Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN

TRAFFICKING PADA
PEREMPUAN
Nama kelompok 1 :
1. Adfa Reza Safitri
2. Diah Ayu Ismawati
3. Diva Pratama Febrianty
4. M. Fahmi Syarif
5. Ummah Nazilah
6. Reynaldi Yusuf
Definisi

Trafficking adalah konsep dinamis dengan wujud yang berubah dari waktukewaktu, sesuai
perkembangan ekonomi, sosial dan politik. Sampai saat ini tidak ada definisi trafficking yang disepakati
secara internasional, sehingga banyak perdebatan dan respon tentang definisi yang dianggap paling
tepat tentang fenomena kompleks yang disebut trafficking ini.

Pada tahun 1994 PBB mendefinisikan trafficking sebagai pergerakan dan penyelundupan orang secara
sembunyi-sembunyi melintasi batas-batas negara dan internasional, kebanyakan berasal dari negara
berkembang dan negara-negara yang ekonominya berada dalam masa transisi, dengan tujuan untuk
memaksa perempuan dan anak-anak masuk ke dalam sebuah situasi secara seksual maupun ekonomi
terkompresi, dan situasi eksploitatif demi keuntungan perekrut, penyelundup, dan sindikat kriminal
seperti halnya aktivitas ilegal lainnya yang terkait dengan perdagangan ( trafficking), misalnya pekerja
rumah tangga paksa, perkawinan palsu, pekerja yang diselundupkan dan adopsi palsu.
B. Faktor- Faktor Penyebab
Trafficking Human

1. Faktor Ekonomi
Ekonomi yang minim atau disebut kemiskinan menjadi factor penyebab utama terjadinya
Human Trafficking. Ini menunjukkan bahwa perdagangan manusia merupakan ancaman
yang sangat membahayakan bagi orang miskin. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi
bahwa rendahnya ekonomi membawa dampak bagi prilaku sebagian besar masyarakat.
Ekonomi yang pas-pasan menuntut mereka untuk mencari uang dengan berbagai cara.
Selain itu budaya konsumvitisme, juga ikut andil menambah iming-iming masyarakat untuk
mencari biaya penghidupan. Semua ini menjadikan mereka dapat terjerumus ke dalam
prostitusi dan tindak asusila lainnya.
2. Posisi Subordinat Perempuan
dalam Sosial dan Budaya

Seperti halnya kondisi pedagangan manusia yang terjadi di dunia, untuk Indonisia penelitian-
penelitia yang dilakukan di lembaga pendidikan dan LSM menunjukkan sebagian besar korban
perdagangan manusia adalah perempuan dan anak-anak. Indonisia adalah suatu masyarakat yang
patrialkhal, suatu struktur komonitas dimana kaum laki-laki yang lebih memegang kekuasaan dipersepsi
sebagai struktur yang mendegorasi perempuan baik dalam kebijakan pemerrintah maupun dalam prilaku
masyarakat. Misalnya perumusan tentang kdudukan istri dalam hokum perkawinan, kecenderungan
untuk membayar upah buruh wanita di bawah upah buruh laki-laki, atau kecenderungan lebih
mengutamakan anak laki-laki dari pada anak perempuan dalam bidang pendidikan, merupakan salah satu
refleksi keberadaan permpuan dalam posisi subordinat dibandingkan dengan laki-laki.
3. Faktor pendidikan

Tingkat pendidikan yang rendah juga sangat mempengaruhi kekerasan dan


eksploitasi terhadap anak dan perempuan. Banyaknya anak yang putus
sekolah, sehingga mereka tidak mempunyai skill yang memadai untuk
mempertahankan hidup. Implikasinya, mereka rentan terlibat kriminalitas.
4. Pengaruh Globalisasi

Pemberitaan tentang trafficking (perdagangan manusia), pada beberapa waktu terakhir


ini di Indonesia semakin marak dan menjadi isu yang aktual, baik dalam lingkup
domistik maupun yang telah bersifat lintas batas negara. Perdagangan manusia yang
paling menonjol terjadi khususnya yang dikaitkan dengan perempuan dan kegiatan
industri seksual, ini baru mulai menjadi perhatian masyarakat melalui media massa
pada beberapa tahun terakhir ini. Kemungkinan terjadi dalam skala yang kecil, atau
dalam suatu kegiatan yang terorganisir dengan sangat rapi. Merupakan sebagian dari
alasan-alasan yang membuat berita-berita perdagangan ini belum menarik media massa
paa masa lalu. Adapun pengaruh dari akibat globalisasi dunia, Indonesia juga tidak
dapat luput dari pengaruh keterbukaan dan Kemajuan di berbagai aspek teknologi,
politik, ekonomi, dan sebagainya. Kemajuan di berbagai aspek tersebut membawa
perubahan pula dalam segi-segi kehidupan sosial dan budaya yang diacu oleh berbagai
kemudahan informasi.
C. Bentuk dan Modus Trafficking Human

Dalam menjalankan operandinya para trafficker sering menggunakan mudus berupa iming-
iming. Di antara modus-modusnya antara lain yaitu:

1. Tawaran Kerja
Salah satu modus human trafficking yang sering dilakukan adalah penawaran kerja ke
luar pulau atau luar negeri dengan gaji tinggi. Pelaku biasanya mendatangi rumah calon
korbannya dan saat pemberangkatan juga tanpa dilengkapi surat keterangan dari
pemerintah desa setempat.
Cara tersebut dilakukan untuk menghilangkan kecurigaan sejumlah pihak, termasuk
memberi kemudahan kepada keluarga korban untuk dapat diterima kerja tanpa harus
mengurus sejumlah surat kelengkapan kerja di luar daerah atau negeri. Dari pihak orang
tua korban sudah tidak memperdulikan aturan atau kelengkapan surat-surat kerja karena
sudah termakan oleh bujukan pelaku.
Modusnya adalah para calo atau perantara memberi iming-iming bagi para korban
dengan menawarkan bekerja di mall dan salon dengan gaji besar. Selanjutnya korban
diserahkan pada germo yang kemudian dipekerjakan secara paksa sebagai wanita
penghibur di tempat-tempat hiburan malam.
2. Bius
Rayuan dan iming-iming pekerjaan bukan lagi menjadi modus yang paling sering dilakukan dalam human
trafficking, tetapi saat ini orang bisa menjadi korban perdagangan manusia dengan kekerasan seperti dibius.
Modus ini menggunakan kekerasan, cara modus ini berawal dari penculikan terhadap korban, kemudian
pelaku membiusnya dengan suntikan ataupun dengan alat yang lain yang digunakan untuk membius.
Kemudian korban dibawa dan dipertemukan dengan sang bos. Setelah itu korban diserahkan jaringan
lainnya untuk dibawa ke negara lain tanpa membawa paspor untuk dipekerjakan secara paksa sebagai
pekerja seks.
 
D. Dampak/ Pengaruh Trafficking Human
Berdasarkan perspektif historis, startegi dan tahapan, serta faktor penyebab human trafficking, maka hal
tersebut menempatkan perempuan korban trafficking dalam situasi yang beresiko tinggi yang berdampak
terhadap fisik, psikismaupu kehidupan sosial perempuan korban trafficking sebagaimana yang digambarkan
Course Instruction (2011: 13, 14) sebagai berikut.
1. Dampak Psikologi dan Kesehatan Mental
Menurut Williamson et al. (2010: 2), perempuan korban trafficking sering mengalami, menyaksikan, atau
dihadapkan dengan suatu peristiwa atau kejadian yang melibatkan cedera aktual atau terancam kematian yang
serius, atau ancaman terhadap integritas fisik diri sendiri atau orang lain" dan tanggapan mereka terhadap
peristiwa ini sering melibatkan "rasa takut yang sangat, dan ketidakberdayaan, sebagai reaksi umum dari post
traumatic stressdisorder (PTSD). Pengalaman traumatis dan ketakutan dialami perempuankorban trafficking
sejak awal mereka ditangkap secara paksa, mengalami penyekapan di daerah transit sebelum dikirim ke tempat
tujuan untuk dijual dan di eksploitasi (American Association, 2005: 467).
Para perempuan korban trafficking seringkali mengalami kondisi yang kejam yang mengakibatkan trauma
fisik, seksual dan psikologis. Kegelisahan, insomnia, depresi dan post traumatic stress disorder
menggambarkan standar evaluasi atau penilaian yang mengecewakan nilai diri dengan memandang
rendah diri sendiri (Taylor, 2012:1). Para perempuan korban trafficking seringkali kehilangan kesempatan
penting untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Hilang harapan tanpa tujuan hidup
yang jelas, suram dan gelap masa depan.

E. Pencegahan dan Penanggulangan Human Trafficking


Perdagangan orang, khususnya perempuan sebagai suatu bentuk tindak kejahatan yang kompleks, tentunya
memerlukan upaya penanganan yang komprehensif dan terpadu. Tidak hanya dibutuhkan
pengetahuan dan keahlian professional, namun juga pengumpulan dan pertukaran informasi,
kerjasama yang memadai baik sesame apparat penegak hokum seperti kepolisian, kejaksaan,
hakim maupun dengan pihak- pihak lain yang terkait yaitu lembaga pemerintah (Kementrian
terkait) dan lembaga non pemerintah (LSM) baik local maupun internasional.
Semua pihak bisa saling bertukar informasi dan keahlian profesi sesuai dengankewenangan
masing-masing dan kode etik instansi. Tidak hanya perihal pencegahan, namun juga penanganan
kasus dan perlindungan korban semakin memberikan pembenaran bagi upaya pencegahan dan
penanggulangan perdagangan peremuan secara terpadu. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar
korban mendapatkan ha katas perlindungan dalam hukum.
Upaya Masyarakat dalam pencegahan trafficking yakni dengan meminta dukungan ILO dan
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang melakukan Program Prevention ofChild
Trafficking for Labor and Sexual Exploitation. Tujuan dari program ini adalah:

1. Memperbaiki kualitas pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menegah Atasuntuk
memperluas angka partisipasi anak laki-laki dan anak perempuan.
2. Mendukung keberlanjutan pendidikan dasar untuk anak perempuan setelah lulus sekolah dasar
3. Menyediakan pelatihan keterampilan dasar untuk memfasilitasi kenaikan penghasilan
4. Menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses ke kredit keuangan untuk memfasilitasi usaha
sendiri.
5. Merubah sikap dan pola pikir keluarga dan masyarakat terhadap trafficking anak.
 
Kasus Human Trafficking
Suara Ibu Sulis terdengar geram ketika bercerita mengenai apa Para pelaku praktek perdagangan orang ini diduga
yang terjadi pada salah satu putrinya, yang menjadi korban – dan menggunakan sistem sel yang terputus-putus di satu daerah ke
pada akhirnya penyintas – perdagangan orang pada pertengahan daerah lain., Hampir serupa dengan cara sindikat narkoba
2021. “Tidak bisa saya bayangkan ketakutannya., Dia jauh dari beroperasi. Sehingga gadis-gadis ini bertemu dengan orang
rumah, bekerja untuk rumah biadab itu. Dia melihat semuanya., yang berbeda yang membawa mereka. Dan cerita sedih
Dia seperti jadi orang lain ketika saya pertama kali mendengar berkepanjangan dimulai ketika mereka menginjakkan kaki di
suaranya (melalui telepon) setelah sekian lama tidak tempat kerja mereka.“Dia magang untuk 3 bulan baru boleh
berhubungan,” kata Ibu Sulis berapi-api. dibawa keluar. Selama itu dia kerja melayani tamu, menemani
minum. Setiap hari dia disuruh memakai pakaian seminim
“Keluarga kami broken home. Anak-anak melihat orangtua tidak
mungkin dan dipajang di ruang kaca. Bisa saya katakan
akur. Mungkin itu yang menyebabkan dia memutuskan pergi,”
separuh telanjang,” kata Ibu Sulis menceritakan apa yang dia
jelas Ibu Sulis“Anak saya mungkin frustasi dan tidak tahan
dengar dari anaknya.Bella dan teman-temannya melihat
kondisi keluarga kami,” tegas ibu Sulis, 45 tahun.Bella yang lahir
perlakuan buruk kepada perempuan yang bekerja di sana.;
pada tahun 1995, menurut ibunya, tergoda dengan iming-iming
Bukan hanya dari para pelanggan tetapi juga pekerja laki-laki
gaji Rp 10 juta per bulan sebagai SPG. Dia mendapat tawaran
serta pemilik tempat hiburan itu.“Mereka membuat
dari teman masa kecilnya yang memang sudah lebih dulu
perempuan menjadi binatang. Menjerat dengan hutang yang
bekerja.Bersama dengan teman lama dan sahabatnya, Bella pergi
jelas-jelas tidak akan sanggup mereka bayar. Ada ibu-ibu
diam-diam meninggalkan desa dan merasa bahwa mencari nafkah
yang sama sekali tidak bisa meninggalkan tempat itu karena
sendiri merupakan jawaban akan kegalauannya. Dari kampung
hutang banyak, anak banyak dan tidak jelas siapa saja
mereka, gadis-gadis sebaya ini berangkat. Menginap satu malam
bapaknya.”“Bella juga melihat teman-temannya yang sakit
di sebuah hotel dan bertemu dengan calon pemberi pekerjaan,
atau hamil dibawa pergi dari pulau dan tidak pernah kembali.”
yang ternyata adalah pemilik kelab malam. Lalu berangkat
dengan pesawat pada keesokan harinya.
I. IDENTITAS

Nama : Nn. B
Umur : 26
Jenis kelamin : perempuan
Pekerjaan : SPG
alamat dan no telp : rawamangun

Penanggung Jawab & : Ny. S (45 Tahun) sebagai Ibunya Hubungan dg Klien

II. POLA PERSEPSI KESEHATAN ATAU PENANGANAN KESEHATAN


1. Keluhan Utama
Menurut Ny. S “Anak saya mungkin frustasi dan tidak tahan kondisi keluarga kami,”
2. Riwayat Penyakit Sekarang
(Tidak terdapat dalam Kasus)
3. Lamanya Keluhan
(Tidak terdapat dalam Kasus)
4. Faktor yang Memperberat
Menurut Ny. S “Keluarga kami broken home. Anak-anak melihat orangtua tidak akur. Mungkin itu yang
menyebabkan dia memutuskan pergi,”
5. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi Keluhan: Menurut Ny. S bersama dengan teman lama dan
sahabatnya, Bella pergi diam-diam meninggalkan desa dan merasa bahwa mencari nafkah sendiri
merupakan jawaban akan kegalauannya.
6. Riwayat Penyakit Dahulu
(Tidak terdapat dalam Kasus)
7. Persepsi klien tentang status kesehatan dan kesejahteraan
(tidak terdapat dalam kasus)
8. Riwayat Kesehatan Keluarga
(Tidak terdapat dalam Kasus)
9. Susunan Keluarga (Genogram)
(Tidak terdapat dalam Kasus)
10. Riwayat Alergi
(Tidak terdapat dalam Kasus)
 
BI. POLA NUTRISI DAN METABOLIK

(Tidak terdapat dalam Kasus)


IV. POLA ELIMINASI
(Tidak terdapat dalam Kasus)

V. POLA AKTIVITAS DANLATIHAN

(Tidak terdapat dalam Kasus)


VI. POLA ISTIRAHAT DAN TIDUR
(Tidak terdapat dalam Kasus)
VII. POLA KOGNITIF DAN PERSEPTUAL
Tingkat Ansietas:
Menurut Ny. S “Tidak bisa saya bayangkan ketakutannya., Dia jauh dari rumah, bekerja untuk rumah biadab
itu. Dia melihat semuanya., Dia seperti jadi orang lain ketika saya pertama kali mendengar suaranya (melalui
telepon) setelah sekian lama tidak berhubungan,”
1. Role Peran
  Menurut Ny. S “Dia magang untuk 3 bulan baru boleh dibawa keluar.
  Selama itu dia kerja melayani tamu, menemani minum. Setiap hari dia disuruh
memakai pakaian seminim mungkin dan dipajang di ruang kaca. Bisa saya katakan separuh telanjang”
 
2. Identity/ Identitas Diri
  menentukan Pilihan.
  Menurut Ny. S “Mereka membuat perempuan menjadi binatang.
  Menjerat dengan hutang yang jelas-jelas tidak akan sanggup mereka bayar. Ada
  ibu-ibu yang sama sekali tidak bisa meninggalkan tempat itu karena hutang
banyak, anak banyak dan tidak jelas siapa saja bapaknya.”
 
Masalah Keperawatan
  Resiko harga diri rendah  
IX. POLA PERAN DAN HUBUNGAN
Pekerjaan : SPG

X. POLASEKSUALITAS/REPRODUKI

(Tidak Terdapat dalam Kasus)


XI. POLA KOPING/TOLERANSI STRESS
(Tidak Terdapat dalam Kasus)
ANALISA DATA
no Data (symtom) Etiologi Problem
1 Do: Perubahan proses Perubahan proses keluarga
Keluar
1. Menurut ny.s “anak saya mungkin frustasi dan tidak
tahan kondisi keluarga kami”    
Furstasi
2. Menurut ny.s “keluarga kami broken home. Anak-
anak melihat orang tua tidak akur. Mungkin itu yang  
Tidak tahan kondisi keluarga
menyebabkan dia memutuskan pergi”
 
Broken home

 
Orang tua tidak akur

 
2 Do:   Resiko harga diri rendah
Resiko HDR
1. Menurut ny.s “dia magang untuk 3bulan baru boleh
dibawa keluar. Selama itu dia kerja melayani tamu,  
Kerja melayani tamu pria
menemani minum setiap hari dia disuruh memakai
pakaian seminim mungkin dan dipajang diruang  
Memakai pakaian minim
kaca. Bisa saya katakan setngah telanjang”.
2. Menurut ny.s “mereka membuat perempuan seperti  
binatang. Menjerat dengan hutang yang jelas-jelas Pekerjaan SPG

tidak akan sanggup mereka bayar”


DIAGNOSA

1.Perubahan proses keluarga


2.Resiko harga diri rendah
INTERVENSI

No Diagnos Perencanaan
a Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi

 1 Proses Pasien dan Setelah pertemuan pasien 1. Pengkajian


prubahan keluarga mampu: a. Kaji interaksi antara pasien dan keluarga, waspada terhadap potensi
keluarga mampu: perilaku merusak
1. Mengidentifikasi pola
b. Kaji keterbatasan anak, dengan demikian dapat mengakomodasi anak
1. Mema koping.
untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari
hami 2. Berpatisipasi dalam proses
perub membuat keputusan
2. Intervensi umum
ahan tentang perawatan setelah
c. Bina hubungan saling percaya
dalam rawat inap
d. Beri kesempatan kepada keluarga sebagai individu dan sebagai kelompok
peran 3. Berfungsi untuk saling
untuk saling berbagi tentang perasaan yang mereka pendam
keluar memberikan dukungan
e. Tekan kepada anggota keluarga tidak bertanggung jawab atas kebiasaan
ga kepada setiap anggota
mabuk anggota keluarga lainnya.
keluarga.
f. Gali keyakinan keluarga tentang situasi yang mereka hadapi dan tujuan
4. Mengidentifikasi cara
mereka
untuk berkoping lebih
g. Bicarakan tentang metode TAK efektif yang digunakan keluarga
efektif
h. Bantu keluarga memahami efek dari upaya mereka mengontrol kebiasaan
mabuk.
i. Tekankan bahwa membantu pencandu alcohol berarti pertama-tama
harus membantu diri mereka sendiri.
No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
  Bicarakan dengan keluarga bahwa, selama masa pemulihan,
dinamika keluarga mereka akan berubah drastis.
h. Bicarakan tentang kemungkinan kambuh dan faktor
penunjang.
i. Bila terdapat diagnosis keperawatan individu atau keluarga
tambahan, lihat tindak penganiayaan anak atau tindak
kekerasan dalam rumah tangga dibawa diagnosis
ketidakmampuan koping keluarga.
j. Lakukan penyuluhan kesehatan mengenai sumber daya
komunitas dan lakukan perujukan sesuai indikasi.

3. Promosi integritas keluarga


k. Kaji perasaan bersalah yang mungkin dialami keluarga
l. Kaji jenis hubungan keluarga.
m. Pantau hubungan keluarga saat ini
n. Kaji pemahaman keluarga tentang penyebab penyakit
o. Identifikasi prioritas yang bertentangan duantara anggota
keluarga.
 
No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
  4. Penyuluhan untuk pasien/ keluarga
a. Ajari keterampilan merawat pasien yang diperlukan
oleh keluarga (misal menejemen waktu dan pengobatan)
b. Ajari keluarga perlunya kerjasama dengan system
sekolah untuk menjamin akses kesempatan pendidikan
yang sesuai untuk penderita prnyakit kronis atau anak
cacat.

5. Aktivitas kolaboratif
c. Pelopori konfensi multidisiplin perawatan pasien,
dengan melibatkan pasien/ keluarga dalam
menyelesaikan masalah dan fasilitasi komunikasi.
d. Berikan keperawatan berkelanjutan dengan
mempertahankan komunikasi yang efektif anatar
anggota staff melalui catatan kperawatan dan rencana
perawatan.
e. Anjurkan pelayanan konsultasi social untuk membantu
keluarga menentukan kebutuhan pascahospitalis dan
identifikasi sumber dukungan dari komunitas.
No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
 2 Gangguan Pasien mampu: Setelah pertemuan klien SP.1
konsep • Mengidentifikasi mampu:
diri harga kemampuan dan • Mengidentifikasi  Identifikasi kemampuan positif yang dimiliki
diri rendah aspek positif kemampuan aspek positif - Diskukisikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah kemampuan
yang dimiliki yang memiliki dari aspek positif seperti kegiatan pasien dirumah adanya keluarga
• Memiliki • Memiliki kemampuan adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
kemampuan yang yang dapat digunakan
- Beri pujian yang realistis dan hindarkan setiap kali bertemu
dapat digunakan. memilih kegiatan sesuai
• Menetapkan kemampuan dengan pasien penilaian yang negative.
memilih kegiatan • Melakukan kegiatan yang
yang sesuai sudah dipilih  Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini
dengan • Merencanakan kegiatan - Diskusikan dengan pasien kemampuan yang masih digunakan saat
kemampuan yang sudah dilatih\ ini.
• Memilih - Bantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatana terhadap
kegiatan yang kemampuan diri yang diungkapan pasien
sudah dipilih, - Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang
sesuai aktif.
kemampuan.
• Merencanakan  Pilih kemampuan yang akan dilatih
kegiatan yang -diskusikan dengan pasien beberapa aktivitas yang dapat dilakukan
sudah dilatihnya. dan dipilih sebagai kegiatan yang akan pasien pasien
No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
  lakukan sehari-hari.
- bantu pasien menetapkan aktivitas mana yang dapat dilakukan secara
mandiri
• Aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga
• Aktivitas apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau
lingkungan terdekat pasien
• Beri contoh pelaksanaan aktivitas yang dapt dilakukan pasien
• Susun bersama pasien aktivitas atau kegiatan sehari-hari pasien

 Nilai kemampuan pertama yang telah dipilih


- Diskusikan dengan pasien unuk menetapkan urutan kegiatan (yang sudah
dipilih pasien) yang akan dilatihkan.
- Bersama pasien dan keluarga memperagakan beberapa kegiatan yang
akan dilakukan pasien.
- Berikan dukungan dan pujian yang nyata sesuai kemajuan yang
diperlihatkan pasien.

 Masukan jadwal kegiatan pasien


- Berikan kesempatan pada pasien untuk mencontoh kegiatan
- Beri pujian atas aktivitas/ kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap
hari.
- Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihka bersama pasien dan keluarga
- Berikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah kegiatan.
Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilaukan pasien
No Diagnosa Perencanaan
Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
  Keluarga mampu: Setelah pertemuan SP.2
Merawat pasien keluarga mampu:  Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
dengan harga diri  Mengidentifikasi  Pilih kemampuan kedua yang dapat dilakukan
rendah dirumah dan kemampuan yang  Latih kemampuan yang dipilih
menjadi system dimiliki pasien  Masukan dlam jadwal kegiatan pasien
pendukung yang  Menyediakan  
efektif bagi pasien d]fasilitas unuk SP.3
pasien melakukan  Evaluasi kegiatan yang lalu (SP2)
kegiatan  Memilih kemampuan ketiga yang dapat dilakukan
 Mendorong pasien  Masukan dalam jadwal kegiatan pasien
melakukan kegiatan
 Memuji pasien saat SP.1
pasien dapat  Identifikasi maslah yang dirasakan dalam merawat pasien
melakukan kegiatan  Jelaskan proses terjadinya HDR
 Membantu melatih  Jelaskan tentang cara merawat pasien
pasien  Main peran dalam merawat pasien HDR
 Membantu menyusun  Susun RTL keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat pasien
jadwal kegiatan  
pasien SP.2
 Membantu  Evaluasi kemampuan keluarga
perkembangan pasien  Evaluasi kemampuan pasien
 RTL Keluarga
 Follow up
 Rujukan
KESIMPULAN
Trafficking adalah perdagangan manusia, lebih khususnya
perdangan perempuan dan anak-anak yang dilakukan oleh pelaku
perdagangan manusia ‘trafficker’ dengan cara mengendalikan korban
dalam bentuk paksaan, penggunaan kekerasan, penculikan, tipu daya,
penipuan ataupun penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan.
Jenis-jenis trafficking ini meliputi perkawinan transinternasional,
eksploitasi seksual phedopilia, pembantu rumah tangga dalam kondisi
buruk, dan penari erotis. Faktor penyebab utama terjadinya tindakan
trafficking ini adalah karena kemiskinan dan beberapa diantaranya
adalah, karena tingkat pendidikan yang rendah, penganiyaan terhadap
perempuan, perkawinan usia muda, dan kondisi sosial budaya
masyarakat yang patriarkhis. Dampak yang bisa ditimbulkan dari
trafficking ini adalah kecemasan, stress, dan ketidakberdayaan.
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai