Anda di halaman 1dari 19

DESENTRALISASI FISKAL

Desentralisasi Fiskal: Pendelegasian Fiskal: tanggung jawab dan pembagian kekuasaan dan kewenangan untuk pengambilan keputusan di bidang fiskal, yang meliputi aspek penerimaan dan pengeluaran.

Tujuan Pokok Pengaturan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah


1.

2.

3. 4. 5. 6. 7.

Memberdayakan & Meningkatkan Kemampuan perekonomian daerah Menciptakan sistem pembiayaan daerah yg adil, proporsional, rasional, transparan, partisipatif, bertanggungjawab, dan pasti Mewujudkan sistem perimbangan keuangan dengan pembagian tugas kewenangan yg jelas Mendukung pelaksanaan otonomi daerah Menjadi acuan dalam pengalokasian penerimaan negara bagi daerah Mempertegas sistem pertanggungjawaban keuangan oleh pemerintah Menjadi pedoman pokok tentang keuangan daerah

DESENTRALISASI FISKAL


Manfaat Desentralisasi
Meningkatkan

Efisiensi Pemerintah menangani: Hankam, Hub. LN, Infrastruktur antardaerah

Pendekatan

Desentralisasi

Sektor publik optimum jika fungsi stabilisasi diserahkan kepada pemerintah pusat sedangkan fungsi alokasi dan distribusi diserahkan kepada pemerintah daerah Neo-Klasik: Desentralisasi diperuntukkan Neountuk menghindari penumpukan wewenang pada satu tingkatan pemerintahan tertentu
Musgrave:

Cross border effect: suatu kegiatan tertentu pada suatu daerah memberikan keuntungan tidak saja pada daerah itu sendiri, tetapi dinikmati juga oleh daerah sekitarnya Kritik terhadap Desentralisasi:


Adanya permasalahan distribusi dan manajemen makroekonomi Terjadinya disparitas dalam penyediaan public goods dan services karena adanya disparitas sumberdaya yang mencolok

Desentralisasi Fiskal  Terjadinya ketimpangan vertikal, karena:  Basis pajak dan retribusi daerah yg kecil, sedang basis pajak yg besar dipungut oleh pusat  Tidak ada perbaikan terhadap peningkatan PAD dan sangat tergantung kepada subsidi dan bantuan dari pusat  Terjadinya ketimpangan horisontal, karena:  Bervariasinya potensi setiap daerah  Alokasi pusat yg tidak adil karena berdasar jumlah populasi dan buka berdasar sumberdaya alam yg dimiliki oleh daerah  UU No. 25/ 1999 disahkan berusaha mengatasi ketimpangan vertikal dan horisontal yg terjadi  Fokus: pada sisi penerimaan, bukti: ada perubahan dalam sistem bagi hasil antara pemerintah pusat dengan daerah yg kaya SDA

Dana Perimbangan
  

Bagian daerah dari PBB, BPHTB, PPh, Penerimaan dari SDA Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Pusat : 10% (65% dibagi merata ke seluruh kab); 35% sebagai insentif bagi kab. Yang realisasi penerimaan melampaui target. Daerah : 90%; 16,2% (propinsi), 64,8% (Kab), 9% (biaya pemungutan)

PBB:


Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan (BPHTB):


 

Pusat: 20% Daerah 80%; 16% (propinsi), 64% (kab)

Kehutanan:
 

Pusat: 20% Daerah: 80%; 16% (propinsi), 64% (kab) Pusat: 20% Daerah 80%
Land Rent: propinsi 16%, kab penghasil 64%  Eksplorasi & Eksploitasi: propinsi 16%, kab. Penghasil 32%, lainnya 32%


Pertambangan Umum:
 

Perikanan:
 

Pusat: 20% Daerah: 80%

Penerimaan Minyak Bumi setelah dikurangi Komponen Pajak yg Berlaku:


 

Pusat: 85% Daerah: 15%; propinsi 3%; kab. Penghasil 6%, lainnya 6% Pusat: 70% Daerah: 30%; propinsi 6%, kab. Penghasil 12%, lainnya 12%

Penerimaan Gas Alam setelah Pajak:


 

Kaitan antara UU Pemerintahan Daerah dengan Desentralisasi Fiskal




Otonomi daerah terletak pada tingkat kabupaten Propinsi mengemban fungsi desentralisasi dan dekonsentrasi Sebagai fungsi desentralisasi maka propinsi harus tetap memiliki penerimaannya sendiri

Lanjutan


Kewenangan daerah/ kota diperluas, mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dlm bid. Politik LN, hankam, peradilan, moneter, dan fiskal, agama serta kewenangan lainnya (kebijakan perencanaan pembangunan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan & pemberdayaan SDM, pendayagunaan SDA serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standarisasi nasional)

Kapasitas Fiskal Daerah Dari segi penerimaan perlu dilakukan:




 

Memperkirakan potensi penerimaan bagi hasil Menetapkan kembali pajak-pajak daerah pajakMemperkirakan Potensi PAD

Potensi Penerimaan Bagi Hasil SifatSifat-Sifat Penting SDA di Indonesia:




Bersifat Non Renewable resources, kecuali sumberdaya kehutanan & perikanan. Berimplikasi bagi potensi penerimaan daerah jangka panjang Tersebar tidak merata pada daerah yang memiliki populasi yg rendah. Berimplikasi pada terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan antardaerah Hasil SDA umumnya diekspor. Berimplikasi pada fluktuasi basis pajak yang menjadi andalan daerah dan akan mempengaruhi distribusi pendapatan

Menetapkan Kembali Pajak-Pajak Daerah Pajak

Hubungan propinsi dengan kabupaten adalah hirarki horisontal Wewenang propinsi:


Bersifat lintas kabupaten/ kota  Melaksanakan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh kab/ kota  Kewenangan dalam kerangka dekonsentrasi


UU No. 18/1997: melimpahkan sebagian pajak propinsi kepada kab/ kota, misal: pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama

Memperkirakan Potensi PAD




PAD terdiri atas:


   

Hasil pajak daerah Hasil retribusi daerah Hasil perusahaan milik daerah LainLain-lain PAD yang sah Memperkirakan kemampuan daerah dari segi keuangan. Berkaitan dengan penentuan DAU Mengukur upaya pemungutan PAD oleh suatu daerah Pembagian urusan yg jelas bagi propinsi, kab/ kota dan desa. Sebaiknya berdasarkan pada faktor di daerah yaitu: kebutuhan masy. Kesiapan daerah, prioritas pemb. Ek. Daerah faktor nas. Yg bersifat strategis Identifikasi kemampuan penyerapan dana. Hal ini untuk menjamin agar alokasi dana tidak terbuang percuma

Pentingnya Perkiraan PAD:


 

Dari segi Pengeluaran:







Penetapan Kriteria DAU


Jumlah DAU = Total DAU utk semua daerah x (Bobot X )/bobot total semua drh Variabel yg relevan dalam menentukan bobot:  Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah: dicerminkan melalui variabel jumlah penduduk, luas wilayah, keadaan geografis dan tingkat pendapatan masyarakat dengan fokus kelompok miskin  Potensi Ekonomi Daerah : dicerminkan dengan potensi penerimaan daerah melalui berbagai sektor ekonomi (industri, SDA, SDM, dan PDRB)

Beberapa Definisi Pemerintahan Daerah




Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan perundang-

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu

Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu

Beberapa Catatan Kritis:




 

Tujuan pelaksanaan otonomi daerah seharusnya untuk menyediakan publik goods and services, disamping untuk mengeliminir dampak ketimpangan antardaerah serta tuntutan politis Pelimpahan wewenang yg besar langsung ke kab/kota sebaiknya pelimpahan wewenang secara bertahap: dari propinsi kab/ kota Euforia otonomi membuat daerah melewati batas kewenangan yg harus diembannya Terjadi restriksi dalam perdagangan antardaerah karena adanya pungutan atau retribusi yg menyebabkan high cost economy Banyak Perda yg kontra produktif karena tidak adanya peraturan yg mewajibkan daerah utk menguji kelayakan Perda yg dibuat.