Anda di halaman 1dari 22

Jurnal Reading :

Association Between
Menstrual Cycle Length
and Coronavirus Disease
2019 (COVID-19)
Vaccination
Oleh : Gusti Agung Sinta Shakuntala
(42200416)

Pembimbing :
dr. Ariesta Christiawanti,Sp.OG
01 02 03
Pendahuluan Metode Hasil

04 05
Kesimpulan
Diskusi dan
Keterbatasan
Penelitian
01
Pendahulu
an
•Siklus menstruasi merupakan tanda yang jelas dari kesehatan
dan kesuburan. Menstruasi memiliki karakteristik yang tidak
statis, dan terdapat variabilitas dari bulan ke bulan sepanjang
umur individu.

•Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri


mengklasifikasikan variasi panjang siklus sebagai normal jika
kurang dari 8 hari.

•Pada Individu yang mengalami menstruasi secara teratur


juga dapat mengalami gangguan ovulasi sporadis atau stres,
yang dapat mengakibatkan siklus yang terlewat atau perubahan
yang bersifat sementara dalam panjangnya siklus.
02
Metode
• Penelitian ini menggunakan analisis kohort retrospektif dari data siklus menstruasi.

• Subjek dari penelitian ini adalah penduduk AS berusia 18-45 tahun,merupakan individu
yang memiliki panjang siklus menstruasi pravaksinasi yang normal (rata-rata 24-38 hari).data
pelacakan siklus menstruasi yang dikumpulkan secara prospektif dari individu AS
menggunakan aplikasi kesadaran kesuburan digital “Natural Cycles” yang disetujui Badan
Pengawas Obat dan Makanan AS

• Jenis vaksin yang disertakan adalah Pfizer-BioNTech (Pfizer), Moderna, Johnson &
Johnson/ Janssen [J&J/Janssen], dan tidak ditentukan.Kami mengecualikan individu
menopause dan mereka yang menerima vaksin Oxford/AstraZeneca untuk fokus pada vaksin
yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, dan yang tersedia di AS.

• Bagi mereka yang menerima vaksinasi COVID-19, peneliti menyertakan data tiga siklus
pravaksin dan tiga siklus pascavaksin, termasuk siklus vaksinasi. Hal serupa juga peneliti
lakukan pada enam siklus pada mereka yang tetap tidak divaksinasi. Untuk individu yang
divaksinasi, siklus keempat adalah siklus dosis vaksin pertama; siklus dosis kedua bervariasi
berdasarkan kapan dosis vaksin kedua terjadi (siklus empat, lima, atau enam). Untuk yang
tidak divaksinasi, peneliti menetapkan siklus empat sebagai siklus dosis vaksin pertama
buatan dan siklus lima sebagai siklus dosis kedua buatan; siklus satu, dua, dan tiga dianggap
setara dengan siklus pravaksinasi.
• Peneliti membandingkan dalam perubahan individu dalam siklus dan panjang
menstruasi antara rata-rata tiga siklus pravaksinasi dan siklus vaksinasi dosis
pertama dan kedua, atau dengan siklus empat dan lima untuk peserta yang tidak
divaksinasi, menggunakan uji Tdua sisi.

• Peneliti membuat histogram yang berisi status vaksinasi untuk membandingkan


distribusi perubahan siklus dan panjang menstruasi,selain itu untuk
membandingkan proporsi individu yang mengalami perubahan signifikan secara
klinis dalam panjang siklus (8 hari atau lebih) menggunakan uji x2 Pearson.

• Penelitian ini membandingkan perubahan siklus dan lama menstruasi


berdasarkan merek vaksin. Selanjutnya,peneliti mengecualikan individu dengan
siklus pravaksinasi yang panjang siklusnya berada di luar rentang 24-38 hari (579
individu). Selain itu, peneliti mengecualikan individu yang melaporkan sindrom
ovarium polikistik, gangguan tiroid, atau endometriosis (226 individu). Keempat,
kami mengecualikan setiap individu yang melaporkan penggunaan kontrasepsi
darurat selama setidaknya satu siklus studi (157 individu).
03
Hasil
• Kohort yang divaksinasi sedikit lebih tua (34% 30-34 tahun vs 24% di antara
yang tidak divaksinasi) dan lebih mungkin menjadi nulipara (79% vs 69%),
berpendidikan perguruan tinggi (77% vs 60%) dibandingkan dengan kelompok
yang tidak divaksinasi .

• Individu yang divaksinasi juga lebih mungkin untuk mengidentifikasi sebagai


Putih (54% vs 47%) dan tinggal di Timur Laut (20% vs 13%) atau Barat (37% vs
34%) wilayah Sensus AS. Lebih dari separuh kelompok yang divaksinasi
menerima vaksin Pfizer Covid-19 (55%) (Moderna 35%, J&J/Janssen 7%).
• Kelompok yang divaksinasi mengalami peningkatan yang tidak sesuai
selama hampir 1 hari dalam panjang siklus menstruasi mereka selama
siklus vaksin pertama dibandingkan dengan tiga siklus pravaksinasi mereka

• Yang tidak divaksinasi tidak mengalami perubahan signifikan pada siklus


empat dibandingkan dengan tiga siklus pertama mereka
Meskipun signifikan
secara statistik, pada
histogram
menunjukkan
distribusi perubahan
panjang siklus pada
individu yang
divaksinasi kira- kira
setara dengan
individu yang tidak
divaksinasi
Perbedaan yang muncul untuk individu yang menerima satu dosis dalam
siklus vaksin pertama mereka tidak lagi signifikan dibandingkan dengan
individu yang tidak divaksinasi
04
Diskusi
• Pada penelitian ini mengevaluasi 23.754 siklus menstruasi yang
dilaporkan secara prospektif oleh 3.959 orang AS,hasil dari penelitian ini
untuk mengevaluasi apakah vaksinasi COVID-19 dapat dikaitkan dengan
gangguan siklus menstruasi saat vaksinasi terjadi

• Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada kelompok


status vaksinasi, tetapi perubahan panjang siklus kurang dari 1 hari yang
berada di bawah perbedaan yang dilaporkan dalam aplikasi pelacakan
siklus menstruasi (0,71 pada kelompok yang di vaksinasi) tidak
signifikan secara klinis

• Waktu siklus menstruasi diatur oleh sumbu hipotalamus-hipofisis-


ovarium, yang dapat dipengaruhi oleh stresor kehidupan, lingkungan, dan
kesehatan
• Hasil penelitian ini tidak dapat di hubungkan oleh stres akibat pandemi
yang terjadi,karena kelompok kontrol kami yang tidak divaksinasi tidak terjadi
perubahan selama periode waktu yang sama. Dari penelitian ini sesuai dengan
analisis terbaru dari 18.076 pengguna aplikasi Natural Cycle sebelum dan
selama pandemi,juga menunjukkan tidak terdapat gangguan dalam waktu siklus
yang di akibatkan karena tekanan pandemi

• Vaksin mRNA menciptakan respons imun atau stresor yang kuat, yang
untuk sementara dapat memengaruhi sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium jika
dalam kondisi yang tepat.Dari hasil penelitian ini,pada individu yang
menerima dua dosis dalam satu siklus sesuai dengan literature yang ada.
Mengingat jadwal pemberian dosis vaksin mRNA COVID-19 di Amerika
Serikat (21 hari untuk Pfizer dan 28 hari untuk Moderna),

• Pada seseorang yang menerima dua dosis dalam satu siklus akan menerima
dosis pertama pada fase folikular awal. Variabilitas yang panjang pada siklus
haid dihasilkan dari peristiwa yang mengarah pada pematangan folikel yang
dominan selama fase folikular, dan hal ini juga yang diketahui dipengaruhi oleh
stres
05
Kesimpulan
dan
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan Penelitian
• Penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke populasi AS mengingat pemilihan status
hubungan.
Pengguna Natural Cycle (lebih cenderung berkulit putih, berpendidikan perguruan tinggi,
dan memiliki BMI lebih rendah daripada distribusi nasional dan tidak menggunakan
kontrasepsi hormonal).

• Peneliti memilih untuk menganalisis kohort dengan panjang siklus normal yang
konsisten untuk mengidentifikasi dengan jelas hubungan antara siklus dan panjang
menstruasi dan vaksinasi COVID-19. Kami menyadari bahwa banyak individu yang
mengalami menstruasi tidak termasuk dalam kategori normal ini.

• Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang menerima dua dosis dalam satu
siklus kembali ke panjang siklus awal dengan cepat, data penelitian ini belum cukup
mencakup siklus berikutnya tanpa vaksin. Sehingga penelitian ini belum memiliki data
tentang infeksi sindrom pernafasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2) baik pada
kelompok yang divaksinasi atau tidak.
Kesimpulan :
• Pada penelitian ini tidak di temukan perubahan bermakna secara klinis pada
tingkat populasi dalam panjang siklus menstruasi yang terkait dengan
vaksinasi COVID19.

• Individu yang menerima dua dosis vaksin COVID-19 dalam satu siklus
tampak mengalami perubahan panjang siklus yang lebih lama tetapi sementara.
Sedangkan vaksinasi penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) tidak terkait
dengan perubahan lama menstruasi.
Terima
Kasih