Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

OSTEOARTRITIS
SPINE
Pembimbing : dr. Carles Siagian, Sp.OT (K)
Spine

Disusun oleh : Selly Afriani (1865050017)


KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA T.K.I.R SAID SUKANTO
PERIODE 18 OKTOBER 2021 – 1 JANUARI 2022
1 PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

• Osteoarthritis (OA) merupakan proses degeneratif kronis dengan penyebab


multifaktorial yang ditandai dengan hilangnya tulang rawan sendi, hipertrofi pada tepi
tulang, sklerosis subkondral dan perubahan biokemikal dan morfologi membran
sinovial dan kapsul sendi.
• Hal ini menyebabkan nyeri sendi, pergerakan yang terbatas, deformitas dan
disabilitas, dan akhirnya menyebabkan keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari.
• OA dikenal juga dengan arthritis degeneratif yang biasanya terjadi pada tangan,
kaki, tulang belakang, dan sendi besar penopang berat badan seperti pinggul dan
lutut.
• Kebanyakan kasus OA tidak diketahui penyebabnya dan ini disebut dengan OA
primer. OA primer kebanyakan berhubungan dengan proses penuaan, sedangkan
OA sekunder disebabkan oleh penyakit atau keadaan lainnya.
LATAR BELAKANG

• Prevalensi OA meningkat sesuai dengan umur dan umumnya lebih sering mengenai
wanita daripada laki-laki. OA diperkirakan sebagai penyebab keempat terbanyak
disabilitas di dunia.
• Prevalensi OA lumbal diperkirakan cukup tinggi, berkisar antara 40-85%. Proses
degenerasi pada tulang belakang sering diklasifikasikan sebagai OA (penyempitan
ruang diskus dan osteofit) namun, secara anatomi sendi faset merupakan sendi
synovial satu satunya pada tulang belakang yang memiliki proses patologis yang
sama dengan sendi pada umumnya.
TINJAUAN
2 PUSTAKA
OSTEOARTRITIS

• OA merupakan penyakit sendi degeneratif yang melibatkan kartilago dan jaringan disekitarnya.
• Fungsi dari kartilago itu sendiri adalah untuk melindungi ujung tulang agar tidak saling
bergesekan ketika bergerak. Pada osteoarthritis, kartilago mengalami kerusakan bahkan
bisa sampai terkelupas sehingga akan menyebabkan tulang dibawahnya saling

bergesekan, menyebabkan nyeri, bengkak, dan terjadi kekakuan sendi.


• Lokasi sendi yang paling sering terkena adalah lutut, panggul, tangan, kaki, dan spinal. OA
menyerang area fokal dalam sendi. Pada awalnya hanya area terlokalisir yang terkena,
meskipun akhirnya dapat menyebar ke seluruh sendi.
ANATOMI SPINE

Gambar 1. Anatomi Lumbal Spinalis 7


ANATOMI SPINE

Gambar 2. Anatomi sendi faset dan diskus intervertebralis. Pada setiap level spinal,
sepasang sendi faset membentuk kompleks tiga sendi atau spinal motion segment 8
ANATOMI SPINE

Gambar 3. Pergerakan lumbal spinalis. (A) Fleksi (side) lateral.


(B) Fleksi/ekstensi. (C) Rotasi
9
ANATOMI SPINE

Gambar 4. Gambaran skematis menunjukkan titik kontak antara faset superior dan inferior selama pergerakan fleksi/ekstensi. Faset superior

mengalami kerusakan terutama pada bagian superior selama fleksi, (A) faset inferior memberikan tekanan maksimal. Faset inferior

mengalami kerusakan tulang rawan pada bagian superior dan inferior selama ekstensi.
10
ANATOMI SPINE

Gambar 5. Beban pada sendi faset lumbal pada posisi berdiri tegak.

11
EPIDEMIOLOGI

• Prevalensi OA di AS pada usia diatas 65 tahun, hanya


50% memberikan gambaran radiologis sesuai
Osteoartritis dengan perbandingan jenis kelamin 10%
pria dan 18% wanita.

• Di Indonesia prevalensi OA lutut yang tampak secara


radiologis mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada
wanita yang berumur antara 40-60 tahun.
FAKTOR RESIKO

Usia Jenis Kelamin Obesitas

Pekerjaan (duduk Malalignment


Degenerasi Diskus
lama atau angkat Anatomi (skoliosis
Intervertebralis
berat berulang) atau hiperlordosis)
PATOGENESIS

• Tulang rawan hialin yang normal terbentuk dari kondrosit yang terbenam dalam matrik
ekstraselular dimana nantinya akan terisi oleh air, kolagen tipe 2 dan proteoglikan. Tulang
rawan tetap stabil dengan adanya degenerasi dan regenerasi aktif yang seimbang.
• Dalam keadaan normal, kondrosit artikular mempertahankan keseimbangan dinamis
antara sintesis dan degradasi komponen extracellular matrix (ECM), termasuk kolagen
tipe 2 dan aggrekan, yang merupakan proteoglikan terbanyak pada tulang rawan
artikular.
• Pada keadaan osteoarthritis (OA), gangguan keseimbangan matrik ini menyebabkan
hilangnya jaringan tulang rawan yang progresif, ekspansi klonal kondrosit pada area-area
yang mengalami deplesi, induksi stres oksidatif pada tingkat molekular, dan akhirnya
apoptosis sel
PATOGENESIS

• Pada beberapa factor risiko akan menyebabkan degenerasi matriks dan tulang rawan dan
replikasi kondrosit aktif dengan peningkatan biosintesis dan mengakibatkan suatu keadaan
homeostasis yang dikenal dengan OA terkompensasi, dimana perbaikan dan degenerasi dalam
keadaan seimbang.
• Setelah beberapa tahun, proses perbaikan menjadi berkurang. Hal ini mengakibatkan proses
degradasi tulang rawan yang tidak terbendung yang menyebabkan OA progresif.
• Pada saat ini, OA diketahui sebagai proses penyakit yang mengenai seluruh struktur sendi
termasuk tulang rawan, membran sinovial, tulang subkondral, ligamen dan otot-otot periartikular.
• Semua perubahan diatas menimbulkan proses inflamasi, nyeri dan kerusakan struktural yang

mengakibatkan hilangnya fungsi yang normal


MANIFESTASI KLINIS

• Gejala klinis yang berhubungan dengan sendi faset biasanya berupa nyeri punggung
lokal dan kadang disertai dengan radiasi ke ekstremitas bawah.

• Nyeri menjalar dari sendi faset perlu dibedakan dengan nyeri radikular yang
sebenarnya yang disebabkan oleh kompresi atau iritasi pada akar saraf.

• Nyeri radikular cenderung menjalar jauh sampai daerah ekstremitas distal


dibandingkan nyeri sendi faset lumbal, dan dapat disertai dengan defisit neurologis
seperti hilangnya fungsi sensorik dan motorik, atau hilangnya reflek- reflek
MANIFESTASI KLINIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Pemeriksaan
Radiologi Laboratorium
PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Contoh gambaran sendi faset: A. CT, B. MRI, C. radiografi oblique


PEMERIKSAAN LABORATORIUM

• Tes darah dan urin biasanya menunjukan hasil yang normal, dan analisis
cairan sinovial kadang menunjukan hasil yang abnormal namun tidak
spesifik.

• Pemeriksaan cairan tubuh (darah, urin, cairan sinovial) dikerjakan untuk


mengeksklusi bentuk lain dari arthritis dan mengidentifikasi kelainan
metabolik yang menjadi penyebab OA.
TATALAKSANA

Non
Farmakologi
Farmakologi

Operatif
NON FARMAKOLOGI

• Edukasi
• Perubahan gaya hidup
• Kontrol Berat Badan
• Penggunaan brace atau penyangga punggung
FARMAKOLOGI

Acetaminophen

OAINS COX-2 selektif

Analgetik topikal (cream capsaicin 0,025% dan OAINS lokal lain)

Injeksi kortikosteroid intra-artikuler atau peri-artikuler


OPERATIF

• OA
3 PENUTUP
KESIMPULAN
• Osteoarthritis (OA) spinal melibatkan sendi faset, atau yang disebut juga dengan
sendi zygapophyseal.
• Sendi diarthrodial yang jumlahnya sepasang pada sisi posterior dari kolumna
vertebralis merupakan satu-satunya sendi sinovial yang sebenarnya antara level
spinal yang berdekatan. Bersama dengan diskus intervertebralis membentuk “spinal
motion segmen” atau kompleks tiga sendi.
• OA sendi faset merupakan penyakit hilangnya tulang rawan artikuler dan hipertrofi
tulang yang prosesnya melibatkan keseluruhan sendi, termasuk tulang subkondral,
tulang rawan, ligament, kapsul, sinovium, dan otot paraspinal serta jaringan lunak
periartikuler.
• OA sendi faset merupakan penyebab yang sering dari nyeri punggung bawah.
KESIMPULAN
• Gambaran radiografi dari OA sendi faset meliputi tanda-tanda degeneratif dan
proliferatif, diantaranya penyempitan ruang sendi, erosi tulang subkondral, kista
subkondral, formasi osteofit, dan hipertrofi prosesus artikularis.

• Metode diagnostik yang biasa digunakan untuk mengevaluasi degenerasi pada sendi
faset adalah radiografi standar, CT, dan MRI.

• Tatalaksana OA sendi faset terdiri dari intervensi nonfarmakologi, farmakologi dan


operatif dengan tujuan :
1) mengontrol nyeri pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien,
2) mengurangi keterbatasan fungsional dan disabilitas
3) meningkatkan kualitas hidup
4) mencegah pengobatan yang berlebihan yang potensial memberikan efek samping
dari obat-obatan.
TERIMA KASIH

28