Anda di halaman 1dari 13

CERREBROVASCULAR ACCIDENT (CVA)

INFARK
KELOMPOK 4
DAN BLEDDING
1. Nadia Yolanda NIM. 1711B0051

2. Ni’matur Rohmah NIM. 1711B0052

3. Siti Nur Aisyah NIM. 1711B0069

4. Polce Onisius Niuflapu NIM. 1811B0096

5. Asriyani Cristin Taek NIM. 1811B0097


DEFINISI
Stroke atau Cerebrovascular Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi
otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak.
(Brunner & Suddart, 2002). Stroke hemoragik adalah stroke karena
pecahnya pembuluh darah sehingga menghambat aliran darah yang normal
dan darah merembes ke dalam suatu daerah otak dan merusaknya.
(Pudiastuti, 2011). Stroke iskemik adalah stroke yang disebabkan karena
cabang pembuluh darah di notak mengalami penyumbatan yang biasanya
diakibatkan oleh kolesterol dan racun dalam tubuh seperti radikal bebas.
ETIOLOGI
a. Perdarahan Intraserebral
b. Perdarahan Subarakhnoid
c. Perdarahan Serebral
Faktor resikonya :
• Hipertensi
• Penyakit kardiovaskuler
• Diabetes Meletus
• Merokok
• Alkohol
• Pengkatan kolesterol
• Obesitas
• Arterosklerosis
• Kontrapsesi
Patofisiologi
Otak sangat tergantung pada oksigen dan tidak mempunyai
cadangan oksigen . Jadi aliran darah kesetiap bagian otak
terhambat karena trombus dan embolus , maka mulai terjadi
kekurangan oksigen kejaringan otak . Kekurangan selama 1
menit dapat menggarah pada gejala yang dapat pulih seperti
kehilangan kesadaran .Selanjutnya kekurangan oksigen dalam
waktu yang lebih lama dapat menyebabkan nekrosisi
mikroskopin neuron - neuron . Area nekrotik kemudian disebut
infark. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin akibat
iskemia mum ( karena henti jantung atau hipotensi ) atau
hipoksia karena akibat proses anemia dan kesukaran untuk
bernafas .
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis stroke tergantung dari sisi atau bagian
mana yang terkena, rata-rata serangan, ukuran lesi dan adanya
sirkulasi kolateral. Pada stroke akut geja klinius meliputi :
• Kelumpuhan wajah atau anggota badan sebelah
( hemiparesis ) yang timbul secara mendadak
• Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
• Penurunan kesadaran ( konfusi , delirium, letargi, stupor
atau koma )
• Afasia ( kesulitan dalam bicara )
• Disatria ( bicara cedal atau pelo )
• Gangguan penglihatan, diplopia
• Ataksia
KOMPLIKASI
a. Hipoksia serebral

b. Penurunan aliran darah serebral dan luasnya area cedera

c. Embolisme serebral
Pemeriksaan Penunjang
• Angiografi serebral

• CT scan  

• Lumbal pungsi

• MRI (Magnetic Imaging Resonance)  

• USG Doppler  

• ECG  

• Sinar x tengkorak

• Pemeriksaan sinar X toraks

• Pemindaian dengan Positron Emission Tomography (PET)


Penatalaksanaan
Penatalaksanaan umum  :
• Pada fase akut
• Fase rehabilitasi
• Pembedahan

Penatalaksanaan Medis :
• Trombolitik (streptokinase)
• Anti platelet / anti trombolitik (asetosol, ticlopidin, cilostazol, dipiridamol)
• Antikoagulan (heparin)

Penatalaksanaan Khusus
• Atasi kejang (antikonvulsan)
• Atasi tekanan intracranial yang meninggi 9 manitol, gliserol, furosemid, intubasi, steroid, dll)
• Atasi dekompresi (kraniotomi)
NARASI KASUS
Tn. M, usia 54 tahun ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta tanggal 11 April
2015 di rawat di ruang rawat inap dengan kondisi keadaan tidak sadar.
Klien tiba-tiba tidak sadar, tidak bisa dibangunkan pada saat tidur dalam
kondisi ngorok, sebelumnya tidak ada keluhan nyeri kepala, tidak ada
muntah, tidak ada kejang sebelumnya, nilai GCS E1, M2, V1, RR 28
x/menit , TD: 170/100 mmHg, heart rate 90 x/menit, S: 37,5°, RR:
28x/menit, pernafasan cuping hidung, kondisi pupil keduanya miosis, reflek
cahaya +/- , tidak ada terpasang mayo dan lidah tidak turun, terdapat retaksi
otot intecosta, PCH (+), CRT < 3 detik. klien mendapatkan Brainact /12
jam, Aliminamin F /12 jam, Ranitidin /12 jam, dan infus RL 20 t/m, Pada
tanggal 12 April 2015 didapatkan hasil laboratorium; Hb: 17,2 gr/dl, Ht:
44%, Eritrosit: 5,04 juta/ul, leukosit: 8,4 rb/mmk, trombosit: 84 rb/mmk,
Kreatinin 1,5 mg/dl, Albumin 3,6 mg/dl, ureum: 15 mg/dl, natrium: 140
mEq/L, kalium: 3,6 mEq/L, klorida: 107 mEq/L, saturasi O2: 98%. Hasil
pemeriksaan EKG kesan ada gambaran ST depresi inferior, hasil rongsen
kesan Cor dan pulmo dalam batas normal, tidak ada menunjukan infellrate
ANALISA
DATA
No. Data Etiologi Masalah
1 DS : Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan
klien tiba-tiba tidak sadar, tidak bisa dibangunkan otak
pada saat tidur dalam kondisi ngorok, sebelumnya
tidak ada keluhan nyeri kepala, tidak ada muntah,
tidak ada kejang sebelumnya, klien dalam
keadaan tidak sadar
DO:
Kesadaran soporokoma, GCS E1 M2 V1, pupil
miosis ( 2 mm ), reaksi pupil +/-

2 DS : - Pola nafas tidak efektif


DO:
TTV
RR : 28 x/menit
Pernafasan cuping hidung, GCS E1 M2 V1,
terdapat retaksi otot intecosta

3 DS : Defisit perawatan diri : makan, mandi,


DO : berpakaian, eliminasi
- Pasien dalam keadaan tidak sadar
GCS E1 M2 V1
no Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi

1 Risiko Klien 1. Gelisah tidak ada 1. Observasi Tanda – tanda vital


ketidakefe menunjukkan 2. Tingkat kesadaran membaik 2. Observasi nyeri pada kepala
3. Tidak ada peningkatan TIK 3. Observasi tingkat kesadaran (nilai GCS 15 = E4V5M6)
ktifan perfusi 4. Posisi pasien hed up (15º-30º)
4. Tingkat kesadaran compos mentis
perfusi jaringan 5. Monitor tekanan intracranial
5. Perbaikan respon motorik / sensorik
jaringan adekuat 6. Pupil isokor 6. Edukasi keluarga tentang kegawat daruratan dan risiko
otak 7. Releks cahaya +/+ cedera
8. Nadi dalam batas normal (60- 7. Terapi obat- obatan : anti konvulsan (anti kejang),
100x/menit) antikoagulan (anti penggumpalan darah), trombolitik
( melarutkan gumpalan darah) dan diuretic
Tekanan darah dalam batas normal (90/60
mmHg – 140/90 mmHg)

2 Pola nafas Klien 1. Tidak ada pernafasan cuping hidung 1. Observasi RR (nilai RR normal : 12-24 x/menit)
tidak menunjukkan 2. Tidak ada suara nafas tambahan 2. Atasi suara mendengkur yang terjadi karena jatuhnya pangkal
efektif pola nafas 3. Tidak ada dispnea saat istirahat
4. Tidak ada penggunaan otot bantu lidah
efektif, tingkat
nafas 3. Manajemen jalan napas :
kesadaran 5. Frekuensi pernafasan teratur
membaik. - Posisi pasien semifowler
RR dalam kisaran normal (12-24x.menit) - Auskultasi suara nafas
1. Monitor pernafasan
- Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
- Catat suara nafas tambahan
- Monitor gerakan rongga dada
3 Defisit Klien dapat 1. Observasi kebutuhan perawatan diri
1. Tidak ada hambatan saat
perawatan diri menunjukkan
: makan, kemampuannya berpakaian klien
mandi, untuk melakukan
2. Respon saat kandung kemih penuh 2. Monitor kemampuan klien dalam
berpakaian, tindakan perawatan
eliminasi diri tidak terganggu pemenuhan kebutuhan perawatan diri
3. Respon dorongan untuk buang air 3. bantu pasien untuk memenuhi
besar tidak terganggu kebutuhan perawatan diri
4. Tidak ada hambatan saat masuk 4. Edukasi keluarga tentang pentingnya
dan keluar dari kamar mandi perawatan diri dan menganjurkan
5. Tidak ada hambatan saat keluarga untuk memberikan bantuan
melakukan aktvitas makan dan kepada klien
minum
Tidak ada hambatan saat melakukan
aktivitas mandi

TERIMAKASIH