Anda di halaman 1dari 28

TUGAS ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA

ANALISIS TINGKAT PENGANGGURAN DAN


PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP TINGKAT
KEMISKINAN DI BERBAGAI KOTA DI MEDAN

Disusun oleh:

NAMA : SARI SISKA SIHOMBING


NIM: 202407074

PROGRAM STUDI D3 STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU


PENGETAHUAN
ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

TAHUN

2022
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat berarti produksi


barang atau jasa yang dihasilkan juga meningkat, sehingga
diperlukan tenaga kerja semakin banyak untuk memproduksi
barang atau jasa tersebut. Dengan begitu tingkat pengangguran
menurun dan jumlah penduduk miskin berkurang. Sehingga dapat
dikatakan bahwa prioritas pembangunan adalah mengurangi atau
menghapus kemiskinan.
Kemiskinan merupakan persoalan mendasar yang sering dihadapi
oleh setiap negara sehingga menjadi pusat perhatian pemerintah di
negara manapun, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.
Istilah kemiskinan muncul ketika seseorang atau sekelompok
orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang
dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu.
Kemiskinan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya
berbagai masalah tentang kesejahteraan, seperti ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar, kondisi keterpencilan,
keterasingan, ketergantungan, dan keterbatasan dalam mengakses
layanan sosial. Sehingga masalah kemiskinan merupakan masalah
yang kompleks dan bersifat multidimensional, apabila tidak
dilakukan penanganan yang tepat akan berakibat pada munculnya
masalah sosial lainnya. Oleh karena itu, upaya pengentasanan
kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, dikarenakan
menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat. Untuk itu
peran pemerintah dalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk
mengurangi tingkat kemiskinan sangat diperlukan.

2. PERUMUSAN MASALAH

Bedasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi


rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Bagaimana pengaruh tingkat pengangguran terhadap tingkat
kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat ?
- Bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat
kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Bedasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan


dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Untuk menganalisis pengaruh tingkat pengangguran
terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.
- Untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi
terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Bedasarkan tujuan penelitian diatas, maka manfaat yang akan


diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis
dalam menganalisis pengaruh tingkat pengangguran
terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.
- Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis
dalam menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi
terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. KEMISKINAN
Kemiskinan merupakan fenomena yang seringkali dijumpai dalam
kehidupan di seluruh negara, termasuk di negara berkembang
seperti Indonesia. Kemiskinan adalah suatu kondisi
ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup
rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini
ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan seseorang
untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang,
maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan
berdampak pada kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-
rata seperti kesehatan masyarakat dan standar pendidikan. Banyak
tokoh, peneliti, badan resmi pemerintah, yang memilki pendapat
tersendiri dalam memandang masalah kemiskinan ini.

1. Karakteristik Penduduk Miskin


Walaupun kemiskinan merupakan istilah yang umum, ditandai
dengan tidak mampunya seseorang untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan hidup minimal yang dianggap layak, namun
kemiskinan itu memiliki ciri yang berbeda antar wilayah.
Perbedaan ini terkait pada kemiskinan sumber daya alam (SDA),
sumber daya manusia (SDM), dan kelembagaan setempat.
Adapun ciri-ciri kelompok (penduduk miskin) adalah sebagai
berikut :
a. Rata-rata tidak mempunyai faktor produksi sendiri, seperti
tanah, modal,
peralatan kerja, dan keterampilan.
b. Mempunyai tingkat pendidikan yang rendah.
c. Kebanyakan bekerja atau berusaha sendiri dan bersifat usaha
kecil (sektor
informal), setengah menganggur atau menganggur
(tidak bekerja).
d. Kebanyakan berada di daerah pedesaan atau daerah tertentu
perkotaan
(slum area).
e. Kurangnya kesempatan untuk memperoleh (dalam jumlah
cukup) bahan
kebutuhan pokok, pakaian, perumahan, fasilitas kesehatan
sosial lainnya (Suryawati, 2005).

Garis kemiskinan adalah semua ukuran kemiskinan yang


dipertimbangkan bedasarkan norma-norma tertentu. Pilihan norma
tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan
yang didasarkan pola konsumsi. Garis kemiskinan yang
didasarkan pada konsumsi terdiri atas dua elemen yaitu: (1)
pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi standar gizi
minimum dan kebutuhan mendasar lainnya dan (2) jumlah
kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya
partisipasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (Kuncoro,
2014).
Menurut BPS (2010) dalam Ariyus (2015), penetapan perhitungan
garis kemiskinan dalam masyarakat adalah masyarakat yang
berpenghasilan dibawah Rp. 7.057 per orang per hari. Penetapan
angka Rp. 7.057 per orang per hari tersebut berasal dari
perhitungan garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan
dan non-makanan. Untuk kebutuhan minimum makanan
digunakan
2.100 kilokalori per kapita per hari. Sedangkan untuk pengeluaran
kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk
perumahan, pendidikan, dan kesehatan.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep Head
Count Index (HCI-PO) yaitu kemiskinan diukur bedasarkan
persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan
(GK). Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-
rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
Dimana :

α =0
z = garis kemiskinan
𝑦i = rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang
beradadi bawah garis kemiskinan (i = 1, 2, 3,........q), 𝑦i< z
q = banyaknya penduduk yang berada dibawah
garis kemiskinann= jumlah penduduk

2.2 PENGANGGURAN
Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam
angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada
suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh
pekerjaan yang diinginkannya (Sukirno 2004 dalam Nugroho
2015). Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah
angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran seringkali
menjadi masalah dalam perekonomian, karena dengan adanya
pengangguran produktivitas dan pendapatan masyar
akat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya
kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Pengangguran adalah masalah makroekonomi yang mempengaruhi
manusia secara langsung dan merupakan yang paling berat.
Kebanyakan orang kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar
kehidupan dan tekanan psikologis. Jadi tidaklah mengejutkan jika
pengangguran menjadi topik yang sering dibicarakan dalam
perdebatan politik dan para politis sering mengklaim bahwa
kebijakan yang mereka tawarkan akan membantu menciptakan
lapangan kerja (Mankiw, 2006)
Angka pengangguran adalah persentase jumlah penganggur
terhadap jumlah angkatan kerja (Sumarsono, 2009). Indikator
yang biasanya digunakan untuk menghitung pengangguran adalah
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Dimana TPT merupakan
perbandingan antara jumlah penganggur dengan jumlah angkatan
kerja yang biasanya dinyatakan dalam satuan persen (%). Yang
secara sistematis dimana TPT dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Jumlah Penganggur
TPT = x 100 %
Jumlah Angkatan Kerja

2.3 PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan


kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa
yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan
kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno, 2006 dalam Tirta
2013). Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi
keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi ditandai dengan meningkatnya hasil
produksi dan pendapatan. Dalam hal ini, berarti terjadinya
peningkatan pendapatan nasional yang ditunjukkan oleh besarnya
Produk Domestik Bruto (PDB).
Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan menggunakan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga konstan
(ADHK) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
PDRB t – PDRB t-1
Gt =

x 100 %
PDRB t-1
Dimana :

Gt = Pertumbuhan Ekonomi
PDRB t = PDRB atas dasar harga konstan tahun
tertentu.

PDRB t-1 = PDRB atas dasar harga konstan tahun sebelumnya.


BAB III
METODE PENELITIAN

1. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah untuk
menganalisis
pengaruh tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi
terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,
Deli Serdang, Karo, dan Langkat dalam kurun waktu 2001-2015.

2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang
berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011).
Dalam penelitian ini digunakan dua jenis variabel penelitian, yaitu
variabelbebas (independen) dan variabel terikat (dependen).
1. Variabel Bebas (Independen)
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat
(Sugiyono, 2011).
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (independen)
adalahsebagai berikut :
- Tingkat Pengangguran (X1)
Dalam penelitian ini tingkat pengangguran dihitung bedasarkan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia 15 tahun keatas.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase penduduk
dalam angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan atau sedang
mencari pekerjaan yang diukur dalam satuan
persen (%) di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo,
dan Langkatdalam kurun waktu 2001-2015.
- Pertumbuhan Ekonomi (X2)
Dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi adalah indikator yang
biasanya digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu wilayah
yang diikuti dengan pemerataan pendapatan. Pertumbuhan
ekonomi dilihat dari laju PDRB atas dasar harga konstan dalam
satuan persen (%) di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat dalam kurun waktu 2001-2015.
3.2.2. Variabel Terikat (Dependen)
Varibel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadiakibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011).
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat (dependen)
adalahsebagai berikut:
- Tingkat Kemiskinan (Y)
Dalam penelitian ini tingkat kemiskinan dilihat bedasarkan
persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan
(GK) yang diukur dalam satuan persen (%) di Kabupaten/Kota di
Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat dalam kurun
waktu 2001-2015.

3.3. Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif yaitu data yang berbentuk skala numerik (angka).
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yaitu data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik
(BPS) Sumatera Utara, buku-buku, jurnal, internet, dan sumber
lain yang berhubungan dengan masalah penelitian kemudian
dianalisis dengan prosedur statistik.

4. Pengolahan Data
Penulis menggunakan program komputer Eviews 9 dalam
mengolah dan menganalisis data penelitian di dalam skripsi ini.
5. Model Analisis Data
Model yang digunakan untuk menganalisis Pengaruh Tingkat
Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat
Kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,
Karo, dan Langkat adalah dengan menggunakan model
ekonometrika, sedangkan teknik analisanya menggunakan regresi
data panel. Data panel merupakan kombinasi antara antara deret
waktu (time series) dan kerat lintang (cross section).
6. Pengolahan Data
Penulis menggunakan program komputer Eviews 9 dalam
mengolah dan menganalisis data penelitian di dalam skripsi ini.
6. Model Analisis Data
Model yang digunakan untuk menganalisis Pengaruh Tingkat
Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat
Kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,
Karo, dan Langkat adalah dengan menggunakan model
ekonometrika, sedangkan teknik analisanya menggunakan
regresi
data panel. Data panel merupakan kombinasi antara antara deret
waktu (time series) dan kerat lintang (cross section).
Adapun persamaan model ekonometrika dengan menggunakan
data cross section dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
=α+β
+ ...............................................................................................................
(3.1)
Dimana :
i = 1,2,3.....N (Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan
Langkat)

N = banyaknya data cross section (sebanyak 5 (lima) Kabupaten/Kota)

Sedangkan persamaan model ekonometrika dengan data time series dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :

= α + β +............................................................................................................ (3.2)

Dimana :
t = 1,2,3.....N (dalam kurun waktu 2001, 2002, 2003,..............................................2015)
N = banyaknya data time series (selama kurun waktu 15 (lima belas)tahun

Sehingga persamaan model ekonometrika dengan menggunakan datapanel dalam


(3.3)
𝐾i𝑡 = α + β1 TP it + β2 PEit + εit
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Dimana :

K = Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,


Deli serdang, Karo dan Langkat.
TP = Tingkat Pengangguran di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,
Deli Serdang,Karo, dan Langkat.
PE = Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,
Deli Serdang,Karo, dan Langkat.
i = Kabupaten/Kota (1, 2, 3. 5)
= Tahun (2001, 2002 ,2003.
t 2015)
α = Konstanta
𝛽1− 𝛽2= Koefisien Regresiε = Term Error

Metode Analisis Data


Metode analisis data merupakan metode yang penting dalam
penyusunan suatu penelitian dengan pengujian data menggunakan
teknik statistik tertentu, dan diberi arti atau makna yang berguna
dalam memecahkan masalah penelitian yang sedang diuji.
Adapun metode analisis data yang digunakan adalah dengan
menggunakan analisis regresi data panel, yaitu gabungan antara
data time series selama kurun waktu 2001-2015 yakni selama 15
(lima belas) tahun dan data cross section dengan 5 (lima)
Kabupaten/Kota di Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan
Langkat. Metode data panel adalah suatu metode yang digunakan
untuk melakukan analisis secara empirik dengan perilaku data
yang lebih dinamis.
Adapun beberapa keunggulan data panel menurut Gujarati (2009)
dalam Jundi (2014) antara lain sebagai berikut :
- Data panel bersifat heterogen.
Data panel memberikan data yang lebih informatif, lebih
bervariasi, tingkat kolinieritas antar variabelnya rendah, derajat
kebebasannya (degree of freedom) lebih besar dan lebih efisien
karena menggunakan penggabungan data time series dan cross
section. Data panel membantu memudahkan penelitian untuk
mempelajari suatu perilaku yang rumit dan kompleks.
Data panel lebih memberikan kepuasan dalam penelitian yang
digunakan untuk menentukan dan mendeteksi perubahan secara
dinamis dibandingkan dengan penelitian menggunakan data cross
section murni atau time series murni.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Gambaran Umum Variabel-variabel Penelitian

1. Tingkat Kemiskinan

Tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli


Serdang, Karo, dan Langkat dalam kurun waktu 2001-2015 sangat
berfluktuatif. Adapun perkembangan tingkat kemiskinan di
Kabupaten/Kota tersebut dalam kurun waktu 2001-2015 dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1
Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo,
dan Langkat tahun 2001-2015 (%)

Persentase Penduduk Miskin (%)


Tahun Kabupaten/Kota
Medan Binjai Deli Serdang Karo Langkat

2001 12,48 9,04 10,30 5,11 19,32


2002 4,80 6,14 9,98 23,20 20,60
2003 7,25 7,05 8,30 20,35 21,21
2004 7,13 6,40 7,72 20,00 19,89
2005 7,06 6.93 6,98 17,68 20,98
2006 7,77 6,38 6,29 20,96 19,65
2007 7,17 5,72 5,67 14,47 18,23
2008 10,43 8,12 5,16 12,86 14,81
2009 9,58 7,04 5,17 11,42 12,75
2010 10,05 7,33 5,34 11,02 10,85
2011 9,63 7,00 5,10 10,49 10,31
2012 9,33 6,72 4,78 9,33 10,02
2013 9,64 6,75 4,71 9,79 10,44
2014 9,12 6,38 4,56 9,20 9,99
2015 9,41 7,03 4,74 9,68 11,30
Rata- 8,72 6,93 6,32 13,70 15,35
rata : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara
Sumber
Bedasarkan tabel 1.1 diatas pada tahun 2007 tingkat kemiskinan
di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan
Langkat mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini
dikarenakan telah terjadinya pemulihan ekonomi bagi kelompok
masyarakat menengah kebawah, yaitu dengan adanya berbagai
subsidi dan bantuan yang diberikan pemerintah dalam mengatasi
dampak kenaikan harga BBM pada tahun 2005. Sehingga
mengurangi jumlah penduduk miskin.
Adapun secara rata-rata Kabupaten/Kota yang memiliki kondisi
tingkat kemiskinan tertinggi diduduki oleh Kabupaten Langkat
yaitu sebesar 15,35 %. Hal ini dikarenakan minimnya ketersediaan
lapangan pekerjaan sehingga menimbulkan banyak pengangguran
yang berdampak pada tingkat kemiskinan menjadi tinggi, dan
masih rendahnya tingkat pendidikan, serta pembangunan di
Kabupaten tersebut belum merata, terutama ke golongan penduduk
miskin.
Sedangkan Kabupaten Deli Serdang menduduki tingkat
kemiskinan terendah yaitu hanya mencapai 6,32 %. Hal ini
dikarenakan gencarnya Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam
merealisasikan sejumlah program pembangunan yang berorientasi
pada kepentingan masyarakat luas hingga ke pelosok desa. Selain
itu Kabupaten Deli Serdang unggul di sektor perkebunan,
pertanian dan industri, sehingga masyarakat yang menganggur di
Kabupaten tersebut terserap oleh lapangan pekerjaan di sektor-
sektor tersebut. Dengan begitu masyarakat Kabupaten Deli
Serdang dapat menghasilkan pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu tingkat kemiskinan di
Kabupaten Deli Serdang lebih rendah jika dibandingkan dengan
Kabupaten/Kota lainnya. Dengan begitu tingkat kemiskinan di
Kabupaten tersebut lebih rendah dibandingkan dengan
Kabupaten/Kota lainnya.
Adapun perkembangan rata-rata tingkat
kemiskinan di

Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat

dalam kurun waktu 2001-2015 sebagai berikut :


Persentase
1 1 1
6
1
2 8
6 6
1
0
P

8
6
4
Medan Binjai Deli K L
Serdang

Gambar 4.1
Perkembangan Rata-rata Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat

Pada gambar 4.1 diatas, jika dilihat perkembangan rata-rata tingkat


kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,
Karo, dan Langkat. Kabupaten Langkat yang menduduki tingkat
kemiskinan tertinggi yaitu sebesar 15,35 %. Kemudian disusul
oleh Kabupaten Karo yakni tingkat kemiskinannya sebesar 13,70
%, selanjutnya Kota Medan sebesar 8,72 % dan Binjai 6,93 %.
Sedangkan tingkat kemiskinan terendah di Kabupaten Deli
Serdang, yaitu hanya 6,32 %.
4.1.2. Tingkat Pengangguran
Tingkat pengangguran di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat dalam kurun waktu 2001-2015
berfluktuatif dari tahun ke tahun. Namun cenderung mengalami
peningkatan. Hal ini dikarenakan jumlah angkatan kerja dari
tahun
ke tahun terus meningkat. Sementara lapangan pekerjaan yang
tersedia tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang dari
tahun ke tahun meningkat. Adapun perkembangan tingkat
pengangguran di Kabupaten/Kota tersebut dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
Tabel 4.2
Tingkat Pengangguran di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,Karo,
Tingkat
dan Langkat tahun 2001-2015 (%) Pengangguran Terbuka (TPT) %
Tahun Kabupaten/Kota
Medan Binjai Deli Serdang Karo Langkat

2001 9,76 6,78 4,70 0,25 7,94


2002 13,28 8,59 8,54 1,02 11,06
2003 15,23 13,80 10,23 1,50 13,35
2004 19,43 19,35 17,78 4,90 18,17
2005 12,46 16,44 11,90 7,19 14,91
2006 15,01 15,39 13,47 7,00 13,31
2007 14,49 13,71 10,57 6,64 10,95
2008 13,08 11,90 9,47 6,18 9,90
2009 14,27 11,84 10,87 2,06 8,77
2010 13,11 11,64 9,02 1,56 8,69
2011 9,97 8,37 7,69 4,66 5,78
2012 9,03 9,80 6,85 2,00 5,98
2013 10,01 6,37 7,54 2,08 7,10
2014 9,48 7,60 7,00 1,02 6,60
2015 11,00 10,00 6,38 2,23 8,02
Rata- 12,64 11,44 9,47 3,35 10,04
rata
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara
Pada tabel 4.2 diatas secara rata-rata tingkat pengangguran
tertinggi diduduki oleh Kota Medan yaitu mencapai 12,64 %. Hal
ini dikarenakan Kota Medan Ibu Kota dari Provinsi Sumatera
Utara, sehingga Kota Medan sering dilirik oleh masyarakat
pedesaan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Oleh karena
itu Kota Medan tidak bisa menghindari arus urbanisasi, sehingga
perkembangan jumlah penduduk sangat pesat di Kota Medan
tanpa diikuti dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup,
akibatnya timbul pengangguran yang cukup tinggi di Kota Medan.
Sedangkan tingkat pengangguran terendah di Kabupaten Karo
yaitu secara rata-rata hanya 3,35 %. Hal ini dikarenakan mayoritas
penduduk di Kabupaten tersebut bekerja di sektor informal, seperti
sektor pertanian. Sehingga untuk memasuki lapangan pekerjaan di
sektor pertanian tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi dan
persyaratan khusus. Oleh karena itu mempermudah penduduk
untuk bekerja, sehingga Kabupaten Karo tingkat penganggurannya
relatif rendah.
Adapun perkembangan rata-rata tingkat pengangguran di
Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat
sebegai berikut :
Tingkat Pengangguran

1 1
1
4 1
9
1
2
1 3
0
P

8
6
Meda Deli K L
Serdan

Gambar 4.2
Perkembangan Rata-rataTingkat Pengangguran di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat tahun 2001-2015 (%)

Pada gambar 4.2 diatas, jika dilihat perkembangan rata-rata tingkat


pengangguran di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,
Karo, dan Langkat. Kota Medan menduduki tingkat pengangguran
tertinggi yaitu sebesar 12,64 %. Kemudian disusul oleh Kota
Binjai yakni tingkat penganggurannya sebesar 11,44 %,
selanjutnya Kabupaten Langkat sebesar 10,04 % dan Kabupaten
Deli Serdang sebesar 9,47 %. Sedangkan tingkat pengangguran
terendah adalah Kabupaten Karo yaitu hanya mencapai 3.35 %.

4.1.3. Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuha ekonomi merupakan indikator untuk
n melihat suatu wilayah.
keberhasilan
Kabupaten/KotaPertumbuhan ekonomi
Medan, Binjai, Deli Serdang, di Langkat
Karo, dan
dalam kurun waktu 2001-2015 sangat bervariasi dimana dalam
suatu periode ada yang mengalami kenaikan dan ada pula di
periode lain mengalami penurunan.
Bedasarkan tabel dibawah ini, jika dilihat pada tahun 2013
pertumbuhan ekonomi tertinggi diduduki oleh Kabupaten Deli
Serdang yakni sebesar 9,22 %. Hal ini disebabkan karena sejak 25
juli 2013 telah beroperasinya Bandara Kualanamu Internasional
yang membawa dampak positif bagi masyarakat di Kabupaten
tersebut, karena dengan adanya Bandara Kualanamu Internasional
dapat memberikan kontribusi yang baik melalui penyerapan tenaga
kerja. Dengan begitu masyarakatnya dapat menghasilkan
pendapatan sehingga dapat membeli barang atau jasa sehingga
pertumbuhan di Kabupaten Deli Serdang mengalami peningkatan.
Adapun jika dilihat secara rata-rata pertumbuhan ekonomi
tertinggi diduduki oleh Kota Medan dengan pertumbuhan sebesar
6,47 %. Hal ini dikarenakan Kota Medan merupakan Ibu Kota dari
Provinsi Sumatera Utara, sehingga seluruh kegiatan perekonomian
maupun pemerintahan terpusat di kota Medan. Walaupun tidak
mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, namun Kota Medan
mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat stabil
sehingga membuat wilayah ini semakin dilirik oleh para pelaku
ekonomi, sehingga perkembangan pertumbuhan ekonomi wilayah
tersebut sangat pesat.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi terendah di Kabupaten Langkat
yaitu hanya 4,13 %. Hal ini diakibatkan oleh karena masih
rendahnya perputaran roda perekonomian di Kabupaten Langkat.
Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Medan,
Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
Tabel 4.3
Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang,
Karo, dan Langkat tahun 2001-2015 (%)

Pertumbuhan Ekonomi (%)


Tahun Kabupaten/Kota
Medan Binjai Deli Serdang Karo Langkat

2001 4,60 3,96 4,07 5,35 1,08


2002 4,50 6,35 3,30 4,91 3,02
2003 5,06 4,97 3,85 5,66 2,96
2004 7,29 8,17 4,08 3,32 1,01
2005 6,98 5,28 4,97 4,70 3,47
2006 7,76 5,32 5,45 4,96 2,09
2007 7,78 5,68 5,74 5,13 4,81
2008 6,89 5,54 5,82 5,21 5,07
2009 6,55 5,87 5,55 5,17 5,04
2010 7,16 6,07 5,98 6,03 5,74
2011 7,69 6,56 6,01 6,57 5,84
2012 7,63 6,61 6,06 6,35 6,05
2013 5,36 6,07 9,22 4,95 5,61
2014 6,08 5,38 7,50 5,09 5,12
2015 5,74 5,40 5,24 5,01 5,03
Rata- 6,47 5,82 5,52 5,23 4,13
rata
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara

Adapun perkembanganrata-rata pertumbuhan ekonomi


di

Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat tahun

2001- 2015 sebagai berikut :


Pertumbuha

6
7 5 5 5
6
5 4

4
P

3
2
1

Medan Binjai Deli K L


Serdang

Gambar 4.3
Perkembangan Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota
Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat tahun 2001-2015 (%)

Pada gambar 4.3 diatas jika dilihat perkembangan rata-rata


pertumbuhan ekonomi tertinggi diduduki oleh Kota Medan
dengan pertumbuhan sebesar 6,47
%. Kemudian disusul oleh Kota Binjai yakni pertumbuhan
ekonominya sebesar 5,82 %, selanjutnya Kabupaten Deli serdang
sebesar 5,52 %, dan Kabupaten Karo sebesar 5,23 %. Sedangkan
pertumbuhan ekonomi terendah adalah di Kabupaten Langkat
yaitu hanya 4,13 %.
Adapun jika dilihat secara rinci dari persamaan regresi dalam
data panel bedasarkan perhitungan pada setiap variabel-variabel
penelitian di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Sedang, Karo,
dan Langkat dalam kurun waktu 2001-2015 sebagai berikut :
1. Kota Medan

Y = α + 𝛽X1 + βX 2

Y = 15,200 + 0,064 – 0,624 X1+ -1,029 – 0,624 X2

= 15,2 + (-0,56) X1 + (-1,65) X2

2. Kota Binjai

Y = α + 𝛽X1 + βX 2
Y = 15,200 + 0,064 – 3,010 X1 + -1,029 – 3,010 X2

= 15,2 + (-2,95) X1 + (-4,04) X2

3. Kabupaten Deli Serdang

Y = α + 𝛽X1 + βX 2

Y = 15,200 + 0,064 – 3,800 X1 + -1,029 – 3,800 X2

= 15,2 + (-3,74) X1 + (-4,83) X2

4. Kabupaten Karo

Y = α + 𝛽X1 + βX 2

Y = 15,200 + 0,064 + 3,670 X1 + -1,029 + 3,670 X2

= 15,2 + (3,73) X1 + (2,64) X2

5. Kabupaten Langkat

Y = α + 𝛽X1 + βX2

Y = 15,200 + 0,064 +

3,764 X1 + -1,029 +

3,674 X2

= 15,2

+ (3,82) X1

+ (2,73) X2

Berdasarkan hasil perhitungan diatas dalam persamaan


regresi menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada setiap
variabel penelitian di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat.
Nilai konstanta di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli
Serdang, Karo, dan Langkat berslope tetap yakni sebesar
15,2. Hal ini menunjukkan bahwa jika nilai X1(tingkat
pengangguran) dan X2 (pertumbuhan ekonomi) nilainya
tetap (konstan), maka tingkat kemiskinan di setiap
Kabupaten/Kota sebesar 15,2 %.
Adapun jika dilihat dari variabel (X1) yaitu tingkat
penganggurannya ada 3 (tiga) Kabupaten/Kota yang bernilai
negatif, dan ada 2 (dua) Kabupaten yang bernilai positif.
usia 15 tahun ke atas (pelajar dan mahasiswa) terus
meningkat. Namun, mereka masih tetap mampu memenuhi
kebutuhan pokoknya dengan baik, dikarenakan biaya hidup
mereka masih dalam tanggungan orang tuanya. Dan 2 (dua)
Kabupaten
yaitu Kabupaten Karo dan Langkat bernilai positif, yang
artinya jika pengangguran meningkat kemiskinan juga
meningkat hal ini sesuai dengan teori yang ada dan hipotesis
penelitian.
Kemudian jika dilihat dari variabel (X2) yakni pertumbuhan
ekonominya, ada dua (2) Kabupaten yang bernilai positif,
dan ada tiga (3) Kabupaten/Kota bernilai negatif. Sesuai
dengan teori yang ada dan hipotesis penelitian bahwa
pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat
kemiskinan. Artinya jika pertumbuhan ekonomi meningkat,
maka tingkat kemiskinan menurun. Hasil perhitungan dari
persamaan regresi di Kabupaten Karo dan Langkat
pertumbuhan ekonominya berpengaruh positif terhadap
tingkat kemiskinan, ini berbanding terbalik dengan teori
yang ada. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten Karo dan Langkat belum berkembang dengan
baik, artinya pertumbuhan ekonominya belum menyebar
secara merata ke penduduk di Kabupaten tersebut, termasuk
di golongan penduduk miskin. Sedangkan tiga (3)
Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, pertumbuhan
ekonominya berpengaruh negatif terhadap tingkat
kemiskinan, hal ini sesuai dengan teori yang ada, yang
artinya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota tersebut
pertumbuhan ekonominya stabil dan menyebar secara
merata ke penduduk, termasuk penduduk di golongan
penduduk miskin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Bedasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan,
maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
- Tingkat pengangguran di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,
Deli Serdang, Karo, dan Langkat berpengaruh positif, tetapi
tidak signifikan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di
masing-masing Kabupaten/Kota tersebut. Hal ini
dikarenakan setiap tahun jumlah angkatan kerja usia 15
tahun ke atas (pelajar dan mahasiswa) terus meningkat,
namun mereka masih mampu memenuhi kebutuhan
pokoknya, karena masih dalam tanggungan orang tua.
Selain itu terjadi pergeseran tenaga kerja dari sektor primer
ke sektor sekunder dan tersier.
- Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Medan, Binjai,
Deli Serdang, Karo, dan Langkat berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap tingkat kemiskinan di masing-masing
Kabupaten/Kota tersebut. Dimana jika pertumbuhan
ekonomi meningkat, maka tingkat kemiskinan di
Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan
Langkat menurun. Pertumbuhan ekonomi merupakan syarat
keharusan (necessary condition) untuk mengurangi
kemiskinan dan syarat kecukupannya (sufficient condition)
ialah pertumbuhan tersebut harus menyebar secara merata
termasuk ke golongan penduduk miskin.
5.2. Saran
Dari hasil analisis yang dilakukan maka ada beberapa saran yang
dapat diberikan, yaitu :
- Untuk dapat mengurangi tingkat pengangguran, Pemerintah
sebaiknya menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan
tingkat pendidikan, membuka Balai Latihan Kerja (BLK),
memberikan modal usaha, serta mempermudah izin
pendirian usaha, sehingga tingkat pengangguran menurun
yang nantinya tingkat kemiskinan juga menurun.
- Untukdapat menjaga kestabilan dan meningkatka
pertumbuhan ekonomi, n
Pemerintah
meningkatkan kualitas sumber daya manusianya seharusny
melalui
pendidikan yang baik serta sarana dan fasilitas amemadai
agar dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas
sehingga memberikan kontribusi yang baik untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta dengan
distribusi pendapatan secara merata, termasuk ke golongan
penduduk miskin. Dengan begitu dapat mengurangi jumlah
penduduk miskin.
DAFTAR PUSTAKA

Ariyus, Lucky S. 2015. Analisis Pengaruh Angka Harapan Hidup, PDRB


perkapita, Jumlah Pengangguran terhadap Jumlah Penduduk Miskin.
Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang.

Bappenas//Pengertian Kemiskinan, http://Bappenas.co.id (diakses pada tanggal 8


November, pukul 14.21 Wib).

Badan Pusat Statistik (BPS). Sumatera Utara Dalam Angka. Berbagai Tahun
Penerbitan.

Hambarsari, Dwi P & Inggit, Kunto. 2016. Analisis Pengaruh Pertumbuhan


Ekonomi, Pertumbuhan Penduduk, dan Inflasi terhadap Tingkat
Kemiskinan di Jawa Timur tahun 2004-2014. Jurnal Ekonomi & Bisnis,
Hal 257-282 Volume 1, Nomor 2, September 2016, Universitas Surabaya.

Jundi, Al Musa. 2014. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan


Provinsi-Provinsi di Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Diponegoro, Semarang.

Kristanto, Dwi P. 2014. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah


Minimum, dan Tingkat Pengangguran terhadap Jumlah Penduduk Miskin
di Kabupaten/Kota Brebes tahun 1997-2012. Skripsi. Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang.

Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan, Teori


Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta : UPP AMP YKN.

Kuncoro, Sri. 2014. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat


Pengangguran, dan Pendidikan terhadap Tingkat Kemiskinan di Jawa
Timur tahun 2009-2011. Naskah Publikasi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Muhammadyah Surakarta.

Mankiw, Gregory. 2006. Makroekonomi, Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.

Nugroho, Adi P. 2015. Pengaruh PDRB, Tingkat Pendidikan, dan Pengangguran


terhadap Kemiskinan di Kota Yogyakarta tahun 1999-2013. Skripsi.
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Pangestika, Styfanda. 2015. Analisis Estimasi Model Regresi Data Panel dengan
Pendekatan Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM) dan
Random Effect Model (REM). Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.

Anda mungkin juga menyukai