MASALAH ‡ Latar belakang ‡ Identifikasi ‡ Pembatasan ‡ Perumusan ‡ Tujuan/manfaat KAJIAN TEORI ‡ Deskripsi teori ‡ Kerangka berfikir ‡ Hipotesis

KAJIAN EMPIRIS ‡ Populasi/sampel ‡ Definisi operasional ‡ Teknik pengumpulan data (Instrumen) ‡ Teknik pengolahan data (Statistik) HIPOTESIS PENGUJIAN HIPOTESIS

DATA

KESIMPULAN

POPULASI (1) 

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003: 90) Populasi = bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda alam lainnya. Populasi = bukan hanya jumlah, tetapi juga karakteristik/sifat yang dimiliki subyek atau obyek itu. 



POPULASI (2)
Jenis populasi: 1. Homogen (karakteristik populasi sama) 2. Heterogen (karakteristik populasi tidak sama) 3. Terhingga (diketahui jumlah dan batasnya) 4. Tak terhingga (tidak diketahui jumlah dan batasnya)

GAMBARAN POPULASI & SAMPEL

POPULASI

SAMPEL

HOMOGEN

HETEROGEN

SAMPEL 
 

  

Sampel = bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2003: 91). Sampel = Sebagian dari populasi yang ingin diteliti yang ciriciri-ciri dan keberadaannya diharapkan mampu mewakili atau menggambarkan ciri-ciri dan keberadaan populasi ciri(Zr). Artinya: Apa yang ditemukan dalam penelitian pada sampel, juga berlaku bagi populasi (Zn). Ukuran sampel = banyaknya anggota sampel atau unit sampel atau individu. Cara menentukan sampel disebut sampling atau teknik menentukan sampel. Kerangka sampel = seluruh daftar individu yang menjadi unit analisis yang ada dalam populasi terjangkau.

MENGAPA SAMPEL 
  

Seringkali tidak mungkin mengamati seluruh anggota populasi. Pengamatan terhadap seluruh anggota populasi dapat merusak. Menghemat waktu, biaya dan tenaga. Mampu memberikan informasi yang lebih menyeluruh dan mendalam.

SUMBER KESALAHAN SAMPLING
1. 2. 3. 4. 5. 6.

RANDOM VARIATION MISMIS-SPECIFICATION OF SAMPLE SUBJECTS COVERAGE ERROR NONRESPONSE ERROR SAMPLING ERROR MEASUREMENT ERROR

RANDOM VARIATION 
Disebabkan

heterogenitas populasi  Sehingga mungkin yang terpilih sebagai sampel kelompok tinggi atau sebaliknya

MISMIS-SPECIFICATION OF SAMPLE SUBJECTS 
Kesalahan

spesifikasi misalnya: meneliti pendapatan keluarga, yang ditanya hanya suami atau kepala keluarga. Sementara istri dan anak tidak diperhitungkan

COVERAGE ERROR 
Terdapat

unsur populasi yang tidak tercakup dalam kerangka sampling akibat tidak tersedia daftar yang lengkap.

NONRESPONSE ERROR 
Tidak

setiap responden bersedia merespon suatu survey, sehingga data survey, yang diharapkan tidak muncul lengkap dari setiap responden

SAMPLING ERROR 
Sampling

error dapat diperkecil dengan memperbesar ukuran sampel

MEASUREMENT ERROR 
Kesalahan

pengukuran merujuk kepada ketidakketidak-akuratan dalam mencatat respon yang diberikan responden karena kelemahan instrumen

TEKNIK SAMPLING

Probability sampling

Non Probabaility sampling

1. 2. 3. 4.

Simple random sampling Proportionate stratified random sampling Disproportionate stratified random sampling Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Sampling sistematis Sampling kuota Sampling incidental Purposive sampling Sampling jenuh Snowball sampling

Tekknik Sampling  

Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. NonNon-Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

1. Simple Random Sampling (SRS)
SRS = Pengambilan sampel secara acak sederhana, tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi.  Syarat penggunaan teknik SRS adalah populasi dianggap homogen  Misalnya, SD negeri saja, guru PNS saja, Kepala SD swasta saja, guru kontrak saja; atau guru tamatan D2 PGSD. 

2. Proportionate Stratified Random Sampling (PSRS) 
PSRS

= Bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen (heterogen) dan berstrata secara proporsional, maka jumlah sampel harus diambil meliputi strata secara proporsional.  Misalnya, Latar belakang pendidikan guru; pangkat kepala sekolah, diambil sampel sesuai dengan besaran jumlah pada masingmasing-masing tingkat populasi.

3. Disproportionate Stratified Random Sampling (DPSRS)  

DPSRS = Populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen (heterogen) dan berstrata, tetapi kurang proporsional, maka jumlah sampel untuk strata tertentu diambil seluruhnya karena jumlah terlalu sedikit atau kurang proporsional. Misalnya, Guru berpendidikan S3 = 2, S2 = 5; S1= 350; D2 = 750; SPG = 400; maka guru berpendidikan S3 dan S2 diambil seluruhnya sebagai sampel karena jumlahnya sangat sedikit, tidak/kurang proporsional.

4. Cluster Sampling (Area Sampling)
CS/AR = Bila populasi sangat luas, misalnya penduduk dari suatu daerah propinsi atau kabupaten; maka untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sampel, ditetapkan berdasarkan daerah populasi.  Misalnya, propinsi riau terdiri atas 12 kabupaten dan kota, maka ditetapkan 3 kabupaten dan 3 kota sebagai sampel penelitian. Jika kabupaten dan kota berstrata, maka teknik pengambilan sampel digunakan stratified random sampling.  Teknik CS/AR sering digunakan melalui dua tahap: Pertama, menentukan sampel daerah, kedua menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu orangsecara sampling juga. 

1. Sistematic Sampling (SS)
SS = Teknik pengambilan sampel berdasaran urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Jika jumlah populasi 100 guru, maka 100 guru diberi nomor urut 1 100.  Sampel dipilih berdasarkan nomor urut ganjil saja, atau setiap kelipatan lima, misalnya nomor 1, 5, 10, 15 dst. 100. 

2. Quota Sampling (QS)  

QS = Teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu cirisampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Misalnya, penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan pendidikan dasar, lalu ditetapkan jumlah anggota masyarakat sebanyak 500 orang sebagai anggota sampel, maka penelitian dipandang belum selesai kalau jumlah sampel yang diteliti belum mencapai 500 orang.

3. Insidental Sampling (IS) 


IS = Teknik penentuan sampel berdasaran kebetulan; Misalnya, penelitian tentang partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan wajib belajar di desa, sampel penelitian adalah anggota masyarakat yang kebetulan bertemu di warung, di masjid, di tengah jalan, sampai kita merasa cukup jumlah orang dan cukup data yang diperlukan.

4. Purposive Sampling (PS) 
 

PS = Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu. Misalnya, penelitian tentang pembiayaan pendidikan, maka sampel atau sumber data adalah bendaharawan dinas pendidikan, atau anggota komisi anggaran DPRD tertentu. Teknik sampling purposive cocok digunakan untuk penelitian kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

5. Sampling jenuh (SJ)
SJ = Teknik penentuan sampel ini digunakan bila semua anggota sampel digunakan sebagai sampel; karena jumlah sampel relatif kecil, kurang dari 30 orang;  SJ = disebut juga dengan sensus. 

6. Snowball Sampling (SnS)  

SnbS = Teknik penentuan sampel yang mulamulamula jumlahnya kecil, kemudian membesar, ibarat bola salju. Dalam penentuan sampel, mula-mula dipilih mulasatu atau dua orang; bila data diperlukan terasa kurang, maka dari dua orang itu dicari atau diminta menunjuk satu dua orang lain lagi yang dianggap lebih tahu tentang masalah yang kita teliti, demikian seterusnya sehingga sampel menjadi banyak.

Ukuran / Jumlah Sampel  



Prinsip = Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil; dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum). Pertanyaan, berapa jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian? Jawabannya, tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki. Perhatikan prinsip di atas.

UKURAN / JUMLAH SAMPEL 

Rumus untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya:
P2.N.P.Q s = ------------------------d2 (N-1) + P2.N.P.Q P2 dengan dk=1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, 10%. P = Q = 0,5 d= 0,05 s= jumlah sampel

Isaac dan Michael membuat tabel sampel dari jumlah populasi tertentu untuk tingkat kesalahan 1%, 5%, dan 10%, seperti dikutip oleh (Sugiyono, 2003: 99). Atau Nomogram Harry King dalam Sugiyono, 2003: 100. Lihat tabel 5.1 (h.999) dan Gambar 5.6 (h.99)

Ukuran / Jumlah Sampel 

1. 2.

3.

Roscoe dalam buku Research Methods For Business (1982: 253) dalam Sugiyono, 2003: 103; memberikan saran tentang ukuran sampel penelitian sbb: Ukukran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 s.d. 500 Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya lakilaki-wanita) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30. Bila..

Ukuran / Jumlah Sampel 
3.

4.

Roscoe .. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi ganda), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya, variabel penelitian ada 5 (X1,2,3,4 + Y), maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kontrol, maka jumlah anggota sampel masingmasingmasing kelompok antara 10 s.d. 20.

Contoh Menentukan Ukuran Sampel   

Masalah: Tanggapan kelompok masyarakat tehadap pelayanan yang diberikan pemerintah daerah tertentu. Kelompok masyarakat terdiri 1000 orang, yang dapat dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu: Lulusan S1= 50; SM= 300; SMA/SMK=500; SMP=100; dan SD=50 (populasi berstrata). Karena populasi berstrata, maka sampel juga berstrata.

Contoh Menentukan Ukuran Sampel
Karena populasi berstrata dan proporsional, maka teknik sampling yang digunakan adalah Proportionate Stratified Random Sampling (PSRS).  Dengan tabel 5.1, maka jumlah populasi 1000 diperoleh sampel dengan kesalahan 5% sebesar 278.  Cara menentukan ukuran sampel secara proporsional adalah sebagai berikut: 

Contoh Menentukan Ukuran Sampel 
    

S1 = 50/1000x278 = 13,90 = 14 SM = 300/1000x278 = 83.40 = 83 SMA= 500/1000x278 = 139,0 = 139 SMP = 50/1000x278 = 13,91 = 14 SD = 100/1000x278 = 27,8 = 28 JUMLAH = 278

Contoh Menentukan Ukuran Sampel
Gambar Populasi dan Sampel
S1=50 SM=300 SMA=500 SMA=139 SMP=100 SD=50 SMP=28 SD=28 S1=14 SM=83

POPULASI

SAMPEL

MENENTUKAN BESARNYA SAMPLE
SAMPEL SEHARUSNYA SEBESAR MUNGKIN; PADA UMUMNYA MAKIN BESAR SAMPELNYA AKAN MAKIN REPRESENTATIFLAH SAMPEL TERSEBUT, DAN MAKIN DIMUNGKINKAN DIAMBILNYA GENERALISASI DARI HASIL-HASIL PENELITIAN; BESARNYA SAMPLE SECARA MINIMUM TERGANTUNG PADA JENIS PENELITIAN: PENELITIAN DESKRIPTIF = 10% DARI BESARNYA POPULASI ; PENELITIAN KORELASI = 30 ORANG; PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF = 30 ORANG PER KELOMPOK; PENELITIAN EKSPERIMENTAL = 15 ORANG PER KELOMPOK; SAMPEL YANG BESAR SEKALIPUN BISA MEMBERIKAN KESIMPULAN YANG SALAH APABILA CARA MENGAMBILNYA TIDAK TEPAT;

LANGKAH-LANGKAH UNTUK SAMPEL ACAK
(1) IDENTIFIKASI & DEFINISIKAN POPULASI PENELITIAN; (2) (3) TENTUKAN BESARNYA SANPEL;

BUAT DAFTAR NAMA-NAMA ANGGOTA POPULASI;

(4) BERI NOMER SETIAP ANGGOTA POPULASI SECARA BERURUTAN (MISALNYA 001, 002, 003, 004 DAN SETERUSNYA; (5) PILIH SECARA ACAK SALAH SATU NOMER PADA DAFTAR NOMER ACAK ;

(6) UNTUK NOMER YANG SUDAH TERPILIH, PERHATIKAN HANYA JUMLAH DIJIT YANG TEPAT; MISALNYA APABILA POPULASAINYA 500 ORANG, KITA MEMERLUKAN TIGA DIJIT TERAKHIR ATAU KALAU POPULSINYA 90, KITA MEMERLUKAN DUA DIJIT TERAKHIR; (7) (8) (9) APABILA NAMA YANG TERPILIH ITU TIDAK LEBIH BESAR DARI 500, MAKA NOMER ITU DIJADIKAN ANGGOTA SAMPEL; DAN BEGITU SETERUSNYA SAMPAI KITA MENDAPATKAN 500 ORANG; PADA DAFTAR NOMER ACAK, KITA BOLEH MEMILIH NOMER-NOMER ITU DARI ATAS KE BAWAH, ATAU DARI KIRI KE KANAN;

STRATIFIED RANDOM SAMPLING
POPULASI = 300 ANAK KELAS II SMP
KLASIFIKASI

45 ORANG SISWA PUNYA IQ TINGGI DIPILIH SECARA ACAK 30 ORANG SISWA

215 ORANG SISWA PUNYA IQ SEDANG DIPILIH SECARA ACAK 30 ORANG SISWA DITEMPATKAN SECARA ACAK

40 ORANG SISWA PUNYA IQ RENDAH DIPILIH SECARA ACAK 30 ORANG SISWA DITEMPATKAN SECARA ACAK

DITEMPATKAN SECARA ACAK

15 ORANG

15 ORANG

15 ORANG

15 ORANG

15 ORANG

15 ORANG

CLUSTER SAMPLING
MISALKAN POPULASI ADALAH 5.00 ORANG GURU IPA DI SMP NEGERI DI DAERAH RIAU BESARNYA SAMPEL MISALNYA 100 ORANG GUGUS YANG LOGIS ADALAH SEKOLAH DI MASING-MASING DINAS PENDIDIKAN KABUPAAATEN TERDAPAT DAFTAR NAMA-NAMA GURU SMP; MISALNYA ADA 250 BUAH SMP NEGERI WALAUPUN MEMILIKI JUMLAH GURU BERBDA-BEDA PER SEKOLAH, RATA-RATA 2 ORANG GURU IPA PER SEKOLAH; JUMLAH GUGUS (SEKOLAH) YANG SESUAI DENGAN JUMLAH SAMPEL (100 ORANG) DIBAGI RATA-RATA JUMLAH GURU IPA PER SEKOLAH (100: 2 = 50) 50 DARI 250 SEKOLAH DIPILIH SECARA ACAK SEMUA GURU IPA PADA 50 BUAH SEKOLAH MERUPAKAN SAMPEL (50 SEKOLAH, 2 ORANG GURU PER SEKOLAH)

SAMPLE SISTEMATIK
1. MISALKAN BESARNYA POPULASI GURU 1PA DI SMP NEGERI DI DAERAH RIAU ADALAH 500 ORANG 2. BESARNYA SAMPEL MISALNYA 100

3. KANTOR DINAS PENDIDIKAN PROVINSI MEMILIKI DAFTAR NAMA-NAMA GURU IPA DI DAERAH RIAU YANG DISUSUN MENURUT ABJAT 4. K (NOMER KESEKIAN) = 500: 100 = 5

5. SEBUAH NAMA GURU DIPILIH SECARA ACAK UNTUK 5 NAMA PERTAMA 6. MULAI DARI NAMA TERSEBUT, NAMA YANG KE 5 DIPILIH SEBAGAI SAMPEL; MISALKAN NAMA PERTAMA YANG TERPILIH BERNOMER 3, NOMER BERIKUTNYA 8, KEMUDIAN 13, 18 DST-NYA

DIPILIH SECARA ACAK

POPULATION

SAMPEL

TERHADAP SAMPEL DILAKUKAN PENGUKURAN

PENGAMBILAN GENERLISASI

POPULATION

KETERWAKILAN DIBANGUN ATAS DASAR LOGIKA INTACT

GROUP SEBAGAI SAMPLE

TERHADAP AQNGGOTA SAMPEL DILAKUKAN PENEMPATAN SECARA ACAK

KELOMPOK KONTROL

KELOMPOK EXPERIMENT

PENGAMBILAN GENERALISASI

RUMUSAN TENTANG POPULASI & SAMPEL PENELITIAN
SUBJEK PENELITIAN INI DIPILIH DARI POPULASI ANAK KELAS DUA SMP NEGERI YANG PARA SISWANYA BERASAL DARI KELUARGA YANG STATUS SOSIALNYA KELAS MENENGAH KE BAWAH DI KOTA PEKANBARU. POPULASI SISWA TERDIRI DARI TIGA JENIS KELOMPOK ETNIK : MELAYU, MINANG, DAN JAWA YANG JUMLAHNYA KIRA-KIRA SEBANDING. BESARNYA POPULASI KIRA-KIRA 150. PADA AWAL TAHUN AJARAN BARU, SEBELUM KELAS TERBENTUK, 50 ORANG SISWA DIPLIH SECARA ACAK DENGAN MENGGUNAKAN DAFTAR NOMOR ACAK (TABLE OF RANDOM NUMBERS) DAN SECARA ACAK PULA DITEMPATKAN PADA DUA KELAS YANG BERBEDA, YAKNI MASING-MASING 25 ORANG. SALAH SATU KELAS ITU SECARA ACAK DIPILIH UNTUK DIJADIKAN KELOMPOK EKSPERIMENTAL (KEGIATAN MENONTON TVNYA DIAWASI/DIKONTROL OLEH ORANG TUANYA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful