Anda di halaman 1dari 29

POTENSI PEMANFAATAN MIKROALGA DAN

SUBSTANSINYA UNTUK MENANGGULANGI


SERANGAN VIRUS PADA BUDIDAYA IKAN DAN
UDANG

Ach. Khumaidi
Budidaya Perikanan, Fak. Sains dan Teknologi
Universitas Ibrahimy
ach.khumaidi@gmail.com

Kuliah Tamu PSDKU Unair di Banyuwangi


07 Desember 2020
AKUAKULTU
 Akuakultur ada sejak ribuan
tahun lalu, namun baru R
mulai berkontribusi secara
signifikan terhadap
pasokan pangan global dan
mata pencaharian
pedesaan sekitar 30 tahun
lalu.
 Tahun 1974 akuakultur
hanya menyediakan 7%
ikan untuk konsumsi
manusia, meningkat
menjadi 26% pada tahun
1994 dan 39% pada tahun alimentarium.org
2004 (FAO, 2016).
CONTRIBUTION OF AQUACULTURE IN TOTAL PRODUCTION OF
AQUATIC ANIMALS
“Peningkatan Padat Tebar/Populasi menjadi andalan dalam upaya
peningkatan hasil Produksi Akuakultur”

Ekstensif Pakan

Pupuk
Obat
Suppl
emen
t

Intensif
• Input produksi • Input produksi
sedikit banyak
• Kepadatan rendah • Kepadatan tinggi
• Limbah sedikit • Limbah lebih banyak

Ex: Ikan Lele (2000 ekor/m2), Kerapu (134 ekor/m2) dan Udang vannamei (1000 ekor/m2)
• Akuakultur
dikaitkan dengan
berbagai
masalah
lingkungan
• Dengan
meluasnya
konversi lahan
menjadi tambak,
efek lingkungan
yang merugikan
dari budidaya
terjadi.
• Peningkatan
kasus terjadinya
Ahmed and Thompson (2019) penyakit dan
INTERAKSI DALAM LINGKUNGAN PERAIRAN

Inang

INFEKSI
PENYAKI
T
Lingkungan Patogen
Perairan
AGEN PENYEBAB PENYAKIT PADA AKUAKULTUR

Dari beberapa patogen, penyakit yang


Bakteri (54,9%) Virus (22,6%) disebabkan virus lebih sulit dikendalikan :

- penyebarannya yang cepat


- morbiditas yang tinggi
Agen Penyebab
Penyakit pada Ikan - tingkat mortalitas tinggi
(Kibenge et al., 2013)

yang dikaitkan dengan kurangnya terapi


khusus, kerentanan tinggi pada hewan air,
Parasit (19,4%) dan pengetahuan yang terbatas tentang
mekanisme antivirus pada ikan.
Jamur (3,1%)
Waker and Winton (2010)

Yellow
Head
Disease

Viral
Nervous

Necrosis

White
spot
syndrome
virus

Koi
Herpes
Virus
Penanganan Virus pada Ikan dan Udang
• Spirulina dan Chlorella adalah spesies yang
paling banyak digunakan secara komersial dalam
Kosmetik nutrisi manusia karena kandungan proteinnya
yang tinggi dan nilai gizi yang sangat baik.
Obat dan Pewarna Spirulina adalah sumber protein berkualitas
nutraceutical Alami
tinggi, asam γ-linolenat, dan pigmen; Chlorella
terdiri dari berbagai zat, termasuk asam nukleat,
asam amino, vitamin, mineral, polisakarida,
glikoprotein, dan β-glukan dengan potensi
aktivitas antioksidan, anti-diabetes, anti-kanker,
Pakan Hewan anti-virus dan antibakteri.
Pupuk Mikroalga (Akuakultur)
• Pewarna Alami untuk digunakan dalam makanan,
kosmetik, dan farmasi sebagai pengganti
pewarna sintetis. Pigmen utama dari mikroalga
yang digunakan sebagai pewarna adalah
Treatmen
karotenoid dan phycobiliprotein.
limbah Suplemen
Pangan
• Pupuk sebagai alternatif yang menjanjikan dari
Perairan
pupuk kimia dan sintetis. Hampir semua
Energi cyanobacteria dapat digunakan sebagai pupuk
Terbarukan hayati untuk meningkatkan produksi tanaman
karena merupakan sumber mineral makro utama
seperti nitrogen dan fosfat bersama dengan
mikro-mineral esensial.
β-karoten
Mikroalga sebagai bahan Obat dan Nutraceutical

ANTIKANKER
astaxanthin

Fucoxanthin ANTIBAKTERI

asam docosahexaenoic (DHA)


ANTIVIRUS
asam eicosapentaenoic (EPA)

asam γ-linolenat
IMUNOSTIMULAN

Phycocyanin
Tahapan Awal Riset Mikroalga untuk
menanggulangi virus pada
Akuakultur
Studi pustaka, serta studi bahan aktif mikroalga
1 penentuan
dan
spesies uji.
Studi efek treatment/persiapan bahan
herbal:
• Tipe ekstrak
Aplikasi (Akuades,
(suntik, rendam,Etil asetat, Etanol,…dsb)
pakan)
2 •

Prediksi ADME/T dan Aktivitas Biologis
Dosis
• Durasi pemberian
Evaluasi respons fisiologis hewan
uji
3 •

respons imun
Evaluasi ketahanan (survival) dengan uji tantang
Evaluasi parameter produksi (Pertumbuhan, FCR, dsb)
Adopted : Dinamella
Fragmen pigmen-protein
Nannochloropsis oculata

100000
90000
Otak FPP…
80000

Jumlah (count)
70000
60000
50000
40000
30000
20000
10000
0

105
131
157
183
209
235
1
27
53
79
Intensitas (pixel)
VCP dan PCP akan dikenali Violaxanthin termasuk
VCP dan PCP N. Oculata,
oleh Reseptor (TLR), yang karotenoid. Mozhenok
merupakan protein dalam
bentuk enzim, berfungsi selanjutkan akan 2001, pemberian
menjadi biokatalisator mengirim sinyal karotenoid dapat
respon fisiologis, termasuk transduksi, merangsang de meningkatkan ekpresi B-
respon imun. novo transkripsi gen dan aktin.
mengubah dinamika aktin.

Peningkatan B-aktin
akan berdampak
terhadap respon fisiologi
seluler (fungsi reseptor,
penyerapan sinyal
transduksi, transport
vesikel antibodi)
Peningkatan B-aktin juga B-aktin juga berfungsi
mempengaruhi motilitas, dalam ekpresi gen, salah
fagositosis, dan presentasi satunya gen antivirus. B-
antigen pada makrofag aktin akan berikatan
dan sel dendritik. dengan mesin transkripsi
RNA Polimerase I, II, dan
III.

B-aktin mengatur FPP N. OCULATA B-aktin membantu


presentasi MHC sebagai MENINGKATKAN EKPRESI pengaturan mesin
B-AKTIN, PENINGKATAN transkripsi dalam
presenter antigen pada
TERSEBUT MENINGKATKAN
sel T, mempertahankan RESPON IMUN UNTUK
pencetakan gen atau
kontak sel ke sel, yang MENGELIMINASI VIRUS protein sebagai respon
selanjutnya berdampak RNA (VNN) imun dalam menghadapi
terhadap proliferasi sel T. serangan virus
Fragmen pigmen-protein
Chlorella vulgaris

MHC Expression
8
0

DAB (%)
6
0
4
0
A B C D
2
Amphora sp. isolat perairan sentra Kerapu Situbondo Diatom yang memiliki kemiripan morfologi dengan
Dengan perbesaran 100x Amphora sp.: a) Halamphora yongxingensis sp. (scale
bar = 2 µm) (Jiang et al., 2015), b) Amphora subturgida
(scale bar = 5 µm) (Sala et al., 2006)
Isolat Amphora sp. yang diteliti memiliki kesamaan bentuk dengan
Halamphora yongxingensis dari pulau Yongxing di laut Cina Selatan
(Jiang et al., 2015) dengan panjang 9.18 – 18.2 µm. Namun, jika
melihat lebar frustule lebih mirip dengan dengan Amphora
subturgida (Hustedt) Levkov yang memiliki lebar frustule 7-11 µm
dan valve 2.9-4.5 µm (Sala et al., 2006)
RT: 0.00 - 30.01
0.96 NL:
Skrining senyawa aktif ekstrak
100

95

90
1.02
6.49E9
TIC MS
hC_FullScr
een_Pos_1
Amphora sp. dengan LC-HRMS
85

80

75
1.09
• Valine atau yang juga biasa disebut dengan L-valine
70
1.13 merupakan asam amino-α yang digunakan dalam sintesis
65

60
bioprotein.
55 • L-Norleucine merupakan asam amino banyak digunakan
26.43

untuk mengatasi penyakit Alzheimer.


50

45

40 • Stearamide adalah amida asam lemak primer yang sering


digunakan dalam sintesis bahan kimia dan surfaktan
35

30

25
organik, serta memiliki aktivitas antibakteri
Staphylococcus epidermidis.
20
26.31
15

10 1.33
5.33
• Palmitoleic acid, atau (9Z)-hexadec-9-enoic acid
1.54 1.80 5.40 16.66 16.81 18.67 19.37 26.66

merupakan asam lemak tak jenuh tunggal omega-7,


5 4.81 5.16 6.60 20.57 21.34 22.11 28.07 28.48
8.44 9.70 10.26 10.96 12.30 13.44 14.07 16.52
23.46 25.18
0

termasuk salah satu asam lemak yang paling banyak


0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
Time (min)

pada serum dan jaringan, terutama jaringan adiposa dan


Kromatogram hasil LC-HRMS ekstrak Amphora sp. sonikasi (SON) hati. Palmitoleic acid dapat berfungsi untuk menurunkan
resiko diabetes, menurunkan resiko kardiovaskular dan
status peradangan
mzCloud Kelimpahan • Isotretinoin merupakan turunan dari vitamin A yang
Name Formula RT [min] Area (Max.)
Best Match (%)
banyak digunakan untuk pengobatan jerawat yang
Valine C5 H11 N O2 0.931 21,148,092.11 82.6 17.6
mempengaruhi perkembangan siklus sel, diferensiasi sel,
L-Norleucine C6 H13 N O2 0.93 10,583,783.92 84.3 8.8
kelangsungan hidup sel dan apoptosis.
Stearamide C18 H37 N O 20.523 8,220,643.35 86.5 6.9
• Arachidonic acid memiliki peran sangat penting untuk
Palmitoleic acid C16 H30 O2 16.624 4,411,520.04 90 3.7
penting untuk pensinyalan otak, proses motivasi, emosi,
Isotretinoin C20 H28 O2 11.86 2,306,530.66 83.7 1.9
Arachidonic acid C20 H32 O2 16.619 1,833,046.56 95.2 1.6
respons stres, nyeri, dan keseimbangan energi.
Antioxidant
Antioneoplastic
Antiviral
Log P LD50 Toxicity
Canonical TPSA Antibacterial
Molecule MW HBA HBD (iLOGP) (mg/kg) Class Antifungal
SMILES
(AO) Anti-inflamatory

CC(C)C(C(=O 117.078 Arachidonic acid


Valine 3 2 63.3 1.03 12680 6
)O)N

98 Isotretinoin
)O)N 5
CCCCC(C(=O 131.094 2 63.2 1.17 260 3
L-Norleucine 3
CCCCCCCCC Palmitoleic acid
1 43.09 4.22 958 4
(=O)N
283.286
Stearamide CCCCCCCCC 1
7
CCCCCCC=C
1 37.3 3.53 48 2 Stearamide
Palmitoleic acid CCCCCCCC( 2
09
CC1=C(C(CC
=O)O
C1)(C)C)C=C 300.208
Isotretinoin
C(=CC=CC(=
2 1 37.3 3.68 1100 4 L-Norleucine
33
CC(=O)O)C)C

CCCCCC=CC Valine
304.239
Arachidonic acid 2 1 37.3 4.64 10000 6
C=CCC=CCC 61
=CCCCC(=O)
O
0.0 0.2 0.4 0.8
0.6
Probability activity (Pa.)
Antiviral Senyawa aktif ekstrak Amphora sp. memiliki aktivitas
Molecule Picorna Influen Poxvir Adhenov Cytomega Herpesvi antivirus pada Cytomegalovirus, Rhinovirus,
Rhinovirus
virus za us irus lovirus rus Adhenovirus, Poxvirus, Influenza, dan Picornavirus.
Valine 0.743 0.511 0.469 0.512 0.419 0.441 0.421 Prediksi aktivitas antivirus dengan nilai ≥ 0.7 terlihat
L-Norleucine 0.794 0.66 0.602 0.523 0.479 0.408 0.378 pada Valine dan L-Norleucine yang memiliki aktivitas
Stearamide 0.666 0.575 0.586 0.473 0.431 0.37 0.371 anti Picornavirus dengan nilai Pa. (0.743 dan 0.794).
Palmitoleic acid 0.628 0.652 0.482 0.483 0.637 0.558 0.433 Nilai prediksi PASS ≥ 0.7 (kotak biru) menunjukkan
Isotretinoin 0.391 0.262 - 0.263 0.403 0.214 0.42 bahwa aktivitas antivirus sangat memungkinkan
Arachidonic acid 0.597 0.599 0.429 0.461 0.623 0.533 0.421 dalam percobaan dan memiliki kemungkinan
kesamaan dengan obat lain yang sudah dikenal
Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang
diberikan, semakin baik paramater hematologi
yang terlihat.

Konsentrasi 99 µg/mL memberikan respon


hematologi terbaik, baik sebelum uji tantang
yang diuji tantang
maupun setelah uji tantang. dengan VNN
Meningkatnya parameter hematologi
menandakan peningkatan respon imun atau
tanggap kebal ikan terhadap serangan
patogen.
Respon Hematologi
Peningkatan parameter hematologi terlihat
ikan Kerapu Cantang juga pada perlakuan 33 dan 66 µg/mL, namun
terlihat lebih rendah dari perlakuan 99 µg/mL.

Pada perlakuan A3 menandakan bahwa, pada


konsentrasi tersebut ikan dapat menghasilkan
respon imun yang mampu menanggulangi
serangan VNN.

Peningkatan respon hematologi dikaitkan


dengan kandungan senyawa aktif yang
terdapat pada ekstrak Amphora sp. seperti
flavonoid, alkaloid, triterpenoid, fenol, valine,
dll.
Flavonoid - Eritrosit
Survival rate / Sintasan Kerapu
Jumlah
Awal ikan
Jumlah ikan Jumlah ikan Cantang yang diuji tantang dengan
Perlakuan hari ke-11 hari ke-30 Sintasan (%)
(ekor) VNN
K+ 30 17 0 0.0 ± 0.0 a
Sintasan terbaik ikan kerapu yang diberi
K- 30 30 30 100.0 ± 0.0 d
perlakuan ekstrak Amphora sp.
A1 30 30 10 33.3 ± 4.7 b terlihata pada perlakuan A3 (83.3%).
A2 30 30 11 36.7 ± 9.4 b
A3 30 30 25 83.3 ± 4.7 c Peran positif ekstrak Amphora sp.
dimungkinkan pada konsentrasi 99 mg/mL
35
dapat mengaktifkan komponen sistem
30 imun ikan kerapu cantang, sehingga
Kerapu Cantang yang hidup (ekor)

25 meningkatkan respon tanggap kebal


terhadap ikan Kerapu Cantang.
20

15 Peningkatan respon tanggap kebal


10 dikaitkan dengan senyawa aktif
5
Amphora sp. yang memiliki berbagai
macam aktivitas penting yang
0
K+ K- A1 A2 A3 mendukung kesehatan ikan dalam
Jumlah ikan hari ke-11 17 30 30 30 30 menaggulangi serangan penyakit,
Jumlah ikan hari ke-30 0 30 10 11 25 termasuk serangan VNN.
Pemanfaatan ekstrak Dunaliela pada pertumbuhan dan respon
imun P. monodon yang diienfeksi WSSV
Mekanisme sistem imun pada
Udang

• Hemosit-hialin yang menyerap patogen atau partikel asing melalui proses fagositosis, serta berperean dalam proses koagulasi.
• Hemosit granul atau granulosit dengan enkapsulasi, pembentukan nodul dan sitotoksisitas - menghancurkan elemen penyerang,
berperan dalam proses melanisasi (sistem ProPO).
• Hemosit-hialin memulai pertahanan dengan proses koagulasi, mekanisme penting yang melindungi udang dari kehilangan cairan
yang
berlebihan serta menangkap dan melumpuhkan mikroba yang menyerang.
• Selanjutnya, hemosit granular mengeluarkan enzim pertahanan yang membunuh mikroba sebelum dieliminasi oleh granulosit lain
melalui proses fagositosis dan / atau enkapsulasi. Setelah mikroba dienkapsulasi atau difagositosis, proses melanisasi, yang juga
dikordinir oleh hemosit granular, membuat mikroba inert dan mempersiapkan untuk dikeluarkan melalui ekskresi kutikula atau pada
siklus ganti kulit berikutnya.
Vaksin VP28 pada
Chlamydomonas reinhardtii
untuk meningkatkan
mortalitas pada udang
Vannamei yang diinfeksi WSSV
A. Kiataramgul et al., (2020)
Tantangan Aplikasi Mikroalga
Variasi kandungan dan
fleksibilitas peran bahan

dan Substansinya
aktif

pada Akuakultur
Standarisasi protokol
penggunaan (dosis, metode
preparasi, metode pemberian)

Produksi bahan baku dalam


jumlah yang banyak
dengan kualitas yang sama