Anda di halaman 1dari 6

Rasio

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa ekonomi Indonesia tahun 2016 tumbuh 5,03 persen atau
lebih tinggi dibanding capaian 2015 sebesar 4,88 persen. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 ini tidak
mencapai target pemerintah sebesar 5,3%,bank indonesia sebesar 5,2% dan bank dunia sebesar 5,4%
Salah satu penyebab melesetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2016 adalah rendahnya
pengeluaran konsumsi pemerintah yang turun 1,05 persen dari tahun sebelumnya. Penyebab melesetnya
target tersebut salah satunya disebabkan oleh menurunnya bantuan sosial pemerintah yakni pada tahun
2015 sebesar 186 T. di tahun 2016 menurun menjadi 174,2 T. hal ini menyebabkan menurunnya daya beli
masyarakat,dalam artian masyarakat yang/akan menerima bantuan. Disamping itu juga subsidi mengalami
penurunan dari 186 T di tahun 2015 menurun menjadi 174,2 T di tahun 2016. belanja modal menurun dari
215 T di tahun 2015 menjadi 166,4 T di tahun 2016. dan terjadi defisit anggaran sebesar 2,5%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa Ekonomi Indonesia tahun 2017 berhasil tumbuh 5,07
persen ini lebih baik dari tahun sebelumnya di 2016 yang hanya sebesar 5,02%. Akan tetapi pertumbuhan
ekonomi di tahun 2017 ini tetap meleset dari target pemerintah dan bank indonesia sebesar 5,2% .
Melesetnya pertumbuhan ekonomi yang telah diproyeksikan oleh bank indonesia dan bank dunia
disebabkan oleh menurunnya subsidi yang diberikan pemerintah sebesar 14,1 T pada tahun 2017. ditahun
2016 174,2 T dan di tahun 2017 160,1 T. serta defisit anggaran masih berada pada angka 2,4% dari PDB
atau sebesar 330,2 T, hal ini akan menyebabkan konsumsi tidak rutin pemerintah akan mengalami
penurunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018
merupakan pertumbuhan terbaik dalam 4 tahun terakhir yaitu sebesar 5,17 persen. Namun demikian,
kondisi perekonomian yang lebih baik ini masih memicu kontroversi karena meleset dari target.
Pemerintah sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 sebesar 5,4 persen,
direvisi menjadi 5,2 persen dan Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara
keseluruhan tahun 2018 sekitar 5,1%. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dipengaruhi
berbagai hal, antara lain harga komoditas yang mengalami penurunan. Selain itu, tren pelemahan
ekonomi dunia juga ikut mempengaruhi Indonesia, seperti perang dagang AS-China, kebijakan The Fed,
harga minyak dunia, ketegangan di Timur Tengah, pertumbuhan ekonomi China yang melemah, harga
komoditi dunia, proses pemakzulan Presiden Donald Trump, dan masih banyak lagi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen di tahun 2019 lebih rendah dari target
pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,2 persen. Bahkan menjadi pertumbuhan
ekonomi yang terendah selama empat tahun terakhir. Kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi
Indonesia tidak lepas dari berlanjutnya kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya
tumbuh sebesar 2,9 persen. Faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti perseteruan dagang antara
Amerika Serikat dan Tiongkok, peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), dan beberapa kejadian
dari beberapa negara Hong Kong, Iran, dan Irak yang mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Dari
dalam negeri, kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari sisi
penggunaan, kinerja ekspor impor Indonesia mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Kondisi serupa juga dialami sektor investasi. Meskipun demikian, perekonomian Indonesia
masih diperkuat dengan stabilnya permintaan domestik dengan didukung oleh inflasi yang terjaga. Selain
itu, momentum pemilu 2019 turut membantu perekonomian. Dari sisi sektoral, penurunan kinerja
perekonomian banyak terjadi di sektor primer dan sekunder. Lesunya sektor pertambangan serta
menurunnya produktivitas sektor industri menjadi salah satu faktor penyumbangnya. Sementara sektor
tersier tumbuh menguat, diantaranya sektor informasi dan komunikasi, sektor jasa keuangan dan asuransi
serta sektor real estate.
Covid-19 memberikan pukulan yang sangat telak terhadap kondisi perekonomian nasional. Sepanjang
sejarah perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi 2019, pada tahun 2020 inilah perekonomian
Indonesia mengalami kontraksi perekonomian yang cukup dalam yaitu -2,07 persen. Bahkan selama tahun
2020, ekonomi Indonesia dapat dikatakan mengalami resesi ekonomi karena mengalami kontraksi
ekonomi selama 3 kuartal berturut-turut sejak kuartal kedua tahun 2020 hingga akhir tahun 2020. Angka
pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi pertumbuhan yang negatif pertama sejak krisis ekonomi
tahun 1998. Kondisi ini dipengaruhi oleh dampak dari adanya pandemi Covid-19 yang menurunkan kinerja
sektor-sektor di dalam negeri, serta melemahkan permintaan baik dari dalam maupun luar negeri. Bila
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara mitra dagang utama Indonesia,
pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dikatakan masih cukup lebih baik dibandingkan Amerika Serikat,
Singapura, Hongkong, dan Uni Eropa. Namun, dikatakan masih tidak lebih baik dari Korea Selatan, dan
bahkan Vietnam serta Tiongkok yang angka pertumbuhan ekonominya positif.
 rencana anggaran pemerintah untuk program vaksinasi nasional, penanganan pandemi Covid-19,
dukungan kepada masyarakat hingga program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).