Anda di halaman 1dari 33

Desentralisasi

Sistem Pemerintahan Daerah


Jurusan Ilmu Pemerintahan
Semester IV 2009/2010

Pengajar:
Dra. Mudiyati Rahmatunnisa, M.A., Ph.D
Makna Konsep Desentralisasi

Definisi klasik desentralisasi: “[i]t should be easy enough to


decide what decentralization means. Its first and most obvious
meaning is the transferring of something from the centre ─ the
something usually being population or power, or both” [cukup
mudah untuk mendefinisikan apa arti desentralisasi. Arti
yang paling penting adalah penyerahan sesuatu dari
Pusat – sesuatu tersebut biasanya penduduk atau
kekuasaan, atau keduanya] (Harris 1948)
Wacana Kontemporer:
Desentralisasi bisa diterapkan dengan berbagai cara dan
dalam lingkungan yang beragam (Conyers 1984: 187)
Desentralisasi melibatkan proses dan institusi yang
berbeda-beda (Furniss 1974: 973; Smith 1985: 1; Ouedraogo
2003: 98)
desentralisasi telah menjadi topic yang berbagai disiplin
ilmu, tidak hanya politik atau administrasi negara, tetapi
juga disiplin ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, teori
organisasi dan lain-lain (Conyers 1984: 190) .
konsep desentralisasi memiliki definisi beragam,
bergantung kepada disiplin ilmu yang memakainya (Levy
& Truman 1971: 172; see also, Bardhan 2002: 186; Burns,
Hambleton & Hogget 1999: 5-6)
Definisi Desentralisasi:

Rondinelli dan Cheema (1983: 18):

The transfer of planning, decision-making, or administrative


authority from central government to its field organizations, local
administrative units, semi-autonomous and parastatal
organizations, local governments, or nongovernmental
organizations [transfer kewenangan perencanaan,
pengambilan keputusan atau administrasi dari pemerintah
pusat kepada organizasi-organisasinya di daerah, kepada
unit-unit administrasi di daerah, semi-autonomous dan
organizasi-organisasi bisnis atau industry, pemerintah local
atau organisasi non pemerintah].
 
UNDP (1999: 2):
…Decentralization, or decentralizing governance, refers to the
restructuring or reorganization of authority so that there is a
system of co-responsibility between institutions of governance
at the central, regional and local levels according to the
principle of subsidiarity, thus increasing the overall quality
and effectiveness of the system of governance, while increasing
the authority and capacities of sub-national levels. …
Decentralization could also be expected to contribute to key
elements of good governance, such as increasing people's
opportunities for participation in economic, social and political
decisions; assisting in developing people's capacities; and
enhancing government responsiveness, transparency and
accountability.
Desentralisasi, desentralisasi pemerintahan, merujuk
kepada restrukturisasi atau reorganisasi kewenangan
sehingga tercipta sebuah sistem pertanggungjawaban
secara bersama antara lembaga-lembaga pemerintahan di
tingkat pusat, regional dan local, berdasarkan prinsip
subsidiarity, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan
efektivitas dari sistem pemerintahan, juga meningkatkan
kewenangan dan kapasitas dari pemerintah daerah…
Desentralisasi juga bisa diharapkan berkontribusi kepada
terciptanya elemen penting good governance, seperti
meningkatan kesempatan masyarakat untuk
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan-keputusan
ekonomi, social dan politik; membantu kapasitas
masyarakat dalam pembangunan; dan menguatkan
responsivitas, transparansi dan akuntabilitas pemerintah
UNDP (1992:2)
“. . .decentralization or decentralizing governance
should not be seen as an end in itself, it can be a
means for creating more open, responsive, and
effective local government and for enhancing
representational systems of community-level decision
making. By allowing local communities and regional
entities to manage their own affairs, and through
facilitating closer contact between central and local
authorities, effective systems of local governance
enable responses to people's needs and priorities to be
heard, thereby ensuring that government
interventions meet a variety of social needs. …”
[…desentralisasi atau proses pemerintahan yang terdesentralisasi
tidak boleh dipandang sebagai sebuah tujuan, desentralisasi
dapat merupakan sebuah cara untuk menciptakan pemerintahan
daerah yang lebih terbuka, responsive dan efektif dan untuk
memperbaiki system perwakilan dari proses pembuatan
keputusan pada level masyarakat. Dengan memberikan
kesempatan kepada masyarakat local dan entitas regional lainnya
untuk mengelola urusan mereka sendiri, dan melalui fasilitasi
hubungan yang lebih dekat antara aparat pusat dan daerah,
system pemerintahan local yang efektif memungkinkan respon
atas kebutuhan dan prioritas masyarakat dapat terdengar,
karenanya menjamin bahwa campur tangan pemerintah dapat
memenuhi berbagai kebutuhan social.]
 
Fokus
desentralisasi dalam proses pemerintahan
Bukan konsep desentralisasi yang diterapkan pada
organisasi non-pemerintah.
Fokus: desentralisasi territorial (territorial
decentralization), yang membahas tentang “the dispersal
of power and authority to the lower levels of
governments” [penyerahan kekuasaan dan kewenangan
kepada tingkat pemerintahan yang lebih rendah],
ketimbang desentralisasi fungsional (functional
decentralization), yaitu desentralisasi kepada organizasi
non-pemerintah (parastatal organizations) (Conyers 1984:
187).
Bentuk Desentralisasi Teritorial
Beragam bentuk desentralisasi teritorial (Rondinelli &
Cheema 1983: 18-25; Burns, Hambleton & Hogget 1999:
88-107; Manor 1999: 8-9).

Perbedaan bentuk desentralisasi ini didasarkan pada tiga


hal, yaitu “degrees of dispersed authority and power, the
autonomy of decentralized organizations, and the type of
dispersed authority present at sub-national levels”
(Rondinelli & Cheema 1983: 18).
Bentuk Desentralisasi Teritorial

Deconcentration (dekonsentrasi): “the dispersal of agents


of higher levels of government into lower level arenas”
[penyerahan agen-agen dari pemerintah yang lebih
tinggi kepada daerah yang lebih rendah] (Manor 1999: 9).
Manor: dalam dekonsentrasi tidak ada kewenangan yang
dilimpahkan Pusat, tetapi hanya relokasi pegawai-
pegawai Pusat yang bertanggung jawab kepada pejabat
yang lebih tinggi.
Empirik: dekonsentrasi mendukung system sentralistik,
karena proses tersebut lebih menguatkan pengaruh Pusat
atas Daerah
Kontra Argumen Dekonsentrasi
Turner (2002: 354-355) : dekonsentrasi, jika direncanakan
dengan baik dan dilaksanakan dengan benar sesuai
dengan apa yang telah ditetapkan, tetap dapat
mendatangkan keuntungan, baik secara manajemen
maupun politis, dalam hal memperluas partisipasi
public.
Pengalaman Kamboja: dekonsentrasi merupakan
strategy pang paling tepat untuk negara berkembang
dari pada devolusi, karena rendahnya kapasitas
pemerintah daerah di negara-negara berkembang, baik
dari segi struktur, proses maupun sumberdaya
manusianya, untuk dapat melaksanakan devolusi.
Desentralisasi fiskal: “downward fiscal transfers, by which
higher levels in a system cede influence over budgets and
financial decision  to lower levels” (transfer fiscal kepada
tingkat pemerintahan yang lebih rendah, dimana
pemerintahan yang lebih tinggi menyerahkan
kewenangan atas anggaran dan keputusan-keputusan
keuangan lainnya kepada pemerintahan yang lebih
rendah tingkatannya] (Manor 1999: 9)  

Desentralisasi fiscal bukan “genuine decentralization”,


terutama jika prosesnya tidak disertai dengan
terbukanya kesempatan bagi public untuk terlibat dalam
urusan keuangan pemerintah daerah (Manor 1999: 9;
Rodden 2004: 492).
Devolusi atau democratic decentralization
“the transfer of resources and power (and often tasks) to lower
level authorities which are largely or wholly independent of
higher levels of government …” [transfer sumberdaya dan
kekuasaan (dan juga tugas-tugas) kepada lemabag pemerintah
yang lebih rendah yang independen dari campur tangan
pemerintah yang lebih tinggi(Manor 1999: 9).
devolusi merupakan bentuk asli dari desentralisasi (Alderfer
1964; Mawhood 1983), karena memberikan kesempatan
kepada penduduk local untuk menyuarakan aspirasi mereka
dan mempengaruhi proses-proses pengambilan keputusan;
memperbaiki kualitas demokrasi karena para pemegang
jabatan public menjadi lebih akuntable dan pelayanan public
menjadi lebih baik, karena pemerintah daerah menjadi lebih
efisien dalam mengakomodasi keinginan local ketimbang
keinginan Pusat (Smith 1985).
Kontra Argumen atas Devolusi
Turner (2002: 354-355): devolusi tidak secara otomatis
berdampak positif untuk perbaikan kualitas proses-proses
demokratik. Desentralisasi justru berasosiasi dengan
permasalahan elite captures, memburuknya kualitas
pelayanan public, kegagalan upaya memerangi
kemiskinan, pemerintah daerah yang tidak responsive, dan
proses pengambilan keputusan yang tidak demokratis.
Sebagai alternative, Turner merekomendasikan perlunya
dekonsentrasi sebagai bentuk desentralisasi yang
dipandang paling tepat dan memiliki potensi lebih baik
dalam merealisasikan benefits dari desentralisasi
ketimbang devolusi.
Argumen yang Mendukung Desentralisasi
Akhir dekade 60-an: desentralisasi adalah alternative
pendekatan dalam pembangunan, karena system
sentralistik yang mendominasi dunia pada saat itu telah
mengakibatkan berbagai persoalan pembangunan, i.e.
tingkat pertumbuhan ekonomi yang melempem (sluggish
economic growth), kesenjangan pendapatan dan
meningkatnya kemiskinan.
Konsensus umum: tujuan-tujuan pembangunan tidak
bisa dicapai melalui control dan manajemen yang
sentralistik, tetapi meniscayakan partisipasi yang lebih
luas dalam proses ekonomi, social dan politik dari
penduduk local.
Argumen Teoretik
Potential Benefits dari desentralisasi: administratif,
ekonomi dan politik
Perspektif administrasi:
- efektivitas dan efisiensi yang lebih besar dalam urusan
pemerintahan local, khususnya penyelenggaraan
pelayanan public (Breton 2000: 1), karena pengetahuan
dan sensitivitas pemda yang lebih baik, yang
berimplikasi kepada desain program yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
- pelayanan public lebih efisien karena memangkas
prosedur-prosedur yang panjang dan rumit dari
perencanaan pembangunan yang sentralistik (Rondinelli,
Nellis & Cheema 1983: 11).
Perspektif ekonomi:
- memacu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi
kemiskinan.
- Litvack, Ahmad & Bird (1998: 1): “decentralization can
have significant repercussions for resource mobilization and
allocation, and ultimately macroeconomic stability, service
delivery, and equity.” [desentralisasi dapat memiliki
konsekuensi-konsekuensi yang penting untuk
memobilisasi sumber-sumber daya dan
pengalokasiannya, dan pada akhirnya akan dapat
menciptakan stabilitas perekonomia, pemberian
pelayanan (yang lebih baik), dan memenuhi rasa
keadilan.
Desentralisasi dapat mengurangi costs, memperbaiki
pelayanan dan produk layanan, dan lebih efektif dalam
memanfaatkan sumber saya manusia (Hart 1972: 605).
desentralisasi memungkinkan penduduk local untuk
mengawasi para pemimpin mereka, hal ini memberikan
motivasi yang kuat kepada pemerintah local setempat
untuk memenuhi keinginan public (Breton 2000: 2).
motivasi yang kuat untuk memenuhi berbagai keinginan
public akan mendorong semangat kompetisi antar
pemerintah daerah (Bardhan 2002: 191-192; Treisman 1999:
489)
Studi Arikan ( 2004; lihat juga, Huther & Shah 1998) atas 40
negara juga menunjukkan bahwa desentralisasi keuangan
(fiscal decentralization) dapat mengurangi kecenderungan
korupsi aparat public.
Perspektif politik:
- desentralisasi memfasilitasi stabilitas politik dan
partisipasi.
- penduduk local berhak memilih pemimpin yang mereka
percayai, pada gilirannya akan berimplikasi kepada
terciptanya harmoni social, komunitas local yang aktif
(Smith 1985: 23), dan stabilitas politik dengan mendorong
partisipasi aktif dari penduduk setempat dalam proses
pebuatan kebijakan dan implementasinya (Conyers 1986:
596; Samaratunge 1998: 6; Blair 2000: 23).
- mengurangi konsentrasi kekuasaan (di tangan
pemerintah pusat) dan sebagai cara strategis untuk
memelihara integrasi dan stabilitas negara karena
berkurangnya gerakan-gerakan separatis (Smith 1985: 3) .
Akhir dekade 80-an:
- desentralisasi menopang komponen inti dari demokratisasi
yaitu peningkatan akuntabilitas dalam pemerintahan local,
yaitu proses di mana penduduk local dapat mengontrol
pemerintah local dengan meminta mereka bertanggungjawab
atas berbagai tindakan yang dilakukan (Blair 2000: 21).
- peluncuran “good governance” oleh World Bank akhir
dekade 80-an: desentralisasi sebagai strategi pembangunan
kontemporer. Komponen inti dari “good governance”
―”efficient public management, accountability of public
officials, a legal framework for development, and the
availability of information and transparency” ― parallel
dengan keuntungan dari desentralisasi (Turner et al. 2003: 6).
Kritik atas Desentralisasi
Prud’homme (1995): desentralisasi membatasi kekuasaan dan
kewenangan Pusat untuk program-program redistributive;
mengawasi pajak dan anggaran. Akibatnya adalah bahwa praktek
desentralisasi di banyak Negara justru berdampak kesenjangan,
instabilitas ekonomi dan ineffisiensi.
Inefisiensi juga terjadi akibat lemahnya kapasitas Pemda, tidak
responsive dan korup.
McLure (1995: 221) menambahkan bahwa “decentralization, per se,
is wrongheaded. ” Dengan merujuk kepada Amerika dan Negara-
negara di Eropa barat, Corragio (as cited in Slater 1989: 516)
menyatakan bahwa “the idea of decentralization becomes a mask
for the dismantling of the welfare state” since “it can also be a less
than overt step on the way to increased privatization, deregulation
and a rolling back of many of the economic and particularly social
functions of the state.”  Extend this sentence? Wrongheaded how?
Why? Are McLure’s reasons the same as Corragio’s?
berbagai studi memperlihatkan desentralisasi telah
gagal dalam memfasilitasi partisipasi politik dan
mengurangi kemiskinan di Negara-negara Afrika
dan Amreika Latin (Crook & Manor 1995; Zhong
1998; Blair 2000; Conyers 2003; Crook 2003; Sarker
2003). Sebaliknya, desentralisasi mengakibatkan
semakin besarnya kesenjangan antar daerah, sebagai
yang terjadi di China, dan buruknya kualitas
pelayanan public, sebagaimana terjadi di
Bangladesh.
Desentralisasi dan Demokratisasi
Demokrasi:
- “rule by the people”;
- demokrasi merupakan konsep yang subyektif dan beragam
dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat (Dahl 1998;
Sorensen 1998; Catt 1999);
- Sorensen (1998: 4) :
* makna demokrasi tumbuh dan berkembang dengan
penambahan berbagai aspek dan dimensi ketika kontek
social yang melingkupinya berubah;
* pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa
pemaknaan demokrasi dengan penekanan pada aspek
tertentu telah berimplikasi kepada beragam definisi tentang
demokrasi.
Catt (1998:4): demokrasi adalah ”an ideal method of
decision making” [sebuah metoda ideal dalam
pembuatan keputusan].
Brian Barry (1992: 60: “a method of determining the
content of laws [and other legally binding decisions]
such that the preferences of the citizens have some
formal connection with the outcome in which each
counts equally.”[sebuah metode untuk menentukan isi
dari hokum (dan keputusan-keputusan lainnya yang
mengikat) di mana keinginan-keinginan dari warga
negara memiliki kaitan formal dengan output dan
keiginan-keinginan mereka masing-masing
diperhitungkan secara sama].
Redy and Sabelo (1997: 572) : dalam sebuah system
pemerintahan yang demokratis “the eligible people in
a polity participate actively not only in determining the
kind of people that govern them, but also participate
actively in shaping the policy output of the
government” [masyarakat yang memenuhi persyaratan
tertentu berpartisipasi aktif dalam proses politik tidak
hanya ketika menentukan orang-orang yang akan
memerintah mereka, tetapi juga berpartisipasi aktif
dalam membentuk output kebijakan dari
pemerintah].
system pemerintahan demokratis tidak hanya ditentukan
oleh keberadaan pemilu berkala, tetapi juga oleh
keterbukaan system pemerintahan terhadap partisipasi dari
kelompok marginal / kelompok-kelompok yang
tersubordinasi.
Mekanisme proses politik inklusif esensial, sehingga
demokrasi tidak hanya menjadi demokrasi prosedural
(electoralism), tapi menjadi demokrasi yang partisipatoris,
dimana di dalamnya “the everyday rights, interests,
perspectives and involvement of civil society at large must be
taken into consideration by the powers-that-be, in between
elections.” [hak, kepentingan, perspektif dan keterlibatan
dari civil society harus dipertimbangkan oleh pemegang
kekuasaan, di antara pemilu] (Loh 2008).
Saward (1998: 21): “equal effective inputs by citizens” harus
menjadi basic guideline dari sebuah system yang demokratis.
Demokratisasi
demokratisasi melibatkan sebuah proses transformasi dari
sebuah system politik yang tidak demokratis menuju system
yang demokratis (Boyer 1993; Sorensen 1998; Quah 2004).
Dryzek (1996: 474) : “a matter of progressive inclusion of
various groups and categories of people in political life”
[sebuah proses pelibatan berbagai kelompok masyarakat
secara progresif dalam kehidupan politik] yang juga berarti
mencakup “an increase in the scope (or range) of issues
brought under popular control, or an increase in the
authenticity of that control” [peningkatan cakupan isu-isu
yang berada dibawah control masyarakat, atau sebuah
peningkatan dari kualitas control itu sendiri].
Dahl (1971: 4-5): demokratisasi melibatkan partisipasi public
atau inklusifitas yang lebih besar dan juga kompetisi politik.
demokratisasi mencakup dua aspek penting, yaitu;
pertama, proses perubahan rezim menuju sebuah
system yang demokratis, dan kedua, pelibatan warga
negara yang lebih luas ke dalam kehidupan politik.
Desentralisasi dan Demokratisasi

Desentralisasi sebagai strategy penting dalam


mendukung proses demokratisasi.
Redy dan Sabelo (1997:572) dan Hart (1972: 604) :
demokratisasi hanya akan efektif jika disertai dengan
desentralisasi kekuasaan yang efektif.
Heller (2001: 140):
…[D]ecentralization contributes to democratic deepening if and when it
expands the scope and depth of citizen participation in public decision making.
Expanding the depth means incorporating previously marginalized or
disadvantaged groups into public politics. Expanding the scope means
bringing a wider range of social and economic issues into the authoritative
domain of politics (shifting the boundary from the market to the demos).
Democratic decentralization in other words means redistributing power (the
authority to make binding decisions about the allocation of public resources)
both vertically (incorporating citizens) and horizontally (expanding the
domain of collective decision making).

[Desentralisasi berkontribusi terhadap upaya demokratisasi jika dan ketika desentralisasi


melebarkan cakupan dan kedalaman dari partisipasi wargna negara dalam proses pembuatan
keputusan public. Perluasan kedalaman disini bermakna pelibatan kelompok-kelompok
marginal dalam proses politik. Sedangkan perluasan cakupan menyangkut membawa isu-isu
social dan ekonomi yang lebih banyak ke dalam domain politik yang otoritatif [mengubah
batasan dari market kepada rakyat]. Desentralisasi demokratik berarti redistribusi kekuasaan
[otoritas untuk membuat keputusan-keputusan yang mengikat tentang alokasi dari sumberdaya
public] baik secara vertical [melibatkan warga negara] dan horizontal [memperluas domain dari
pembuatan keputusan kolektif ].
Desentralisasi:
- “brings the policymaking unit closer to the people” :
partisipasi public yang lebih besar dalam proses
politik, dan juga pada gilirannya memungkinkan
preferensi public yang lebih luas masuk ke dalam
formulasi kebijakan (Graglia 2000; Heller 2001).
- mendorong partisipasi public dalam proses politik di
luar pemilu, yaitu tidak hanya ditujukan kepada “the
execution of government programs”, tetapi juga
ditujukan kepada pembuatan keputusan tentang
anggaran negara dan program-program (Abers 1996).
Bibliography
 
The World Bank. Available from: http://www.ciesin.org/decentralization/English/General/diferent_forms.html.
Alderfer, H. F. 1964, Local government in Developing Countries, McGraw-Hill, New York.
Arikan, G. G. 2004, 'Fiscal decentralization: a remedy for corruption?', International Tax and Public Finance, vol. 11, no. 2, pp. 17-195.
Bardhan, P. 2002, 'Decentralization of governance and development', The Journal of Economic Perspectives, vol. 16, no. 4, pp. 185-205. Available from:
http://links.jstor.org/sici?sici=0895-3309%28200223%2916%3A4%3C185%ADOGAD%3E2.0.CO%3B2-8
[21 October 2005].
Blair, H. 2000, 'Participation and accountability at the periphery: democratic local governance in six countries', World Development, vol. 28, no. 1, pp. 21-39.
Breton, A. 2000, 'Federalism and decentralization: ownership rights and the superiority of federalism', Publius, vol. 30, no. 2, pp. 1-17.
Burns, D., Hambleton, R. & Hogget, P. 1999, The politics of decentralization: revitalising local democracy, The Macmillan Press, Hampshire and London.
Conyers, D. 1984, 'Decentralization and development: a review of literature', Public Administration and Development, vol. 4, pp. 187-197.
Conyers, D. 1986, 'Future directions in development studies: the case of decentralization', World Development, vol. 14, no. 5, pp. 593-603.
Conyers, D. 2003, 'Decentralization in Zimbabwe: a local perspective', Administration and Development, vol. 23, pp. 115-124.
Crook, R. C. 2003, 'Decentralization and poverty reduction in Africa: the politics of local-central relations', Public Administration & Development, vol. 23, pp. 77-88.
Crook, R. C. & Manor, J. 1995, 'Democratic decentralisation and institutional performance: four Asian and African experiences compared', Journal of Commonwealth & Comparative Politics, vol. 33, no. 3, pp.
309-334.
Furniss, N. 1974, 'The practical significance of decentralization', The Journal of Politics, vol. 36, no. 4, p. 961. Available from:
http://links.jstor.org/sici?sici=0022-3816%28197411%2936%3A4%3C958%3ATPSOD%3E2.0.CO%3B2-Q
[21 October 2005].
Harris, H. L. 1948, 'The implication of decentralization', in Decentralization, ed. H. L. Harris, et al., The Australian Institute of Political Science, Sydney, pp. 1-33.
Hart, D. K. 1972, 'Theories of government related to decentralization and citizen participation', Public Administration Review, vol. 32, no. Special Issue: Curriculum essays on citizens, politics, and
administration in Urban Neighboorhoods (October), pp. 603-621.
Huntington, S. P. 1991, The Third Wave, The University of Oklahoma Press, Norman.
Huther, J. & Shah, A. 1998, Applying a simple measure a good governance to the debate of fiscal decentralization, World Bank.
Levy, F. & Truman, E. M. 1971, 'Toward a rational theory of decentralization: another view', The American Political Science Review, vol. 65, no. 1, pp. 172-179. Available from:
http://links.jstor.org/sici?sici=0003=0554%28197103%2965%3A1%3C172%3ATARTOD%3E2.0.CO%3B2-Z [21 October 2005].
Litvack, J., Ahmad, J. & Bird, R. 1998, Rethinking decentralization in developing countries, The World Bank, Washington, D.C.
Manor, J. 1999, The political economy of democratic decentralization, The World Bank, Washington D.C.
Mawhood, P. 1983, 'Decentralisation: the concept and the practice', in Local government in the Third World, ed. P. Mawhood, Wiley, Chichester, pp. 1-24.
McLure, C. E. J. 1995, 'Comment on "The Dangers of Decentralization" by Prud homme', The World Bank Research Observer, vol. 10 Aug, no. 2, pp. 221-226.
Ouedraogo, H. M. S. 2003, 'Decentralisation and local government: experiences from Francophone West Africa', Public Administration & Development, vol. Feb 23, pp. 97-103.
Prud'homme, R. 1995, 'The dangers of decentralization', The World Bank Research Observer, vol. 10, no. 2, pp. 201-220.
Rodden, J. 2004, 'Comparative federalism and decentralization', Comparative Politics, vol. July, pp. 481-500.
Rondinelli, D. A. & Cheema, G. S. 1983, 'Implementing decentralization policies', in Decentralization and development: Policy implementation in Developing Countries, eds G. S. Cheema & D. A. Rondinelli,
Sage Publications, Beverly Hills, pp. 7-34.
Rondinelli, D. A., Nellis, J. R. & Cheema, G. S. 1983, Decentralization in developing countries: a review of recent experience, World Bank Staff Working Paper No. 581, Washington, DC, World Bank.
Samaratunge, R. 1998, Decentralisation and development: partners in the 21st Century?
Sarker, A. E. 2003, 'The illusion of decentralization: evidence from Bangladesh', The International Journal of Public Sector Management, vol. 16, no. 7, pp. 523-538.
Schneider, A. 2003, 'Decentralization: conceptualization and measurement', Studies in Comparative International Development, vol. 38, no. 3 (Fall), pp. 32-56.
Slater, D. 1989, 'Territorial power and the peripheral state: the issue of decentralization', Development and Change, vol. 20, pp. 501-531.
Smith, B. C. 1985, Decentralization: the territorial dimension of the state, George Allen & Unwin, London.
Treisman, D. 1999, 'Political decentralization and economic reform: a Game-Theoretic analysis', American Journal of Political Science, vol. 43, no. 2, pp. 488-517. Available from: http:// links.jstor.org/sici?
sici=0092-5853%28199904%2943%3A2%3C488%3ADAERA%3E2.0.CO%3B2-4 [31 January 2006].
Turner, M. 2002, 'What happened to deconcentration? Recent initiatives in Cambodia', Public Administration & Development, vol. 22, no. 4 (Oct), pp. 353-364.
Turner, M. & Hulme, D. 1997, Governance, administration and development, Macmillan Press LTD, London.
Turner, M., Podger, O., Sumardjono, M. & Tirthayasa, W. K. 2003, Decentralisation in Indonesia, Asia Pacific Press, Asia Pacific School of Economics and Government, The Australian National University,
Canberra.
UNDP 1999, Decentralization: a sampling of definitions, Joint UNDP-Government of Germany Evaluation of the UNDP Role in Decentralization and Local Governance.
Zhong, Z. D. 1998, 'Decentralization and New Central-Local Conflicts in China', American Asian Review, vol. 16, no. 4, pp. 63-94.
 

Anda mungkin juga menyukai