Anda di halaman 1dari 12

INDUSTRI TEKSTIL

Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu industri yang
diproritasikan karena memiliki peran yang strategis dalam perekonomian
yaitu sebagai penyumbang devisa negara, menyerap tenaga kerja dan
berperan dalam memenuhi kebutuhan sandang nasional. industri ini
memiliki daya saing yang sangat baik di pasar internasional. Hal ini
disebabkan Indonesia memiliki industri yang terintegrasi mulai dari hulu
sampai hilir, yakni meliputi serat, benang, kain, hingga pakaian jadi.
Perkembangan Neraca Perdagangan Industri TPT 2008-2018 (Miliar U$)

Tahun Ekspor Impor Surplus


2008 10.144.8881.396 5.103.585.178 5.041.296.218
2009 9.263.981.283 4.171.165.638 5.092.815.645
2010 11.224.038.003 6.186.386.757 5.037.651.246
2011 13.256.791.758 8.530.466.277 4.726.325.481
2012 12.461.698.683 8.143.552.743 4.318.145.940
2013 12.679.536.512 8.472.698.027 4.206.838.485

2014 12.740.811.660 8.565.998.166 4.174.823.494

2015 12.282.979.440 7.975.941.876 4.307.037.564

2016 11.832.191.849 8.159.870.717 3.672.321.132

2017 12.536.681.262 8.803.687.381 3.733.002.881

2018 13.216.841.220 10.016.884.178 3.199.957.042


Perkembangan Impor Kain dan Ekspor
Garment pada Tahun 2008 - 2018 (Ribuan
Ton)
Indonesia telah membentuk kesepakatan perdagangan dengan tujuan meningkatkan kinerja ekspor. Salah satu kesekapatan perdagangan yang telah
dibuat adalah ASEAN Free Trade Area (AFTA). AFTA secara resmi diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2003 pada negara ASEAN-6 (Indonesia,
Philipina, Thailand, Singapura, Brunei, dan Malaysia) dan negara ASEAN-4 (Vietnam mulai diberlakukan tahun 2006, Laos dan Myanmar pada tahun
2008, Kamboja pada tahun 2010). Dengan diberlakukannya AFTA ini, maka negara-negara anggota harus menurunkan pengenaan tarif impor intra
ASEAN menjadi 0 % - 5 % bagi barang-barang yang dimasukakan ke dalam Daftar Inklusi (Inclusive List) dan telah memenuhi ketentuan tentang
kandungan produk ASEAN. Pada akhirnya, keseluruhan tarif ini dihapuskan sama sekali (menjadi 0 %) untuk negara ASEAN-6 (Indonesia, Philipina,
Thailand, Singapura, Brunei, dan Malaysia) pada tahun 2010 dan bagi negara ASEAN-4 (Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja) pada tahun 2015,
sehingga akan tercipta kawasan perdagangan regional Asia Tenggara yang benar - benar bebas bagi para anggota ASEAN (Isventiana, Nunung,
Parulihan, 2015).
PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR INDUSTRI TPT
INDONESIA KE NEGARA ASEAN TAHUN 2014-2018 (kg)

Negara 2014 2015 2016 2017 2018

Thailand 65.380.379 64.306.283 53.762.264 52.711.347 52.836.331


2018
Singapura 12.640.421 12.063.284 11.008.450 11.102.764 9.870.537

Philippina 19.903.626 17.623.841 23.215.4779 21.043.086 21.111.058


2017
Malaysia 66.018.894 55.062.794 49.075.159 49.205.719 43.361.528

2016 Myanmar 3.247.746 2.301.740 2.937.057 2.084.372 2.841.264

Kamboja 3.329.748 3.619.764 2.039.293 2.057.185 2.222.056

2015 Brunei Darussalam 637.380 544.508 495.836 458.687 366.774

Laos 409.128 598.033 504.030 322.081 400.676

2014 Vietnam 64.957.061 71.601.091 78.143.564 79.888.889 86.331.033

ASEAN 236.524.383 227.721.338 221.181.132 218.874.130 219.341.257


Daya Saing (RCA) TPT Indonesia Terhadap Dunia dan ASEAN

ASEAN
Industri Tekstil
Berdasarkan pangsa pasar (market share)
negara - negara pengekspor TPT dunia
tahun 2018, Indonesia berada di peringkat
16 dengan pangsa 1,58 % berada di
bawah Vietnam yang merupakan negara
ASEAN.

Indonesia menargetkan masuk dalam


jajaran lima besar produsen Tekstil dan
Produk Tekstil (TPT) pada tahun 2030.

Industri TPT perlu meningkatkan daya


saingnya dengan menyelesaikan
hambatan – hambatan yang dihadapi
industri TPT.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

Apa peghambat daya saing industri tekstil dan produk


tekstil sulit meningkat?

Bagaimana upaya untuk meningkatkan daya saing industri


tekstil dan produk tekstil di Indonesia?
Metode Penelitian

Metode Penelitian Pengumpulan Data Validasi Data Metode Analisis

• Jenis penelitian deskriptif • Wawancara • Kredibilitas


• Releaved Comparative
• Pendekatan kualitatif • Studi Pustaka • Transferabilitas Advantage

• Sumber data terdiri dari • Studi Dokumentasi • Dependabilitas


• Metode Deskriptif
data primer dan data
sekunder • Konfirmabilitas
Releaved Comparative Advantage (RCA)
Rumus RCA adalah sebagai berikut (Tambunan, 2004):

 Xij = nilai ekspor komoditas i dari negara j


 Xit = nilai ekspor seluruh komoditas dari negara j
 Wij = nilai ekspor dunia komoditas i
 Wit = nilai ekspor seluruh komoditas dari pasar dunia

R C A

Releaved Comparative Advantage


Komponen dalam analisis data menurut Miles dan Hubert

01 02 03 04

Pengumpulan Data Reduksi Data Penyajian Data Kesimpulan/ Verifikasi


Pengumpulan data Mereduksi data berarti Data yang sudah Penarikan kesimpulan
berupa data-data mentah merangkum, memilih hal-hal dikumpulkan dan merupakan tahapan terakhir dari
dari hasil penelitian yaitu yang pokok, memfokuskan diklasifikasikan, kemudian analisis data di mana
hasil wawancara, pada hal-hal yang penting, disajikan dalam bentuk kesimpulan yang akan diperoleh
dokumentasi, catatan dicari tema dan polanya dan deskriptif agar mudah berasal dari hasil wawancara.
lapangan dan membuang yang tidak perlu. menarik kesimpulan untuk
sebagainya. melakukan penganalisisan
data.
THANK YOU