Anda di halaman 1dari 23

Aspek makanan dalam

penanggulangan bencana

Disusun oleh :
Sudar
NIM. 41020221B2010
Latar belakang
Posisi wilayah Indonesia, secara geografis dan demografis rawan terjadinya bencana alam dan non alam

seperti gempa tektonik, tsunami, banjir dan angin puting beliung. Bencana non alam akibat ulah manusia

yang tidak mengelola alam dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya bencana alam, seperti tanah

longsor, banjir banda ng, kebakaran hutan dan kekeringan. Selain itu, keragaman sosio-kultur masyarakat

Indonesia juga berpotensi menimbulkan gesekan sosial yang dapat berakibat terjadi konflik sosial.

Masalah gizi yang bisa timbul adalah kurang gizi pada bayi dan balita, bayi tidak mendapatkan Air Susu Ibu

(ASI) karena terpisah dari ibunya dan semakin memburuknya status gizi kelompok masyarakat. bantuan

makanan yang sering terlambat, tidak berkesinambungan dan terbatasnya ketersediaan pangan lokal dapat

memperburuk kondisi yang ada.

Masalah lain yang seringkali muncul adalah adanya bantuan pangan dari dalam dan luar negeri yang

mendekati atau melewati masa kadaluarsa, tidak disertai label yang jelas, tidak ada keterangan halal serta

melimpahnya bantuan susu formula bayi dan botol susu. Masalah tersebut diperburuk lagi dengan

kurangnya pengetahuan dalam penyiapan makanan buatan lokal khususnya untuk bayi dan balita.
Definisi operasional
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia disebabkan baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan
dampak psikologis.

Kelompok rentan adalah sekelompok orang yang membutuhkan penanganan


khusus dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu
menyusui dan lanjut usia baik dengan fisik normal maupun cacat.

Gizi adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat
bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.

Surveilans gizi pada situasi bencana adalah proses pengamatan keadaan gizi
korban bencana khususnya kelompok rentan secara terus menerus untuk
pengambilan keputusan dalam menentukan tindakan intervensi.
Kegiatan Gizi Dalam Penanggulangan Bencana.

A. Pra Bencana

Penanganan gizi pada pra bencana pada dasarnya adalah kegiatan antisipasi terjadinya

bencana dan mengurangi risiko dampak bencana.

Kegiatan yang dilaksanakan antara lain :


 sosialisasi dan pelatihan petugas seperti manajemen gizi bencana, penyusunan rencana

kontinjensi kegiatan gizi, konseling menyusui, konseling Makanan Pendamping Air

Susu Ibu (MP-ASI),


 pengumpulan data awal daerah rentan bencana,
 penyediaan bufferstock MP-ASI,
 pembinaan teknis dan pendampingan kepada petugas terkait dengan manajemen gizi

bencana dan berbagai kegiatan terkait lainnya.


B. Situasi Keadaan Darurat Bencana

Situasi keadaan darurat bencana terbagi menjadi 3 tahap, yaitu


siaga darurat, tanggap darurat dan transisi darurat.

Siaga Darurat

Siaga darurat adalah suatu keadaan potensi terjadinya bencana


yang ditandai dengan adanya pengungsi dan pergerakan sumber
daya. Kegiatan penanganan gizi pada situasi siaga darurat sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada dapat dilaksanakan kegiatan
gizi seperti pada tanggap darurat.
Tanggap Darurat

Kegiatan penanganan gizi pada saat tanggap darurat dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) tahap, yaitu tahap tanggap darurat awal

dan tanggap darurat lanjut.

a) Tahap Tanggap Darurat Awal

1. Fase I Tanggap Darurat Awal

Fase I Tanggap Darurat Awal antara lain ditandai dengan kondisi sebagai berikut: korban bencana bisa dalam pengungsian atau

belum dalam pengungsian, petugas belum sempat mengidentifikasi korban secara lengkap,bantuan pangan sudah mulai

berdatangan dan adanya penyelenggaraan dapur umum jika diperlukan.

Pada fase ini kegiatan yang dilakukan adalah:

• Memberikan makanan yang bertujuan agar pengungsi tidak lapar dan dapat mempertahankan status gizinya

• Mengawasi pendistribusian bantuan bahan makanan

• Menganalisis hasil Rapid Health Assessment (RHA)

Pada fase ini, penyelenggaraan makanan bagi korban bencana mempertimbangkan hasil analisis RHA dan standar ransum. Rasum

adalah bantuan bahan makanan yang memastikan korban bencana mendapatkan asupan energi, protein dan lemak untuk

mempertahankan kehidupan dan beraktivitas. Ransum dibedakan dalam bentuk kering (dry ration) dan basah (wet ration). Dalam

perhitungan ransum basah diprioritaskan penggunaan garam beriodium dan minyak goreng yang difortifikasi dengan vitamin A.
b) Fase II Tanggap Darurat Awal
Kegiatan terkait penanganan gizi pada fase II, adalah:
 Menghitung kebutuhan gizi
Berdasarkan analisis hasil Rapid Health Assessment (RHA)
diketahui jumlah pengungsi berdasarkan kelompok umur,
selanjutnya dapat dihitung ransum pengungsi dengan
memperhitungkan setiap orang pengungsi membutuhkan
2.100 kkal, 50 g protein dan 40 g lemak, serta menyusun menu
yang didasarkan pada jenis bahan makanan yang tersedia.
 Pengelolaan penyelenggaraan makanan di dapur umum yang meliputi:
o Tempat pengolahan
o Sumber bahan makanan
o Petugas pelaksana
o Penyimpanan bahan makanan basah
o Penyimpanan bahan makanan kering
o Cara mengolah
o Cara distribusi
o Peralatan makan dan pengolahan
o Tempat pembuangan sampah sementara
o Pengawasan penyelenggaraan makanan
o Mendistribusikan makanan siap saji
o Pengawasan bantuan bahan makanan untuk melindungi korban bencana dari dampak buruk akibat bantuan tersebut seperti diare, infeksi, keracunan dan lain-

lain, yang meliputi:

 Tempat penyimpanan bantuan bahan makanan harus dipisah antara bahan makanan umum dan bahan makanan khusus untuk bayi dan anak

 Jenis-jenis bahan makanan yang diwaspadai termasuk makanan dalam kemasan, susu formula dan makanan suplemen

 Untuk bantuan bahan makanan produk dalam negeri harus diteliti nomor registrasi (MD), tanggal kadaluarsa, sertifikasi halal, aturan cara penyiapan dan target

konsumen

 Untuk bantuan bahan makanan produk luar negeri harus diteliti nomor registrasi (ML), bahasa, tanggal kadaluarsa, aturan cara penyiapan dan target konsumen

 Jika terdapat bantuan makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, petugas harus segera melaporkan kepada Koordinator Pelaksana.
b. Tanggap Darurat Lanjut
Pada tahap ini sudah ada informasi lebih rinci tentang
keadaan pengungsi, seperti jumlah menurut golongan
umur dan jenis kelamin, keadaan lingkungan, keadaan
penyakit, dan sebagainya. Kegiatan penanganan gizi pada
tahap ini meliputi:
A n a l i s i s f a k t o r penyulit berdasarkan hasil
Rapid Health Assessment (RHA).
 Pengumpulan data antropometri balita (berat badan, panjang badan/tinggi badan),

ibu hamil dan ibu menyusui (Lingkar Lengan Atas).

Besar sampel untuk pengumpulan data antropometri :

• Populasi korban bencana sampai 3.000 orang, seluruh (total) balita diukur

• Populasi korban bencana kurang dari 10.000 rumah tangga, gunakan systematic

random sampling dengan jumlah sampel minimal 450 balita

• Populasi korban bencana lebih dari 10.000 rumah tangga, gunakan cluster

sampling, yaitu minimum 30 cluster yang ditentukan secara Probability

Proportion to Size (PPS) dan tiap cluster minimum 30 balita

Sumber : The Management of Nutrition In Major mergencies,Geneva,WHO,2000.

P45.
 Menghitung proporsi status gizi balita kurus (BB/TB <-2SD) dan jumlah ibu hamil dengan risiko KEK

(LILA <23,5 cm).

 Menganalisis adanya faktor penyulit seperti kejadian diare, campak, demam berdarah dan lain-lain.

Hasil analisis data antropometri dan faktor penyulit serta tindak lanjut atau respon yang direkomendasikan

adalah sebagai berikut:

• Situasi Serius (Serious Situation), jika prevalensi balita kurus ≥15% tanpa faktor penyulit atau 10-

14,9% dengan faktor penyulit. Pada situasi ini semua korban bencana mendapat ransum dan seluruh

kelompok rentan terutama balita dan ibu hamil diberikan makanan tambahan (blanket supplementary

feeding).

• Situasi Berisiko (Risky Situation), jika prevalensi balita kurus 10-14,9% tanpa faktor penyulit atau 5-9,9%

dengan faktor penyulit. Pada situasi ini kelompok rentan kurang gizi terutama balita kurus dan ibu hamil

risiko KEK diberikan makanan tambahan (targetted supplementary feeding).

• Situasi Normal, jika prevalensi balita kurus <10% tanpa faktor penyulit atau <5% dengan faktor penyulit

maka dilakukan penanganan penderita gizi kurang melalui pelayanan kesehatan rutin.
 Melaksanakan pemberian makanan tambahan dan suplemen gizi.

 Khusus anak yang menderita gizi kurang perlu diberikan makanan tambahan disamping makanan

keluarga, seperti kudapan/jajanan, dengan nilai energi 350 kkal dan protein 15 g per hari.

 Ibu hamil perlu diberikan 1 tablet Fe setiap hari, selama 90 hari.

 Ibu nifas (0-42 hari) diberikan 2 kapsul vitamin A dosis 200.000 IU (1 kapsul pada hari pertama dan

1 kapsul lagi hari berikutnya, selang waktu minimal 24 jam)

 Pemberian vitamin A biru (100.000 IU) bagi bayi berusia 6-11 bulan; dan kapsul vitamin A merah

(200.000 IU) bagi anak berusia 12-59 bulan, bila kejadian bencana terjadi dalam waktu kurang dari

30 hari setelah pemberian kapsul vitamin A (Februari dan Agustus) maka balita tersebut tidak

dianjurkan lagi mendapat kapsul vitamin A.

 Melakukan penyuluhan kelompok dan konseling perorangan dengan materi sesuai dengan kondisi

saat itu, misalnya konseling menyusui dan MP-ASI.

 Memantau perkembangan status gizi balita melalui surveilans gizi.


Transisi Darurat
Transisi darurat adalah suatu keadaan sebelum dilakukan
rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegiatan penanganan gizi
pada situasi transisi darurat disesusaikan dengan situasi
dan kondisi yang ada, dapat dilaksanakan kegiatan gizi
seperti pada tanggap darurat
C. Pasca Bencana

Kegiatan penanganan gizi pasca bencana pada dasarnya adalah

melaksanakan pemantauan dan evaluasi sebagai bagian dari


surveilans, untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan (need
assessment) dan melaksanakan kegiatan pembinaan gizi
sebagai tindak lanjut atau respon dari informasi yang diperoleh
secara terintegrasi dengan kegiatan pelayanan kesehatan
masyarakat (public health response) untuk meningkatkan dan
mempertahankan status gizi dan kesehatan korban bencana.
PELAKSANAAN KEGIATAN PENANGANAN GIZI

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan

Bencana Daerah (BPBD) merupakan penanggung jawab utama dalam

penanggulangan bencana. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK)

Kementerian Kesehatan merupakan unsur dari BNPB dalam penanggulangan

masalah kesehatan dan gizi akibat bencana. Pengelola kegiatan gizi Dinas

Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota merupakan bagian dari tim penanggulangan

masalah kesehatan akibat bencana yang dikoordinasikan PPKK, PPKK Regional dan

Sub regional, Dinas Kesehatan Provinsi serta Kabupaten dan Kota. Penanganan gizi

pada situasi bencana melibatkan lintas program dan lintas sektor termasuk Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM) nasional maupun internasional.


Penanganan Gizi Kelompok Rentan

Penanganan Gizi Bayi 0-5 Bulan

• Bayi tetap diberi ASI

• Bila bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya atau ibu tidak dapat memberikan ASI, upayakan

bayi mendapat bantuan ibu susu/donor, dengan persyaratan:

 Permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan

 Identitas agama dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh keluarga bayi

 Persetujuan pendonor setelah mengetahui identitas bayi yang di beri ASI

 Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis

 ASI donor tidak diperjualbelikan

• Bila tidak memungkinkan bayi mendapat ibu susu/donor, bayi diberikan susu formula

dengan pengawasan atau didampingi oleh petugas kesehatan


Penanganan Gizi Anak Usia 6-23 Bulan

• Baduta tetap diberi ASI

• Pemberian MP-ASI yang difortifikasi dengan zat gizi makro, pabrikan atau makanan lokal pada anak

usia 6-23 bulan

• Pemberian makanan olahan yang berasal dari bantuan ransum umum yang mempunyai nilai gizi

tinggi.

• Pemberian kapsul vitamin A biru (100.000 IU) bagi yang berusia 6-11 bulan; dan kapsul vitamin A

merah (200.000 IU) bagi anak berusia 12-59 bulan

“ Bila bencana terjadi dalam waktu kurang dari 30 hari setelah pemberian kapsul vitamin A

(Februari dan Agustus) maka balita tersebut tidak dianjurkan lagi mendapat kapsul vitamin A”.

• Dapur umum sebaiknya menyediakan makanan untuk anak usia 6-23 bulan

• Air minum dalam kemasan diupayakan selalu tersedia di tempat pengungsian


Penanganan Gizi Anak Balita 24-59 Bulan

a. Hindari penggunaan susu dan makanan lain yang penyiapannya menggunakan air,

penyimpanan yang tidak higienis, karena berisiko terjadinya diare, infeksi dan keracunan.

b. Keragaman menu makanan dan jadwal pemberian makanan disesuaikan dengan kemampuan

tenaga pelaksana. Daftar menu harian ditempel di tempat yang mudah dilihat oleh pelaksana

pengolahan makanan. (contoh menu pada Lampiran 2)

c. Pemberian kapsul vitamin A.

d. Makanan utama yang diberikan sebaiknya berasal dari makanan keluarga yang tinggi energi,

vitamin dan mineral. Makanan pokok yang dapat diberikan seperti nasi, ubi, singkong,

jagung, lauk pauk, sayur dan buah. Bantuan pangan yang dapat diberikan berupa makanan

pokok, kacang-kacangan dan minyak sayur.


Penanganan Gizi Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
Ibu hamil dan menyusui, perlu penambahan energi sebanyak 300
kkal dan 17 g protein, sedangkan ibu menyusui perlu
penambahan energi 500 kkal dan 17 g protein.
Selain itu ibu hamil dan ibu menyusui perlu diberikan nasehat
atau anjuran gizi dan kesehatan melalui kegiatan konseling
menyusui dan konseling MP-ASI serta pendistribusian Tablet
Tambah Darah (TTD) bagi ibu hamil.
Penanganan Gizi Lanjut Usia
Usia lanjut, perlu makanan dalam porsi kecil tetapi padat
gizi dan mudah dicerna. Dalam pemberian makanan pada
usia lanjut harus memperhatikan faktor psikologis dan
fisiologis agar makanan yang disajikan dapat dihabiskan.
Dalam kondisi tertentu, kelompok usia lanjut dapat
diberikan bubur atau biskuit.
PEMANTAUAN DAN EVALUASI

Pra Bencana
a. Tersedianya pedoman pelaksanaan penanganan gizi dalam situasi bencana
b. Tersedianya rencana kegiatan antisipasi bencana (rencana kontinjensi)
c. Terlaksananya sosialisasi dan pelatihan petugas
d. Terlaksananya pembinaan antisipasi bencana
e. Tersedianya data awal daerah bencana
2. Tanggap Darurat Awal dan Tanggap Darurat Lanjut
a. Tersedianya data sasaran hasil RHA
b. Tersedianya standar ransum di daerah bencana
c. Tersedianya daftar menu makanan di daerah bencana
d. Terlaksananya pengumpulan data antropometri balita (BB/U, BB/TB dan TB/U)
e. Terlaksananya pengumpulan data antropometri ibu hamil dan ibu menyusui (LiLA)
f. Terlaksananya konseling menyusui
g. Terlaksananya konseling MP-ASI
h. Tersedianya makanan tambahan atau MP-ASI di daerah bencana
i. Tersedianya kapsul vitamin A di daerah bencana
j. Terlaksananya pemantauan bantuan pangan dan susu formula
3. Pasca Bencana
a. Terlaksananya pembinaan teknis pasca bencana
b. Terlaksananya pengumpulan data perkembangan status gizi korban bencana.
c. Terlaksananya analisis kebutuhan (need assessment) kegiatan gizi pasca bencana
referensi

Pedoman Kegiatan Gizi Dalam Penanggulangan Bencana, Kementerian Kesehatan RI


Direktorat Jenderal Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak Direktorat Bina Gizi,
Tahun 2012