Anda di halaman 1dari 50

KETRAMPILAN

DASAR KONSELING
Tiara Kurnia Putri Elwan, M.Psi, Psikolog
Siapa itu konselor?

– koselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan


masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan, dan
persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.
– Selain itu peran konselor adalah fasilitator dan reflektor. Disebut fasilitator karena
konselor memfasilitasi atau mengakomodasi konseli mencapai pemahaman diri.
– Disebut reflektor karena konselor mengklarifikasi dan memantulkan kembali
kepada klien perasaan dan sikap yang diekspresikannya terhadap konselor sebagai
representasi orang lai
Sebelum Menjadi Konselor sebaiknya kenali dirimu dulu.

-Bagaimana keadaan emosiku saat ini?


-Bagaimana reaksiku saat merasakan suatu emosi?
-Bagaimana aku memandang permasalahan?
*Relate dengan pertanyaan : Pengaruh budaya dalam
menilai dan merespon masalah
-Siapkah aku untuk mendengarkan?
EMOSI
emosi merujuk pada suatu
perasaan dan pikiran yang khas,
suatu keadaan biologis dan
psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak

Emosi pada dasarnya adalah


dorongan untuk bertindak

Masalah kemudian muncul saat


keselarasan antara emosi dan
cara mengekspresikan nya tidak
tepat
ACTIVE
LISTENING
WITH
EMPATHY
Mendengarkan aktif berarti
konselor menaruh minat pada
persoalan konseli, dan peduli
dengan apa yang dipikirkan
atau dirasakannya
Express
Empathy
PROSEDUR KONSELING
1. Opening
– Pada awal pertemuan konseling, Konselor
membuka pertemuan dengan menciptakan
rapport (hubungan baik/hubungan yang
erat antara konselor dengan klien),
menerima dengan tulus, bersikap hangat
dan memperhatikan secara mendalam.
– Opening dilakukan dengan cara
menanyakan topik-topik netral. Topik
netral adalah topik umum, yang tidak
berkenaan dengan masalah klien, seperti
identitas klien (contohnya: nama, alamat,
keluarga, asal daerah), kesukaan/hobi,
berita-berita aktual di televisi atau di
media cetak.
–Tujuan dari keterampilan opening
adalah klien dapat percaya pada
konselornya, konselor dapat
menghangatkan suasana karena
bisa jadi klien takut atau grogi
ketika menemui konselor.
Contoh Opening :

– Verbal :
“Senang sekali saya bisa bertemu dengan saudara pagi
ini”, “Siapa nama Saudara?”, “Bagaimana kabar saudara
hari ini?”, “Berapa jumlah saudara Anda?”, “Apakah Anda
melihat televisi pagi ini, Apa berita yang paling Anda?”
– Non Verbal : Tersenyum, Gerak tangan mempersilahkan
masuk/mempersilahkan duduk, menjabat tangan klien.
2. Acceptance

– Keterampilan Acceptance berarti konselor


dapat menerima klien apa adanya walaupun
tidak berarti menyetujuinya. Menurut Carl
Rogers, kondisi ini disebut pula dengan
Uncondition Positive Regard, yaitu
menerima/menghargai tanpa syarat atau
tanpa berbuat baik terlebih dahulu.
– Konselor menerima klien tanpa melihat status klien,
kondisi sosial ekonomi klien, permasalahan klien,
perbuatan baik/buruk klien.
– Kesalahan yang sering dilakukan oleh kebanyakan
orang adalah ketika seseorang mencurahkan apa
yang telah dilakukan dan hal tersebut buruk
menurut pandangan moral masyarakat dan agama,
secara langsung kita lalu menyalahkannya.

*Relate dengan pertanyaan : Pengaruh budaya


dalam menilai dan merespon masalah
contoh
– Non Verbal :
Menganggukan Kepala,
“hem…hem…”
– Verbal :
“Saya mengerti apa yang Anda katakan”
“Saya dapat memahami apa yang Anda rasakan.”
“Saya bisa merasakan apa yang Anda rasakan.”
“Berada di posisi Anda saat ini pasti cukup sulit ya.”
“Saya bisa mengikuti jalan pikiranmu.”
3. Restatement
– Konselor mengulangi sebagian atau seluruh pernyataan klien, tidak menambah
atau mengurangi maknanya.
Setiap klien menceritakan masalahnya (setiap bagian topik), sebaiknya
langsung di restatement. Jadi tidak menunggu klien selesai bercerita.
– Karena konselor tidak dimungkinkan untuk menulis, dan tidak mungkin
konselor mengingat semua perkataan klien.
– Restatement sebagai bagian inti dari penyataan klien.
4. Reflection of Feeling
– Konselor menyatakan perasaan atau sikap yang ada di balik
pernyataan klien. Kata-kata perasaan yang sesuai dengan
perasaan klien sebenarnya tidak terlalu dalam atau terlalu
lemah.
– Maksud dari teknik ini adalah untuk memantulkan perasaan
yang tersembunyi sehingga menjadi eksplisit dan jelas bagi
klien.
– Keterampilan ini menjadi penting bagi konselor karena :
A.Klien bisa jadi tidak memahami apa yang
dirasakannya yang menjadi pantulan atas
permasalahannya yang dialami, sehingga
konselor perlu memberitahukan kepada
klien bagaimana dan apa yang sebetulnya
apa dirasakan klien. Seperti sedih, kecewa,
marah, kesal, bimbang, bingung, gundah.
b. Konselor pada saat itu melakukan interpretasi atas
perasaan klien, bisa jadi interpretasi konselor
berbeda dengan kondisi yang dialami klien. Dengan
melakukan refleksi, konselor dan klien memahami
apa yang dirasakan oleh klien.
Biasanya keterampilan ini diawali dengan kata-kata
seperti berikut :
– Kalau tidak salah…,
– Kalau saya boleh menafsirkan perasaan Anda…
– Tampaknya Anda sedang mengalami…,
– Dari cerita Anda, sepertinya Anda merasa…
5. Clarification
– Konselor menangkap makna isi dari pernyataan
klien. Selanjutnya, konselor menyatakan
kembali pernyataan klien tersebut. Namun
dengan pernyataan baru yang lebih segar dan
berbeda dari pernyataan sebelumnya tetapi
dengan substansi yang sama.
Klarifikasi biasanya diawali dengan kata-kata
seperti :
– Singkatnya…, dengan kata lain…,
– Itu berarti bahwa Anda…,
– Bisa dikatakan…,
– Jika saya boleh menyimpulkan…,
– Kalau begitu, Intinya…,
– Maka, jika demikian….
6. Structuring
– Konseling merupakan pembicaraan yang memiliki arah
tujuan tertentu, bukan pembicaraan biasa.
– Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diatur
menyangkut waktu, topik, problem dan perbuatan.
– Relate dengan pertanyaan “konselor dapat mengalami
stress saat mendengarkan keluhan klien. Apa yang
harus dilakukan?”
– Ada 4 macam Structuring :
a. Structuring Time Limit

– Waktu konseling diatur setiap pertemuan


sekitar 45-60 menit. Aturan waktu perlu
dinyatakan di hadapan klien agar ia mau
memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya.
– Time limit dapat digunakan di awal dan di
akhir.
contoh
– verbal:
“Tampaknya kita sudah lama sekali melakukan
pembicaraan ini, apa yang bisa saudara
simpulkan diakhir pertemuan kita hari ini?”
– Non verbal : dengan melihat jam tangan, jam
dinding, menata buku, melakukan gerakan-
gerakan yang tidak biasa, mengangkat kedua
tangan seperti pada saat bangun tidur.
b. Structuring Topic Limit/Problem Limit

– Isi pembahasan selama konseling dibatasi pada


topik-topik tertentu atau membahas
permasalahan tertentu.
– Tujuan dari keterampilan ini adalah agar klien
dapat memahami permasalahan apa saja yang dia
hadapi saat ini dan proses konseling focus pada
pemecahan masalah klien, tidak melebar pada
hal-hal yang kurang ada hubungannya dengan
permasalahan klien.
– “Setelah saya mendengar ceritamu tadi, saya
menangkap masalah yang Anda hadapi tidak
hanya satu, coba kemukakan ada berapa
masalah yang Anda hadapi?”
– Jika Konselor merasa ada masalah yang belum
dikemukakan klien, maka konselor bertanya
dengan mengatakan, “Kelihatannya masih ada
lagi?”
c. Structuring Action Limit
–Selama proses konseling, perbuatan
klien dibatasi apa-apa yang boleh
dan tidak boleh dilakukan. Konselor
membatasi perbuatan klien yang
tidak normative (norma moral,
hukum atau agama).
6. Lead
– Secara bahasa, Lead berarti
memimpin/mengarahkan.
– Di dalam konseling cara untuk memimpin atau
mengarahkan klien dan proses konseling adalah
menggunakan pertanyaan.
– Lead/Bertanya merupakan keterampilan yang
ditampilkan konselor dengan harapan klien
dapat berbicara lebih bebas dan terbuka.
Contoh :
– Coba ceritakan…,
– Kalau saya boleh tahu….,
– Bisakah Anda menceritakan…,
– Coba kemukakan…,
– Coba ungkapkan…,
– Coba jelaskan kepada saya…,
– Menurut Anda….
MARI BERLATIH

Case :
- Klien dengan kasus menjadi korban body shaming yang
sudah berbulan-bulan terjadi. Klien datang dengan emosi
yang meluap-luap karena selama ini tidak berani membela
dirinya. Klien menyalahkan orangtuanya yang dianggap tidak
mampu mengurusnya dengan baik sehingga ia memiliki
bentuk tubuh yang tidak ideal
7. Reassurance
– Reassurance merupakan listening response,
atau respon yang diungkapkan oleh konselor
pada saat klien berbicara/bercerita.
– Melalui keterampilan ini, konselor mendukung
apa yang dikatakan oleh klien atau dengan
bahasa lain konselor memberikan
reinforcement (penguatan) pada diri klien.
– Reassurance dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Prediction Reassurance
– Ketika klien menyatakan bahwa ia akan
melakukan suatu rencana tindakan yang positif,
maka konselor dapat mendukung pernyataan
klien tersebut atau memberikan suatu
keyakinan bahwa ia bisa melakukan tindakan
tersebut.
– Contoh : “Bagus, saya yakin Anda sukses.”,
“Anda pasti bisa”, “Itu rencana yang bagus
sekali, Anda pasti bisa melakukannya.”
b. Postdiction Reassurance
– Semula klien merasa takut untuk menghadapi sesuatu, tetapi
dengan keberaniannya ternyata ia berhasil juga menyelesaikan
tugas yang selama ini dia takutkan.
– Keterampilan ini memberikan penguatan pada diri klien saat ini,
yang semula ragu atas ketidakyakinan dirinya untuk mengulangi
melakukan sesuatu hal, yang sebenarnya di masa lalu ia pernah
berhasil melakukannya.
Contoh : “Tuh kan, buktinya Anda bisa melakukannya, Coba
Anda lakukan sekali lagi. Anda pasti bisa.”
c. Factual Reassurance

– Pada saat klien mengalami musibah, misalnya, Konselor


dapat membantu meringankan beban klien dengan
memberikan dukungan factual bahwa apa yang dialami
klien juga dapat dialami oleh orang lain dan merasakan
seperti apa yang dirasakan klien saat ini.
– Contoh : “Saya dapat memahami apa yang Anda rasakan
saat ini, sebenarnya Saya juga pernah mengalami apa yang
Anda alami itu. Kuatkan diri Anda, Anda pasti bisa
melaluinya.”
8. Silence
– Teknik silence digunakan konselor ketika klien pun sedang diam.
– Klien menjadi diam dalam suatu percakapan, disebabkan :
a. Klien kehabisan energi untuk melanjutkan
pembicaraan.
b. Klien tidak tahu apa yang harus
diungkapkan berikutnya.
c. Klien mengalami resistensi
(keraguan/ketidakpercayaan pada
konselornya).
Menghadapi klien seperti ini, konselor pun seharusnya
ikut diam sejenak untuk memberi kesempatan
memikirkan apa yang dilakukan kemudian.

Waktu klien diam biasanya sekitar 1-2 menit, setelah


itu pada umumnya klien akan merasa terganggu
dengan adanya konselor yang juga diam, sehingga
klien akan terdorong untuk berbicara kembali.
9. Advice
– Keterampilan ini merupakan keterampilan untuk
memberi nasehat kepada klien agar klien menjadi
jelas/lebih pasti tentang apa yang hendak ia
lakukan.
– Keterampilan ini merupakan keterampilan yang
paling akhir (senjata mutakhir), yang sebaiknya
dikeluarkan pada saat akhir, dan tidak perlu
diberikan pada klien apabila klien dirasa tidak
memerlukan.
a. Alternatif Advice (Explanatory
Advice)
–Keterampilan ini diberikan apabila klien
tahu kelebihan dan kekurangan setiap
alternative pilihan.
–Konselor meminta pada klien dengan
mempertimbangkan untung ruginya
dalam setiap keputusan yang akan
diambil.
b. Persuasive Advice
–Keterampilan ini diberikan apabila
klien mengetahui sedikit kelebihan dan
kelemahan dari setiap pilihan.
–Konselor mengajak/menawarkan
kepada klien untuk memilih alternative
pilihan yang paling baik.
c. Direct Advice
–Apabila klien tidak tahu sama sekali
tentang pilihan yang seharusnya ia
ambil/tidak tahu apa yang akan
dilakukannya, maka konselor
memberikan nasehat secara langsung
kepada klien.
10. Confrontation
– Keterampilan ini digunakan untuk
menunjukkan kesenjangan yang membuat
klien menjadi mandeg (tidak berkembang).
– Konselor menghadapi klien yang plin-plan
atau tidak konsisten, kurang jujur pada diri
sendiri atau pada konselor.
Contoh Kesenjangan
a. Antara dua pernyataan (menyatakan hal yang berbeda dalam satu sesi).
b. Antara apa yang dikatakan dan dilakukan.
c. Antara pernyataan dengan tingkah laku non verbal (apa yang dikatakan
berbeda dengan bahasa tubuhnya).
d. Antara pernyataan dengan konteks/situasi yang sebenarnya terjadi.
e. Antara pernyataannya dengan pernyataan orang lain (dua/lebih dari dua
orang)
f. Respon konselor berbentuk konflik :
“Di satu sisi…., tetapi di sisi lain…”
11. Rejection
– Konselor melarang klien secara tersamar (lunak/halus), atau secara langsung (keras), apabila :
– Klien melakukan sesuatu yang membahayakan/merugikan dirinya.
– Klien mengungkapkan suatu kata-kata yang tidak sopan
– Klien berencana melakukan sesuatu yang akan membahayakan atau merugikan dirinya,
mengambil keputusan yang salah secara normatif, (moral hukum dan agama)
– Lunak : “Coba pikirkan dua, tiga kali lagi….”
Keras : “Jangan, jangan kau lakukan….”

– Relate dengan pertanyaan “jika sudah melakukan self harm apa yang harus dikatakan?”
12. Summary
– Summary bagian.
Simpulan tentang suatu data/sekelompok data dalam suatu
proses konseling.
Contoh : “sementara ini…,” “sejauh ini…”
– Summary akhir.
Simpulan akhir untuk mengakhiri proses konseling.
Contoh :
“Kita sudah berbicara banyak sejauh ini, apa yang bisa Anda
simpulkan dari pertemuan kali ini?”
13. Termination

–Mengakhiri konseling untuk


maksud dilanjutkan pada
pertemuan berikutnya atau
memang sudah benar-benar
berakhir.
TEKNIK
RELAKSASI
BUTTERFLY
HUG
butterfly hug merupakan metode
terapeutik untuk membantu
seseorang merasa santai dan tenang.

Teknik ini bisa diterapkan ketika


seseorang mengalami serangan
kecemasan atau sering panik,
Istilahnya, Butterfly Hug bisa jadi
pertolongan pertama saat kondisi
emosi sedang tidak stabil.
Menurut Association for
Comprehensive Energy Psychology,
metode ini juga dapat membuat
jantung terasa lapang,
menyeimbangkan otak kiri dan
kanan sehingga penderita trauma
bisa menyelesaikan emosi intens
yang dialaminya.
MARI BERLATIH

Case :
- Klien dengan kasus menjadi korban kekerasan seksual
dengan pasangannya (belum menikah). Klien datang dengan
tidak banyak bicara namun terlihat begitu ketakutan dan
cemas. Klien sadar perbuatannya salah dan berakhir dengan
ketidakberdayaan karena ancaman pasangannya. Klien
terlalu takut untuk “speak up” dan berpikir untuk pergi jauh
atau jalan akhir dengan bunuh diri.