Anda di halaman 1dari 5

SET BASIC BELIEF 4 ( EMPAT ) PARADIGMA UTAMA

Pertanyaan Positivisme Postpositivisme


ONTOLOGI Realisme naif Realisme kritis
Realitas eksternal, objektif, real dan Realitas eksternal, objektif dan real yang
dapat dipahami generalisasi bebas mungkin saja dapat dipahami tetapi tidak
konteks; hukum sebab-akibat; sempurna karena terbatasnya mekanisme
reduksionis dan deterministik intelektual manusia; realitas diuji secara
kritis guna dipahami sedekat mungkin

EPISTEMOLO Dualis / objektivis Modifikasi dualis / objektivis


GI Penganut/pemegang dan objek Dualisme surut dan objektivitas menjadi
observasi/investigasi adalah dua kriteria penentu; eksternal objektivitas;
entity independen; bebas nilai dan kesesuaian dengan pengetahuan yang
bebas bias; prosedur ketat; temuan ada dan komunitas ilmiah kritis; temuan
berulang berarti ‘benar’ berulang berarti ‘barangkali benar’;
aproksimasi
METODOLOGI Eksperimental / manipulatif Modifikasi eksperimental / manipulatif
Uji empiris dan verifikasi research Falsifikasi dengan cara critical multiplism
question dan hipotesa; manipulasi atau modifikasi ‘triangulasi’; utilisasi teknik
dan kontrol terhadap kondisi kualitatif: setting lebih natural, informasi
berlawanan; utamanya metoda lebih situasional, dan cara pandang emic
kuantitatif
SET BASIC BELIEF 4 ( EMPAT ) PARADIGMA UTAMA
Pertanyaan Critical theory et al Konstruktivisme
ONTOLOGI Realisme Historis: Relativisme:
Realitas ‘virtual’ yang terbentuk oleh Realitas majemuk dan beragam, berdasarkan
faktor sosial, politik, budaya, ekonomi, pengalaman sosial-individual, lokal, dan
etnis, dan ‘gender’, lalu sejalan dengan spesifik. Merupakan ‘konstruksi’
waktu terkristalisasi dan dianggap real. mental/intelektualitas manusia, bentuk dan isi
berpulang pada penganut/pemegang dapat
berubah menjadi informed dan atau
sophisticated; humanis.
EPISTEMOLO Transaksional/Subyektivis: Transaksional/Subyektivis:
GI
Penganut/pemegang dan obyek Penganut/pemegang dan obyek
observasi/investigasi terkait secara observasi/investigasi terkait secara interaktif;
interaktif; temuan di’mediasi’ oleh nilai temuan di’cipta’/di’konstruksi’ bersama; fusi
yang dipegang semua pihak terkait; fusi antara ontologi dan eistemologi.
antara ontologi dan epistemologi.

METODOLOG Dialogis/Dialektikal: Hermeneutikal/Dialektikal:


I
Ada dialog antara penganut/pemegang ‘Konstruksi’ ditelusuri melalui interaksi antar
dengan obyek observasi/investigasi dan sesama penganut/pemegang dan obyek
secara dialektikal; men-transform observasi/investigasi; dengan teknik
kemasabodohan dan kesalahpahaman hermeneutikal dan pertukaran dialektikal
menjadi kesadaran bahwa struktur ‘konstruksi’ tersebut di-interpretasi’,
historis dapat diubah dan karenanya dibandingkan dan ditandingkan; tujuan;
diperlukan aksi nyata. destilasi ‘konstruksi’ konsensus atau
‘konstruksi’ resultante.
BEBERAPA ALIRAN DAN/ATAU PARADIGMA
DALAM ILMU HUKUM
Aliran dan/atau Konsep/ Pemahaman Ciri Hukum Ranah
Paradigma Hukum

Legal Law as what ought to be Asas moralitas yang bernilai Normatif


Philosophy/ in moral or ideal precepts universal dan menjadi bagian Normologik
Theology Ius constituendum inheren sistem hukum alam; (Norma Moral)
Keadilan yang (masih) harus

diwujudkan.

Legal Law as what it is written Kaidah-kaidah positif yang berlaku Normatif Positif

Positivism/ Post- in the books umum in abstracto di suatu waktu / (Norma Positif
positivism Ius constitutum tempat tertentu; Legislatif)
Terbit sebagai produk eksplisit

suatu sumber kekuasaan politik


tertentu yang berlegitimasi;
Hukum perundang-undangan

nasional / negara;
Perintah-perintah eksplisit yang

secara positif telah terumus jelas


guna menjamin kepastiannya.
Legal Realism / Laws as it is made by the Keputusan yang diciptakan hakim in Normatif
Behavioralism, judge in the court of law or concreto dalam proses peradilan; Behavioral
Sociological judge-made law; Hasil cipta penuh pertimbangan (Norma Positif
Jurisprudence Ius constitutum. (judgement) dari hakim pengadil. Yudisial)

Legal Structuralism Law as it is in society; Pola perilaku sosial; Empirik


/ Functionalism / Law as regularities. Institusi sosial yang nyata dan Nomologik
Structuro- fungsional di dalam sistem kehidupan
Functionalism, Law masyarakat, baik dalam proses
and Society pemulihan ketertiban dan
penyelesaian sengketa, maupun
dalam proses pengarahan dan
pembentukan pola perilaku yang baru.

Critical Legal Law as historical / virtual Serangkaian struktur, sebagai suatu Empirik Kritis
Theory, realities; realitas virtual atau historis, yang
Critical Legal Law as historically / merupakan hasil proses panjang
Studies virtually understood or kristalisasi nilai-nilai politik, ekonomi,
believed; sosial, budaya, etnik, gender, dan
Law as false agama;
consciousness or as Sebagai instrumen hegemoni yang

falsely realised. cenderung dominan, diskriminatif dan


eksploitatif;
Setiap saat terbuka bagi kritik, revisi,

dan transformasi, guna menuju


emansipasi.
Legal Interpretivism / Law as it is in human Makna-makna simbolik hasil Simbolik
Symbolic actions and interactions; interpretasi (individual ataupun Interaksional /
Interactionism  Law as interpretations or kolektif) sebagaimana dalam dan Interpretatif
processes of dari aksi serta interaksi masyarakat.
interpreting.

Legal Constructivism Law as relative and Konstruksi mental yang bersifat Relatif
contextual consensus relatif, majemuk, beragam, Konstruktivis
(Hukum sebagai intangible, lokal, dan spesifik
kesepakatan, baik tertulis (walaupun elemen-elemen serupa
maupun tidak); dapat saja dijumpai pada individu,
Law as mental kelompok masyarakat, maupun
construction; budaya yang berbeda); berbasis
Law as experiential sosial / eksperiential;
realities. Rekonstruksi / revisi / perubahan

terjadi berkesinambungan, sejalan


dengan pengayaan informasi dan
‘sofistikasi’ atau ‘olah cipta-rasa’;
Yang ada, setiap saat, adalah

konsensus atau kesepakatan relatif


berkenaan dengan konstruksi
tersebut, sesuai dengan konteks
ruang dan waktu.