Anda di halaman 1dari 22

SUISTAINABILITY OF DEVELOPMENT GOALS &

EVIDENCE-BASED PRACTICED
KELOMPOK 6
1. ADLINA AIPA 2011312054
2. DIVAYANTA PUTRI 2011313018
3. NORA SITI MUAWANAH 2011311044
4. WAHYUNI 2011311023
5. YASHIFA AKHAMEL PUTRI 2011317002
PENGERTIAN SDGS

Sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 25 September 2015 lalu di New York, Amerika Serikat, secara resmi telah
mengesahkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau SDGS sebagai kesepakatan pembangunan global. Sekurangnya 193 kepala negara
hadir, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, turut mengesahkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 untuk Indonesia. Mulai tahun
2016, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS) 2015-2030 secara resmi menggantikan Tujuan Pembangunan Millennium (MDGS)
2000-2015. SDGS berisi seperangkat tujuan transformatif yang disepakati dan berlaku bagi seluruh bangsa tanpa terkecuali. Pengertian
SDGs adalah singkatan atau kepanjangan dari sustainable development goals, yaitu sebuah dokumen yang akan menjadi sebuah acuan
dalam kerangka pembangunan dan perundingan negara-negara di dunia.Konsep SDGS melanjutkan konsep pembangunan Millenium
Development Goals (MDGS) dimana konsep itu sudah berakhir pada tahun 2015. Era Sustainable Development Goals (SDGS) atau Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan telah dimulai saat negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Indonesia,
menyepakati Outcome Document SDGS pada tanggal 2 Agustus lalu. Dokumen ini berisi tentang deklarasi, tujuan, target dan cara
pelaksanaan SDGS hingga tahun 2030. Dokumen ini adalah kerangka kerja pembangunan global baru pengganti Millenium Development
Goals (MDGS) yang berakhir tahun 2015 ini, dengan 17 tujuan dan 169 target. SDGS untuk tahun 2016 - 2030. SDGS ini, merupakan
program yang kegiatannya meneruskan agenda-agenda MDGS sekaligus menindaklanjuti program yang belum selesai. Bidang kesehatan
yang menjadi sorotan adalah sebaran balita kurang gizi di Indonesia, proporsi balita pendek, status gizi anak, tingkat kematian ibu, pola
konsumsi pangan pokok, dan sebagainya.
INDIKATOR SDGS

 Adapun tiga pilar yang menjadi indikator dalam konsep pengembangan SDGS, yaitu:
 1. Indikator yang melekat pada pembangunan manusia (Human Development), seperti pendidikan dan kesehatan.
 2. Indikator yang melekat pada lingkungan kecil (Social Economic Development), seperti ketersediaan sarana dan
prasarana lingkungan serta pertumbuhan ekonomi.
 3. Indicator yang melekat pada lingkungan yang lebih besar (Environmental Development), seperti ketersediaan
sumber daya alam dan kualitas lingkungan yang baik
TUJUAN SDGS

 SDGS berisi 17 Tujuan. Salah satu Tujuan adalah Tujuan yang mengatur tata cara dan prosedur yaitu masyarakat yang damai tanpa kekerasan,
nondiskriminasi, partisipasi, tata pemerintahan yang terbuka serta kerja sama kemitraan multi-pihak. Proses perumusan SDGS berbeda sekali dengan
MDGS. SDGS disusun melalui proses yang partisipatif ,salah satunya melalui survei Myworld (boks 1). Salah satu perubahan mendasar yang dibawa
oleh SDGS adalah prinsip "tidak ada seorang pun yang ditinggalkan". SDGS juga mengandung prinsip yang menekankan kesetaraan antar-negara dan
antar-warga negara. SDGS berlaku untuk semua (universal) negara-negara anggota PBB, baik negara maju, miskin, dan negara berkembang Pada
bulan Agustus 2015, 193 negara menyepakati 17 tujuan berikut ini :
 a. Menghapuskan Kemiskinan - Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya di semua tempat.
 b. Menghapuskan Kelaparan - Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang
berkelanjutan. Hidup Schat Memastikan hidup yang schat dan menggalakkan
 c. kesejahteraan untuk semua usia.
 d. Pendidikan Berkualitas - Memastikan pendidikan berkualitas yang terbuka dan setara serta menggalakkan kesempatan untuk belajar sepanjang
umur hidup pada semua orang.
 e. Kesetaraan Gender - Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua wanita dan anak perempuan.
 f. Air Bersih dan Sanitasi - Memastikan ketersediaan dan pengelolaan yang berkesinambungan atas air dan sanitasi untuk semua orang.
 g. Energi yang bisa diperbarui dan terjangkau - Memastikan akses pada energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern bagi semua orang.
 h. Ekonomi dan pekerjaan yang baik - Menggalakkan perkembangan ekonomi yang berkesinambungan, terbuka, dan berkelanjutan, lapangan kerja
yang utuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak bagi semua orang.
 i. Inovasi dan infrastruktur yang baik - Membangun infrastruktur yang tahan lama, menggalakkan industrialisasi yang berkesinambungan dan terbuka,
serta mendorong inovasi.
 j. Mengurangi kesenjangan - Mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara.
 k. Kota dan komunitas yang berkesinambungan Membuat kota dan pemukiman manusia terbuka, aman, tahan lama, serta berkesinambungan.
 1. Penggunaan sumber-sumber daya yang bertanggung jawab - Memastikan pola-pola konsumsi dan produksi yang berkesinambungan.
 m. Tindakan iklim Mengambil tindakan mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan pengaruh pengaruhnya
 n. Lautan yang berkesinambungan- Melestarikan dan menggunakan samudra laut, dan sumber-sumber daya maritim secara berkesinambungan untuk
pengembangan yang lestari. Penggunaan tanah yang berkesinambungan - Melindungi, mengembalikan, dan
 o. menggalakkan penggunaan yang lestari atas ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkesinambungan, memerangi penggundulan hutan, dan
memperlambat serta membalikkan degradasi tanah serta memperlambat hilangnya keragaman hayati.
 p. Kedamaian dan Keadilan Menggalakkan masyarakat yang damai dan terbuka untuk pengembangan yang
lestari, memberikan akses pada keadilan untuk semua orang dan membangun institusi yang efektif, bertanggung
jawab, serta terbuka di semua tingkatan.
 q. Kemitraan untuk pengembangan Yang Lestari - Memperkuat cara-cara penerapan dan menghidupkan kembali
kemitraan global untuk pengembangan yang berkberkesinambunga
PRINSIP SDGS

 Prinsip-prinsip SDG’s berdasarkan Outcome Document Rio+20, yaitu:


 1. Tidak melemahkan komitmen internasional terhadap pencapaian MDGS pada tahun 2015.
 2. Mempertimbangkan perbedaan kondisi, kapasitas dan prioritas nasional.
 3. Fokus pada pencapaian ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan secara berimbang ekonomi, sosial dan
lingkungan.
 4. Koheren dan terintegrasi dengan agenda pembangunan pasca 2015.
KONSEP EBP

 Evidence Based Practice (EBP) merupakan upaya untuk mengambil keputusan klinis berdasarkan sumber yang paling relevan dan
valid. Dengan kata lain, EBP merupakan jalun untuk mentransformasikan hasil penelitian ke dalam praktek keperawatan schingga
perawat dapat meningkatkan rasa pedulinya terhadap pasien. EBP merupakan suatu pendekatan memecahkan masalah untuk
mengambilan keputusan dalam organisasi pelayanan keschatan yang terintegrasi di dalamnya adalah ilmu pengetahuan atau teori
yang ada dengan pengalaman dan bukti bukti nyata yang baik (pasien dan praktisi). Evidence Based Practice (EBP) adalah
Penggunaan bukti terbaik saat ini secara sadar dan bijaksana dalam hubungannya dengan keahlian klinis, nilai pasien, dan keadaan
untuk memandu keputusan perawatan kesehatan. EBP merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam praktik keperawatan
keschatan, yang berdasarkan hasil penelitian utau fakta dan bukan hanya asumsi untuk menuntun pengambilan keputusan dalam
proses perawatan.
 Menurut (Ingersoll G, 2000). EBP udalah penggunaan teori dan informasi yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian secara
teliti, jelas dan bijaksana dalam pembuatan keputusan tentang pemberian asuhan keperawatan pada individu atau sekelompok
pasien dan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan pilihan dari pasien tersebut. Sedangkan menurut (Mullhal 1998). EBP
merupakan penggabungan bukti yang diperoleh dari hasil penelitian dan praktek klinis ditambah dengan pilihan dari pasien ke
dalam keputusan klinis.
TUJUAN EBP

 Tujuan EBP yaitu memberikan data padu perawat praktisi berdasarkan bukti ilmiah agar dapat memberikan
perawatan secara efektif dengan menggunakan hasil penelitian yang terbaik, menyelesaikan masalah yang ada di
tempat pemberian pelayanan terhadap pasien, mencapai kesempurnaan dalam pemberian asuhan keperawatan dan
jaminan standar kualitas dan untuk memicu adanya inovasi (Grinspun, Virani & Bajnok, 2001 / 2002).
 Menurut Stout & Hayes (2005), EBP bertujuan untuk memberi alat, berdasarkan bukti-bukti terbaik, untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani gangguan kesehatan artinya dalam memilih suatu pendekatan pengobatan
kita hendaknya secara empiris melihat kajian penelitian yang menunjukkan keefektifan suatu pendekatan terapi
tertentu pada diri individu tertentu.
MANFAAT EBP

 Menjadi jembatan antara penelitian dan praktik keperawatan.


 Mengeliminasi penelitian dengan kualitas penelitian yang buruk.
 Mencegah terjadinya informasi yang overload terkait hasil-hasil penelitian.
 Mengeliminasi budaya layanan kesehatan dimana praktik yang tidak
 berbasis bukti
 Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
 Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pada
pasien
PERSYARATAN DALAM PENERAPAN EBP

 Dalam menerapkan EBP, perawat harus memahami konsep penelitian dan tahu bagaimana secara akurat mengevaluasi hasil penelitian, Konsep
penelitian meliputi antara lain proses/langkah-langkah dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif, etika penelitian, desain penelitian, dan
sebagainya. Keakuratan dalam mengevaluasi hasil penelitian antara lain dapat ditingkatkan dengan menggunakan panduan yang sesuai dengan
desain dan jenis penelitian yang dilakukan.
 Tingkatan Hirarki dari penerapan EBP Tingkatan hirarki digunakan untuk mengukur kekuatan suatu evidence dari rentang tingkatan rendah
menuju ke tingkatan tinggi
 Laporan fenomena atau kejadian kejadian yang kita temuai sehari - hari
 Studi kasus
 Studi lapangan atau laporan deskriptif
 Studi percobaan tanpa penggunaan teknik pengambilan sampel secara acak (random)
 Studi percobaan yang menggunakan setidaknya ada satu kelompok pembanding dan menggunakan sampel secara acak
 Systemic reviews untuk kelompok bijak bestari atau metaanalisa yaitu pengkajian berbagai penelitian yang ada dengan tingkat kepercayaan yang
tinggi.
MODEL EBP

1. Model Settler
 Merupakan seperangkat perlengkapan atau media penelitian untuk meningkatkan penerapan Evidence Based. 5 langkah dalam Model settler:
 Fase 1: Persiapan.
 Fase 2: Validasi.
 Fase 3: Perbandingan evaluasi dan pengambilan keputusan.
 Fase 4: Translasi dan aplikasi.
 Fase 5: Evaluasi

2. Model 1OWA Model of Evidence Based Practice to Promote Quality Care


 Model EBP 1OWA dikembangkan oleh Marita G. Titler, PhD, RN, FAAN, Model IOWA diaw masalah. Jika masalah mengenai prioritas dari suatu
organisasi tim segera dibentuk. Tim terdiri dari stakeholders, klinisian, staf perawat dan tenaga kesehatan lain yang dirasakan penting untuk diliatkan
dalam EBP. Langkah selanjutnya adalah mensistesis EBP. Perubahan terjadi dan dilakukan jika terdadat cukup bukti yang atau masalah. Pemicu /
masalah ini sebap ocus mendukung untuk terjadinya perubahan. kemudian dilakukan evaluasi dan diikuti dengan diseminasi (Jones dan Bartlett,
2004 : Bemadette Mazurek Melnyk, 2011).
3. Model konseptual Rosswum dan Larrabee Model ini disebut juga dengan model Evidence Based Practice Change
yang terdiri dari 6 langkah yaitu :
 Tahap 1: mengkaji kebutuhan untuk perubahan praktis
 Tahap 2: tentukkan evidence terbaik
 Tahap 3: kritikal analisis evidence
 Tahap 4: design perubahan dalam praktek
 Tahap 5 : implementasi dan evaluasi perubahan
 Tahap 6 : integrasikan dan maintain perubahan dalam praktek
 Model ini menjelaskan bahwa penerapan Evidence Based ke lahan praktek harus memperhatikan latar belakang teori
yang ada, kevalidan dan kereliabilitasan metode yang digunakan serta penggunaan nomenklatur yang standar.
LANGKAH-LANGKAH EPB

 Menumbuhkan semangat menyelidiki


 Menanyakan pertanyaan klinik dengan menggunakan PICO/PICOT format
P : Populasi
I : Intervensi
C : Control / Komparator (Pembanding)
O : Outcome / Hasil yang diharapkan
T : Time frame / Batas waktu
 Mencari dan mengumpulkan bukti-bukti (artikel penelititan) yang paling relevan dengan PICO/PICOT.
 Melakukan penilaian critis terhadap bukti-bukti (artikel penelititan)
 Pertanyaan utama dalam Critical Appraisal adalah
Apakah hasil dari penelitian tersebut valid?
Apakah penelitian tersebut menggunakan metodologi penelitian yang baik?
 Apakah hasil dari penelitian tersebut reliable?

Apakah intervensinya bekerja dengan baik?


Sebesar apa efek dari intervensi tersebut?
 Apakah hasil penelitian tersebut akan membantu dalam melakukan perawatan untuk pasien saya?

Apakah sample penelitiannya mirip dengan pasien saya?


Apakah keuntungannya lebih besar dari pada resikonya?
Apakah intervensi tersebut mudah untuk di implementasikan
 Mengintegrasikan bukti-bukti (artikel penelitian) terbaik dengan salah satu ahli di klinik serta memperhatikan
keinginan dan manfaatnya bagi pasien dalam membuat keputusan atau perubahan
 Clinical expertise (CE)  Ini merupakan bagian yang paling penting dalam proses EBP decision making. 
Contoh: saat follow up untuk evaluasi hasil, CE mencatat bahwa saat treatment kasus acute otitis media first-line
antibiotik tidak effective. Artikel terbaru menyatakan Antibiotik A mempunyai manfaat yang lebih baik dari pada
Antibiotik B sebagai second-line antibiotik pada anak-anak.  Pasien  Jika kualitas evidence bagus dan intervensi
sangat memberikan manfaat, akan tetapi jika hasil diskusi dengan pasien menghasilkan suatu alasan yang membuat
pasien menolak treatment, maka intervensi tersebut tidak bisa diaplikasikan.
 Mengevaluasi outcome dari perubahan yang telah diputuskan berdasarkan bukti-bukti.
 Menyebarluaskan hasil dari EBP
PENERAPAN EBP

 Proses keperawatan merupakan cara berpikir perawat tentang bagaimana mengorganisir perawatan terhadap
individu, keluarga dan komunitas. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dalam proses ini, antara lain
membantu meningkatkan kolaborasi dengan tim kesehatan, menurunkan biaya perawatan, membantu orang lain
untuk mengerti apa yang dilakukan oleh perawat, diperlukan untuk standar praktek profesional,
meningkatkan partisipasi klien dalam perawatan, meningkatkan otonomi pasien, meningkatkan perawatan
yang spesifik untuk masing – masing individu, meningkatkan efisiensi, menjaga keberlangsungan dan koordinasi
perawatan, dan meningkatkan kepuasan kerja (Wilkinson, 2007).
 Dalam proses keperawatan, terdapat banyak aktivitas pengambilan keputusan dari saat tahap pengkajian,
diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
HAMBATAN EBP

Hambatan dari perawat untuk menggunakan EBP penelitian dalam praktik sehari - hari sebagai berikut dikutip
dalam berbagai penelitian, diantaranya (Clifford &Murray, 2001) antara lain :
 Kurangnya nilai untuk penelitian dalam praktek
 Kesulitand alam mengubah praktek
 Kurangnya dukungan administrative
 Kurangnya mentor berpengetahuan
 Kurangnya waktu untuk melakukan penelitian
 Kurangnya pendidikan tentang proses penelitian
 Kurangnya kesadaran tentang praktek penelitian atau berbasis bukti
 Laporan Penelitian/artikel tidak tersedia
 Kesulitan mengakses laporan penelitian dan artikel
 Tidak ada waktu dalam bekerja untuk membaca penelitian
 Kompleksitas laporan penelitian
 Kurangnya pengetahuan tentang EBP dan kritik dari artikel
 Merasa kewalahan
 Lingkungan kerja tidak mendukung dalam usaha mencari informasi hasil penelitian
USAHA MENINGKATNYA EBP

Secara umum, usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan EBP adalah :

 Melakukan penelitian yang berkualitas tinggi


 Melakukan penelitian yang hasilnya relevan dengan kondisi di tempat pemberian asuhan keperawatan
 Mengulang penelitian
 Melakukan kolaborasi dengan perawat praktisi
 Mendesiminasikan hasil penelitian secara luas dan proaktif
 Melakukan komunikasi dengan jelas
 Penelitian yang dilakukan mempunyai implikasi klinis
TERIMAKASIH 

Anda mungkin juga menyukai