Anda di halaman 1dari 9

KONFLIK POLITIK

PUNJAB

M. RYANSYAH ZANDRA
Punjab (bahasa Punjabi: ਪੰ ਜਾਬ) adalah sebuah negara
bagian di India bagian barat laut. Punjab berbatasan
dengan provinsi Pakistan Punjab di sebelah barat, Jammu
dan Kashmir di utara, Himachal Pradesh di timur
laut, Haryana di selatan dan tenggara, Chandigrah di
tenggara, dan Rajasthan di barat daya. Negara bagian ini,
bersama dengan provinsi Punjab di Pakistan serta negara
bagian Haryana dan Himachal Pradesh, membentuk
kawasan Punjab
Sosial Masyarakat

Orang-orang Punjabi lebih merupakan kelompok etnis terutama dari India Utara di antara kelompok-
kelompok lain yang saat ini merupakan beberapa bagian dari Punjab India, Kashmir, Rajasthan, dan
sebagian besar wilayah Punjab yang terletak di Pakistan dan beberapa negara bagian lain di India Utara.
Orang-orang Punjabi sebagian besar tinggal di negara bagian Punjab di India dan Pakistan, lokasi salah
satu peradaban tertua di lembah Sungai Indus. Mereka memiliki latar belakang budaya yang kuat, dan
budaya mereka telah menjadi identitas tradisional mereka. Bahasa Punjabi adalah bahasa utama mereka.
Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, definisi "Punjabi" telah diperluas dengan memasukkan
emigran lain dari berbagai daerah yang mengikuti budaya dan tradisi Punjabi.
POLITIK

Struktur pemerintahan Punjab, seperti kebanyakan negara bagian lain di India , ditentukan
oleh konstitusi nasional tahun 1950. Negara bagian tersebut dipimpin oleh seorang
gubernur, yang ditunjuk oleh presiden India. Gubernur dibantu dan dinasehati oleh Dewan
Menteri, yang dipimpin oleh seorang menteri utama dan bertanggung jawab
kepada Majelis Legislatif unikameral (Vidhan Sabha).

Kepala pengadilan adalah Pengadilan Tinggi, yang terletak di Chandigarh dan berbagi


dengan negara bagian Haryana . Banding dari Pengadilan Tinggi diarahkan ke Mahkamah
Agung India. Di bawah Pengadilan Tinggi adalah pengadilan tingkat distrik.

Negara bagian ini dibagi menjadi lebih dari selusin distrik, yang dikelompokkan menjadi
beberapa divisi pendapatan. Setiap distrik dipimpin oleh seorang wakil
komisaris. Kabupaten dibagi lagi menjadi beberapa tehsil s, atau subdivisi. Unit
administrasi dan pendapatan yang lebih rendah termasuk lingkaran, blok, dan desa, serta
distrik polisi dan kantor polisi.
Kemunculan Nasionalisme Sikh

Akhir abad ke-15, ajaran Sikhisme lahir di tanah Punjab. Sikh didirikan oleh Guru Nanak (1469–1539) dan
diteruskan oleh sembilan Guru penerus. Dalam bahasa Punjabi, Sikh berarti pembelajar. Penganutnya dikenal sebagai
orang Sikh dan mengklaim bahwa tradisi mereka terpisah dari Hinduisme. Akar nasionalisme Khalistan bisa
ditelusuri hingga tahun 1699.

Encyclopaedia Britannica menyebutkan bahwa Gurū Gobind Sing (pemimpin Sikh kesepuluh sekaligus yang
terakhir) menetapkan tanah Punjab atau tanah Khalsa (Khalistan) sebagai tanah air penganut Sikh dan dikelola secara
independen. Sejak itu, ada upaya pendirian pemerintahan Sikh di Punjab, mulai dari era Imperium Mughal, hingga
terwujudnya sebuah kerajaan yang dipimpin Maharaja Ranjīt Singh pada awal abad ke-19 yang berakhir setelah
Inggris masuk dan menjajah. Di tengah perpecahan India-Pakistan 1947 yang membelah dua wilayah Punjab,
gagasan pendirian negara Sikh sempat kembali muncul. Namun, populasi Sikh tak cukup kuat di tengah himpitan
raksasa Pakistan dan India.

Singkatnya, gagasan pendirian negara Sikh kembali terkubur. Di wilayah Punjab yang terbagi dua, Kuil Suci
Gurdwara Kartarpur Sahib yang menjadi makam Guru Nanak berada di Narowal Punjab, Pakistan. Sedangkan Kuil
Gurdwara Shri Darbar Sahib merupakan tempat keluarga Guru Nanak berdiri di Kota Dera Baba Nanak, yang masuk
negara bagian Punjab, India. Wilayah Punjab terbesar ada di India. Gerakan nasionalis Sikh di Punjab kembali
menguat pada dekade 1970-an dan 1980-an. Kelompok-kelompok Sikh yang berorientasi politik bermunculan,
KONFLIK POLITIK

Selain isu pemisahan diri, hubungan antara penganut Sikh dan pemerintah India memang tak harmonis.
Sampai kini, kabar seputar persekusi terhadap minoritas Sikh di India masih terdengar. Pada Juni 2018, Asia
Times melaporkan sebanyak 52 orang India yang sebagian besar penganut Sikh ditahan di pusat penahanan
di negara bagian Oregon, AS. Mereka ingin mencari suaka politik di AS dan mengaku dipersekusi di tanah
kelahirannya. Sejumlah pengikut Sikh lainnya sudah terlebih dahulu mencari suaka ke luar negeri karena
alasan yang sama.

Hubungan umat Sikh (Punjab) dengan pemerintah India mengalami titik terburuk terutama saat era
pemerintahan Perdana Menteri Indira Gandhi dan anaknya, Rajiv Gandhi. Di masa-masa ini, nasionalisme
Sikh bangkit, menuju gerakan separatis bersenjata, digebuk oleh pemerintah India dan berujung kerusuhan
anti-Sikh.
Tahun 1984 adalah tahun tak terlupakan bagi penganut Sikh di negara bagian Punjab, India Pada Juni 1984, Perdana Menteri India Indira Gandhi
memerintahkan militer menyerang komplek kuil suci umat Sikh di Kota Amritsar. Operasi militer yang diberi nama sandi Operasi Bintang Biru
itu menargetkan Jarnail Singh Bhindranwale, tokoh pejuang kemerdekaan Khalistan yang populer pada saat itu.

Kekerasan itu tak hanya melibatkan militer. C. Christine Fair dalam laporan risetnya yang berjudul “Diaspora Involvement In Insurgencies:
Insights From The Khalistan And Tamil Eelam Movements” (2005) menyebutkan, pasukan perbatasan, polisi, ormas paramiliter, dan aparat
keamanan lainnya ikut dilibatkan memburu Bhindranwale beserta milisi pengikutnya. Bhindranwale akhirnya terbunuh pada 6 Juni 1984. Namun
selain menewaskan Bhindranwale, ratusan warga sipil turut menjadi korban. Dikutip dari BBC, pemerintah India menyebut ada 400 orang dan 87
tentara tewas. Sedangkan kelompok Sikh mengatakan, jumlah korban diperkirakan mendekati 1.000 orang. Menurut Human Rights Watch
(HRW), para peziarah kuil turut menjadi korban serta menyebabkan kerusakan serius pada kompleks kuil.

Operasi Bintang Biru memang terencana jauh-jauh hari. Dalam laporan Praveen Swami di The Hindu, India minta pendapat dan restu ke Inggris
pada Februari 1984 mengenai rencananya untuk menyingkirkan ekstremis Sikh dari komplek kuil di Amritsar. Inggris menyetujuinya dan
mengirim seorang utusan ke India untuk menyusun rencana serangan.

Serangan tersebut dibalas oleh anggota Sikh. Tak tanggung-tanggung, empat bulan setelah penyerangan kuil, Indira Gandhi dibunuh pada 31
Oktober 1984 oleh dua pengawalnya sendiri yang menganut Sikh. Pasca-insiden tersebut, kerusuhan anti-Sikh meletus sesaat setelah pembunuhan
Indira. Partai Kongres Nasional sebagai partai penguasa tempat Indira bernaung kerap mengipasi massa agar bertindak beringas terhadap
penganut Sikh.
Operasi Bintang Biru memancing reaksi keras dari umat Sikh di luar Punjab, India. Beberapa kelompok Sikh di
luar negeri bahkan menyatakan diri sebagai perwakilan pemerintahan Khalistani.

Serangan tersebut dibalas oleh anggota Sikh. Tak tanggung-tanggung, empat bulan setelah penyerangan kuil,
Indira Gandhi dibunuh pada 31 Oktober 1984 oleh dua pengawalnya sendiri yang menganut Sikh.

Pasca-insiden tersebut, kerusuhan anti-Sikh meletus sesaat setelah pembunuhan Indira. Partai Kongres Nasional
sebagai partai penguasa tempat Indira bernaung kerap mengipasi massa agar bertindak beringas terhadap
penganut Sikh.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai kerusuhan anti-Sikh 1984 ini dicatat sebagai pelanggaran HAM berat
di India. Penyelesaian kasusnya mandek. Saat laporan HRW pada 2014 dirilis, sudah banyak korban, saksi dan
pelaku yang meninggal dunia. Para tersangka pun mengancam dan mengintimidasi saksi. Sejumlah alat bukti
bahkan dirusak oleh pihak kepolisian hingga terdakwa bisa melenggang bebas.
India kerap menuding Pakistan sebagai pendukung kemerdekaan Khalistan. Tudingan itu bukan tanpa sebab. Pada
1988, dirjen Badan Intelijen Pakistan pernah meminta Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto untuk mendukung
gerakan kemerdekaan Khalistan. Bahkan, agenda pro-kemerdekaan terlihat di beberapa pusat ziarah di Punjab
Pakistan yang sering dikunjungi puluhan ribu orang Sikh dari India. Salah satunya adalah poster pro-referendum
Khalistan 2020 yang dipasang di situs-situs Sikh di Pakistan. Pemasangan poster semacam itu tentu tidak bisa
dilakukan secara bebas di Punjab-nya India.

Di sisi lain, otoritas Pakistan mewaspadai pergerakan kemerdekaan Khalistan saat mengetahui teritori yang diklaim
oleh gerakan kemerdekaan Khalistan mengikutsertakan beberapa bagian Punjab-nya Pakistan. Laporan Shaikh Aziz
untuk Dawn menyebutkan bahwa pada 1988 diktator Pakistan Zia-ul-Haq merespons temuan tersebut dengan
memerintahkan agar wilayah Punjab di Pakistan diawasi ketat.

Meski negara Khalistan belum terwujud, namun sampai hari ini impian tanah Khalsa yang merdeka masih terus
diperjuangkan. Salah satunya seperti yang terlihat dalam Gerakan referendum Khalistan 2020, sebuah agenda
teranyar dari kelompok Sikh pro-kemerdekaan yang tersebar di berbagai belahan dunia.