Anda di halaman 1dari 44

HUKUM PATEN

KHOLIS ROISAH
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
PATEN

Paten  Patent  Patere (Latin) = “to lay open (for


public inspection)”
Inggris  Letters Patent  keputusan raja
memberikan hak eksklusif tertentu
1474  Republic of Venice  Italia
1623  Inggris  Statute of Monopoly
HUKUM INTERNASIONAL

Paris Convention for the Protection of Industrial


Property  Ratifikasi melalui Keppres no. 24/1979D

Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual


Property Laws (TRIPS) Agreement Establishing
the World Trade Organization (WTO)  UU no.
7/1994
HUKUM NASIONAL

UU no. 6/1989 tentang Paten


UU no. 13/1997 tentang Perubahan atas UU no.
6/1989 tentang Paten
UU no. 14/2001 tentang Paten
UU No 13 tahun 2016
PATEN

Hak eksklusif;
dari Negara kepada Inventor;
Atas hasil invensi di bidang teknologi;
Selama waktu tertentu;
Untuk melaksanakan sendiri invensi; atau
Memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk
melaksanakan
(Pasal 1 Ayat 1 UU Paten 2016)
HAK PATEN

Berdasarkan konsep kepemilikan individu secara


eksklusif  bertujuan mendapat manfaat ekonomi
 terkuat di antara rejim2 HKI lainnya;
Teritorial  tidak ada paten yang berlaku
internasional;
Jangka waktu terbatas;
Berfungsi sebagai reward/incentive?
HAK PATEN

Atas dasar permohonan  First to File v. First


to Invent;
Diajukan ke Direktorat Paten, Ditjen HKI,
Depkum HAM;
Tahapan Penting: Pendaftaran  Pemeriksaan
Formalitas  Publikasi  Pemeriksaan
Substantif  Diberi/Ditolak
INVENSI

Istilah di UU Lama  “Penemuan”


Istilah “Penemuan” dianggap terlalu luas
Invensi  Invention
Invention ≠Discovery
INVENSI

Ide inventor yang dituangkan  bandingkan dengan


“Ciptaan” di HC;
Suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di
bidang teknologi;
Berupa produk atau proses; atau
Penyempurnaan dan pengembangan produk atau
proses
(Pasal 1 Angka 2 UU Paten 2001)
PROSES INVENSI

Eksplorasi invensi

Pengembangan invensi

Penguasaan invensi
BUKAN INVENSI!

 Kreasi estetika;
 Skema;
 Aturan dan mode untuk melakukan kegiatan:
(1) yang melibatkan kegiatan mental;
(2) permainan;
(3) bisnis.
 Aturan dan metode mengenai program komputer;
 Presentasi mengenai suatu informasi
 Discovery penggunaan baru dr produk yg sudah ada;
 Bentuk dari senyawa yang sudah ada
(Pasal 9UU Paten 2016)
INVENSI NON-PATENABLE

Proses atau produk yang pengumuman, penggunaan,


atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, agama, ketertiban umum, atau
kesusilaan;
Metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau
pembedahan yang diterapkan terhadap manusia
dan/atau hewan;
Teori & metode ilmu pengetahuan dan matematika,
makhluk hidup, kecuali jasad renik; atau
proses biologis yang esensial untuk memproduksi
tanaman atau hewan, kecuali proses non- biologis atau
proses mikrobiologis
SYARAT INVENSI

Baru (novelty);

Mengandung langkah inventif (inventive steps);

Dapat diterapkan dalam industri (industrial


applicability)
(
KEBARUAN

Basis  pengungkapan sebelumnya (state of the


art/prior art/prior disclosure)
Titik tolak  tanggal penerimaan (filing
date)/tanggal prioritas (priority date)
Invensi = baru ≠teknologi yang diungkapkan
sebelumnya
Tidak sekedar beda, harus dibandingkan antar
fungsi ciri teknis (technical features)
(Pasal 5 Ayat 1 UU Paten 2016)
PRIOR ART - LITERATUR NON-PATEN

Teknologi yang telah diumumkan;


Di Indonesia atau luar Indonesia;
Tertulis, uraian lisan, melalui peragaan, atau cara
apapun;
Memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan
invensi tersebut;
Tetap harus ada bukti tertulis
GRACE PERIOD KEBARUAN

Paling lama 6 (enam) Bulan:


Pameran resmi atau diakui sebagai resmi
Berskala internasional di Indonesia atau luar
negeri; atau
Berskala nasional di Indonesia
Resmi = diselenggarakan oleh pemerintah
Diakui sebagai resmi = diakui atau memperoleh
persetujuan pemerintah
(Pasal 6 Ayat (1) huruf a UU Paten 2016)
GRACE PERIOD KEBARUAN

Paling lama 6 (enam) Bulan:


Telah digunakan oleh inventornya di Indonesia/di
luar Indonesia;
Dalam rangka percobaan dengan tujuan penelitian
dan pengembangan
Sidang ilmiah (ujian skripsi, thesis/disertasi/karya
ilmiah)
Forum ilmiah (pembahan R&D)
(Pasal 7 Ayat (2) huruf b UU Paten 2016)
GRACE PERIOD KEBARUAN

Paling lama 12 (dua-belas) Bulan:


Telah diumumkan oleh pihak lain secara tanpa
hak;
Secara melanggar kewajiban untuk menjaga
kerahasiaan
LANGKAH INVENTIF

Merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya;


Oleh orang yang mempunyai keahlian teknik
tertentu (person skilled in the art);
Memperhatikan keahlian (state of the art) pada saat
pengajuan permohonan/permohonan pertama kali
TIDAK ADA LANGKAH INVENTIF

Hanya mengubah ukuran dan sebuah produk (mere


change a size);
Hanya membuat produk yang potable (making a
product portable)
Hanya pembalikan bagian (reversal ofpart) invensi
sebelumnya
Hanya perubahan bahan (the change of materiaL
TIDAK MENGANDUNG LANGKAH INVENTIF

Hanya peggantian sebuah benda yang mempunyai


yang sama (the mere substirusi by an equivalent part
orfuncsion)
Hanya mengkombinasikan invensi yang sudah
dikenal (an invention merely combining known and
used inventions);
Hanya menggabungkan sebuah elemen dan sebuah
invensi (an invention simply incorporating an
element of another invensition)
DAPAT DITERAPKAN DALAM INDUSTRI

Dapat dilaksanakan dalam industri sesuai uraian


permohonan
Produk  dapat dibuat secara berulang-
ulang/massal dengan kualitas yang sama;
Proses  dapat dilaksanakan dalam praktik
(Pasal 5 UU Paten 2001)
DAPAT DITERAPKAN DALAM INDUSTRI

Konsep Eropa  industrial applicability


Serupa dengan konsep AS  Usefulness/Utility 
General Utility, Specific Utility, Moral/Beneficial
Utility
Industri harus diartikan secara luas, tidak terbatas
pengertiannya hanya industri modern/pabrik saja
Berhubungan dengan sufficiency of disclosure
PATEN SEDERHANA

Paten produk dan Paten Proses


Produk/alat baru;
Punya kegunaan praktis;
Karena bentuk, konfigurasi, konstruksi, atau
komponennya
Bersifat kasat mata atau berwujud
INVENSI YANG DIKECUALIKAN

 Public-Order  UU, agama, tibum, kesusilaan


 Metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau
pengobatan terhadap manusia dan/atau hewan  Swiss
Style;
 Teori/metode ilmu pengetahuan dan matematika;
 Semua mahluk hidup kecuali jasad renik  Sui Generis:
PVT (UU no.29/2000);
 Proses biologis esensial untuk memproduksi tanaman atau
hewan, kecuali proses non-biologis/proses mikrobiologis
(Pasal 7 UU Paten 2001)
MASA PERLINDUNGAN

Dihitung sejak tanggal penerimaan (filing date)


20 tahun untuk paten biasa
10 tahun untuk paten sederhana
Tidak dapat diperpanjang
(Pasal 8 dan 9 UU Paten 2001)
SUBYEK PATEN

Inventor; atau
Yang menerima lebih lanjut hak inventor yang
bersangkutan
Konsep “inventor” ≠ konsep “pemilik” (owner) 
inventor = hak ekonomi + moral owner = hak
ekonomi semata
Inventor tetap dianggap sebagai pemilik sampai
mengalihkan haknya kepada orang lain
INVENTOR

Kecuali terbukti lain,


seseorang/beberapa orang;
yang pertama kali dinyatakan sebagai inventor
dalam permohonan
(Pasal 11 UU Paten)
JOINT-INVENTORSHIP

Invensi dihasilkan secara bersama-sama  hak


dimiliki secara bersama-sama (Pasal 10 Ayat 2 UU Paten)
Misjoinder  Tidak ikut menghasilkan invensi
namun ikut dianggap sebagai inventor;
Nonjoinder  Ikut menghasilkan invensi namun
tidak dicantumkan sebagai inventor
INVENSI DALAM HUBUNGAN KERJA

 Invensi yang dihasilkan dalam hubungan kerja dimiliki


oleh pemberi kerja;
 Termasuk karyawan yang menggunakan fasilitas
perusahaan meskipun tidak termasuk dlm job-description;
 Inventor tetap berhak atas imbalan layak  ketidak-
sesuaian diputus oleh Pengadilan Niaga
 Tidak menghapuskan Hak Moral
 EMPLOYEE INVENTIONS
(Pasal 12 UU Paten)

 Lihat Doktrin Hired to Invent/Shops Rights (USA)


HAK PEMAKAI TERDAHULU

Pihak yang melaksanakan invensi saat invensi tsb


dimohonkan paten tetap berhak melaksanakan
invensi tsb sebagai pemakai terdahulu;
Harus dengan itikad baik, tidak menggunakan
pengetahuan yg didapat dari dokumen pengajuan
paten invensi tersebut;
Diberikan atas permohonan tertulis disertai bukti
Tdk bisa bisa lisensi
Tdk mempunyai hak melarang pihak lain
(Pasal 15,16,dan 17 UU Paten)
LINGKUP HAK EKSKLUSIF PEMEGANG PATEN

 Melaksanakan paten yang dimiliki; dan


 Melarang pihak lain tanpa persetujuannya:
membuat,menggunakan,menjual,mengimpor, menyewakan,
menyerahkan,menyediakan untuk dijual atau disewakan atau
diserahkan produk yang diberi paten;
 Dalam hal paten proses mencakup melarang menggunakan proses
produksi yang diberi paten untuk membuat barang;
 Pada paten proses larangan impor hanya produk yang semata-mata
dihasilkan dari penggunaan paten-proses yang dimilikinya
(Pasal 16 Ayat 1 dan 2 UU Paten)

 TIDAK MENTOLERIR INDEPENDENT CREATION ATAU REVERSE


ENGINEERING
FAIR USE

Pelaksanaan paten untuk kepentingan pendidikan,


penelitian, percobaan;
Tanpa merugikan kepentingan yang wajar dari
pemegang paten  tidak mengarah ke eksploitasi
komersial
(Pasal 16 Ayat 3 UU Paten)
PENGALIHAN PATEN

 Paten dapat dialihkan baik sebagian atau seluruhnya


karena:
- Pewarisan;
- Hibah;
- Wasiat;
- Wakaf
- Perjanjian Tertulis; atau
- Sebab lain yang dibenarkan UU
 Pengalihan wajib dicatat dan diumumkan  Belum
ada Keppres yang mengatur
 Tidak menghapuskan Hak Moral
(Pasal 74 UU Paten)
LISENSI

Hanya memberikan hak kepada pihak lain untuk


menikmati manfaat ekonomi, tidak mengalihkan
hak itu sendiri;
Tidak boleh memuat ketentuan yg dapat
merugikan kepentingan perekonomian Indonesia
langsung/tak langsung;
Harus dicatatkan dan diumumkan;
Kalau tidk dicatatkan tdk mempunyai akibat
hukum thd pihak ke 3
(Pasal 76-79 UU Paten)
LISENSI WAJIB

Diberikan atas dasar permohonan;


Hanya setelah lewat 36 bulan dari tanggal pemberian
paten;
Hanya dengan alasan paten tidak dilaksanakan atau
dilaksanakan tidak sepenuhnya di Indonesia/
Pelaksanaan paten merugikan masyarakat/
Pelaksanaan paengembangan dari paten yg masih aktif
Bersifat non-eksklusif
Dikenakan biaya
(Pasal 81-83 UU Paten)
PERMOHONAN LISENSI WAJIB

Pemohon mempunyai bukti kemampuan melaksanakan


paten
Upaya mendapatkan lisensi dalm waktu 12 bln
Pelaksanaan lisensi dalm skala ekonomi yang layak
Memberikan manfaat kpd masyarakat
Pemeriksaan oleh Tim Ad-hoc
Tim Ad-hoc meminta keterangan pemegang paten(30 hr)
Keputusan : memberi/menolak (90 hr)/menunda (12hr)
Menentukan royanti
KEPUTUSAN PERMOHONAN LISENSI WJIB

Lisensi-wajib bersifat non-eksklusif;


alasan pemberian Lisensi-wajib; bukti, termasuk
keterangan atau penjelasan sebagai dasar pemberian
Lisensi-wajib;
jangka waktu Lisensi-wajib;
besar Imbalan yang harus dibayarkan Penerima Lisensi-
wajib kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;
syarat berakhirnya Lisensi-wajib dan hal yang dapat
membatalkannya;
lingkup Lisensi-wajib untuk seluruh atau sebagian dari
Paten yang dimohonkan Lisensi-wajib; dan
hal-hal lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan
para pihak yang bersangkutan secara adil.
LISENSI WAJIB PRODUK PHARMASI

Menteri dapat memberikan Lisensi-wajib untuk


memproduksi produk farmasi yang diberi Paten di
Indonesia guna pengobatan penyakit pada manusia.
Menteri dapat memberikan Lisensi-wajib atas impor
pengadaan produk farmasi yang diberi Paten di
Indonesia tetapi belum dapat diproduksi di Indonesia
guna pengobatan penyakit pada manusia.
Menteri dapat memberikan Lisensi-wajib untuk
mengekspor produk farmasi yang diberi Paten dan
diproduksi di Indonesia guna pengobatan penyakit pada
manusia berdasarkan permintaan dari negara
berkembang atau negara belum berkembang.
PELAKSANAAN PATEN OLEH PEMERINTAH

 Pasal 99-103 UU Paten  PP no. 27 tahun 2004


 Memiliki arti penting bagi pertahanan keamanan
negara  senjata, amunisi, bahan peledak militer,
senjata kimia/biologis/nuklir, peralatan militer
 Kebutuhan sangat mendesak untuk kepentingan
masyarakat  obat2an untuk penyakit mewabah,
prod.kimia untuk pertanian, obat2 untuk hewan 
Keppres 83/2004 untuk obat2an retroviral
 Ditetapkan dengan Keputusan Presiden  bersifat
final
 Pemegang paten mendapatkan imbalan wajar 
dapat digugat ke P.Niaga
PENYELESAIAN SENGKETA

Sengketa Alas Hak Subyek Paten  Gugatan


ke Pengadilan Niaga (Pasal 117 UU Paten);
Sengketa Pelanggaran Paten (Infringement)
 Gugatan Ganti Rugi  Pengadilan Niaga
(Pasal 118 UU Paten)
Penetapan Sementara Pengadilan (Pasal 124 UU
Paten)
Pidana (Pasal 130-132 UU Paten)  Delik Aduan
(Pasal 133 UU Paten)  32 Kasus dari tahun 1994-
2006
Arbitrase dan ADR (Pasal 123 UU Paten)
PEMBATALAN PATEN

 Batal demi hukum  pemegang paten lalai membayar


biaya pemeliharaan 3 tahun berturut-turut (Pasal 88-
89 UU Paten);
 Batal atas permohonan pemegang paten  sebagian
atau seluruhnya  diajukan kepada Ditjen HKI (Pasal
90 UU Paten);
 Batal berdasarkan gugatan  diajukan ke Pengadilan
Niaga (Pasal 91-94 UU Paten)  7 kasus di
Pengadilan Niaga JakPus periode 2002-2005
 Membatalkan segala Akibat Hukum yang berkaitan
dengan Paten (pasal 95 UU Paten)
BEBERAPA ISU PENTING

Paten dan Pengetahuan Tradisional 


Misappropriation  Lemahnya sistem
pemeriksaan kebaruan vs Ketiadaan database PT
sebagai Prior Art
Paten untuk Metode Bisnis  Kasus Garuda v.
Bagus Tanuwidjaya
Masih rendahnya permohonan paten lokal 
tingkat teknologi masyarakat yang masih rendah v
kurang kesadaran pentingnya paten
Sekian dan Terima-kasih!