Anda di halaman 1dari 78

KOMUNIKASI

ANTAR
PERSONAL
PENGERTIAN KAP (KOMUNIKASI ANTAR
PERSONAL)
 DEVIRO (1976)
KAP MERUPAKAN PENGIRIMAN PESAN DARI
SESEORANG DAN DITERIMA ORANG LAIN DENGAN
EFEK DAN UMPAN BALIK YANG LANGSUNG.
 EFFENDY (1986)
KAP ADALAH KOMUNIKASI ANTAR SEORANG
KOMUNIKATOR DENGAN SEORANG KOMUNIKAN
KAP DIANGGAP PALING EFEKTIF UNTUK
MENGUBAH SIKAP, PENDAPAT ATAU PERILAKU
MANUSIA KARENA PROSESNYA YANG DIALOGIS
 DEAN C. BARNLUND (1968)
KAP SELALU DIHUBUNGKAN DENGAN
PERTEMANAN ANTARA DUA, TIGA, ATAU
MUNGKIN EMPAT ORANG YANG TERJADI SECARA
SPONTAN DAN TIDAK BERSTRUKTUR
 ROGERS
KAP MERUPAKAN KOMUNIKASI DARI MULUT KE
MULUT YANG TERJADI SECARA SPONTAN DAN
TIDAK BERSTRUKTUR
 TAN (1981)
KAP ADALAH KOMUNIKASI TATAP MUKA
ANTARA DUA ATAU LEBIH ORANG
CIRI-CIRI KAP (KOMUNIKASI ANTAR
PERSONAL)
1. SPONTANITAS TERJADI SAMBIL LALU DENGAN MEDIA UTAMA
TATAP MUKA
2. TIDAK MEMPUNYAI TUJUAN YANG DITETAPKAN LEBIH DAHULU
3. TERJADI SECARA KEBETULAN DIANTARA PARA PESERTA YANG
IDENTITASNYA KURANG JELAS
4. MENGAKIBATKAN DAMPAK YANG DISENGAJA DAN TIDAK
DISENGAJA
5. KERAPKALI BERBALAS-BALASAN
6. MEMPERSYARATKAN HUBUNGAN PALING SEDIKIT DUA ORANG
DENGAN HUBUNGAN YANG BEBAS DAN BERVARIASI ADA
KETERPENGERUHAN
7. HARUS MEMBUAHKAN HASIL
8. MENGGUNAKAN LAMBANG-LAMBANG YANG BERMAKNA
DEFINISI DAN PENDEKATAN
KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

 KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI (INTERPERSONAL


COMMUNICATION) MERUPAKAN KOMUNIKASI YANG
BERLANGSUNG DALAM SITUASI TATAP MUKA
ANTARA DUA ORANG ATAU LEBIH BAIK
TERORGANISASI MAUPUN PADA KERUMUNAN
ORANG.
KAP (KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI )
BERDASARKAN KOMPONEN-KOMPONEN NYA
 BITTER (1985:10)
KAP BERLANGSUNG APABILA PENGIRIM
MENYAMPAIKAN INFORMASI BERUPA KATA- KATA
KEPADA PENERIMA DENGAN MENGGUNAKAN
MEDIUM SUARA MANUSIA (HUMAN VOICE).

 BARNLUND
KAP SEBAGAI PERTEMUAN ANTARA DUA, TIGA
ATAU MUNGKIN EMPAT ORANG YANG TERJADI
SANGAT SPONTAN DAN TIDAK BERSTRUKTUR.
CIRI – CIRI KAP (KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI) MENURUT
ALO LILIWERI (1991) DIKUTIP DALAM BARNLUND

1. BERSIFAT SPONTAN
2. TIDAK MEMPUNYAI STRUKTUR
3. TERJADI SECARA KEBETULAN
4. TIDAK MENGEJAR TUJUAN YANG TELAH
DIRENCANAKAN
5. IDENTITAS KEANGGOTAAN TIDAK JELAS
6. DAPAT TERJADI HANYA SAMBIL LALU
KAP BERDASARKAN HUBUNGAN DIADIK
HUBUNGAN DIADIK MENGERTIKAN KAP SEBAGAI
KOMUNIKASI YANG BERLANGSUNG DIANTARA DUA
ORANG YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN YANG
MANTAP DAN JELAS

LAING PHILLIPSON DAN LEE (1991:117)


UNTUK MEMAHAMI PERILAKU SESEORANG HARUS
MENGIKUTI PALING TIDAK DUA ORANG PESERTA
DALAM SITUASI BERSAMA
 TRENHOLM DAN JENSEN (1995:26)
KAP MERUPAKAN KOMUNIKASI ANTARA DUA
ORANG YANG BERLANGSUNG SECARA TATAP
MUKA

“TIPIKAL POLA INTERAKSI DALAM KELUARGA


MENUNJUKAN JARINGAN KOMUNIKASI JARINGAN
TERSEBUT TERPUSAT PADA SALAH SATU ANGGOTA
KELUARGA YANG MELAYANI SEBAGAI GATE KEEPER
UNTUK MENJARING BEBERAPA PESAN KEMUDIAN
DIPERTUKARKAN KEPADA SELURUH ANGGOTA
KELUARGA”
Pendekatan Kap Berdasarkan Pengembangan

 Komunikasi antar pribadi dilihat sebagai akhir


dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat
tak pribadi atau intim pada ekstrim yang lain

Gerald Miller Dan M Steinberg (1998 : 274)


“Bila Komikator meneruskan hubungan Hubungannya
dan keterampilan antar pribadi mereka cukup memadai
untuk memungkinkan pertumbuhannya. maka
hubungan mereka mengalami perubahan secara
kualitatif. ketika perubahan-perubahan itu menyertai
pengembangan hubungan pertukaran –pertukaran
komunikasi akan meningkatkan hubungan pribadi”
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi
1. PREDIKSI BERDASARKAN DATA PSIKOLOGIS
2. PENGETAHUAN YANG MENJELASKAN
(EXPLANATORY KNOWLEDGE)
3. ATURAN YANG DITERAPKAN SECARA
PRIBADI

EDNA ROGERS (2002 :1)


“HUBUNGAN ANTAR PRIBADI DAPAT
MEMBENTUK STRUKTUR SOSIAL YANG
DICIPTAKAN MELALUI PROSES KOMUNIKASI”
CIRI-CIRI
1. ARUS PESAN CENDERUNG DUA ARAH
2. KONTEKS KOMUNIKASINYA DUA ARAH
3. TINGKAT UMPAN BALIK YANG TERJADI
CUKUP TINGGI
4. KEMAMPUAN MENGATASI TINGKAT
SELEKTIVITAS
5. KECEPATAN JANGKAUAN TERHADAP
KHALAYAK YANG BESAR RELATIF LAMBAT
6. EFEK YANG MUNGKIN TERJADI ADALAH
PERUBAHAN SIKAP.
CIRI – CIRI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
1. SPONTANITAS, TERJADI SAMBIL LALU DENGAN MEDIA
UTAMA ADALAH TATAP MUKA
2. TIDAK MEMPUNYAI TUJUAN YANG DITETAPKAN TERLEBIH
DAHULU
3. TERJADI SECARA KEBETULAN DIANTARA PESERTA YANG
IDENTITASNYA KURANG JELAS
4. MENGAKIBATKAN DAMPAK YANG DISENGAJA DAN TIDAK
DISENGAJA
5. KERAPKALI BERBALAS-BALASAN
6. MEMPERSYARATKAN HUBUNGAN PALING SEDIKIT DUA
ORANG DENGAN HUBUNGAN YANG BEBAS DAN BERVARIASI
7. HARUS MEMBUAHKAN HASIL
8. MENGGUNAKAN LAMBANG-LAMBANG YANG BERMAKNA
APA YANG DILAKUKAN KETIKA
BERKOMUNIKASI
 MENYAMPAIKAN PESAN
- ARTI PESAN
PESAN MERUPAKAN SEKUMPULAN LAMBANG.
JENIS PESAN :
a. INFORMATIONAL MESSAGE (PESAN YANG MENGANDUNG
INFORMASI)
b. INTRUCTIONAL MESSAGE (PESAN YANG MENGANDUNG
PERINTAH)
c. MOTIVATIONAL MESSAGE (PESAN YANG BERUSAHA
MENDORONG)
- SYARAT PESAN (SCRAMM, EFFENDY 1986)
1. PESAN YANG DIRANCANG DAN DISAMPAIKAN
SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENARIK PERHATIAN
KOMUNIKAN
2. PESAN YANG MENGGUNAKAN LAMBANG-LAMBANG,
LAMBANG ITU BERKAITAN DENGAN PENGALAMAN YANG
SAMA ANTAR KOMUNIKATOR DAN KOMUNIKAN
3. PESAN YANG MEMBANGKITKAN KEBUTUHAN PRIBADI
KOMUNIKAN, SERTA MENYARANKAN CARA-CARA UNTUK
MEMPEROLEH KEBUTUHAN TERSEBUT.
4. PESAN YANG MENYARANKAN LANGKAH-LANGKAH YANG
DISESUAIKAN DENGAN SITUASI KELOMPOK KOMUNIKAN.
- Unsur-unsur Pesan Komunikasi Antar Peibadi (Nimmo 1989)
1. Ada lambang
2. Ada hal yang dilambangkan (Rujukan)
3. Ada Tindakan Interpretatif yang menciptakan lambang
bermakna

“Lambang” Merupakan cara lain untuk


menyatakan suatu pesan.
“Rujukan” Menunjukan objek, Peristiwa atau benda
“Interpretasi” ialah pikiran yang aktif untuk melihat
kedudukan lambang/pesan. Dan hal yang diwakili pesan.
Bagaimana Menyusun Pesan
Menurut Reardon (1987) untuk menyusun
pesan perlu diperhatikan tiga faktor :
(A). Memperhatikan tata bahasa
Tata bahasa merupakan aturan-aturan yang dipergunakan
dalam menjadikan bahasa menjadi alat komunikasi, Aturan-
aturan tersebut mengatur setiap penutur agar dia berbahasa
secara baik dan benar sehingga komunikasi lebih efektif.

Syarat Berbahasa
1. Memilih kata
2. Menyusun kalimat baik dan benar

3. Menggunakan ejaan yang tepat


4. Memakai imbuhan yang beraturan
(B) Mengenal Pengetahuan Komunikan
EX :
 Jam berapa komunikan (dosen) bisa

menerima tamu
 Apa tema pembicaraan yang disukainya
 Pesan non verbal mana yang tidak disukai
 Apakah dia cukup demokratis sehingga

pendapat-pendapatnya bisa dibantah


 Apakah anda hanya boleh mendengarkan dia
mengenal situasi atau konteks
Menurut Bierens De Haan (dalam Susanto 1977) yang
dimaksud situasi adalah

 Totalitasdari hubungan masyarakat yang mempengaruhi


dan dapat mengarahkan suatu keadaan yang sesuai
dengan kepentingan seseorang atau suatu masyarakat
 Keadaan sekeliling yang dibentuk oleh masa lampau dan

masa sekarang suatu masyarakat


 Keseluruhan pengaruh masyarakat, sia merupakan

keseluruhan hubungan kekuasaan dan hubungan-


hubungan yang mencakupi kesadaran akan nilai-nilai
yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Memberi Makna Dan Memahami
Informasi
Menurut Strater (1994) informasi adalah -- Kegiatan
pengumpulan atau pengolahan data sehingga data
dapat menghasilan pengetahuan dan keterangan baru.

Data yang telah diubah menjadi informasi itu


mempunyai nila,nilai tersebut mempunyai arti
sehingga mudah dipahami orang. Data itu telah
mengandung nilai informatif.

Memaknakan pesan secara Denotatif dan Konotatif


Ciri-Ciri Komunikasi Antar Pribadi
(Porter dan Samovar)
I. Melibatkan perilaku melalui pesan Verbal
dan Non Verbal.
Setiap hari manusia selalu berkomunikasi antar
pribadi menampilkan perilaku dengan
mengirimkan pesan-pesan yang Verbal dan Non
Verbal.
Dalam Komunikasi, Tanda-tanda Verbal
ditunjukan dengan menyebutkan kata-kata
mengungkapkan secara lisan maupun tertulis
sedangkan tanda-tanda Non verbal terlihat
tampilan wajah dan gerakan tangan.
Perilaku Pesan Verbal
A. Bahasa jarak/ruang atau Proksemik
Yaitu tanda-tanda Non Verbal yang memiliki pesan tentang
bagaimana komunikastor dan komunikan menempatkan jarak
fisik atau memelihara ruang gerak dalam komunikasi antar
pribadi
B. Bahasa gerak anggota tubuh atau kinetik
 Emblem, merupakan terjemahan pesan dari bahasa Verbal

kedalam bahasa Non Verbal tujuan Emblem untuk melukiskan


suatu makna khas bagi suatu makna khas bagi suatu kelompok
sosial tertentu
 Ilustrator, merupakan gerakan anggota tubuh yang menjelaskan

atau menunjukan “contoh” terhadap sesuatu objek.


 Adaptor, merupakan gerakan anggota tubuh yang “spesifik yang

dimiliki seseorang
C. Perilaku yang terletak antara Verbal dan Non Verbal yang disebut “Para
Linguistik
Para Linguistik adalah Pesan Non Verbal Auditif yang berhubungan
dengan cara pengucapan pesan Verbal

Komponen Paralinguistik
 Kualitas suara, Berkaitan dengan pengontrolan Vokal, turun naik gema

suara dan kecepatan berbicara


a. Volume
b. Kecepatan dan Kefasihan
c. Nada Suara (Pitch)
 Vokalisasi, Merupakan struktur bahasa seperti tangisan,
tertawa, dan dengkuran
Karakteristik Vokalisasi : Tertawa/Menangis,
Berteriak/Berbisik,Merintih/Mengeluh, Merengek/Memecah
suara, Menyembur suara
II. Melibatkan Pernyataan/Ungkapan
yang spontan, Scripted, Conrived
1. Bentuk Perilaku Spontan
Dalam komunikasi Antar Pribadi perilaku
ini dilakukan secara tiba-tiba serta merta
untuk menjawab suatu rangsangan dari
luar. Perilaku spontan biasa dilakukan
tanpa dipikirkan dahulu.
2. Bentuk Perilaku Scripted
Sebagian reaksi emosi manusia terhadap
pesan tertentu dilakukan melalui proses
belajar sehingga perilaku itu menjadi rutin
(perilaku karena kebiasaan)
3. Bentuk Perilaku Contrived
 Merupakan perilaku yang sebagian besar dilakukan atas
pertimbangan kognitif.
 Timbul karena manusia yakin dan percaya atas apa yang dia
lakukan tersebut benar-benar masuk akal
 Semua perilaku, ucapan kata-kata Verbal dan gerakan-gerakan NonVerbal
sesuai dengan pikiran, pendapat, kepercayaan dan keyakinan si pelaku
III. Bersifat Dinamis, Bukan Statis
 Menurut Miller dan Steinberg “Apabila ada dua orang
yang baru pertama kali bertemu, maka kedua orang itu
hanya mempunyai gambaran umum atau informasi dasar
tentang diri mereka masing-masing. Proses KAP sesalu
mengalami perkembangan dan kemajuan akibat
pertambahan informasi.

Apabila perkembangan tersebut semakin konstan dan


mantap maka hasil suatu komunikasi antarpribadi
bermutu, sebaliknya apabila peristiwa KAP itu bersifat
Statis, Maka hubungan yang tercipta cenderung tidak
bermutu tidak maju, karena tidak ada informasi baru
yang lebih bermutu daripada sebelumnya.
IV. Melibatkan Umpan Balik Pribadi, Hubungan
Interaksi dan Komerensi

1. Hasil Umpan Balik


KAP dikatakan sukses apabila komunikator dan
komunikan berpartisipasi melalui pengiriman pesan
Verbal Maupun Nonverbal. Setiap tindakan
komunikasi selalu ditandai umpan balik

Kita berbicara dengan orang lain, kita selalu


mengharapkan agar jawaban orang itu
menggabarkan bahwa dia bisa mengetahui pikiran
perasaan dan bisa melaksanakan apa yang kita
maksudkan. Kalau Harapan-harapan itu terpenuhi
maka KAP berhasil.
2. Hasil Interaksi
Umpan balik tidak mungkin ada juka tidak ada interaksi
atau kegiatan dan tindakan yang menyertainya. Keberadaan
Interaksi menunjukan bahwa KAP menghasilkan suatu
umpan balik pada tingkat keterpengaruhan tertentu. Tanda
pengaruh, maka Interaksi dalam KAP kurang bermanfaat

Faktor Pendukung Interaksi (Jucios, 1967)


 Bagaimana Status dan peranan Individu dalam lingkungan

tertentu
 Bagaimana ikatan-ikatan individu dengan organisasi sosial

maupun politik yang menjadi affiliasi individu


 Pertemuan-pertemuan apa yang biasa diikuti oleh individu

tersebut.
3. Hasil Koherensi
Koherensi adalah Terciptanya suatu benang
merah atau jalinan antara pesan-pesan verbal
maupun Nonverbal yang telah dinyatakan,
Sedang dinyatakan dan akan dinyatakan oleh
orang lain.
V. Dipandu Oleh Tata Aturan yang bersifat
Interistik dan Ekstrinsik
1. Tatanan Interistik
Suatu standarisasi perilaku yang sengaja
dikembanngkan untuk memandu KAP dan Komunikannya yang
peranannya berdasarkan strata dan status sosial tata aturan
Interistik biasa disepakati di antara peserta KAP. Komunikator
dan komunikan bisa memusyawarahkan apakah suatu
tema pembicaraan dapat dihentikan atau diteruskan.
2. Tatanan Ekstrinsik
Tata aturan yang timbul akibat pengaruh pihak ketiga atau
pengaruh situasi dan kondisi sehingga KAP harus diperbaiki.
Dalam KAP ada aturan/tatanan yang mengatur mekanisme
untuk meningkatkan dan mengurangi fungsi pengembangan
hubungan Antar Pribadi.
VI. Meliputi Kegiatan Dan Tindakan
Kap harus disertai dengan tindakan-tindakan tertentu

komunikator dan komunikan harusbersama-sama


menciptakan kegiatan tertentu yang mengesankan
bahwa mereka selalu berkomunikasi Antar Pribadi.

VII. Melibatkan Persuasi


Merupakan teknik untuk mempengaruhi manusia
dengan memanfaatkan/menggunakan data dan
fakta Psikologis maupun Sosiologis dari komunikan
yang hendak dipengaruhi.
Faktor-Faktor Pembentuk Komunikasi
Antar Pribadi
 Menurut Halloran (1980), Manusia
berkomunikasi dengan orang lain didorong
oleh faktor-faktor :
(1). Perbedaan Antar Pribadi
(2). Pemenuhan Kekurangan
(3). Perbedaan Motivasi Antar Manusia
(4). Pemenuhan Antar Harga Diri
(5). Kebutuhan atas Pengakuan Orang lain
 Menurut Cassagrande (1986). Manusia berkomunikasi
karena :

(1). Memerlukan orang lain untuk saling mengisi


kekurangan dan membagi kelebihan.
(2). Dia ingin terlibat dalam proses perubahan yang relatif
tetap.
(3). Dia ingin berinteraksi hari ini dan memahami
pengalaman masa lalu dan mengantisipasi masa depan.
(4). Dia ingin menciptakan hubungan baru.
Kebutuhan Manusia Menurut Abraham Maslow
1. Kebutuhan Fisik, Kebutuhan dasar lahiriah :
Udara, Air, Makanan perumahan, pakaian, seks,
maupun kebutuhan biologis lainnya.
2. Rasa aman dan jaminan
3. Kebutuhan memiliki dan kebutuhan sosial
4. Kebutuhan memperoleh penghargaan dan status
5. Kebutuhan aktualisasi diri
Jenis-Jenis Hubungan Antar Pribadi
1. Tahap perkenalan : (A) Tahap Pasif, (B)
Tahap Aktif, (C) Tahap Interaktif
2. Tahap Persahabatan, Fungsi Persahabatan :
A. Membagi pengalaman agar dua pihak merasa sama-
sama puas dan sukses
B. Menunjuakan dukungan emosional
C. Sukarela membantu kalau diperlukanpihak lain
D. Berusaha membuat pihak lain menjadi senang
E. Membantu kalau dia berhalangan untuk sesuatu
urusan
3. Tahap keakraban dan keintiman
4. Tahap hubungan suami istri
5. Tahap hubungan orang tua dengan anak
6. Tahap hubungan persaudaraan
Pengembangan Hubungan KAP
Alasan–alasan untuk pengembangan hubungan
 Mengurangi kesepian
 Mendapatkan rangsangan (stimuli)
 Mendapatkan pengetahuan diri

 Memaksimalkan kesenangan, meminimalkan penderitaan

Memperkasai Hubungan (Jumpa Pertama)


 Meneliti kualitas.

 Kualitas, Aspek-aspek yang membuat orang yang anda

temui merupakan pilihan yang tepat.


 Kualitas tampak dengan jelas : Kecantikan, Gaya Busana,

Perhiasan.
 Kualitas Tersembunyi : Kepribadian, Kesehatan, Kekayaan,

Bakat, Kecerdasan
Melihat Lampu Hijau
 Menentukan apakah orang yang anda jumpai cocok untuk macam
pertemuan yang anda minati
EX : Jika ingin mengencaninya, apakah ia memakai cincin
kawin atau tidak.
Membuka Perjumpaan
(A). Cari topik yang akan menarik minat orang itu
(B). Cari petunjuk bahwa orang ini sudah siap untuk
perjumpaan yang lebih penting
Topik Yang Memadukan
 Topik yang menarik bagi anda maupun orang itu dan akan
membantu menyatukan anda berdua.
 Informasi gratis, Informasi tentang oramg itu yang dapat anda
lihat atau muncul selama percakapan
EX : Jaket Amlmamater, Seragam, Pekerjaan, Bidang Studi
Ciptakan Citra Yang Menyenangkan
 Tampilkan bagian dari diri pribadi anda yang mengundang,
memikat dan menarik orang itu, tampilkan bagian pribadi anda
yang akan membuat orang itu berkeinginan melanjutkan
pertemuan.
Rencanakan Pertemuan Kedua
 Perjumpaan Non Verbal
1. Pertama tama ciptakan kontak mata,mata mengkomunikasikan dan
minat pada diri orang itu
2. Pusatkan percakapan pada orang itu
3. Berilah pujian dan dukungan
4. Tunjukan semangat
5. Tekankan hal positif
6. Hindari pengungkapan diri yang negatif atau terlalu akrab, masuki
hubungan secara bertahap dan luwes
7. Carilah kesamaan (sikap,minat,kualitas pribadi,pihak ketiga,tempat)
Kompetensi Dan Kecakapan Komunikasi Antar
Personal
Kompetensi KAP adalah “Tingkat dimana perilaku
kita dalam KAP sesuai dan cocok dengan situasi
dan membantu kita mencapai tujuan KAP yang kita
lakukan dengan orang lain”. Tujuan itu mencakup
tujuan personal, pribadi . Isi pesan komunikasi
yang kita sampaikan dan tujuan relasional
hubungan dengan orang lain yang berkomunikasi
dengan kita
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KAP
1. Kecakapan sosial, Kecakapan kognitif,
Kecakapan pada tingkat pemahaman.
Meliputi :
A. Empati (empathy) . Kecakapan untuk memahami pengertian dan
perasaan orang lain tanpa meninggalkan sudut pandang sendiri tentang
hal yang menjadi bahan komunikasi.
B. Perspektif Sosial (Social Perspektive), Kecakapan melihat kemungkinan-
kemungkinan perilaku yang dapat diambil orang yang berkomunikasi
dengan dirinya sehingga dapat meramalkan perilaku mana yang diambil.
Dapat menyiapkan tanggapan yang tepat dan efektif.
C. Kepekaan (sensitivity) terhadap peraturan atau standar yang berlaku
dalam KAP sehingga dapat menetapkan perilaku mana yang diterima
dan tidak diterima oleh rekan yang berkomunikasi dengan kita.
D. Pengetahuan akan situasi pada waktu berkomunikasi, Ada waktu dan
tempat untuk segala sesuatu, Dalam komunikasi, Situasi sekeliling dan
keadaan orang yang berkomunikasi dengan kita berperan penting.
E. Memonitor Diri (Self Monitoring) kecakapan memonitor diri membantu
kita menjaga ketepatan perilaku dan jel memperhatikan pengungkapan
diri orang yang berkomunikasi dengan kita.
II. Kecakapan Behavioral, Kecakapan Pada Tingkat
Perilaku.
Meliputi:
1. Keterlibatan interaktif (Interaktive Involvement), Kecakapan ini menentukan
tingkat keikutsertaan dan pasrtisipasi kita dalam komunikasi dengan orang
lain.
Kecakapan ini meliputi :
A. Sikap tanggap (responsivenness) Dengan sikap tanggap ini dengan cepat
kita akan membaca situasi sosial dimana kita berada dan tahu apa yang harus
dikatakan dan dilakukan. Kapan dikatakan dan dilakukan, Serta bagaimana
dikatakan dan dilakukan.
B. Sikap Perseptif (perseptiveness), dengan kecakapan ini kita dibantu
bagaimana orang berkomunikasi dengan kita mengartikan perilaku kita dan
tahu bagaimana kita mengartikan perilakunya.
C. Sikap penuh perhatian (Attentiveness) Kecakapan ini membantu kita untuk
menyadari faktor-faktor yang menciptakan situasi dimana kita berada.
2. Manajemen Interaksi (Interaction Management)
3. Keluwesan Perilaku (Behavioral Flexibility)
4. Mendengarkan (Listening)
5. Gaya Sosial (Social Style)
6. Kecemasan Komunikasi (Communication Anxiety)
Kepribadian Orang Yang Berkomunikasi
I. Sikap Orang Yang Berkomunikasi
A. Menerima mereka apa adanya
B. Menghargai keunikan mereka dan peran hidup yang mereka pegang dan
laksanakan.
C. Menghormati mereka secara pribadi dan bukan menghina atas dasar Ideologi,
Keyakinan, Kepercayaan dan Agama
D. Memperlakukan mereka sebagai pribadi yang mempunyai tujuan sendiri dan
tidak menjadikan mereka sebagai alat untuk mencapai apapun atau objek untuk
dipermainkan sesuka kita.
II. Sikap Terhadap Diri Sendiri
A. Gambaran Diri (Self Image)
Gambaran yang kita bentuk dari pemikiran kita berdasarkan peran
hidup yang kita pegang, Watak, Kemampuan, Kecakapan (Positif/Negatif)
B. Penilaian Diri (Self Evaluation)
Penilaian atas harga diri kita (Tinggi/Rendah)
C. Cita-cita Diri (Self Ideal)
Kita pasti mempunyai cita-cita ingin menjadi seseorang seperti yang kita
inginkan dikemudian hari tanpa memperhatikan apakah kita mempunyai
gambaran positif/negatif dan harga diri tinggi/rendah
PERCAKAPAN

 Percakapan (Conversation) adalah


Pembicaraan secara lisan antara dua orang
atau lebih dimana mereka saling
mengungkapkan dan menanggapi perasaan,
pikiran, serta gagasan.
Manfaat percakapan
1. Percakapan menciptakan kemungkinan untuk umpan
balik (Feedback) dengan adanya percakapan. Pihak-
pihak yang terlibat dapat salin menyampaikan
pendapat dan tanggapan terhadap pemikiran,
gagasan, kata-kata, dan tindak tanduk mereka
masing-masing agar ditinjau kembali diperbaiki, atau
bahkan ditinggalkan dan diganti dengan lebih baik.

2. Dalam percakapan dan melalui percakapan, orang


dapat saling mengajukan pertanyaan, berbagi
gagasan, menguji pemahaman dan bekerja sama
memecahkan masalah.
3. Percakapan dapat digunakan oleh pihak-pihak yang
terlibat untuk menyampaikan dan menyerap
informasi Non Verbal yang menjelaskan informasi
Verbal yang diungkapkan.
 
4. Percakapan membuat orang-orang yang melakukan
merasa nyaman karena memenuhi kebutuhan
meraka untuk bias menjadi bagian dari kelompok
dalam organisasi/perusahaan, Percakapan dapat
digunakan untuk membangun semangat dan
menciptakan identitas kelompok.
 
Mendengarkan secara efektif
1. Bermotivasi (Being Motivated)
Mempunyai dorongan dari dalam untuk mau
mendengarkan dan mau berusaha mendengarkan
dengan baik
2. Mengadakan kontak mata(Marking Eye Contact)
3. Menunjuakan minat (Shoeing interest)
4. Menghindari Tindakan-Tindakan yang
mengganggu (Distracting Actions)
EX : Melihat jam, Memain-mainkan pensil/kertas
5. Tidak memotong pembicaraan (Interupting)
6. Bersikap wajar (Being Natural)
Hal-hal Yang Sebaiknya Dihindari Dalam Percakapan

1. Terlalu mengarahkan (Too Directing)


EX : Marilah kita berbisara hal-hal yang menyenangkan saja

2. Mengadili (Judging), Membuat pernyataan yang mengadili, Terutama kekurangan


pembicaraan diukur dari ukuran kita.
EX : -Saya kira kmu terlalu hati-hati
-Kamu menghancurkan masa depanmu

3. Menyalahkan (Blaming), Melempar tanggung jawab pada pembicaraan atas apa saja yang
terjadi
EX : Salahmu sendiri, Kamu yang memulai, Bukan saya

4. Mengkhotbahi (Preaching), Memberitahu kepada pembicara bagaimana bertindak atau hidup


EX: Seharusnya kamu rajin belajar

5. Bersikap Agresif (Being Aggressive), Membuat pertanyaan yang merendahkan atau membuat
pembicara sakit hati
EX: Bodoh kamu, Apakah kamu tidak tahu sopan santun
6. Menggurui (Teaching), Bersikap merasa “Lebih Tahu” Dari pada
pembicara dan membuat pernyataan yang “Lebih Tahu”
EX: Nasihat saya, Putus saja hubungan kamu dengan pemuda itu

7. Berpura-pura menaruh perhatian (Faking Attention), Berusaha member


kesan mendengarkan dan menaruh perhatian
EX: “Hebat”, Sungguh?

8. Memberi batas waktu (Plcaing Time Pressure), Memberitahu pembicara


bahwa waktu untuk mendengarkan terbatas
EX: Saya harus pergi, Bicara singkat saja

9.Berbicara tentang diri sendiri secara tidak tepat (In Appropriately, Talking
About Oneself), Berbicara tentang diri sendiri yang mengganggu
pembicaraan orang lain
EX: Kau dapat masalah?Coba dengar masalah saya, Pasti berguna bagimu

10. Meyakinkan secara gampang (Reassuring), Membuat orang lain merasa


nyaman tanpa memperhatikan perasaan
EX: Kamu pasti berhasil, “Semua orang mempunyai masalah”
 
Etiket Dalam Percakapan
1. Jangan terlalu banyak tentang diri kita, Hal itu
membuat kita terkesan sombong dan percakapan
kita sendiri membosankan bagi orang lain.
2. Jangan memonopoli percakapan dan berilah
kesempatan kepada
3. Gunakan bahasa sopan tetapi efektif
4. Mendengarkan ketika rekan berbicara untuk
memahami isi dan perasaan yang terkandung dalam
percakapan
5. Dalam percakapan hendaknya memeprhatikan
situasi dan keadaan rekan bicara , juga yang tidak
kalah penting, harus taktis dalam berbicara.
6. Jangan bersikap kaku dan dogmatis karena
memberi kesan keras kepala dan menggurui
Perusakan Hubungan
 Hakekat perusakan hubungan adalah melemahkan
ikatan yang mempertalikan orang bersama.
Perusakan hubungan dapat terjadi berangsur atau
mendadak, sedikit demi sedikit atau ekstrim
 Perusakan berangsur (Passing Away), terjadi bila

salah satu pihak mengembangkan hubungan dekat


dengan pacar baru dan hubungan baru ini
perlahan-lahan menyingkirkan pacar lama
 Perusakan mendadak (sudden Death), Terjadi bila

salah satu atau kedua pihak melanggar sesuatu


yang sangat penting bagi hubungan itu (misalnya,
kesetiaan). Sebagai akibatnya, Kedua pihak
menyadari bahwa hubungan harus diakhiri.
Sebab-Sebab Perusakan Hubungan
 Alasan-alasan untuk membina hubungan telah meluntur
• Kesepian tidak berkurang, Hubungan mungkin sedang
menuju kejurang kehancuran.
• Bila Stimulasi melemah, salah satu atau kedua pihak
mungkin mulai melirik kea rah lain.
• Bila pengenalan diri dan pertumbuhan diri tidak lagi
memadai, kita menjadi tidak puas dengan diri kita
sendiri, dengan mitra kita, dan dengan hubungan itu
sendiri.
• Bila daya tarik meluntur, kita kehilangan salah satu alas
an terpenting untuk mengembangkan hubungan.
 Hubungan Pihak Ketiga
• Hubungan dibina dan dipelihara sebagian besar
karena didalamnya kesenangan menjadi maksimal
dan penderitaan menjadi minimal bila hal ini tidak
lagi terjadi, kecil harapan hubungan itu akan
bertahan.
 Perubahan Sifat Hubungan
• Perubahan Psikologis separti perkembangan minat
intelektual yang berbeda atau sikap yang tidak
bersesuaian dapat menimbulkan masalah hubungan.
Perubahan keprilakuan seperti kesibukan dengan
bisnis atau sekolah dapat menimbulkan ketegangan
dan menimbulkan masalah perubahan status juga
dapat menimbulkan kesulitan bagi suatu pasangan
 Harapan Yang Tak Terkatakan
• Adakalanya Harapan satu pihak kepada pihak lain
tidak Realistis ini sering terjadi pada awal suatu
hubungan bilamana misalnya kedua pihak mengira
bahwa mereka akan dapat selalu menghabiskan waktu
mereka bersama-sama bila mereka menyadari bahwa
ini ternyata tidak terjadi. Setiap rasa kecewa akan
semakin melunturkan perasaan yang tadinya ada.

 Seks
• Riset secara jelas menunjuakan bahwa kualitas
hubungan Seks, dan bukan kuantitas yang penting.
Bila kualitas hubungan ini buruk pihak yang terlibat
mungkin mencari kepuasan diluar hubungan yang sah.
 Pekerjaan
• Ketidak bahagiaan dengan pekerjaan seringkali
menimbulkan kesulitan hubungan. Menurut Graham
Staines, Kaum suami yang istrinya bekerja lebih
tidak puas dengan pekerjaan dan kehidupan
mereka sendiri ketimbang kaum suami yang
istrinya tidak bekerja. Seringkali kaum pria
mengharapkan istrinya tidak bekerja tetapi tidak
mengurangi harapan mereka dalam tanggung
jawab rumah tangga.
 Masalah keuangan
• Dalam survey tentang masalah yang dialami
pasangan-pasangan, Masalah keuangan rupanya
cukup mengancam. Uang barangkali merupakan topic
yang tabu untuk dibicarakan pada tahap awal suatu
hubungan. Penghasilan yang tidak sama antara pihak
pria dan wanita menimbulkan masalah lebih jauh
siapapun yang mempunyai penghasilan lebih besar
uang juga menimbulkan masalah karena pihak pria
dan wanitamemandang secara berbeda. Bagi pria,
Uang khususnya terkait dengan kekuasaan. Bagi
wanita, Uang lebih terkait dengan perasaan aman dan
kemandirian.
 Ketidak Merataan Distribusi penghargaan dan
biaya
• Umumnya, kita memeprtahankan hubungan yang
menguntungkan dan meninggalkan hubungan yang
merugikan
 Komitmen
- Keuangan
- Waktu
- Emosional
Memperbaiki Komunikasi Antar Personal dan
Manajemen Konflik
Pendekatan Humanistik
Devito (1997:259) Ada lima kualitas umum yang
dipertimbangkan dalam KAP.
 Keterbukaan
Kualitas keterbukaan sedikitnya mengacu tiga aspek
1. Harus terbuka kepada orang yang diajak
berinteraksi
2. Kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur
terhadap stimulus yang datang
3. Menyangkut kepemilikan perasaan dan pikiran
 Empaty
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empaty sebagai kemampuan
seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain
pada suatu tempat tertentu dari sudut pandang orang lain itu melalui
kacamata orang lain itu.

 Sikap Mendukung
1. Deskriptif bukan Evaluatif
2. Spontan bukan Strategi
3. Profesional bukan sangat yakin.

 Sikap Positif
1. KAP terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
2. Perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting
untuk interaksi yang efektif
 Kesetaraan
Dalam setiap situasi, Barangkali terjadi
ketidaksetaraan , salah seorang mungkin lebih pandai,
lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau atletis
ketimbang orang lain. Tidak pernah ada dua orang yang
benar-benar setara dalam segala hal.

Terlepas dari ketidaksetaraan ini, KAP akan lebih efektif


bila suasananya setara, Artinya harus ada pengakuan
secara diam-diam bahwa kedua belah pihak sama-
sama bernilai dan berharga, dan masing-masing
mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Ancaman Pragmatis (Model Kompetensi) KAP
 Kepercayaan Diri
Komunikator yang efektif memiliki kepercayaan diri
sosial, Perasaan cemas tidak dengan mudah dilihat
oleh orang lain, bersikap santai tidak kaku, Fleksibel
dalam suara dan gerak tubuh, Tidak terpaku pada
suara tertentu dan gerak tubuh tertentu, terkendali,
tidak gugup atau canggung. Sosok yang santai,
Menurut Riset, Mengkomunikasikan sikap terkendali
status dan kekuatan, Ketegangan, Ketakutan dan
kecanggungan sebaliknya mengisyaratkan ketiadaan
kendali
 Kebersatuan

Kebersatuan mengacu pada penggabungan antara pembicara


dan pendengar terciptanya rasa kebersamaan dan kesatuan

Kebersatuan dikomunikasikan secara verbal dengan


Cara :
 Menyebur nama lawan bicara
 Menggunakan kata ganti yang mencakup baik pembicara
atau pendengar
 Memberikan umpan balik yang relevan
 Tunjuakan bahwa anda memusatkan perhatian pada kata-
kata lawan bicara
 Kukuhkan, hargai atau pujilah lawan bicara
 Sertakan Referensi diri kedalam pernyataan yang bersifat
evaluatif
 Manajemen Interaksi
Dalam Manajemen Interaksi yang paling efektif tidak
seorang pun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh
penting, Masing-masing pihak berkontribusi dalam
keseluruhan komunikasi.
Menjaga peran sebagai pembicara dan pendengar dan
melalui gerakan mata, ekspresi vocal, serta gerakan tubuh
dan wajah yang sesuai saling memberikan kesempatan
untuk berbicara merupakan keterampilan Manajemen
Interaksi
Dalam Manajemen Interaksi yang efektif menyampaikan
pesan-pesan Verbal dan Non Verbal yang saling
bersesuaian dan saling memperkuat.
 Pemantauan Diri
Manipulasi citra yang kita tampilkan kepada pihak
lain, pemantauan diri yang cermat selalu
menyesuaikan perilaku mereka menurut umpan balik
dari pihak lain. Guna mendapatkan efek yang paling
menyenangkan. Mereka memanipulasi (dalam arti
positif) Interaksi untuk menciptakan kesan yang
terbaik dan paling efektif.
 Daya Ekspresi (Expressiveness)

Daya Ekspressivess mengacu keterampilan


mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam Interaksi Antar
Pribadi. Kita berperan serta dalam permainan dan tidak
sekedar menjadi penonton misalnya ekspresi tanggung jawab
atas pikiran dan perasaan, Mendorong daya ekspresi atau
keterbukaan orang lain, dan memberikan umpan balik yang
relevan dan patut.
Dalam situasi konflik, Daya ekspresi mencakup ikut berkelahi
secara aktif dan menyatakan ketidaksetujuan secara langsung
dengan “I Message”, Bukan berkelahi secara pasif, Menarik
diri atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.
 Orientasi Kepada Orang Lain
Orientasi mengacu kepada kemampuan kita untuk menyesuaikan diri
dengan lawan bicara selama perjumpaan Antar Pribadi. Orientasi ini
mencakup pengkomunikasian perhatian dan minat terhadap apa
yang dikatakan lawan bicara

Orientasi kepada orang lain secara Non Verbal:


Kontak mata yang terpusat, Senyum, Anggukan, Mencondongkan diri
ke arah lawan bicara, dan memperlihatkan perasaan dan emosi
melalui Ekspresi wajah yang sesuai.

Secara Verbal : komentar-komentar “Oh, Ya?”, Oh begitu


Permintaan Informasi: Apa lagi yang anda lakukan disana
Ungkapan Empati: “Saya mengerti apa yang anda rasakan,
Orangtua saya juga bercerai baru-baru ini”
 Ancangan Pergaulan Sosial
Teori kesetaraan (ekuitas), Bahwa kita tidak saja membina hubungan yang
manfaatnya melampaui biayanya, Melainkan juga bahwa kita mengalami
kepuasan dari suatu hubungan bila ada kesetaraan atau pemerataan dalam
Distribusi imbalan dan biaya diantara kedua belah pihak yang berhubungan.
 Bertukar Manfaat
Dalam setiap hubungan, selalu ada biaya : Masalah keuangan, Ketegangan,
Pekerjaan, Masalah perumahan, Serta Konflik Antar Pribadi, Imbangi biaya ini
dengan mempertukarkan manfaat atau kesenangan, Khususnya “Perilaku yang
saling mengasihi”, Perilaku mengasihi adalah Dukungan-dikungan kecil yang
kita terima dengan senang hati dari mitra hubungan kita
Misalnya : Telepon untuk mengatakan “I Love You”, Kiriman kartu secara tiba-
tiba, Bunga, Pelukan erat, Makanan yang disiapkan secara khusus, Ciuman.

Perilaku manis ini haruslah


1. Spesifik dan positif
2. Difokuskan pada masa kini atas mendatang dan tidak dikaitkan dengan
pertengkaran masa lalu
3. Dapat dilakukan setiap hari
4. Mudah dilakukan
 William Lederer menyarankan kedua belah
pihak membuat daftarperilaku manis masing-
masingyang masing-masing inginkan dan
pertukaran daftar dan mempertukarkan daftar
isi msing-masing pihak kemudian mengerjakan
perilaku nabis yang diinginkan mitranya .
 Menanggung beban biaya
 Mengintensipkan pertukaran manfaat pada saat biaya
meningkat
 Memperbesar manfaat untuk mengurangi saya tarik
alternatif
Manajemen Konflik
Manajemen konflik yang tidak produktif
• Penghindaran, Non Negoisasi, Redefinisi
Penghindaran (Avoidance)
Sering dijumpai dalam bentuk pelarian fisik,
Meninggalkan tempat konflik, Tidur, Menyetel radio
keras-keras
Penghindaran secara Emosional atau Intelektual, Tidak
menanggapi argumen atau masalah yang
dikemukakan.
 Non Negoisasi
Tidak mau mendiskusikan atau mendengarkan argumen dari
pihak lain memaksakan pendapatnya sampai pihak lain menyerah

 Diredefinisi
“Ini bukan kencan hanya perjalanan bisnis yang kita lakukan
bersama-sama”.
“Kecemburuanmu berlebihan, Sebaiknya kamu berkonsultasi
ke psikiater” saya tidak sanggup menghadapi kecemburuan
setiap hari dengan perilaku-perilaku seperti ini, Sumber
konflik tidak pernah dihadapi hanya dikesampingkan. Suatu
saat konflik ini akan muncul kembali.
 Pemaksaan
Bila dihadapkan pada konflik banyak orang ysng berusaha
memaksakan keputusan atau cara berfikir mereka dengan cara
pemaksaan atau kekuatan fisik, Emosional. Contoh kasus
(Time,21 September 1981)
 25% kisah cinta di PT Amerika melibatkan kekerasan , Konflik
menyangkut pihak ketiga, Seks, Mabuk-mabukan.
 30% Pasangan yang terlibat konflik yang mengandung
kekerasan ini memandang kekerasan fisik sebagai tanda cinta.
 75% Dari yang terlibat penganiayaan mengatakan bahwa hal
tersebut tidak merusak hubungan mereka, Dan lebih dari
sepertiga mengatakan bahwa kekerasan fisik bisa
memperbaiki hubungan mereka
 Minimasi
Kita menggunakan Minimasi bila kita menganggap
enteng perasaan orang lain
“Mengapa kamu begitu marah? Saya hanya terlambat 2
jam (Kmu layak marah, Seharusnya saya menelepon mu
bila saya tahu akan datang terlambat).
 Menyalahkan
Dalam Beberapa kasus kita menyalahkan diri sendiri,
tetapi lebih sering menyalahkan orang lain. Saling
menyalahkan tidak ada gunanya selain sekedar
menghibur diri untuk sementara bahwa bukanlah dirinya
yang bersalah dalam hal itu.
 Peredam
Menangis, Menjerit-jerit, Berteriak-teriak,
Sakit kepala/Nafas sesak.

 Karung Goni
Mengacu pada tindakan menimbun kekecewaan dan kemudian menumpahkan
pada lawan bertengkar.

 Manipulasi
Situasi konflik dari pihak lain dimanipulasi
sedemikian rupa sehingga pihak pemanipulasi
memenangkan pertengkaran.

 Penolakan Pribadi
Pihak yang melakukan penolakan biasanya bersikap dingin dan acuh
tak acuh berupaya menjatuhkan pihak lain Dengan tidak memberi
perhatian, Orang berharap membuat pihak lain bertanya-tanya
mengenai arti dirinya.
Manajemen Konflik Yang Efektif
1. Berkelahi secara Sportif
2. Bertengkar secara aktif
3. Bertanggungjawab atas pikiran dan perasaan anda
4. Langsung dan Spesifik
5. Gunakan Humor untuk meredakan ketegangan

Manfaat Positif Konflik (Johnson 1981)


1. Konflik dapat menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang
perlu dipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain
2. Konflik dapat menyadarkan dan mendorong kita untuk
melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita
3. Konflik dapat menumbuhkan dorongan dalam diri kita untuk
memecahkan persoalan yang selama ini tidak jelas kita sadari
atau kita biarkan tidak muncul kepermukaan
4. Konflik dapat menjadikan kehidupan lebih menarik.
5. Perbedaan pendapat dapat membingbing kearah tercapainya
keputusan-keputusan bersama yang lebih matang dan
bermutu.
6. Konflik dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan kecil
yang sering kita alami dalam hubungan kita dengan seseorang
7. Konflik juga dapat menjadikan kita sadar tentang siapa atau
macam apa diri kita sesungguhnya
8. Konflik dapat menjadi sumber hiburan
9. Konflik dapat memperketat dan memperkaya hubungan

Konflik Bersifat Konruktif, Apabila


1. Hubungan kita dengan pihak lain justru menjadi lebih erat,
Dalam arti lebih mudah berinteraksi dan bekerjasama
2. Kita dan pihak sama-sama merasa puas dengan akibat-akibat
yang timbul setelah berlangsungnya konflik
3. Kedua belah pihak sama-sama merasa puas dengan akibat-
akibat yang timbul setelah berlangsungnya konflik
4. Kedua belah pihak makin mengatasi secara konstruktif konflik-
konflik baru yang terjadi diantara mereka.
Dalam Kaitannya Dengan Cara Berkonflik
Terdapat 4 Tipe Situasi Konflik, Sbb
A. Konflik Inter Individu
Konflik ini merupakan tipe yang paling erat kaitannya
dengan emosi Individu hingga tingkat keresahan yang
paling tinggi. Konflik dapat muncul dari dua penyebab,
Karena kelebihan beban (Role Everloads) atau karena
ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan perahan
(Person Role Incompatibilities) dalam kondisi pertama
seseorang mendapat “Beban berlebihan” akibat status
(Kedudukan) yang dimilikinya Sedang dalam kondisi
kedua seseorang memang tidak memiliki kesesuaian
yang cukup untuk melaksanakan peranan sesuai dengan
statusnya.
B. Konflik Antar Individu
Konflik Antar Individu terjadi antar seseorang dengan satu orang
atau lebih, Sifatnya kadang-kadang Substantif menyangkut
perbedaan gagasan, Pendapat, kepentingan atau bersifat
emosional menyangkut perbedaan selera, Perasaan Like/Dislike.
C. Konflik Antar Kelompok Sosial
Hal-hal yang mengawali konflik antar kelompok sosial, Sbb
- Ambiguitas peranan
- Persaingan dalam memperoleh sesuai yang nilainya
tinggi
- Kesaling tergantungan/Interpedensi dari tugas
- Hambatan-hambatan komunikasi
- Konflik-konflik yang sebelumnya tidak diatasi secara
nyata
- Perbedaan dalam persepsi-persepsi Individual
- Perbedaan dalam Kepribadian, Kebutuhan, Nilai,
Norma, Kepentingan dan tujuan
Pengendalian Konflik Sosial
A. Konsiliasi
Bentuk pengendalian konflik seperti ini dilakukan melalui
lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi
dan pengambilan keputusan
yang adil diantara pihak-pihak yang bertikai.
B. Mediasi
Dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik
sepakat untuk menunjuk phak ketiga sebagai mediator.
C. Arbitrasi (Pewasitan)
Dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik
sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya
pihak ketiga yang akan mengambil keputusan-keputusan
tertentu untuk menyelsaikan konflik.
Strategi Dalam Mengatasi Konflik
Bila kita terlibat dalam suatu konflik dengan orang lain, Ada dua hal
yang harus kita pertimbangkan:
1. Tujuan-tujuan atau kepentingan-
kepentingan pribadi kita.
2. Hubungan baik dengan pihak lain

Gaya-Gaya Dalam Mengelola Konflik


1. Gaya Kura-kura
Kura-kura lebih senang menarik diri bersembunyi dibalik
tempurung badannya untuk menghindari konflik, mereka
cenderung menghindar dari pokok-pokok soal maupun orang-
orang yang dapat menimbulkan konflik.
2. Gaya ikan Hiu
Ikan Hiu senang menaklukan lawan dengan memaksanya menerima
solusi konflik yang ia sodorkan. Baginya tercapainya tujuan pribadi
adalah yang utama, Sedangkan hubungan dengan pihak lain tidak
terlalu penting.
3. Gaya Kancil
Seekor Kancil sangat mengutamakan hubungan dan kurang
mementingkan tujuan-tujuan pribadi, Ia berkeyakinan bahwa konflik
harus dihindari demi kerukunan konflik harus didamaikan, Bukan
dipecahkan agar hubungan tidak menjadi rusak.
4. Gaya Rubah
Rubah senang mencari kompromi baginya baik tercapainya tujuan-
tujuan pribadi maupun hubungan baik dengan pihak-pihak lain cukup
penting ia mau mengorbankan sedikit tujuan-tujuan nya dan
hubungannya dengan pihak lain demi tercapainya kepentingan dan
kebaikan bersama.
5. Gaya burung Hantu
Burung hantu sangat mengutamakan tujuan-tujuan pribadinya
sekaligus hubungan dengan pihak lain. Konflik merupakan masalah
yang harus dicari pemecahannya dan pemecah itu harus sejalan
dengan tujuan-tujuan pribadinya dan tujuan-tujuan lawannya, Konflik
bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi
ketegangan yang terjadi diantara dua pihak yang berhubungan