Anda di halaman 1dari 18

APLIKASI KOMPOSIT TANAH LIAT BEKONANG DAN

TANAH ANDISOL SEBAGAI ADSORBENT ION LOGAM


TEMBAGA (II) DALAM AIR LIMBAH KERAJINAN LOGAM

Devi Asriani
S062102002
PENDAHULUAN
Cr Ni Cd
Pertumbuhan Limbah
Zn Pb Cu
Industri Industri

Logam berat

Kotagede = 84,93 mg/L.

Pengendapan Kimia
EPA maksimum
Pertukaran Ion Metode 1,3 mg/L
1. Bahannya mudah diperoleh
2. Biaya rendah Koagulasi 1. Gangguan
3. Efektif mengurangi polutan ke kesehatan
konsentrasi rendah Adsorpsi 2. kematian
4. memungkinkan regenerasi dan
penggunaan kembali.
PENDAHULUAN

Absorben
1. kapasitas tukar kationik
yang tinggi
2. kemampuan adsorpsi yang
1. Banyak tersedia spesifik
2. Murah.
3. kapasitas tukar kationik
yang tinggi
EXPERIMENTAL
Bahan dan metode
1. Atomic adsorption spectrometer
1. Tanah Andisol (Cemoro Kandang, Lawu
(AAS, Perkin Elmer Analyst 700),
Mountain),
2. Fourier transform infrared
2. Lempung Bekonang (Sukoharjo, Indonesia),
spectroscopy (FTIR, Shimadzu 8201
3. Air limbah (Kotagede, Yogyakarta),
PC),
4. H2SO4 p.a (E-Merck),
3. x-ray diffraction (XRD, Shimadzu
5. Air suling,
6000),
6. 1000 mg/L larutan standar Cu (E-Merck),
4. Neraca analitik (Sartorius BP 110),
7. HNO3 p.a (E-Merck),
5. pH meter (Eutech Instrument pH
8. CH3COOH p.a (E-Merck),
700),
9. HCl p.a (E-Merck),
6. Ultrasonicator (71020-DTH-E,
10. CH3COONa (EMerck),
model 1510 dTH 220V),
11. NaOH (E-Merck), dan
7. Shaker (Mitamura Riken), and
12. KCl (E-Merck)
8. Alat Gelas (Pyrex dan Duran)
EXPERIMENTAL
Persiapan Komposit Optimalisasi pH

Tanah liat bekonang Tanah andisol 0,05 gram Tanah liat 0,05 gram
bekonang Tanah andisol

Aktivasi Aktivasi Variasi pH Gelas kimia yang


buffer
berisi 10 mL larutan
1
Cu 3 ppm
1.5M H2SO4 3M NaOH 2
3
Tanah liat Tanah 4 Dikocok
bekonang andisol
karakterisasi dengan 5 3 menit
100 0
FTIR dan XRD 6
25 75
7 Disaring
50 50
8
Sonifikasi 1 jam 75 25
0 100
Dianalisis
dengan AAS
disaring dan dikeringkan dalam oven
pada suhu 105 °C selama 4 jam.
EXPERIMENTAL
Optimalisasi Suhu Kalsinasi Optimalisasi Komposisi
Adsorben Adsorben dan Waktu Kontak
Rasio komposit lempung dan Tanah liat Tanah
Suhu
tanah 50:50 (b/b) kalsinasi 0,075g komposit bekonang andisol
100 0
100°C
25 75
Kalsinasi selama 3 200°C
jam 10 mL larutan Cu 3 50 50
300°C
ppm (pH optimum) 75 25
400°C
0 100
0,05g komposit dimasukan
kedalam gelas kimia yang berisi Dikocok
10 mL larutan Cu 3 ppm waktu kontak
adsorpsi
15 menit
Dikocok 3 menit Disaring 30 menit
60 menit

Disaring Dianalisis 90 menit


dengan AAS

Dianalisis dengan AAS


EXPERIMENTAL
Penentuan Kapasitas Adsorpsi
Isoterm adsorps
Cu(II) pada Air Limbah
25 mL air
0,075g komposit 100 mL air
limbah
limbah

Gelas kimia netralkan dengan


10 mL larutan Cu
larutan NaOH 1 M
hingga pH optimum
Variasi larutan
Cu
destruksi dengan 5
Dikocok 2 ppm
ml larutan HNO3
pekat Diambil 10mL
4 ppm larutan
6 ppm
Disaring
8 ppm tersisa larutan
± 10 mL Ditambahkan
12 ppm
0,075g komposit
Dianalisis
dengan AAS Disaring
Filtrat dikumpulkan

Dianalisis dengan AAS Dianalisis dengan AAS


Hasil dan Diskusi
Analisis FTIR
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa kelompok aktif
tanah lempung bekonang dan tanah andisol
komposit sama dengan kelompok aktif baik tanah
lempung bekonang maupun tanah andisol.

Ada beberapa puncak yang bergeser dan melibatkan


perubahan intensitas setelah disusun. Hal ini
menunjukkan telah terjadi interaksi antara lempung
dan tanah.

Gambar 1: Spektra IR (a) Tanah Andisol Aktif, (b) Lempung Bekonang Pita absorbansi sekitar 3442 cm-1 dan 1644 cm-1
Aktif, dan (c) Tanah Bekonang dan Andisol Komposit (25:75)
merupakan pita getaran OH.
pita absorbansi pada 1004 cm-1 sesuai dengan O-Si-
O atau O-Al-O,
sedangkan pita absorbansi pada 733-431 cm-1
merupakan karakteristik getaran Si-O dan Al-O.
Hasil dan Diskusi
Analisis XRD
Seperti terlihat pada Gambar-2 bahwa intensitas
puncak mineral berubah setelah tanah lempung
bekonang dan tanah andisol tersusun. Intensitas
tinggi berkorelasi dengan peningkatan jumlah
bidang kristal mineral dalam komposit.

Peningkatan intensitas terjadi pada 2θ 8.14°,


27.30°. 66.60° (allophane); 9.78°. 27.30°, 42.56°
(montmorillonite); 24.88°, 26.02°, 34.90°, 35.92°
(kaolinite); 19.90°, 27.30° (illite); 24.34°, 26.48°,
50.50°, and 59.98° (quartz); serta 24.62°, 27.30°,
34.48° (feldspar).
Gambar 2: Difraktogram XRD (a) Lempung Bekonang Aktif, (b)
Tanah Andisol Aktif, dan (c) Tanah Liat Bekonang dan Tanah Andisol
komposit(25:75)
Hasil dan Diskusi
Penentuan Kondisi
Optimal Menurut diagram Pourbaix Cu/air, spesies ion Cu(II)
diperoleh pada pH 1-6,25. Lebih dari pH 6,25, sudah
mulai terbentuk Cu oksida. Hal ini dikemukakan oleh
Sajidu dkk dimana pada pH lebih dari 6,28, logam Cu
akan mulai mengendap menjadi Cu(OH)2. Oleh karena
itu, kondisi pH optimum untuk mengadsorbsi ion Cu(II)
disimpulkan pada pH 6.

Pada pH rendah (asam), kapasitas adsorpsi cenderung


lebih kecil karena permukaan akan cenderung
menerima proton mengakibatkan permukaan bermuatan
positif. Akibatnya, gaya tolak menolak antara
Gambar.-3: Grafik pengaruh pH terhadap kapasitas adsorpsi
permukaan adsorben dan ion Cu2+ akan terjadi.
adsorben Pada pH netral, adsorben yang mengandung gugus
aluminol dan silanol yang keduanya melepaskan proton
(H+) sehingga permukaan bermuatan negatif
memberikan tempat yang baik untuk mengadsorbsi Cu 2+
secara lebih efektif.
Hasil dan Diskusi
Penentuan Kondisi Optimasi suhu kalsinasi dilakukan pada suhu 100-400°C dan larutan
Optimal dikondisikan hingga pH 6. Perlakuan ini dilakukan untuk
menghilangkan sisa pengotor dan air yang terdapat pada adsorben,
sehingga diharapkan permukaan luas dan pori-pori akan meningkat
sehingga interaksi antara adsorbat dan adsorben lebih efektif. .
Pelepasan molekul air terhidrasi diperlukan pada suhu yang lebih
tinggi (400-500 °C). Namun, suhu aktivasi yang lebih tinggi dari suhu
optimum adsorben di atas 500 °C menyebabkan adsorben kehilangan
banyak massa dan strukturnya mulai rusak

Dengan meningkatkan suhu kalsinasi sampai kondisi optimum akan


meningkatkan luas permukaan material seperti yang dipelajari oleh
Amadine et al. Oleh karena itu, kemampuan adsorpsi material akan
ditingkatkan sebagai hasil dari peningkatan luas permukaan. Dalam
penelitian ini, diterapkan suhu kalsinasi sebesar 400 °C untuk
mencegah cacat struktural yang secara langsung mempengaruhi luas
Gambar 4: Grafik pengaruh suhu terhadap kapasitas adsorpsi adsorben permukaan. Hal itu disebutkan oleh Yu et al. bahwa semakin tinggi
suhu kalsinasi di atas kondisi optimum memberikan penurunan luas
permukaan. Oleh karena itu, diusulkan bahwa pada suhu optimum
memberikan kemampuan adsorpsi optimum yang dimungkinkan
karena pengotor dan molekul air akan lebih bebas pada suhu
kalsinasi yang lebih tinggi yang mempengaruhi peningkatan luas
permukaan. Dengan kata lain adsorpsi akan lebih optimal
Hasil dan Diskusi
Penentuan Kondisi Berdasarkan Gambar-5 dapat dilihat bahwa kondisi optimum
Optimal rasio adsorben untuk mengadsorpsi ion logam Cu(II)
diperoleh pada komposisi komposit 25:75 (b/b), sedangkan
waktu kontak optimum adalah 30 menit. dengan kapasitas
adsorpsi 0,37 mg/g dan persentase penyerapan sebesar
99,08%. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa adsorpsi
sangat dipengaruhi oleh rasio tanah andisol dimana dengan
penambahan konsentrasi tanah andisol yang tinggi pada
komposit memberikan daya adsorpsi yang tinggi. Ini
dimungkinkan karena komposit pada rasio 25:75 (w/w) dapat
terdispersi dengan baik dalam larutan dan mungkin memiliki
luas permukaan yang besar. Sehingga interaksi antara gugus
aktifnya dengan ion logam Cu(II) akan semakin besar.
Gambar 5: Grafik rasio dan pengaruh waktu kontak terhadap
kapasitas adsorpsi adsorben (Catatan: Komposisi lempung bekonang
dan tanah andisol (A=100:0, B=75:25, C=50:50, D=25:75, E=0:100) Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa adsorpsi ion
logam Cu(II) pada komposit lempung bekonang dan tanah
andisol dengan perbandingan 25:75 mulai mencapai
kesetimbangan pada waktu kontak 30 menit. Pada komposisi
komposit lain, adsorpsi ion logam Cu(II) cenderung konstan
pada waktu kontak antara 30-90 menit
Hasil dan Diskusi
Studi Isoterm Adsorpsi Isoterm Langmuir menunjukkan bahwa proses adsorpsi antara
adsorben dan adsorbat secara kimiawi terjadi membentuk
lapisan tunggal. Dari Gambar-6, nilai R2 mendekati 1,
tepatnya yaitu 0,9998 menunjukkan bahwa gugus aktif
adsorben berinteraksi dengan ion logam Cu(II) melalui ikatan
kimia. Kemungkinan reaksi yang terjadi saat proses adsorpsi
ditunjukkan pada Gambar-7.

Gambar 6: Model isoterm Langmuir

Gambar 7: Reaksi adsorpsi ion logam Cu(II) dengan adsorben


Hasil dan Diskusi
Studi Isoterm Adsorpsi

Grafik plot Freundlich ditunjukkan pada Gambar.-8


menghasilkan R2 nilai sebesar 0,6598. Hal ini menunjukkan
bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) juga terjadi secara fisika
melalui gaya van der Waals. Terjadi gaya van der Waals
sehingga permukaan adsorben elektronegatif berinteraksi
dengan ion logam Cu(II) elektrolitik, meskipun interaksinya
lemah. Gaya tolak yang lemah ini menyebabkan adsorbat
berpindah dari satu titik permukaan adsorben ke permukaan
lain membentuk multilayer. Berdasarkan hasil perhitungan,
kapasitas adsorpsi adsorben pada isoterm Langmuir adalah
0,81 mg/g dan isoterm Freundlich sebesar 0,76 mg/g pada
Gambar 8: Model isoterm Freundlich rentang konsentrasi larutan Cu 2-12 ppm.
Hasil dan Diskusi
Kapasitas Adsorpsi ion
Cu(II) pada air limbah Berdasarkan hasil pengujian limbah cair kerajinan logam diperoleh
kadar logam tembaga (Cu) sebesar 656,58 ppm. Kandungan logam
tembaga sangat melebihi ambang batas jika langsung dibuang ke
lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu untuk menurunkan
kadar Cu, dimana baku mutunya adalah 0,60 ppm. Air limbah
memiliki pH asam 1, sehingga perlu dilakukan pengaturan pH
conditioning sebelum teradsorpsi. Pengkondisian pH dilakukan
dengan larutan NaOH 1 M hingga pH 6. pH 6 merupakan kondisi pH
optimum adsorpsi dan pH tersebut juga sesuai dengan Peraturan
Gubernur DIY no. 7 (2010) tentang baku mutu air limbah industri
sebelum dibuang ke lingkungan yaitu berkisar 6-9.

Dari diagram yang ditunjukkan pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa


kapasitas adsorpsi dalam mengadsorpsi ion logam Cu(II) pada limbah
Gambar 9: Perbandingan kapasitas adsorpsi ion logam Cu(II) pada kerajinan logam lebih kecil 17,38 mg/g jika dibandingkan pada larutan
model dan air limbah model yaitu 22,19 mg/g. Ini terjadi karena kemungkinan ada logam
lain yang terkandung dalam air limbah kerajinan logam. Adanya ion
logam lain menyebabkan persaingan antar logam untuk mengikat
gugus aktif dan menempel pada pori-pori permukaan adsorben. Hal ini
menyebabkan ion logam Cu(II) yang teradsorpsi lebih kecil jika
dibandingkan dengan larutan model yang hanya terdiri dari ion logam
Cu(II).
Kesimpulan

Adsorben tanah liat bekonang dan komposit tanah andisol dapat mengadsorbsi ion logam Cu(II) pada kondisi
terbaik, yaitu larutan terkondisi pada pH 6, suhu kalsinasi 400°, lempung bekonang dan tanah andisol dengan
rasio 25:75 (b/b), waktu kontak 30 menit dengan kapasitas adsorpsi 0,37 mg/g dan persentase adsorpsi
99,43%. Isoterm adsorpsi Cu(II) yang teradsorpsi pada komposit mengikuti isoterm Langmuir dan
Freundlich, namun dominan pada model Langmuir. Kapasitas adsorpsi adsorben pada kondisi terbaik
terhadap ion logam Cu(II) pada limbah kerajinan logam adalah sebesar 17,38 mg/g lebih kecil dibandingkan
dengan larutan model yaitu 22,19 mg/g.
Pertanyaan

1. Jelaskan mengapa pada analisis FTIR terdapat beberapa puncak yang bergeser
dan melibatkan perubahan intensitas setelah disusun?
2. Jelaskan mengapa pada pH rendah (asam), kapasitas adsorpsi cenderung lebih
kecil?
3. Jelaskan mengapa pada optimasi suhu kalsinasi dilakukan pada suhu 100-400°C
dan tidak boleh dilakukan pada suhu diatas 500°C?
4. Jelaskan mengapa pada penambahan konsentrasi tanah andisol yang tinggi pada
komposit memberikan daya adsorpsi yang tinggi?
5. Jelaskan mengapa kapasitas adsorpsi dalam mengadsorpsi ion logam Cu(II)
pada limbah kerajinan logam lebih kecil dibandingkan pada larutan model?