Anda di halaman 1dari 10

BAB VII

SAINS ISLAM,
SUDAH SAATNYA!
TUJUAN PENDIDIKAN
• Tujuan pendidikan di Indonesia yang tercantum dalam undang-undang secara
umum yaitu mencetak manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil,
kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.
Tetapi dalam pengaplikasiannya apakah tujuan tersebut benar-benar diwujudkan?
• Untuk mencapai tujuan pendidikan, diperlukan tiga unsur penting yaitu guru,
kurikulum dan metode pembelajaran.
• Agar mencapai tujuan pendidikan, yaitu membentuk manusia yang beriman dan
bertaqwa, maka haruslah disusun kurikulum yang bisa mengantarkan anak didik
kepada tujuannya. Logisnya, kurikulum itu harus bersumber dari ajaran Tuhan
Yang Maha Esa (Allah SWT). Karenanya,berdasarkan tujuan tersebut maka aneh
juka kurikulum pendidikannya malah menolak wahyu sebagai sumber ilmu.
Sains Islam
• Tujuan pendidikan dalam konsepsi Islam yaitu membentuk manusia yang baik,
yang beradab. Maka dari itu diperlukan proses Ta’dib
• Adab membuat manusia dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai
ketentuan Allah.
• Adab hanya dapat diraih dengan ilmu. Menurut Syaikh Wan Ahmad al-Fathani,
agar seseorang mempunyai adab maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu.
Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting sebagai jalan mengenal
Allah dan beribadah kepada-Nya. Karena itu, sudah seharusnya dunia pendidikan
kita sangat menekankan proses ta’dib, yaitu sebuah proses pendidikan yang
mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang beradab. Sebab jika adab
hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan
dan mengikuti hawa nafsu yang merusak.
• Dalam pendidikan sains, adab seharusnya meletakkan fenomena alam
pada tempatnya, yakni “ayat-ayat Allah”. Alam semesta termasuk tubuh
manusia bukan semata-mata objek pengamatan yang terlepas dari nilai-
nilai ketuhanan. Oleh karena itu, ketika melakukan pengamatan seorang
peneliti harus memahami bahwa semua itu terjadi tidak terlepas dari
Sunnatullah.
• Jadi, dengan akalnya yang digunakan untuk memperhatikan dengan
sungguh-sungguh akan fenomena alam ini, manusia bisa sampai pada
kesimpulan, bahwa ada Dzat Yang Mahakuasa, yang menciptakan dan
mengatur alam semesta ini.
• Pemikiran seperti inilah yang akan bisa membimbing para pelajar dan
mahasiswa untuk mengenal Tuhan dan menjadikan mereka manusia
beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sebagaimana diamanahkan
dalam UUD 1945 dan UU Pendidikan Nasional/Pendidikan Tinggi.
Sains Saat ini (Sains Barat)
• Menurut Dr. Budi Hadianto, sains yang tengah dipelajari saat ini di dunia pendidikan baik di
Barat ataupun Negara-negara muslim adalah sains Barat modern yang banyak meletakkan
al-Quran dibawah metode ilmiah dan logika.
• Meskipun sains Barat modern dan teknologi yang dihasilkannya telah berhasil membawa
manfaat bagi kehidupan manusia, kerusakan yang ditimbulkannya pun tidak kalah besar.
Karena sifatnya yang sekuler dan jauh dari nilai-nilai kesakralan, maka sains barat modern
telah membawa manusia pada kekeringan spiritual dan menjauh dari Tuhan. Terlepasnya
keterkaitan manusia dengan Tuhan menyebabkan manusia menjadi makhluk yang
eksploitatif terhadap alam sehingga terjadi kerusakan dimana-mana.
• Sungguh ironis jika pelajaran sains di sekolah-sekolah dijauhkan dari Tuhan dan hanya
menjadi alat eksploitasi alam. Para ilmuwan yang dihasilkannya tidak mengakui wahyu allah
sebagai sumber ilmu, dan hanya mengenal sumber ilm dari pancaindra (ilmu empiris) dan
akal (rasional). Akibatnya, meskipun ilmu yang didapatkan semakin bertambah tetapi ilmu
tersebut tidak membuat manusia mendekat kepada Allah.
• Menurut Prof Nauib Al-Attas, knowledge yang
disebarkan Barat itu pada hakikatnya menjadi
problematik, karena kehilangan tujuan yang
benar dan lebih menimbulkan kekacauan
dalam kehidupan manusia ketimbang
membawa perdamaian dan keadilan.
Sebenarnya, selama ini tidak sedikit ilmuwan
yang sudah memberikan kritik terhadap sains
Barat sebagai pembawa bencana bagi umat
manusia. salah satunya yakni Dr. Seyyed Hossein
Nasr (Pakar sains lulusan Harvard University).
5 Analisis Nasr terhadap Sains Barat Modern:
1. “tidak ada jejak Tuhan didalam alam raya”; Pandangan sekuler tentang alam semesta yang melihat tidak
ada jejak Tuhan (vestigia Dei) di dalam keteraturan alam terutama dalam kosmologi Kristen. Alam bukan
lagi sebagai ayat-ayat Allah tetapi entitas yang berdiri sendiri.
2. “alam bersifat mekanistis”; Alam raya atau kosmos digambarkan secara mekanistis (sebab-akbiat)
bagaikan mesin dan jam. Alam menjadi sesuatu yang bisa ditentukan dan diprediksi secara mutlak – yang
mennggiring kepada munculnya masyarakat industry modern dan kapitalisme. Alam diibaratkan sebuah
mesin atau jam yang jika sudah dinyalakan oleh penciptanya maka mesin atau jam tersebut berjalan
dengan seendirinya sampai mati. Tuhan adalah watch maker (Sang pembuat jam). Ketika jam sudah jadi
dan berjalan, maka menurut sains Barat modern, Tuhan tidak ikut serta di dalamnya.
3. “nasionalisme dan empirisisme”; Dasar aktivitas sains Barat modern. Dalam Islam, rasio dan metode
penelitian empiris induktif dedukatif juga dipakai. Namun, sains Barat modern tidak mengakui selain itu.
Sedangkan dalam Islam, sesuai dengan objek ontology sains, di luar yang empiris dan rasional ada hal
lain yang bisa diterima sebagai ilmu.
4. “dualisme Descartes”; Nasr mengkritik landasan rasionalisme dalam sains Barat modern yang
mengandalkan pemisahan antara res cogitans dan res extensa, antara subjek yang mengetahui dan objek
yang diketahui. Landasan ini biasa disebut dengan dualisme, yaitu pemisahan akal sebagai substansi
yang berpikir dan materi sebagai substansi yang menempati ruang.
5. ”eksploitasi alam sebagai sumber kekuatan dan dominasi”; Kemajuan sains modern telah dipakai kaum
kapitalis untuk mengeksploitasi alam dan menjadikannya kekuatan ekonomi.
• Nasr memandang, selain terhadap sains, desakralisasi juga terjadi terhadap
filsafat, kosmos, bahasa, dan agama. Oleh karena itu, Nasr menolak sains
Barat modern yang retalivistik, positivistic, dan rasionalistik. Sebagai
gantinya, Nasr menyarankan solusi berupa konsep traditionalisasi sains atau
sains sacral (scientia sacra).
• Menurut Nasr, scientia sacra secara tidak lain adalah pengetahuan suci yang
berada dalam jantung setiap wahyu dan ia adalah pusat lingkungan inti yang
meliputi dan menentukan “tradisi” (serangkaian prinsip-prinsip yang telah
diturunkan dari langit yang ketika diturunkan itu ditandai suatu manifestasi
Ilahi, beserta dengan penyerapan dan penyiaran prinsip-prinsip tersebut
pada masa-masa yang berbeda dan kondisi-kondisi yang berbeda bagi
masyarakat tertentu).
Kesimpulan:
Sains Islam adalah jawaban untuk mewujudkan
terbentuknya Muslim Indonesia yang adil dan
beradab yang mengenal dan mencintai Allah dan
Rasul-Nya, cinta pada sesama, dan peduli pada
kelestarian lingkungan sebagai amanah dari
Allah.