Anda di halaman 1dari 10

PENERAPAN TOKEN ECONOMY DALAM

MENINGKATKAN ACTIVE LEARNING PADA ANAK


USIA DINI

Nama: Milatul Hanifah


Nim: 11860121573
Matkul: Intervensi Non Klinis
Latar Belakang Masalah
Setiap anak adalah individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing
yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan
perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat
merubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi
paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik.
Pembelajaran bagi anak usia dini adalah pembelajaran yang berorientasi belajar sambil
bermain dan bermain sambil belajar dengan pendekatan yang berpusat pada anak.
Pembelajaran juga merujuk pada pencapaian perkembangan anak sesuai dengan kelompok
usia anak (Zamzami, 2021). Pembelajaran active learning dapat menjadi salah satu cara untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak, sehingga dapat
mencapai hasil belajar yang maksimal. Pembelajaran aktif atau yang biasa disebut active
learning adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan
secara aktif dalam pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi antar peserta didik ataupun
peserta didik dengan guru dalam proses pembelajaran (Hamruni, 2012).
Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan
berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satu teknik yang akan
dipergunakan untuk meningkatkan active learning anak usia dini di dalam kelas adalah token
economy. Token economy adalah penerapan operant conditioning dengan mengganti hadiah
langsung dengan sesuatu yang dapat ditukarkan kemudian (Palmer S, 2011). Disebut operant
karena memberikan perlakuan terhadap lingkungan yaitu hadiah kepada tingkah laku yang
diharapkan.
.
Tujuan
Setiap kegiatan atau aktivitas yang disadari pasti ada yang ingin
dicapai. Adapun tujuan rancangan ini ialah untuk meningkatan active
learning pada anak usia dini melalui penerapan teknik token economy.
Manfaat
Manfaat rancangan ini diharapkan dapat membantu pihak-pihak yang
terkait didalam rancangan ini. Adapun manfaat yang ingin dicapai
dalam rancangan ini adalah:
Secara teoritis atau akademis, adalah dapat menambah wawasan
terhadap pembaca untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan
active learning pada anak usia dini melalu teknik token economy.
Rancangan ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada
masyarakat, khususnya orang tua tentang bagaimana cara
meningkatkan active learning pada anak usia dini melalu teknik token
economy.
Pengertian Token Economy
Token ekonomi merupakan salah satu tehnik modifikasi perilaku dengan cara memperoleh
token ketika mereka mengumpulkan sesuai target yang ditentukan maka token tersebut akan
ditukarkan berupa hadiah (Martin dan Pear, 2009). Berdasarkan pengertian tersebut maka
disimpulkan bahwa token ekonomi adalah salah satu teknik modifikasi perilaku dengan cara
pemberian token atau kepingan sebagai penguatan dari perilaku positif yang muncul. Token
dapat berupa stiker, chip, uang mainan, poin atau kartu yang mudah diketahui anak.
Tujuan Token Economy
Tujuan pelaksanaan token ekonomi adalah sebagai bukti ekonomi dapat digunakan untuk
memenuhi berbagai tujuan pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Menurut Fahrudin
(2012) penggunaan metode token ekonomi memiliki tujuan diantaranya:
 Meningkatkan kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa melalui
penghargaan yang sesuai sehingga tingkat kesenangan siswa melakukan suatu prestasi
benar-benar tampak.
 Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar yang efektif
adalah yang menggunakan waktu pendek dengan hasil yang terbaik dan terbanyak
didapatkan.
 Berkurangnya kebosonan, suasana belajar yang kolaboratif, kompetitif yang diberi
penguatan oleh pendidik dapat menurunkan tingkat kebosanan sehingga siswa dapat
berpartisipasi dalam jangka waktu yang lama.
Komponen Token Ekonomi
Fahrudin (2012) menyebutkan sebelum kegiatan belajar dilaksanakan
pendidik menyiapkan beberapa komponen yang dibutuhkan, diantaranya:
 Token atau simbol praktis agar bisa memicu tumbuhnya motivasi belajar siswa.
Token yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan yaitu seperti stiker,
guntingan kertas, simbol binatang atau uang mainan.
 Definisi target perilaku jelas. Hal ini berarti guru maupun siswa perlu
memahami dengan baik perilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar
perilaku seperti apa yang harus ditunjukkan sebagai hasil belajar.
 Dukungan penguatan dengan barang yang berharga. Dukungan itu dapat dalam
bentuk barang, hak istimewa, atau aktivitas individu yang dapat ditukar dengan
makanan.
Langkah-langkah Token Ekonomi
 Menentukan perilaku target
 Mencari garis basal
 Memilih tipe token yang akan digunakan
Kelebihan Token Ekonomi
 Memberi penguatan dengan segera untuk semua anggota kelompok
dengan objek alat yang umum.
 Token tidak dikelola oleh anak-anak sehingga pemberian penguatan
tidak tertunda.
 Karena token seperti layaknya uang, tingkah laku secara berangsur-
angsur terbawa ke alam bawah sadar dan menambah kekuatan
penguatan alami.
Kekurangan Token Ekonomi
 Kurangnya pembentukan motivasi intrinsik, karena token merupakan
dorongan dari luar diri.
 Dibutuhkan dana lebih banyak untuk penyediaan pengukuh
pendukung.
 Adanya beberapa hambatan dari orang yang memberikan dan
menerima token.
 Pengertian Active Learning
Winastwan Gora & Sunarto (2010: 10) menjelaskan bahwa,
active learning adalah suatu istilah yang memayungi beberapa
model pembelajaran yang memfokuskan tanggung-jawab proses
pembelajaran pada si pelajar. Sedangkan Joel Wein (Winastwan
Gora, 2010: 11) menjelaskan bahwa, active learning adalah nama
suatu pendekatan untuk mendidik para siswa dengan memberikan
peran yang lebih aktif di dalam proses pembelajaran.
Unsur umum di dalam pendekatan ini adalah bahwa guru
dipindahkan peran kedudukannya, dari yang paling berperan di
depan suatu kelas dan mempresentasikan materi pelajaran,
menjadi para siswalah yang beradapada posisi pengajaran diri
mereka sendiri, dan guru diubah menjadi seorang pelatih dan
penolong di dalam proses itu.
Karakteristik Model Pembelajaran Active Learning
Menurut Bonwell dan Eison, Active Learning atau pembelajaran aktif
memiliki karakteristik sebagai berikut:
 Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh
guru melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan
kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
 Siswa tidak mendengarkan pelajaran secara pasif, tetapi mengerjakan
sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
Keuntungan Implementasi Model Pembelajaran Active Learning
 Active Learning atau pembelajaran aktif selain mengoptimalkan segi
keaktifan siswa dalam pembelajaran juga banyak memberikan keuntungan
lain yang mendukung kegiatan pembelajaran. Keuntungan pembelajaran
aktif diantaranya sebagai berikut:
 Interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan
positive interdependence dimana konsolodasi pengetahuan yang dipelajari
hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam
belajar.
Sasaran:
Adapun yang menjadi sasaran intervensi non klinis ini ialah anak TK
Media:
Media yang digunakan berupa koin yang diberikan kepada anak-anak TK, buku, pena, laptop dan lain-
lain. 
Pelaksana: Guru TK 
Langkah-Langkah/Cara Kerja:
Pembukaan seperti salam dan perkenalan
Menjelaskan maksud dan kegiatan yang dilakukan
Mengkondisikan subjek agar dapat mengikuti kegiatan dengan baik
Observe menjelaskan materi tentang token economy
Menjelaskan active learning pada subjek yaitu sesuatu yang ingin ditingkatkan agar anak semakin aktif
dalam belajar serta berpartisipasi
Menentukan barang atau benda yang akan dikumpulkan setiap harinya yaitu sebuah koin yang akan
dikumpulkan oleh subjek dan dapat ditukarkan dengan hadiah yang akan difasilitasi oleh sekolah
ataupun guru.
Kemudian observe membuatkan konrtak antara subjek dan pelaksana, dan kontrak tersebut dijelaskan
secara lisan agar dapat dipahami oleh subjek.
Kemudian guru ataupun pembimbing mencatat peristiwa yang terjadi ketika melaksanakan kontrak
tersebut yaitu ketika belajar berlangsung subjek yang aktif akan diberikan koin dan dikumpulkan koin
yang bisa ditukarkan dengan hadiah yang telah disepakati
Pemberian intervensi token economy ini dapat dilakukan untuk meningkatkan active learning pada anak
usia dini dengan cara memberikan koin (reward) yang dapat ditukarkan dengan hadiah sehingga siswa
dapat aktif belajar di kelas serta dapat berprtisipasi.
REFERENSI 
 Panjaitan, N. Q., Yetti, E., & Nurani, Y. (2020). Pengaruh Media Pembelajaran Digital Animasi dan Kepercayaan Diri terhadap Hasil
Belajar Pendidikan Agama Islam Anak. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 588.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i2.404.
 Zamzami, E. M. (2021). Aplikasi Edutainment Pendukung Pembelajaran Jarak Jauh TK Merujuk Standar Nasional PAUD. Jurnal Obsesi :
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 985–995. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.750.
 Hamruni. (2012). Strategi Pembelajaran. Insan Madani.
 Wina, S. (2016). Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standart Proses Pendidikan (12th ed.). Prenada Media.
 Solihatin. (2011). Pengajaran Active Learning dengan Model Pengajaran Terarah. PT Rineka Cipta.
 Dimyati, & Mudjiono. (2013). Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta.
 Hasanah, U. (2019). Strategi Pembelajaran Aktif untuk Anak Usia Dini. INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 23(2), 204–
222. https://doi.org/10.24090/insania.v23i2.2291.
 Palmer S. (2011). Konseling dan Psikoterapi. Pustaka Pelajar.
 Runukahu, T. (2013). Analisis Perilaku Terapan Untuk Guru. Ar-Ruzz Media.
 Davidson, G. (2010). Psikologi Abnormal. Rajawali Press.
 Prima, Elizabet & Putu Indah Lestari. 2021. Penerapan Token Economy dalam Meningkatkan Active Learning Anak Usia Dini. Jurnal
Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 5 No 2. Hal 1430-1440.
 Martin, G. & Pear, J. (2009). Behavior Modification. USA: Pearson Eduction.
 Corey, G. (2013). Teori Konseling Dan Pisikoterapi. (Alih Bahasa: E.Koeswara). Bandung: Refika Aditama.
 Devita, Yeni & Rahmat Mulyadi. 2019. EFEKTIVITAS TERAPI TOKEN EKONOMI UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN
MENGERJAKAN TUGAS PADA ANAK TAHAP USIA SEKOLAH. Jurnal Keperawatan Abdurrab Volume 3 No.1. hal 51-56.
 Papalia, D. E. (2015). Human Development (Psikologi Perkembangan). In Cetakan ke-1.
 Amalo, Indri Graecela & Ajeng Ayu Widyastuti. 2021. Pengaruh Penggunaan Token Ekonomi dalam Menurunkan Perilaku Disruptif Anak
Usia 4 – 5 Tahun. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Volume 5 No 1. Hal 500-507.
 Kariadi, Dodik & Wasis Suprapto. 2018. MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING DENGAN STRATEGI PENGAJUAN
PERTANYAAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN PKn. Jurnal Educatio. Vol. 12 No. 1, hal. 10-21.
 Fahrudin, A. (2012). Teknik Ekonomi Token dalam Perubahan Perilaku Klien (Token Ekonomi Technique In The Modification Of Client
Behavior). Jurnl Sosio Informa. 17(3).
 Rohmaniar & Krisnani. 2019. Penggunaan Metode Token Economy Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Penyandang Tunanetra
Demi Meraih Prestasi. Jurnal Pekerjaan Sosial. Vol. 2 No (1), hal 84-96.
 Aziz, M. Shohibul. 2018. Aspek Perkembangan Manajemen Pembelajaran: Active Learning. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume
1, Nomor 2. Hal 151-160