Anda di halaman 1dari 11

BHD & BHJL

Pada px Covid-19
Dosen pengampu :
Ns. Maryana, S. Psi, S. Kep, M. Kep,
Kelompok 3

Ahmad Fauzan M. Grace Nazavira


Muhammad Amin Yesie Veronika
Dyah Tri Ningsih Esa Paska
Aprilia Rachim Krisdayanti
A. Prinsip Umum Resusitasi pada Pasien yang Diduga dan
Dikonfirmasi COVID-19

01
Mengurangi paparan tenaga
kesehatan ke COVID-19 02

Pertimbangkan ketepatan Prioritaskan


untuk memulai dan strategi oksigenasi
dan ventilasi
melanjutkan resusitasi. dengan risiko
aerosolisasi yang
lebih rendah

03
B. Bantuan Hidup Dasar di Pre-Hospital

American Heart Association (AHA) sudah


Dalam telekomunikasi harus konsisten dengan membuat diagram penanganan henti jantung di
protokol lokal untuk melakukan skrining pada luar Rumah Sakit. Adapun urutannya adalah
sebagai berikut:
semua panggilan dengan pertanyaan mengenai 1. Cek respon pasien
gejala COVID-19 (misalnya, demam, batuk, sesak 2.Pangil bantuan dan minta segera dibawakan
Automated External Defibrillation (AED).
napas) atau infeksi COVID-19 yang diketahui pada 3.Tutupi mulut anda dan hidung dengan
korban atau kontak apa pun, termasuk anggota menggunakan masker atau kain. Tutupi juga
mulut dan hidung korban dengan masker atau
rumah tangga mana pun. kain.
4. Lakukan hands-only CPR (Tekan kuat dan
cepat di tengah dada - center of chest) dengan
kecepatan 100 – 120 kali per menit.
5. Jika AED sudah datang segera gunakan AED
Jika kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) tidak tercapai setelah upaya resusitasi yang
sesuai di lapangan, pertimbangkan untuk tidak mentransfer ke rumah sakit atau jika
kemungkinan bertahan hidup yang rendah untuk pasien, hal ini untuk mengurangi risiko
paparan tambahan ke penyedia layanan pra-rumah sakit dan di rumah sakit rujukan.
C. Resusitasi di Intra Hospital D. Pertimbangan Khusus untuk Ibu
Hamil dan Neonatus
1. Sebelum Henti Jantung
2. Saat Henti Jantung dan Resusitasi neonatus

Resusitasi
Langkah awal: Pelayanan neonatus rutin dan langkah
3. Setelah Resusitasi
awal resusitasi neonatus kemungkinan besar tidak
menghasilkan aerosol; diantaranya mengeringkan
bayi, stimulasi taktil, menempatkan bayi dalam
balutan plastik, penilaian laju detak jantung, serta
pemasangan oksimetri dan lead EKG.
Suction: suction pada jalan napas setelah lahir
sebaiknya tidak dilakukan secara rutin jika cairan
amnion jernih atau terkontaminasi mekonium.
Suctioning merupakan prosedur yang menghasilkan
aerosol dan tidak diindikasikan untuk persalinan
normal

Medikasi endotrakeal: Pemberian obat-obatan secara endotrakeal, seperti


surfaktan atau epinefrin, merupakan prosedur yang menghasilkan aerosol,
terutama bila dilakukan dengan pipa endotrakea tanpa cuff. Pemberian epinefrin
secara intravena dengan kateter vena umbilikus letak rendah (low-lying
umbilicalvenous catheter) merupakan rute administrasi pilihan pada resusitasi
neonatus
Inkubator tertutup: Pemindahan dan perawatan pasien dalam inkubator tertutup
(dengan pengaturan jarak yang sesuai) sebaiknya digunakan untuk pasien
neonatus yang menjalani rawat intensif jika memungkinkan, namun hal ini
tidak melindungi mereka dari aerosolisasi virus.
Henti jantung pada ibu hamil

 Perubahan fisiologis jantung paru pada saat kehamilan


berpotensi meningkatkan risiko dekompensasi akut pada pasien
hamil dengan COVID-19 yang jatuh kritis.

 Persiapan untuk persalinan perimortem, setelah 4 menit


resusitasi, perlu dipertimbangkan lebih awal pada algoritma
resusitasi guna memberi waktu bagi tim obstetri dan neonatus
untuk menggunakan APD, bahkan jika sirkulasi spontan (ROSC)
berhasil kembali dan persalinan perimortem tidak lagi
dibutuhkan.
THANK’S