Anda di halaman 1dari 34

PENGEMBANGAN

BUM DESA MELALUI


KERJASAMA USAHA
Pengertian Kerjasama Kemitraan

Kamus Besar Bahasa Indonesia


Kemitraan asal kata “ ke.mit.ra.an perihal
hubungan (jalinan kerja sama) sbg mitra
Pengertian umum Kemitraan asal kata
“MITRA “
Teman / kawan
2. Menurut Kamus artikata,com :
• Kemitraan berasal dari kata “mitra “yang berarti
teman ; sahabat; atau kawan kerja ; pasangan
kerja;
3. Menurut Peraturan Pemerintah No,17 tahun
2013 Kemitraan adalah kerja sama dalam
keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak
langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan,
mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan
yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Usaha
Kecil, dan Usaha Menengah dengan Usaha Besar.
Mengapa Harus Melakukan Kerjasama
Kemitraan Usaha
1. Setiap mahluk sosial tidak dapat hidup tanpa bekerjasama
dengan pihak lainnya, demikian juga BUM Desa sebagai lembaga
ekonomi tidak terlepas dari fungsinya sebagai “mahluk sosial”
yang memerlukan pihak lainnya agar dapat hidup berkelanjutan
dalam usaha meningkatkan kemakmuran masyarakat desa
2. Kerjasama yang didukung adanya Gerakan ekonomi warga desa
akan makin kuat dan semarak akan dimungkinkan menciptakan
jaringan kerjasama tidak saja antar BUM Desa bahkan kerjasama
antar masyarakat desa
3. Kerjasama yang kokoh (Solid) antar warga desa dan BUM Desa
akan mampu meningkatkan daya saing usaha ekonomi dan
masyarakat desa dengan kekuatan pemilik modal
4. Berbagai pola dan model kerjasama dapat diciptakan baik antar warga
maupun antar BUM Desa seperti melakukan subsistusi atas unit-unit
usaha

a. Misalnya BUMDes A memiliki kekuatan pada penyediaan bahan baku,


sedangkan BUMDes B memiliki kekuatan untuk memproduksi dan
BUMDes C memiliki kekuatan untuk memasarkan, maka ketiga
BUMDes tersebut dapat bersinergi untuk mempersatukan kekuatan
masing-masing

b. Kerjasama antar BUMDes dalam pengadaan alat transportasi


pengangkut komoditi hasil desa seperti sayur mayur, buah buahan,
hasil panen tanaman pangan , ataupun tandan kelapa sawit, dilakukan
dengan kerjasama membeli alat transportasi , sehingga harga beli
kendaraan yang tidak terbeli apabila dlakukan secara sendiri-sendiri
akan dapat dibeli dengan pola kerjasama digunakan secara bersama-
sama untuk mengangkut hasil komoditi warga kedua desa.
Prinsip Kerjasama Kemitraan Usaha
1. Prinsip Saling Mempercayai.
2. Kemandirian yaitu dilakukan dengan
mengembangkan seluruh potensi sumberdaya yang
dimiliki melalui upaya peningkatan kapasitas
organisasi.
3. Prinsip Kehati-hatian (Prudential), segala kerjasama
dilakukan dengan perhitungan yang cermat dan
teliti.
4. Prinsip Saling melengkapi (saling membutuhkan
satu sama lain bersifat komplementer).
5. Prinsip Maksimalisasi Pemanfaatan potensi desa
untuk kemakmuran Desa.
6. Prinsip Saling Menghidupi (Tidak saling mematikan).
7. Tidak mematikan usaha ekonomi masyarakat Desa
yang sudah ada.
8. Adanya persetujuan Pengawas / Penasehat bila
diperlukan melalui Musyawarah Desa.
9. Saling Menjaga Eksistensi ( keberadaan masing-
masing BUM Desa dapat tetap berjalan).
10.Asas manfaat dan saling menguntungkan.
11.Kesetaraan.
12.Saling Memperkuat.
13.Berlaku Hukum di Indonesia.
Lingkup Kerjasama Usaha
A. Cakupan Wilayah Kerjasama Usaha.
BUM Desa dimungkinkan yang meliputi:
a. Kerjasama Antar Desa dalam satu Kecamatan;
b. Kerjasama Antar Desa lintas Kecamatan dalam
satu Kabupaten;
c. Kerjasama Antar Desa lintas Kabupaten dalam
satu Provinsi.
B. Obyek Kerjasama Usaha
• Obyek yang dikerjasamakan Antar BUM Desa
tidak membebani masyarakat desa dan yang
menguntungkan bagi masyarakat. Untuk itu
mencakup bidang usaha BUM Desa seperti
tertuang dalam Permendes No.4 tahun 2014
tentang Bum Desa .
Pola Kemitraan Usaha
Menurut PP.No.17 Tahun 2013,Pola Kemitraan Meliputi :
1. Inti-Plasma.
2. Sub-Kontrak.
3. Waralaba.
4. Perdagangan Umum.
5. Distribusi dan Keagenan.
6. Bagi Hasil.
7. Kerjasama Operasional.
8. Usaha Patungan (Joint Venture)
9. Penyumber-Iuaran (Outsourching).
10.Bentuk Kemitraan Lainnya.
1. Inti-Plasma;
Hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha
menengah atau usaha besar :
Usaha Besar berkedudukan sebagai inti, Usaha Mikro,
Usaha Kecil, Usaha Menengah berkedudukan sebagai
plasma;
Usaha Menengah berkedudukan sebagai inti, Usaha
Mikro dan Usaha Kecil berkedudukan sebagai plasma.
Dalam pola ini Perusahaan Inti melaksanakan pembinaan
mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis,
sampai dengan pemasaran hasil produksi perolehan,
penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan
bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha
2. Subkontrak
Pola Kemitraan Subkontrak merupakan hubungan kemitraan antara usah
kecil dengan usaha menengah atau usaha besar dalam hal mana :

Usaha Besar berkedudukan sebagai Kontraktor , Usaha Mikro, Usaha


Kecil, dan Usaha Menengah berkedudukan sebagai pelaksana sub
pekerjaan (subkontraktor); dan.
Usaha Menengah berkedudukan sebagai Kontraktor, Usaha Mikro dan
Usaha Kecil berkedudukan sebagai subkontraktor.
Subkontrak sebagai suatu sistem yang menggambarkan hubungan
antara Usaha Besar dan UMKM, di mana Usaha Besar sebagai
perusahaan induk (parent firma) meminta kepada UMKM selaku
subkontraktor untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan
(komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk.
Selain itu, dalam pola ini Usaha Besar memberikan bantuan berupa
kesempatan perolehan bahan baku, bimbingan dan kemampuan teknis
produksi, penguasaan teknologi, dan pembiayaan.
3. Waralaba
Pola Kemitraan Waralaba merupakan hubungan kemitraan antara usaha kecil
dengan usaha menengah atau usaha besar dalam hal mana
Usaha Besar berkedudukan sebagai pemberi waralaba, UMKM, dan Usaha
Menengah berkedudukan sebagai penerima waralaba.
Usaha Menengah berkedudukan sebagai pemberi waralaba, UMKM
berkedudukan sebagai penerima waralaba.
Adalah bentuk hubungan kemitraan antara pemilik waralaba atau pewaralaba
(franchisor) dengan penerima waralaba (franchisee) dalam mengadakan
persetujuan jual beli hak monopoli untuk menyelenggarakan usaha (waralaba).
Kerjasama ini biasanya didukung dengan pemilihan tempat, rencana bangunan,
pembelian peralatan, pola arus kerja, pemilihan karyawan, konsultasi,
standardisasi, pengendalian, kualitas, riset dan sumber-sumber permodalan.
Waralaba atau Franchising (dari bahasa perancis) untuk kejujuran atau
kebebasan adalah hakhak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun
layanan.
Beberapa hal Ketentuan mengenai waralaba terkait dengan Pola Kemitraan
Perdagangan Umum.
4. Perdagangan Umum
Pola Kemitraan Perdagangan merupakan hubungan kemitraan antara usaha kecil
dengan usaha menengah atau usaha besar dalam hal mana :

Usaha Besar berkedudukan sebagai penerima barang, UMKM dan Usaha


Menengah berkedudukan sebagai pemasok barang; dan
Usaha Menengah berkedudukan sebagai penerima barang, UMKM dan Usaha
Kecil berkedudukan sebagai pemasok barang.
UMKM dan Usaha Menengah sebagai pemasok barang memproduksi barang atau
jasa bagi mitra dagangnya.
Kemitraan usaha dengan pola perdagangan umum, dapat dilakukan dalam bentuk
kerja sama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau menerima pasokan dari
UMKM dan Usaha Menengah oleh Usaha Besar yang dilakukan secara terbuka.
Pemenuhan kebutuhan barang dan jasa yang diperlukan oleh Usaha Besar
dilakukan dengan mengutamakan pengadaan hasil produksi UMKM dan Usaha
Menengah sepanjang memenuhi standar mutu barang dan jasa yang diperlukan.
Pengaturan sistem pembayaran dalam bentuk kerja sama Kemitraa perdagangan
umum dilakukan dengan tidak merugikan salah satu pihak.
5. Distribusi dan Keagenan
Pola Kemitraan Distribusi dan Keagenan merupakan hubungan kemitraan
antara UMKM dengan usaha menengah atau usaha besar dalam hal mana :
Usaha Besar memberikan hak khusus memasarkan barang dan jasa
kepada Usaha Menengah.
Usaha Menengah memberikan hak khusus memasarkan barang dan jasa
kepada UMKM.
Dengan demikian maka dalam pola dagang umum, UMKM dengan usaha
menengah atau usaha besar memasarkan produk atau menerima
pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan
yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar mitranya.
Pola dagang umum mengandung pengertian hubungan kemitraan antara
kelompok mitra dengan perusahaan mitra, dimana perusahaan mitra
memasarkan hasil produksi kelompok mitra memasok kebutuhan
perusahaan mitra.
6. Pola Kemitraan Bagi Hasil
Pola Kemitraan Bagi Hasil merupakan hubungan kemitraan antara UMKM dengan
usaha menengah atau usaha besar dalam hal mana :

UMKM dan Usaha Menengah berkedudukan sebagai pelaksana yang menjalankan


usaha yang dibiayai atau dimiliki oleh Usaha Besar.

UMKM berkedudukan sebagai pelaksana yang menjalankan usaha yang dibiayai


atau dimiliki oleh Usaha Menengah.
Masing-masing pihak yang bermitra dengan pola bagi hasil memberikan kontribusi
sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki serta disepakati kedua
belah pihak yang bermitra.

Besarnya pembagian keuntungan yang diterima atau kerugian yang


ditanggung masing-masing pihak yang bermitra dengan pola bagi hasil berdasarkan
pada perjanjian yang disepakati.
7. Pola Kemitraan Kerja Sama Oporasi
Pola Kemitraan Kerja Sama Operasi ( KSO)
merupakan hubungan kemitraan antara UMKM
dengan usaha menengah atau usaha besar dalam
hal mana :
antara UMKM dan Usaha Menengah dengan
Usaha Besar menjalankan usaha yang sifatnya
sementara sampai dengan pekerjaan selesai.
antara UMKM dengan Usaha Menengah
menjalankan usaha yang sifatnya sementara
sampai dengan pekerjaan selesai
8. Pola Kemitraan Usaha Patungan
Pola Kemitraan Usaha Patungan ( Joint Venture) merupakan hubungan
kemitraan antara UMKM dengan usaha menengah atau usaha besar
dalam hal mana :
UMKM atau Usaha Menengah lokal dalam melaksanakan kegiatan
usahanya dapat melakukan Kemitraan usaha dengan Usaha Besar
asing melalui pola usaha patungan (joint venture) dengan cara
menjalankan aktifitas ekonomi bersama dengan mendirikan
perusahaan baru.
UMKM dalam melaksanakan kegiatan usahanya dapat melakukan
Kemitraan usaha dengan Usaha Menengah asing melalui pola usaha
patungan (joint venture) dengan cara menjalankan aktifitas ekonomi
bersama dengan mendirikan perusahaan baru.
Dalam menjalankan aktifitas ekonomi bersama para pihak berbagi
secara proporsional dalam hal pemilikan saham, keuntungan, risiko,
dan manajemen perusahaan.
9. Pola Kemitraan PenyumbarIuasan
Pola kemitraan usaha penyumber-luaran (Outsourching)
merupakan hubungan kemitraan antara UMKM dengan usaha
menengah atau usaha besar dalam hal mana :
• UMKM bermitra dengan Usaha Besar dgn kemitraan pola
penyumberluaran, untuk mengerjakan pekerjaan atau bagian
pekerjaan di luar pekerjaan utama usaha besar.
• UMKM dapat bermitra dengan usaha menengah dengan
kemitraan pola penyumberluaran, untuk mengerjakan pekerjaan
atau bagian pekerjaan diluar pekerjaan utama usaha menengah.
• Kemitraan pola penyumberluaran dijalankan pd bidang dan jenis
usaha yang bukan merupakan pekerjaan pokok dan atau bukan
komponen pokok.
10. Pola Kemitraan Lain
Pola Kemitraan Usaha Lain yang merupakan hubungan kemitraanantara UMKM
dengan usaha menengah atau usaha besar antara lain:

a) Kerjasama Bangun-Kelola-Sewa-Serah (Build, Operate, Lease-hold and Transfer/


BOLT).
• Merupakan bentuk Kerjasama antara Pemerintah Daerah dan Pihak Kedua yang
memberikan hak kepada pihak kedua untuk membangun suatu infrastuktur atau
bangunan di atas tanah yang dimiliki Pemerintah Daerah/Desa kemudian
mengelolanya dengan menyewakan kepada pihak lain. Sebagai imbalan Pemerintah
Daerah/Desa menerima bagian dari hasil sewa dengan jumlah yang disepakati
bersama pihak kedua.
b) Kerjasama Bangun-Serah-Sewa (Build, Transfer and Leasehold = BTL).
• Dalam kerjasama ini pihak kedua membangun infrastruktur di atas tanah
Pemerintah Daerah, dan setelah selesai ia menyerahkannya kepada Pemerintah
Daerah. Bentuk Kerjasama yang belum banyak dilakukan oleh pemerintah pusat
maupun Daerah ini dapat dilakukan untuk membangun infrastruktur berupa hotel,
convention hall, dsb.
c) Kerjasama Bangun-Sewa-Serah (Build, Rent and Transfer = BRT).
• Bentuk Kerjasama ini hampir sama dengan BTL, bedanya hanyalah dalam
BRT pihak kedua dapat mengelola dan mengoperasikan bangunan atau
infrastruktur yang telah dibangunnya dengan cara menyewa kepada
Pemerintah/Pemerintah Desa , yang diperhitungkan dari biaya
pembangunan.
d) Kerjasama Bangun-Kelola-Alih Milik (Built, Operate, and Transfer =
BOT).
• Pihak kedua membangun dan mengoperasikan suatu fasilitas infrastruktur
yang kemudian dipindah tangankan kepada pemerintah daerah setelah
masa konsesi habis.
e) Kerjasama Bangun-Guna-Milik (Build Own Operate = BOO).
• Tidak seperti pada pendekatan BOT, perusahaan swasta yang
memenangkan konsensi proyek BOO tetap memiliki hak terhadap proyek
tersebut setelah masa konsensi usai Bentuk kerjasama ini biasanya
dilakukan terhadap obyek yang output-nya berkaitan dengan hajat hidup
orang banyak misalnya listrik, gas dan sebagainya.
f) Kerjasama Bangun-Serah (Build and Tranfer = BT).
• Dalam kerjasama ini Pemerintah Daerah meminta kepada pihak
kedua untuk membangun prasarana di atas tanah milik
Pemerintah Daerah/Desa. Pihak kedua membangun dan
membiayai sampai dengan selesai, dan setelah pembangunan
selesai pihak kedua menyerahkan kepada Pemda/Desa Sebagai
imbalannya Pemerintah Daerah /Desa membayar biaya
prasarana ditambah bunga Bank.
g) Kerjasama Bangun-Serah-Kelola (Build Tranfer Operate= BOT).
• Dalam pola ini, pihak swasta membangun suatu fasilitas
infrastruktur di atas tanah miliki Pemerintah Daerah/Desa dan
menyerahkan fasilitas tersebut kepada pemerintah
/Daerah/Desa setelah fasilitasnya terbangun.
h) Kerjasama Renovasi -Guna-Serah (Renovate Operate-
and Tranfer = ROT).
• Dalam kerjasama ini pihak kedua menyediakan modal dan
melakukan renovasi atas bangunan atau fasilitas lain yang
dimiliki oleh Pemerintah Daerah/Desa hingga nilainya
meningkat. Obyek kerjasama ini biasany dapat dilakukan
terhadap pembangunan hotel, pusat perbelanjaan dsb.
i) Kerjasama Renovasi -Guna-Sewa- Serah (Renovate-
Operate -Lease hold - and Tranfer = ROLT).
• Berbeda dengan bentuk Kerjasama ROT, Pihak kedua
merenovasi bangunan atau bentuk fasilitas lain yang
dimiliki oleh Pemerintah /Pemerintah Daerah/Desa namun
untuk menggunakannya ia harus menyewa kepada
Pemda/Desa .
j) Kerjasama Sewa-Tambah dan Guna (Contract, Add and Operate = CAO).
• Dalam kerjasama ini pihak kedua menyewa dan menambah bangunan dan
atau mening-katkan kualitas bangunan dan mengelolanya. Nilai sewa
bangunan setiap 2 tahun ditinjau kembali. Jangka waktu kerjasama paling
lama 10 tahun.
k) Kerjasama Bantuan teknis atau Dana.
• Dalam kerjasama ini Pemerintah Daerah/Desa meminta bantuan berupa
tenaga ahli/alih teknologi atau bantuan dana/pembiayaan dari pihak
kedua. Kerjasama ini dilakukan untuk bidang usaha yang memerlukan
teknologi atau managerial skill dan know how khusus yang tidak dimiliki
oleh Pemerintah Daerah/Desa.
l) Kontrak Pelayanan (Service Contract).
• Dalam pola ini perusahaan swasta menangani suatu pelayanan atau
terhadap infrastruktur yang dimiliki pemerintah daerah/Desa. Contoh yang
dapat dilakukan oleh swasta melalui kontrak pelayanan ini misalnya
pengumpul-an limbah sampah di kotakota, pemeliharaan fasilitas air
minum dan tenaga listrik, tagihan air minum dan listrik.
m) Kontrak Kerjasama Jual Beli ( Sales an Purchase)
• BUM Desa dimungkinkan melakukan kerjasama dalam bentuk
dalam penjualan produk-produk unggulan hasil usaha warga
desa/Bumdes maupun pembelian barang-barang tertentu
seperti bahan baku industri, barang kebutuhan pokok warga
desa yang dijual di pusat perbelanjaan yang dimiliki oleh
Bumdes.
n) Kerjasama dalam bentuk bapak dan anak-angkat
• Pada dasarnya pola bapak angkiat adalah refleksi kesediaan
pihak yg mampu atau besar untuk membantu pihak lain yang
kurang mampu atau UMKM yang memerlukan pembinaan.
Oleh karena itu pada hakikatnya pola pendekatan adalh cermin
atau wujud rasa kepedulian pihak yang besar terhadap yang
kecil Pola bapak angkat dalam pola pengembangan UMK M
umumnya banyak dilakukan BUMN .
o) Kerjasama Pola Modal Ventura
• Merupakan bentuk kerjasama dalam bentuk
suatu investasi melaui pembiayaan berupa
penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan
swasta (anak perusahaan) sebagai pasangan
usaha ( investee company ) untuk jangka
waktu tertentu.
Tahapan Kerjasama
• Kerja Sama BUM Desa dengan Pihak Lainnya dilakukan
baik atas prakarsa Desa ataupun pihak luar desa lainnya
dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1. Perencanaan;
2. Penawaran;
3. Jawaban Penawaran;
4. Penyusunan Rancangan dan Penandatanganan;
5. Pelaksanaan; dan
6. Pelaporan.
1. Perencanaan Kerjasama:
a. Melakukan inventarisasi atas bidang potensi yang akan dikerjasamakan;
b. Bidang, potensi yang akan dikerjasamakan disusun dalam skala prioritas dan
wajib dirumuskan terlebih dahulu.
c. Bidang, potensi yang telah disepakati untuk dikerjasamakan, tertuang dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana
Kerja Pemerintah Desa (RKPDes);
d. Menyiapkan informasi dan data yang lengkap mengenai bidang, potensi
dan/atau Aset Desa yang akan dikerjasamakan berupa studi kelayakan;
e. Menganalisis mengenai manfaat dan biaya kerja sama yang terukur bahwa
bidang, potensi yang akan dikerjasamakan lebih bermanfaat dan
menguntungkan apabila dikerjasamakan dengan Pihak Ketiga dari pada
dikelola sendiri oleh Desa; dan
f. Informasi, data, analisis manfaat dan analisis biaya kerja sama dituangkan
dalam Kerangka Acuan Kerja;
2. Penawaran Kerjasama:
BUM Desa mengajukan penawaran kerja sama kepada Pihak
Ketiga dengan melampirkan Kerangka Acuan Kerja.

3. Tanggapan Kerjasama:
Jawaban Penawaran meliputi :
 Jawaban atas penawaran yang disertai dengan proposal
penawaran yang mengacu pada Kerangka Acuan Kerja.
 Penilaian terhadap proposal penawaran dapat dilakukan
oleh Tim Seleksi untuk selanjutnya dibahas bersama.
 Berdasarkan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud
diatas akan dilakukan penetapkan kerja sama dengan
Keputusan Kepala Desa.
4. Penyusunan Rancangan dan
Penandatanganan:
a. Penyusunan rencangan dan penandatanganan
Perjanjian Bersama sekurang-kurangnya
memuat:
Bidang, potensi dan/atau Aset Desa;
Ruang lingkup kerja sama;
Tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerja sama;
Jangka waktu;
Hak dan kewajiban;
Pendanaan;
Tata cara perubahan, penundaan, dan pembatalan; dan
Penyelesaian perselisihan.
b. Rancangan Perjanjian Bersama wajib
dikonsultasikan kepada masyarakat Desa dan
dapat dikonsultasikan kepada Camat atas nama
Bupati/Walikota untuk mendapatkan masukan;
c. Masukan dari masyarakat Desa dan Camat
sebagaimana dimaksud pada angka 3
digunakan untuk tindak lanjut proses
penyusunan Rancangan Perjanjian Bersama.
d. Penandatanganan Perjanjian Bersama
dilakukan dengan disaksikan oleh pejabat
berwenang yang lebih tinggi seperti camat atas
nama Bupati/Walikota.
5. Pelaksanaan Kerjasama
a. Perjanjian Kerja Bersama menjadi pedoman
dalam pelaksanaan Kerja Sama
b. Perjanjian Kerja Bersama dicatat dan
didokumentasikan
6. Pelaporan Kerjasama
a. Hasil pelaksanaan Perjanjian Bersama wajib
dilaporkan kepada Kepala Desa dengan
tembusan kepada Camat atas nama
Bupati/Walikota; dan
b. Laporan dilengkapi dengan dokumen-dokumen
terkait Kerja Sama Desa dengan Pihak Ketiga.
Format Naskah Kerjasama
Bentuk format naskah kerjasama sekurang-kurangnya
memuat tentang ketentuan-ketentuan :
a. Ruang lingkup bidang yang dikerjasamakan;
b. Tata cara dan ketentuan pelaksanaan;
c. Pembiayaan;
d. Jangka waktu pelaksanaan kerjasama;
e. Pembagian keuntungan dan kerugian;
f. Pembinaan dan pengawasan;
g. Ketentuan lain yang dianggap perlu;
h. Penyelesaian perselisihan