif dalam berhubungan seksual dan penurunan berat badan disangkal. Keluhan
demam, keluar butiran pasir saat BAK, sensasi terbakar dan keluar darah saat BAK disangkal
oleh pasien.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
- Keluhan serupa (-) - Keluhan serupa (-)
- Riwayat Trauma (-) - Riwayat Trauma (-)
- Riwayat Alergi (-) - Riwayat Alergi (-)
- Riwayat Asma (-) - Riwayat Asma (-)
- Riwayat Hipertensi (-) - Riwayat Hipertensi (+)
- Riwayat DM (-) - Riwayat DM (-)
- Riwayat Operasi (-) - Riwayat Operasi (-)
RIWAYAT PENGOBATAN RIWAYAT KEBIASAAN

Pasien mengaku memiliki riwayat


Pasien sudah dibawa berobat ke
merokok sejak 40 tahun yang lalu
klinik 24 jam di dekat rumah namun namun sudah berhenti sejak 20 tahun
yang lalu. Pasien mengaku tidak
keluhan tidak membaik. Pasien tidak
pernah mengkonsumsi alkohol dan
mengkonsumsi obat-obatan rutin jarang berolahraga
Keadaan umum : Tampak sakit sedang PEMERIKSAAN FISI
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 76 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36.5 C
Status Generalis
Kepala : Normocephali, deformitas (-)
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), deformitas (-), discharge (-), massa (-)
Telinga : Deformitas (-), discharge (-)
Mulut : Mukosa oral basah, faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-) 9
•Pulmo
PEMERIKSAAN FISI
• Inspeksi : Gerak pernapasan simetris, tidak ada bagian paru yang tertinggal
• Palpasi : Gerakan pernapasan teraba simetris
• Perkusi : Sonor
• Auskultasi : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
•Cor
•Inspeksi : Iktus cordis terlihat di linea midclavicularis ICS 5
•Palpasi : Iktus cordis teraba di linea midclavicularis ICS 5
•Perkusi : Batas kanan : linea parasternalis dekstra ICS 4,
batas kiri : linea midclavicularis sinistra ICS 5,
batas atas : linea parasternalis sinistra ICS 2
• Auskultasi : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
•Abdomen :
• Inspeksi : Tampak datar
• Auskultasi : Bising usus (+) normal
• Perkusi : Timpani
• Palpasi : Nyeri tekan (-), hepatospelenomegali (-)
10
PEMERIKSAAN FISI
•Ekstremitas

Atas : edema (- / -), CRT (<2 detik), akral dingin (- / -), sianosis (- / -)
Bawah : edema (- / -), CRT (<2 detik), akral dingin (- / -), sianosis (- / -)

11
STATUS
REGIO UROLOGIS
(Setelah pemasangan kateter)
FLANK
Inspeksi : Kemerahan ( -/- ),
Benjolan ( -/- ), Jejas ( -/- )
Palpasi : Massa (-), Nyeri Tekan GENITALIA
(-)
•Inspeksi: erosi (-), ulkus (-), discharge
Perkusi : Nyeri ketok CVA
( -/- ) (-), kutil (-), posisi meatus uretra di
SUPRAPUBIK tengah, terpasang kateter, urin
Inspeksi : kemerahan (-), berwarna kuning tanpa darah
Benjolan (-)
Palpasi : Nyeri Tekan (-) •Palpasi: massa (-), nyeri tekan (-)
•Tonus Sfingter Ani Adekuat Digital Rectal
•Mukosa Licin Examination
•Ampulla recti tidak kollaps •Handscoon:

•Prostat : •Darah (-), Lendir (-), Feses (-)

•Permukaan rata, licin, tidak teraba


nodul

•Konsistensi kenyal

•Nyeri tekan (-)

•Prostat teraba 2 buku jari ( 40 gram)


DIAGNOSIS BANDING
• Retensi Urin e.c Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH)
• Retensi Urin e.c Ca Prostate
• Prostatitis

14
SARAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
-Laboratorium :
• Darah Lengkap
• Urinalisis
• Prostate specific antigen (PSA)
• Fungsi Ginjal
-Radiologi :
• USG Abdomen
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
USG 4 NOVEMBER 2021
INTERPRETASI HASIL
● Ren Dextra : Ukuran normal, sistem
pelviocalyces tidak melebar, tidak tampak batu
● Ren Sinistra : Ukuran normal, sistem
pelviocalyces tidak melebar, tidak tampak batu
● Buli : Batu (-), massa (-),
● Prostat : Ukuran membesar

16
RESUME
Pasien berusia 76 tahun datang ke IGD RS Polri dengan keluhan tidak bisa BAK disertai
keluhan straining, incomplete emptying, dysuria, terminal dribbling, frekuensi BAK meningkat,
urgensi, dan nokturia. Pada pemeriksaan fisik status urologis ditemukan prostat teraba
sebesar 2 jari. Hasil USG didapatkan pembesaran prostat.
DIAGNOSIS KERJA
Retensi Urin e.c Benign Prostate
Hyperplasia (BPH)
TATALAKSANA
Konsul Sp. U -> Pro TURP

Edukasi pasien:
Mengurangi konsumsi cairan, terutama beberapa jam sebelum tidur
Mengurangi konsumsi minuman yang dapat memicu diuresis seperti kafein dan alkohol
Membiasakan diri untuk miksi ganda, yaitu menunggu beberapa saat setelah berkemih dan
mencoba mulai berkemih kembali
Menghindari kebiasaan mengejan saat miksi
PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Dubia ad Bonam
Quo ad Functionam : Dubia ad Bonam
Quo ad Sanationam : Dubia ad Bonam
TINJAUAN
2 PUSTAKA
ANATOMI

Berat normal pada orang dewasa ± 20 gram.

Batas-batas :
Superior dengan neck bladder
Inferolateral dengan levator ani
Posterior dengan ampulla of
rectum
Terdiri dari isthmus dan lobus kanan dan kiri

Aaron L, Franco OE, Hayward SW. Review of Prostate Anatomy and


Embryology and the Etiology of Benign Prostatic Hyperplasia. Urol Clin North
Am. 2016;43(3):279-288. doi:10.1016/j.ucl.2016.04.012
ANATOMI
Zona Central: membentuk dasar prostat dan
mengelilingi ductus ejakulatorius
Anterior Fibromuskular : Sebagian besar
terdiri dari jaringan otot dan fibrosa yang
mengelilingi bagian inferior prostat (apex)
Transisional : zona kecil yang mengelilingi
sebagian uretra antara vesika urinaria dengan
verumontanum
Perifer : zona terbesar dan mengelilingi
bagian distal uretra pars prostatika
DEFINISI

Istilah BPH atau benign prostatic hyperplasia


sebenarnya merupakan istilah histopatologis,
yaitu terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan
sel-sel epitel kelenjar prostat

Mochtar, CA, Umbas, R, et al. Panduan Penatalaksanaan


Klinis Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic
Hyperplasia / BPH) Edisi ke-2, Jakarta
EPIDEMIOLOGI FAKTOR RESIKO
Usia
20% usia 41-50 tahun.
Faktor hormonal

50% usia 51-60 tahun.


Riwayat BPH pada keluarga

>90% usia >80 tahun Obesitas

McAninch JW. Benign Prostatic Hyperplasia. In: Smith & Tanagho’s General Urology. 19th ed. California: Lange; 
ETIOLOGI
Teori Dihidrotestosteron (DHT)
DHT berikatan dengan reseptor pada nukleus dan
merangsang sintesis DNA, RNA, faktor
pertumbuhan, dan protein sitoplasma lainnya yang
kemudian menyebabkan hiperplasia.
Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Estrogen pada prostat berperan dalam terjadinya
proliferasi sel-sel kelenjar prostat akibatnya sel-sel
prostat mempunyai umur yang lebih panjang
sehingga massa prostat menjadi lebih besar.

Purnomo, B.B., 2016. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ketiga, Malang: Sagung Seto,
ETIOLOGI
Interaksi stroma-epitel
Sel-sel stroma menstimulasi factor pertumbuhan sehingga mempengaruhi sel-sel stroma itu
sendiri dan sel epitel yang mengakibatkan hiperplasia prostat.
Berkurangnya kematian sel prostat
Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel
prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa
prostat.
Teori sel stem
Kadar androgen yang meningkat menyebabkan ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga
terjadi produksi sel stroma maupun epitel yang berlebihan.

Purnomo, B.B., 2016. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ketiga, Malang: Sagung Seto,
28
MANIFESTASI KLINIS
Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS)

Gejala Obstruktif Gejala Iritatif Gejala Pasca-


(Voiding (Storage berkemih (Post-
Symptoms) Symptoms) micturition)

• Intermitensi • Frekuensi • Terminal dribbling


• Kelemahan • Urgensi • Miksi tidak puas
pancaran urin • Nokturia
• Hesitansi

29
DIAGNOSIS

ANAMNESIS
Keluhan yang dirasakan (LUTS)dan sudah berapa lama
Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenital
Riwayat kesehatan umum dan fungsi seksual
Obat-obatan yang dikonsumsi

Purnomo, B.B., 2016. Dasar-Dasar Urologi. Edisietiga, Malang: Sagung Seto,


Skor Keluhan
Untuk menentukan derajat beratnya penyakit yang
berhubungan dengan penentuan jenis pengobatan
BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan
BPH, Terdapat beberapa sistem skoring, di
antaranya skor International Prostate Symptom
Score (IPSS) yang diambil berdasarkan skor
American Urological Association (AUA).

Skor 0-7 ringan, 8-19 sedang, dan 20-35 berat.

31
PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSIS

Pemeriksaan daerah flank, suprapubik, genitalia


Rectal toucher pada BPH:
- Konsistensi prostat kenyal
- Lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul.
Pada karsinoma prostat:
- Konsistensi prostat keras/teraba nodul
- Lobus prostat mungkin tidak simetri

Oliveira Reis, Leonardo & Simao, Antonio & Baracat, Jamal & Denardi, Fernandes & Gugliotta, Antonio. (2013). Digital Rectal
Examination Standardization for Inexperienced Hands: Teaching Medical Students. Advances in urology. 2013. 797096
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Fungsi
Urinalisis
Ginjal

Prostate
Specific
Agent (PSA)
Mochtar, CA, Umbas, R, et al. Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran
Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia / BPH) Edisi ke-2, Jakarta
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi:
USG Prostat (TAUS/TRUS)

Pemeriksaan lain :
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat
dapat diperkirakan dengan mengukur:
• Residual urin
• Pancaran urin/flow rate

Mochtar, CA, Umbas, R, et al. Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran


Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia / BPH) Edisi ke-2, Jakarta
DIAGNOSIS BANDING

Alawamlh OAH, Goueli R, Lee RK. Lower Urinary Tract Symptoms, Benign Prostatic Hyperplasia, and Urinary Retention.
Med Clin North Am. 2018 Mar;102(2):301-311. doi: 10.1016/j.mcna.2017.10.005. Epub 2017 Dec 21. PMID: 29406059.
ALGORITMA
TATALAKSANA

Mochtar, CA, Umbas, R, et al. Panduan Penatalaksanaan Klinis


Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia / BPH) Edisi
36
ke-2, Jakarta
Tatalaksana

Watchful Waiting
●  Pasien BPH dengan skor 0-7
●  Saran :
Mengurangi minum setelah makan malam untuk
mengurangi nokturia, jangan menahan kencing terlalu lama.
●  Evaluasi secara berkala 6 bulan kemudian setiap tahun

Lerner LB, McVary, KT, Barry MJ et al: Management of lower urinary tract symptoms attributed to benign 37
prostatic hyperplasia: AUA Guideline part I, initial work-up and medical management. J Urol 2021; 
Tatalaksana
Medikamentosa
Evaluasi 4-6 minggu setelah inisiasi terapi kemudian dilanjutkan 6 bulan
dan setiap tahun
Alfa-1 blocker:
Menghambat kontraksi otot polos prostat
Doksazosin 4-8mg/hari atau Tamsulosin 0,4-0,8mg/hari
5 alpha-reductase inhibitor:
Mengurangi volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon
testosteron/dehidotestosteron (DHT).
Finasteride 5mg/hari atau Dutasteride 0,5mg/hari
Lerner LB, McVary, KT, Barry MJ et al: Management of lower urinary tract symptoms attributed to benign 38
prostatic hyperplasia: AUA Guideline part I, initial work-up and medical management. J Urol 2021; 
Tatalaksana Operatif

TURP (Transurethral Salah satu jenis operasi endoskopi yang banyak


resection of the dilakukan dimana kelenjar prostat dipotong
prostate) dengan cara dikerok

Direkomendasikan untuk prostat ukuran kecil


TUIP (incision)
yang terjadi hyperplasia komisura posterior

Menggunakan elektroevaporasi untuk ablasi


TUVP (vaporization)
jaringan prostat yang mengobstruksi

Dilakukan Ketika ukuran kelenjar prostat terlalu


Open prostatectomy besar (>100 gr) untuk dikeluarkan secara
endoskopik
39
TURP
• “Gold standard” of surgical treatment for BPH
• 80-90% obstructive symptom improved
• 30% irritative symptom improved
• Low mortality rate 0. 2%

Complication of TURP
•Immediate complication : bleeding capsular perforation with
fluid extravasation TUR syndrome
•Late complication : urethral stricture bladder neck
contracture (BNC) retrograde ejaculation impotence (5 -10%)
incontinence (0. 1%)

Lerner LB, McVary, KT, Barry MJ et al: Management of lower urinary tract symptoms attributed to benign prostatic hyperplasia:
40
AUA Guideline part I, initial work-up and medical management. J Urol 2021; 
KOMPLIKASI

● Inkontinensia ● Retensi Urin Akut


Paradoks Atau Kronik
● Batu Kandung Kemih ● Refluks Vesiko-Ureter
● Sistitis ● Hidroureter
● Pielonefritis ● Hidronefrosis
● Gagal Ginjal

Mochtar, CA, Umbas, R, et al. Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia / BPH)
Edisi ke-2, Jakarta 41
Prognosis
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat
diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya
cenderung meningkat.

McConnel JD. Epidemiology, etiology, pathophysiology and diagnosis of benign prostatic


hyperplasia. In :Wals PC, Retik AB, Vaughan ED, Wein AJ. Campbell’s urology. 7th ed.
Philadelphia: WB Saunders Company; 1998.p.1429-52. 42
TERIMA KASIH

43