Anda di halaman 1dari 17

Pembagian Waris Islam Bagi Ahli

Waris Anak Dibawah Umur


Khansa Athifah        (110110150116)
Mega Mutiara Putri                (110110170110)
Ulfah Nur Fauzziyah                (110110170158)
Mira Safitri                               (110110180011)
Elsa Nurjanah           (110110180009)
Dinada Junia Rismantika          (110110180016)
Rahman Subagio         (110110180040)
Bintang Muhammad Razak    (110110190322)
Dida Putra Megaswara    (110110170377)
PENDAHULUAN
Islam telah mengatur tentang pembagian waris terhadap setiap orang yang ditinggalkan oleh keluarga
mereka yang meninggal, namun  ada kasus dimana penerima waris adalah anak yang belum dewasa
sehingga dibutuhkannya perwalian, yang pada dasarnya kewenangan perwalian diberikan kepada
seseorang untuk mewakili anak yang belum dewasa dalam melakukan perbuatan hukum untuk
kepentingan anak dan kebaikannya, yang meliputi hak asuh terhadap diri sendiri serta harta kekayaannya.
Intinya adalah pengawasan yang dilakukan oleh wali terhadap aset orang lain ,dan pengelolaan barang dari
anak yang belum dewasa.

Pembagian Waris Islam Bagi Ahli Waris Anak Dibawah Umur


Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Waris
 Kelas A
PENDAHULUAN
Penempatan pengasuh sangat penting terutama pada masalah suksesi Apabila orang tua
anak yang belum dewasa meninggal maka anak tersebut akan mendapatkan harta warisan
dari orang tuanya itu kemudian anak tersebut harus diwakili oleh walinya, maka akibatnya
harta peninggalan yang didapat seorang anak atas peristiwa warisannya adalah orang
tuanya. dapat memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum. Berkenaan dengan hak asuh,
termasuk didalamnya wali diangkat atau ditunjuk oleh hakim melalui penetapan
pengadilan

3
LATAR BELAKANG
Berbicara masalah perwalian atas seorang anak maka tidak terlepas dari
pembahasan anak dan batas usia seorang anak, ini penting karena untuk
mengetahui bilamana seorang anak diletakkan dibawah perwalian dan dapat
mempertanggung jawabkan suatu perbuatan. Anak dalam bahasa arab disebut
walad , satu kata yang mengandung penghormatan, sebagai makhluk ciptaan tuhan
yang sedang menempuh perkembangannya ke arah abdi allah yang saleh, dimana
dengan memandang anak dan kaitannya dengan perkembangan membawa arti
bahwa anak diberikan tempat khusus yang berbeda dengan kehidupan orang
dewasa, dan anak memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dari orang dewasa
dan para pendidiknya, artinya kehidupan anak tidak dipenggal dan dilepaskan
dari dunianya serta dimensi dan prospeknya.” 
4 Penempatan wali ini sangat penting,
terlebih pada masalah pewarisan.
LATAR BELAKANG

Apabila orang tua sianak yang belum dewasa meninggal


dunia maka sianak tersebut akan mendapatkan harta
warisan dari orang tuannya itu maka si anak harus
diwakilkan oleh walinya, sehingga dengan akibat
tersebut harta peninggalan yang didapatkan seorang
anak atas peristiwa peninggalannya kedua orang tuanya
dapat memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum.

5
INDETIFIKASI MASALAH 1
Bagaimana  pembagian waris untuk anak dibawah umur menurut ketentuan hukum
islam?

Pembagian Waris Untuk Anak Dibawah Umur


Untuk pembagian waris untuk anak dibawah umur disesuaikan dengan bagiannya
sebagaimana mestinya serta adanya perwalian atas anak tersebut terhadap diri maupun
harta kekayaannya serta mengenai bagian warisan bagi anak perempuan maupun anak
laki-laki diatur dalam Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam. Hal ini terjadi karena secara
umum laki-laki memiliki kewajiban dalam mencari nafkah dalam rumah tangga sesuai
dengan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada pasal 34 ayat (1) serta sebagaimana
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 13-14.
Apabila anak telah berusia 21 tahun atau telah menikah, maka wali berkewajiban
menyerahkan seluruh harta orang yang berada di bawah perwaliannya. Akan tetapi apabila
ditemukan adanya harta yang hilang atau disalahgunakan oleh wali, maka pengadilan
agama dapat memutuskan perkara tersebut serta sebagaimana Allah SWT berfirman
dalam QS. An-Nisa ayat 2.
IDENTIFIKASI MASALAH 2
Bagaimana perlindungan hukum yang diberikan terhadap harta
warisan yang diperoleh anak dibawah umur?

Bentuk perlindungan hukum yang diberikan terhadap


harta waris yang diperoleh anak dibawah umur
Q.S An-Nisa Ayat 5 yang artinya: “Dan janganlah kamu
serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya,
harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang
dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah
mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”


Pasal 184 KHI: “Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dan
kewajibannya, maka baginya diangkat wali berdasarkan keputusan Hakim atas usul anggota
keluarga.”
Dalam ketentuan fiqh, kedudukan kuasa seorang wali dibagi menjadi dua:
1.) kuasa pengawasan atas diri (al-walayah ‘alan-nafs), dan
2.) kuasa pengawasan atas harta (al-walayah ‘alal-mal).
Sebagian ulama membagi perwalian menjadi tiga kelompok:
1.) perwalian terhadap jiwa,
2.) perwalian terhadap harta, dan
3.) perwalian terhadap jiwa sekaligus terhadap harta.
Mengenai Perwalian dalam Kompilasi Hukum Islam diatur dalam Pasal 107 sampai 112 KHI.
Pasal 107 ayat (1):
Perwalian hanya terhadap anak yang belum mencapai umur 21 tahun dan atau belum pernah
melangsungkan perkawinan;
Perwalian meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaannya;
Bila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya, maka Pengadilan
Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali atas permohonan
kerabat tersebut;
Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa,
berpikiran sehat, adil, jujur, dan bekelakuan 8baik, atau badan hukum .
M. Yahya Harahap, penunjukan wali
terhadap anak dibawah umur dapat
dilakukan dengan 2 cara:
Melalui wasiat (Pasal 108 KHI).
Melalui penunjukan oleh pengadilan.

9
Pasal 110 KHI:
Wali berkewajiban mengurus diri dan harta orang yang berada di bawah perwaliannya
dengan sebaik-baiknya dan berkewajiban memberikan bimbingan agama, Pendidikan
dan keterampilan lainnya untuk masa depan orang yang berada di bawah
perwaliannya.
Wali di larang mengikatkan, membebani dan mengasingkan harta orang yang berada
di bawah perwaliannya, kecuali bila perbuatan tersebut menguntungkan bagi orang
yang berada dibawah perwaliannya atau merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat
dihindarkan.
Wali bertanggung jawab terhadap hata orang yanrg berada dibawah perwaliannya, dan
mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat kesalahan atau kelalaiannya.
Dengan tidak mengurangi ketentuan yang diatur dalam Pasal 51 ayat (4) UU No. 1
Tahun 1974, pertanggung jawaban wali tersebut ayat (3) harus dibuktikan dengan
pembukuan yang ditutup tiap satu tahun sekali.

10
Pasal 111 KHI disebutkan bahwa:
Wali berkewajiban menyerahkan seluruh harta orang yang berada di bawah
perwaliannya, bila yang bersangkutan telah mencapai umur 21 tahun atau telah kawin.
Apabila perwalian telah berakhir, maka Pengadilan Agama berwenang mengadili
perselisihan antara wali dan orang yang berada di bawah perwaliannya tentang harta
yang diserahkan kepadanya.
Berakhirnya Perwalian:
Anak yang berada dibawah perwalian sudah dewasa atau sudah menikah (Pasal 111
KHI)
Anak yang berada dibawah perwalian meninggal dunia
Wali yang memiliki kuasa atas perwalian meninggal dunia
Wali dicabut kekuasaan perwaliannya (Pasal 109 KHI)

11
Analisis Contoh Kasus
Permohonan penetapan perwalian dan izin untuk melakukan perbuatan hukum atas
tanah sebagai harta waris yang di dalamnya terdapat bagian hak dari anak di
bawah umur.
Anak yang masih di bawah umur belum cakap untuk melakukan perbuatan hukum.
Tujuan permohonan penetapan perwalian dan izin pengelolaan atas tanah salah
satunya adalah untuk kebutuhan dan kepentingan hidup anak.
Tujuan Penetapan Pengadilan untuk memperoleh kepastian hukum bagi si anak dan
harta kekayaan milik anak, serta legalitas wali dalam melakukan perbuatan hukum
(seperti menjual, menggadaikan, dsb) atas harta kekayaan anak yang berada di
bawah perwaliannya tersebut.
Pengelolaan harta kekayaan anak tersebut setelah dilakukannya penetapan dan izin
dari pengadilan, merupakan tanggung jawab wali.

12
KESIMPULAN

1. Tanggung jawab wali atas pengurusan harta anak dibawah umur menurut
ketentuan hukum Islam, dimana wali bertindakA sama seperti orang tua bagi
anak yang masih dibawah umur sewaktu menjalankan kekuasaan wali, dengan
adanya hak perwalian ini meberikan suatu gambaran bahwa setiap manusia tidak
dapat melaksanakan haknya secara individual, yang disebabkan ketergantungan
dari sifat dan sistem dalam pergaulan sehari-hari jadi anak yang belum dewasa
tidak dapat menentukan sifat yang baik dan yang buruk, penjagaan diri, harta
dan lainya. Wali dalam hal ini berupa bertanggung jawab atas pengelolaan harta
dan harus mengganti rugi terhadap kerugian harta anak yang dikelola nya
dengan tidak baik, seperti adanya asset (harta) yang hilang, rusak ataupun
disalah gunakan oleh wali baik karena sengaja maupun karena kelalaian.
2. Bentuk perlindungan hukum yang diberikan terhadap harta anak dibawah umur
yang berada dibawah pengurusan wali berupa pengawasan atas pengelolaan barang-
barang dari anak yang belum dewasa. Pada awal penetapan perwalian, diperlukan
upaya inventarisasi semua harta dari anak dibawah umur tersebut, danwali wajib
mendokumentasikan semua perubahan terhadap asset tersebut. Harta tersebut harus
diaudit secara tahunan untuk mengetahui nilai dari aset dari anak yang di bawah
perwalian, dan untuk memastikan bahwa hartanya tetap terjaga. Selain itu, wali
dilarang menjual, mengalihkan atau menggadaikan aset anak perwalian, kecuali
dalam keadaan yang darurat.
Wali juga dilarang mengikat, membebani atau membagi harta tersebut kecuali
tindakan tersebut akan meningkatkan atau menambah nilai harta, jika dalam hal
wali terpaksa menjual harta milik anak perwalian tersebut, maka seorang wali
wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari pengadilan agama. Dalam proses
pengalihan asset, seorang wali diharuskan untuk mengalihkan semua harta (asset)
kepada anak di bawah perwalian ketika anak telah berusia 21 tahun, atau telah
menikah, jika ditemukan adanya harta yang hilang atau disalah gunakan oleh
wali, maka pengadilan agama dapat memutuskan perkara tersebut dengan
didasarkan pada proses verifikasi dan inventarisir harta yang dikelola oleh wali,
dan jika ditemukan adanya penyalahgunaan, maka wali harus mengganti rugi
terhadap kerugian tersebut. 15
3. Majelis hakim berpendapat dalam permohonan perwalian tersebut sudah sesuai
dengan ketentuan hukum Islam maupun ketentuan perundang-undangan, sebab
hakim memandang bahwa ayah dari anak tersebut mampu dan layak untuk
memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak dan kepentingan anaknya di
depan hukum dan diluar pengadilan. Penetapan ini juga mengizinkan ayah dari
anak di bawah umur tersebut untuk mengelola, menjual, mengagunkan atau
mengalihkan harta-harta yang menjadi hak anak tersebut ataupun
mempergunakan harta warisan milik anak tersebut yang berasal dari harta
peninggalan ibunya, yang dipergunakan bagi kepentingan anaknya sampai
dengan anaknya tersebut cukup umur, mulai dari segi kebutuhan sehari-hari,
pendidikan, sandang, pangan, dan lain sebagainya, dimana dalam pengurusan
harta anaknya si ayah tersebut dibebani16pencatatan dan pembukuan harta milik
si anak dibawah umur tersebut.
TERIMA
KASIH 
ANY QUESTION?

17