Anda di halaman 1dari 16

MAKALA

KEPERAWATAN
HGAWAT DARURAT
ASUHAN KEPERAWATAN PADA“
”PASIEN SYOK

DISUSUN OLEH :

• SRI WAHYUNI R
• WAHYUNI
• RANI CAHYANI
BUSTAM
• PRISKA DELIMA
SAPUTRI
• JANUARTI IRIANY
• SELVIANA

INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS MUHAMMADIYAH


TAHUN AKADEMIK 2021/2022
PEMBAHASAN
• DEFINIS
I
Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan
ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme
homeostasis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok dan
homeostasis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Sirkulasi darah
berguna untuk mengantarkan oksigen dan zat-zat lain ke seluruh tubuh serta membuang zat-zat sisa yang
sudah tidak diperlukan.
Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang
kontinue atau terus-menerus di unit terapi intensif.
Syok secara klinis didiagnosa dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut : 
1. Hipotensi : tekanan sistole kurang dari 80 mmHg atau MAP (mean arterial pressure atau tekanan
arterial rata-rata) kurang dari 60 mmHg, atau menurun 30% lebih.
2. Oliguria: produksi urin kurang dari 30 ml/jam. 
3. Perfusi perifer yang buruk, misalnya kulit dingin dan berkerut serta pengisian kapiler yang jelek
• PATOFISIOLOG
I
Menurut patofisiologinya, syok terbagi 3 fase yaitu (Komite Medik, 2000) :
1. Tahap kompensasi
Tahap kompensisasi adalah tahap awal syok saat tubuh masih mampu menjaga fungsi normalnya. Tanda atau gejala yang
dapat ditemukan pada tahap awal seperti kulit pucat, peningkatan denyut nadi ringan, tekanan darah normal, gelisah, dan
pengisian pembuluh darah yang lama. Gejala-gejala pada tahap ini sulit untuk dikenali karena biasanya individu yang
mengalami syok terlihat normal. 
2. Tahap dekompensasi Tahap dekompensasi adalah dimana tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi-fungsinya.
Yang terjadi adalah tubuh akan berupaya menjaga organ-organ vital yaitu dengan mengurangi aliran darah ke lengan, tungkai,
dan perut dan mengutamakan aliran ke otak, jantung, dan paru. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah
rasa haus yang hebat, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, kulit dingin, pucat, serta kesadaran yang mulai
terganggu.
3. Tahap ireversibel Tahap ireversibel adalah dimana kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat
diperbaiki. Tahap ini terjadi jika tidak dilakukan pertolongan sesegera mungkin, maka aliran darah akan mengalir sangat
lambat sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan denyut jantung. Mekanisme pertahanan tubuh akan
mengutamakan aliran darah ke otak dan jantung sehingga aliran ke organ-organ seperti hati dan ginjal menurun. Hal ini yang
menjadi penyebab rusaknya hati maupun ginjal. Walaupun dengan pengobatan yang baik sekalipun, kerusakan organ yang
terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki. 
• MANIFESTASI
KLINIS

Gejala yang timbul antara lain :


1. Keadaan umum lemah 

2. Perfusi : kulit pucat, dingin, basah 

3. Takikardi 

4. Vena perifer tidak tampak 

5. Tekanan darah menurun, sistolik kurang dari 90 mmHg 

6. Hiperventilasi. 

7. Sianosis perifer. 

8. Gelisah, kesadaran menurun 

9. Produksi urine menurun 

10. Kulit lembab dan dingin 

11. Dapat terjadi penurunan kesadaran


• KLASIFIKA
SI
Klasifikasi syok, antara lain :
1. Syok Hipovolemik Merujuk suatu keadaan dimana terjadi kehilangan cairan tubuh dengan cepat sehingga terjadinya
miltiple organ failure akibat perfusi yang tidak adekuat. Syok hipovolemik ini paling sering timbul setelah terjadi perdarahan
hebat (syok hemoragik)
a. Penyebab 
1) Dehidrasi karena berbagai sebab (muntah, diare yang sering/frekuensi, peritonitis) 

2) Luka bakar (grade II-III & luas bakar >30%) 

3) Perdarahan (trauma dengan perdarahan non trauma (perdarahan post partum / HPP massif, KET-kehamilan ekstra-uterina terganggu) 

b. Diagnosa 
1) Perubahan perfusi perifer : ekstremitas dingin, basah, dan pucat capillary refill time memanjang >2 detik 

2) Takikardia 

3) Pada keadaan lanjut: takipneu, penurunan tekanan darah, penurunan produksi urine dan tampak pucat lemah, apatis, kesadaran menurun
• KLASIFIKA
SI
c. Tindakan 
Pemasangan 2 jalur intravena dengan jarum besar dan berikan infus cairan kristaloid pada perdarahan diberikan sejumlah kristaloid
melebihi yang hilang. 
• KLASIFIKA
SI
2. Syok hemoragik
Perdarahan dalam jumlah besar, melebihi 15% volume darah yang beredar akan menyebabkan perubahan-perubahan
fungsi tubuh seseorang. Makin banyak perdarahan makin berat kerusakan yang terjadi maka makin besar risiko untuk
meninggal. Pedarahan yang banyak mengakibatkan syok. Makin berat syok yang terjadi dan makin lama syok berlangsunh.
Makin besar risiko kematian. Hipoksia sampai dengan anoksia di jaringan akibat syok menyebabkan kematian sel jaringan.
Jika sel mati mencapai jumlah kritis maka akan terjadi gagal organ dan kematian. 
a. Perdarahan Penyebab 
1) Kehilangan volume intravaskuler sehingga kapasitas transport oksigen per unit volume darah menurun tubuh memiliki estimated blood
volume (jumlah darah yang berada) 65-75 ml/kg. Untuk mempermudah dibuat rata-rata EBV ; 70 ml/kg untuk mempermudah dibuat
rata-rata EBV ; 70 ml/kg. Jika kehilangan darah 15 ml/kg (20% EBV), terjadilah perubahan hemodinamik : 

a) Nadi meningkat 

b) Kekuatan kontraksi miokard meningkat 

c) Vasonkontriksi di daerah arterial dan vena 

d) Tekanan darah mungkin masih normal tetapi tekanan nadi turun


• KLASIFIKA
SI
b. Prinsip penanganan
Pergantian volume yang hilang untuk mempertahankan kecukupan oksigenasi jaringan, akibat cukup volume maka
hemodinamik terjaga. Untuk perdarahan dengan syok kelas III-IV diberikan infus kristaloid sebaiknya disiapkan transfusi
darah segera setelah sumber perdarahan daan dapat diberikan cairan golongan plasma substitute (cairan koloid).
• KLASIFIKA
SI
3. Syok Anafilaktik
Adalah reaksi anafilaksis yang disertai hipotensi dengan atau tanpa penurunan kesadaran. Reaksi anafilaktoid adalah suatu
reaksi anafilaksis yang terjadi tanpa melibatkan antigen-antibodi kompleks. Karena kemiripan gejala dan tanda biasanya
diterapi sebagai anafilaksis.
a. Penyebab Syok anafilaktik disebabkan oleh reaksi alergi pasien yang sebelumnya sudah membentuk antibodi terhadap
benda asing (anti gen) mengalami reaksi antigen antibodi sistemik. 
b. Diagnosa Tanda-tanda syok (penurunan perfusi perifer dan penurunan tekanan darah yang tiba-tiba) dengan riwayat
adanya alergi (makanan atau hal-hal lain) atau riwayat setelah pemberian obat-obatan 
 c. Tindakan 
1) C-Circulation. Raba karotis, posisi syok, pasang infus kristaloid (RL). Berikan epinefrin (adrenalin) subcutan atau intra muscular
dengan dosis sesuai dengan gejala klinis yang tampak (0,25 mg. 0,5 mg atau 1 mg = 1 ampul bila ternyata jantung tidak berdenyut) 

2) Airway. Pertahankan jalan nafas tetap bebas. Call for help 

3) Breathing. Beri oksigen bila ada kalau perlu nafas dibantu.


• KLASIFIKA
SI
4. Syok septik
Syok septik adalah bentuk paling umum syok distributif dan disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas. Insiden syok septik
dapat dikurangi dengan melakukan praktik pengendalian infeksi, melakukan teknik aseptik yang cermat melakukan debriden
luka untuk membuang jaringan nekrotik pemeliharaan dan pembersihan peralatan secara tepat dan mencuci tangan secara
menyeluruh. 
a. Penyebab Mikroorganisme penyebab syok septik adalah bakteri gram negatif. Ketika mikroorganisme menyerang
jaringan tubuh, pasien akan menunjukkan suatu respon imun. Respon imun ini membangkitkan aktivitasi berbagai
mediator kimiawi yang mempunyai berbagai efek yang mengarah pada syok. Peningkatan permeabilitas kapiler, pada
perembesan cairan dari kapiler dan vasodilatasi adalah dua efek tersebut. 
b.  Tanda dan gejala Sekitar 40% pasien sepsis disebabkan oleh mikroorganisme gram-positive dan 60% disebabkan
mikroorganisme gram negative. Organisme yang paling sering menyebabkan sepsis adalah shock sepsis merupakan
penyakit akut. Gejala umum adalah: 
1) Demam 

2) Berkeringat 

3) Sakit kepala 

4) Nyeri otot
• KLASIFIKA
SI

d. Diagnosis 
1) Fase dini tanda klinis hangat, vasodilatasi.

2) Fase lanjut tanda klinis dingin, vasokontriksi. 

c. Tindakan Ditujukan agar tekanan sistolik >90 – 100 mmHg (Mean arterial pressure 60 mmHg) 
1) Tindakan awal Infus cairan kristloid, pemberian antibiotik, membuang sumber infeksi (pembedahan) 
2) Tindakan lanjut Penggunaan cairan koloid lebih dengan diberikan vasopressor (dopamine atau dikombinasi dengan
noradrenalin)
• KLASIFIKA
SI

5. Syok kardiogenik
Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang
atau berhenti sama sekali. Syok yang disebabkan karena fungsi jantung yang tidak adekuat, seperti pada infark miokard atau
obstruksi mekanik jantung; manifestasinya meliputi hipovolemia, hipotensi, kulit dingin, nadi yang lemah, kekacauan mental,
dan kegelisahan (Kamus kedokteran Dorland, 2010) 
a. Penyebab

Penyebab syok kardiogenik dapat terjadi pada keadaan – keadaan antara lain : kontusio jantung, temponade jantung


dan tension pneumothoraks. Pada versi lain pembagian jenis syok, ada yang membagi bahwa syok kardiogenik hanya untuk
gangguan yang disebabkan karena gangguan pada fungsi myocard. Misal : decomp cordis, trauma langsung pada
jantung, kontusio jantung. Temponad jantung dan tension pneumothoraks dikelompokkan dalam syok obstructive (syok
karena obstruksi mekanik)
• KLASIFIKA
SI

b. Diagnosa
1) Hipotensi disertai gangguan irama jantung
2) Mungkin terdapat peninggian tekanan vena jugularis (JVP)
3) Lakukan pemeriksaan fisik pendukung pada temponade jantung (bunyi jantung menjauh
dan redup), pada tension pneumothoraks (hipersonor dan pergeseran letak trakea)
c. Tindakan 
1) Pemasangan jalur intravena dan pemberian infus kristaloid 
2) Pada aritmia mungkin diperlakukan obat-obat inotropic
3) Perikardiosentesis untuk temponade jantung jantung dengan monitoring EKG
4) Pemasangan jarum torakostomi pada tension pneumothoraks di ICS II-mid clavivular line untuk mengurangi udara
dalam rongga pleura (dekompresi)
• PENATALAKSANAAN
SYOK SECARA UMUM

1. Melakukan survey primer ABCDE yang terdiri dari Airway (menilai jalan nafas), Breathing( menilai pernafasan cukup
atau adanya obstruksi jalan nafas), circulation (menilai sirkulasi peredaran darah), disability (menilai kesadran dengan
cepat), exposure (menilai adanya cedera leher atau tulang belakang).
2. Fase resusitasi, kelanjutan upaya intervensi dan pemantauan yang di mulai dari survei primer. (memasang pulse oxymetri)
3. Pemantauan Lanjutan dari pemantauan tekanan vena sentral, pemantauan kateter pulmonal, pemantauan kateter intra-
arteria, pemantauan non-invasif, penempatan kateter urin dan nasogastrik
4. Fase perawatan definitif
5. Persiapan untuk pemindahan pasien, pemindahan pada kamar operasi atau unit perawatan intensif khusus Penanganan
syok harus bertujuan untuk memperbaiki penyebab dan membantu mekanisme kompensasi fisiologis untuk memulihkan
perfusi jaringan yang adekuat
• DIAGNOSA
KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan pada klien yang sedang dalam keadaan darurat tergantung pada masalah priotas yang ditampilkan
oleh klien sebagai respon homeostasis tubuh. Secara umum hal yang paling diutamakan dalam kegawatdaruratan adalah
pernapasan, dan sirkulasi. Jadi diagnosa yang mungkin muncul adalah :
1. Perubahan perfusi jaringan (serebral, kardiopulmonal, perifer) berhubungan dengan penurunan curah jantung.
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan faktor mekanis (preload, afterload, dan kontraktilitas miokard)
3. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler pulmonal.
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman biologis yang aktual atau potensial.
• INTERVENSI
KEPERAWATAN

Anda mungkin juga menyukai